
Liu Ying menarik sebuah kantung kain dari pinggangnya, lalu dia memasukkan tiga batu roh yang dipegangnya ke dalam kantung tersebut untuk kemudian digantung di pinggangnya lagi.
Luka yang disebabkan oleh tanduk siluman kambing tadi lumayan besar, untungnya Liu Ying cepat-cepat membalut luka itu agar tidak semakin parah.
Saat sibuk membereskan barang-barangnya, Liu Ying samar-samar mendengar sebuah dengusan kasar dari balik pepohonan di belakangnya. Gadis itu tidak berani menoleh untuk beberapa waktu, membiarkan pedangnya tetap terbuka dan mulai kembali waspada.
Tidak menunggu lama, sebuah auman yang memekakkan telinga merambat dari belakang tubuh Liu Ying, membuat bulu kuduknya naik keseluruhannya.
Liu Ying melompat dua meter ke depan sekaligus berbalik dengan cara meraih sebuah ranting pohon sebagai poros untuk tubuhnya berputar. Tepat di depan matanya, seekor bison berkepala naga tengah berdiri kokoh di tanah. Tingginya sekitar empat meter dengan batu roh berwarna ungu gelap menempel di tubuhnya.
Adrenalin Liu Ying dipacu saat itu juga. Menurut tebakannya, setidaknya makhluk di depannya sudah mencapai kisaran usia seribu tahun lebih. Jika diperhitungkan maka akan setara dengan seorang pendekar Langit tingkat satu, Liu Ying bukan tandingannya.
Saat Liu Ying menunggangi Kambing bermata merah tadi, tanpa sadar dia telah digiring untuk masuk lebih dalam lagi di hutan itu. Darah siluman juga telah menarik beberapa siluman yang lebih besar untuk datang. Ini sudah keluar dari apa yang telah Liu Ying wacanakan.
Belum sempat untuk lebih lama berpikir, bison berkepala naga itu sudah menyerang dengan ganas. Liu segera menghindari terjangan itu, meraih ranting lagi dan memanjat lebih tinggi.
Liu Ying mengeluarkan beberapa pisau dari gelang Qiankun-nya. Gadis itu memperhatikan gerakan bison terlebih dahulu, kemudian membidikkan tiga pisau tersebut secara bersamaan ke arah mata bison.
Sayangnya bidikan itu meleset dan malah menggores dahi bison. Hal itu malah membuat siluman bison semakin murka, kepalanya menghantam batang pohon yang saat ini merupakan tempat Liu Ying berpijak. Langsung saja pohon itu tumbang sehingga Liu Ying sedikit lebih cepat melompat sebelum pohon itu menimpanya.
Alhasil Liu Ying menjadi tidak stabil, siluman bison telah mendapatkan celah untuk melakukan serangan ke tiga. Dia mengaum dan menciptakan gelombang suara yang cukup tinggi sehingga membuat Liu Ying terbanting ke belakang. Pedang di tangan Liu Ying yang tadi belum sempat dia sarungkan, seketika itu Liu Ying melempar pedang tersebut secara asal.
Pedang itu menancap di leher siluman bison, kemudian jatuh ke tanah. Meski tidak mengenai nadi, namun cukup bagi Liu Ying untuk kembali bangkit dan mengatur posisi. Siluman itu mengaum lagi.
Liu Ying meraih dahan pohon lainnya sebagai tumpuan putar. Saat putaran kembali Liu Ying meluruskan kaki dan mendorong tubuhnya untuk melayangkan sebuah tendangan maut andalannya.
"Ghoarrr!!"
Kulit siluman bison yang keras membuat Liu Ying memental kembali ke arah belakang, gadis itu terlambat menahan sehingga tubuhnya menghantam tanah. Setetes darah mengalir dari sudut bibirnya, segera diusap kasar dengan tangan kanan.
Siluman itu mendekat dengan pelan, merasa mangsanya telah dilumpuhkan. Liu Ying menggenggam bebatuan di tanah sebagai perlindungan terakhir, ia hampir merasa sudah akan tamat.
__ADS_1
Liu Ying memejamkan kedua matanya dengan nafas yang tidak beraturan, apapun yang terjadi dia akan menghadapinya.
Saat bison itu dirasa semakin mendekat, sebuah auman kesakitan berhasil lolos yang diyakini berasal dari makhluk di depannya. Liu Ying langsung membuka mata karena terkejut oleh pekikan keras itu.
Sebuah tombak yang terlihat familiar menancap tepat di mata kiri siluman bison berkepala naga itu. Di detik berikutnya, seorang pemuda muncul dari arah belakang dengan tergesa-gesa.
"Bodoh! Kau mau mati konyol di tempat busuk ini?!"
Wajah Liu Ying langsung sumringah melihat tamu yang datang tepat waktu itu. "Hu Xian, kau datang di waktu yang sangat tepat!"
Hu Xian menampilkan reaksi kesal sambil mengulurkan tangan untuk menarik Liu Ying berdiri. Siluman bison yang mendapati cedera yang lumayan parah itu mengaum berkali-kali, kakinya menghentak-hentak sehingga memberikan getaran di tanah.
"Cepatlah! Tidak ada waktu untuk omong kosong, siluman itu belum mati."
Liu Ying mengangguk dan kembali berdiri mengokohkan pijakannya. "Usianya sudah mencapai seribu tahun lebih, kita tidak bisa mengalahkannya."
"Biar kucoba."
Hu Xian kemudian melompat mundur untuk menarik Kerah baju bagian belakang Liu Ying, membawanya melompati dahan pohon demi pohon ke arah luar hutan. Siluman bison masih mengejar dari belakang.
Saat mencapai tirai spiritual, Hu Xian melempar token dan melesat cepat untuk melewatinya. Seketika itu tirai tertutup kembali.
Mereka mendarat di tanah dengan nafas tersengal-sengal, Hu Xian bernafas lega saat siluman itu tidak lagi mengejar ke arah pintu dan kembali masuk ke dalam hutan.
"Terima kasih."
Hu Xian menoleh ke arah Liu Ying dengan tatapan tidak dapat diartikan. Liu Ying tidak bisa menopang tubuhnya terlalu lama, ia jatuh berlutut di tanah.
Hu Xian langsung menghampiri dengan cepat. "Kau terluka?!"
Tidak bisa dipungkiri, kaki Liu Ying sudah gemetar sejak tadi. Bahkan sepemberani apapun Liu Ying, ia akan tetap ketakutan ketika dihadapkan dengan kematian. Liu Ying meneguk salivanya kasar, namun terbatuk dan mengeluarkan seteguk darah.
__ADS_1
Hu Xian langsung memukul beberapa titik di dada Liu Ying untuk menghentikan perdarahan, kemudian mengarahkan Liu Ying ke posisi duduk. Ia melirik tangan kiri Liu Ying yang menutupi pinggangnya dengan kuat, melihat sedikit bercak darah di punggung tangannya.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan luka separah ini?"
Liu Ying meringis ia segera membersihkan sisa darah di bibirnya dengan menggunakan lengan bajunya.
"Aku hanya..." Liu Ying terbatuk lagi sebelum melanjutkan, "Terkena tanduk kambing bermata merah saat mengambil batu roh."
Hu Xian menghembuskan nafas dengan kasar. "Jadi kau pergi dari penginapan sendirian hanya untuk cari mati?! Bukankah rencana awal kita adalah pergi bersama-sama? Kita satu tim yang kuat."
"Aku-" ucapan Liu Ying terpotong.
"Jika saja Xiao You tidak memberi tahuku, hutan ini mungkin akan menjadi kuburanmu. Gadis pembawa sial, kau senang sekali membuat masalah."
Liu Ying mengernyitkan kening kemudian membuang muka, "Tidak tulus membantu, sebaiknya kau tidak perlu melakukannya untukku. Lagi pula, ini juga demi membayar hutangku pada kalian."
Alis Hu Xian menyatu, dengan pembuluh darah di lehernya berdenyut. "Apa maksudmu?!"
"Aku bilang, ingin membayar hutangku pada kalian hingga tuntas." Liu Ying berdiri, kemudian mengeluarkan beberapa koin emas dari dalam kantungnya dan sebuah batu roh dari tempatnya.
Gadis itu menarik telapak tangan Hu Xian dan meletakkan koin emas beserta batu roh. "Aku tidak mau terikat hutang, terikat budi maupun terikat dendam. Mulai sekarang, mari berpisah jalan, bertemu lagi jika berjodoh."
Hu Xian terdiam sambil mengatupkan rahang. Ia lantas teringat mengenai kata-kata kasar yang telah dilontarkannya kepada Liu Ying beberapa waktu lalu, ia merasa bersalah tentang itu.
"Liu Ying, bisakah kau tidak memasukkan ke hati mengenai itu?" bibir Hu Xian tertekuk ke bawah. "Aku tidak bermaksud mengatakannya."
Mendengar itu, Liu Ying mengukir sebuah senyuman tipis. "Baiklah, tidak kupermasalahkan. Tapi tidak akan ada yang berubah, aku sudah memutuskan tujuan sendiri." Liu Ying menepuk baju Hu Xian, kemudian berkata, "Sampaikan salamku kepada Wei Ziyou. Aku pergi."
Selanjutnya Liu Ying berbalik pergi, dia mempercepat langkah meski dengan sedikit pincang. Ia menggunakan ilmu Qinggong dan melesat pergi dari sana.
...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh....
__ADS_1