Immortal Fire

Immortal Fire
Chapter 44 : Mari Beraksi


__ADS_3

Pagi menelisik lorong penjara yang lembab nan gelap, namun tiga anak muda itu tampaknya tidak tidur semalaman suntuk untuk membahas satu hal yang tidak berujung hingga kini.


"Apa kau yakin?"


Liu mengangguk pasti. Rasanya kurang jika tidak ada pertanyaan mengenai keputusannya, Hu Xian sangat kaget saat mengetahui hal itu sebelumnya.


Gadis itu berniat membobol keamanan sendirian, ia juga mengintruksikan Hu Xian dan Wei Ziyou untuk mengevakuasi para tahanan dan memastikan mereka keluar dengan selamat.


"Ying, pertimbangkan lagi. Aku tahu niatmu baik, tapi kau tidak boleh sembarangan bertindak. Ini sangat berbahaya," bujuk Wei Ziyou pada Liu Ying agar gadis itu tidak benar-benar melakukan rencana gilanya.


Namun keinginan Liu Ying tidak bisa dihambat. Jika gadis itu telah bertekad, maka tak ada yang dapat menghentikannya, meskipun itu dewa sekalipun.


Hu Xian termangu sembari menatap Liu Ying dengan pandangan menyelidik. "Kau adalah orang paling gila yang pernah aku temui, Ying."


"Aku?" Liu Ying terkekeh renyah. "Aku bahkan lebih gila dari yang kau kira. Karena itu, mustahil bagi kalian untuk menghentikanku."


Dengan telaten, Liu Ying mengasah berbagai senjatanya yang berupa pedang, dan beberapa pisau kecil yang dikumpulkannya selama perjalanan.


Sementara itu Hu Xian masih tidak mengalihkan pandangannya dari gadis itu, ia tidak berusaha mencegah atau menasihati Liu Ying melainkan berbicara beberapa kalimat kosong yang tidak berefek.


"Bagaimana kalau kita bertukar posisi saja, aku yang akan menarik perhatian dan menghadang mereka. Lagi pula aku ini adalah laki-laki, sejatinya ini memang tugasku untuk melindungi kalian," usul Hu Xian menyembunyikan maksudnya.


Liu mengangkat sudut bibir kanannya. "Kau baru sadar bahwa kau laki-laki, ya? Selama ini aku berpikir bahwa kau adalah saudari Xiao You, aku baru tahu sobat."


Hu Xian berdecih untuk kalimat yang satu itu, benar-benar ironi. Pemuda itu sempat meninju bahu Liu Ying dengan pelan dan dibalas dengan tawa oleh gadis itu.


Setelah membereskan peralatannya Liu Ying langsung bangkit dan membuka sel penjara, keadaan lumayan sepi dikarenakan sebagian dari penjaga keluar hutan bambu untuk mencari mangsa.


"Ying, aku tanya satu kali lagi. Apa kau akan benar-benar per-"

__ADS_1


Dalam hitungan detik gadis itu sudah menghilang dari pandangan mereka, menyisakan debu kaki dan keheningan tiba-tiba.


"Xian Gege," panggil Wei Ziyou dengan setengah kaget, ia segera menarik lengan Hu Xian agar pria itu meresponnya. "Xian Gege, kita harus membantunya!"


"Jangan bodoh, Xiao You. Aku tidak mau mengambil resiko dengan menempatkanmu dalam bahaya." Hu Xian mencekal Wei Ziyou, kemudian mereka berjalan menyusuri sel penjara yang dingin itu.


...***...


Liu Ying melompat dari langit-langit lorong dan mendarat dengan sempurna pada lantai di bawahnya. Darahnya mendesir bersama adrenalin yang berpacu di tubuhnya, ia sedang membara.


Liu Ying tidak khawatir jika ketahuan, karena tujuannya adalah menarik perhatian penjaga agar penjara menjadi kosong.


Untungnya Liu Ying sudah menghafal seluruh jalur dan mengetahui letak pintu keluar, ingatannya cukup bagus.


Sebelumnya Liu Ying sudah mengikatkan beberapa potong besi kecil di masing-masing sepatunya, ketika lempengan besi itu saking berbenturan akan menghasilkan bunyi yang cukup untuk menarik perhatian. Fungsinya hampir sama dengan lonceng, hanya saja bentuknya lebih sederhana dan sedikit berbeda.


Benar saja, tak berapa lama kemudian penjaga mulai berdatangan untuk mencari sumber suara. Mereka mulai ricuh saat melihat seorang gadis dengan rambut ekor kuda kini berdiri di hadapan mereka, tak lupa dengan sebilah pedang di tangan kanannya.


Para penjaga bermuka sangar itu saling berpandangan dengan rekan-rekannya, urat-urat serta rahang mereka langsung menegang dengan gurat marah.


"Kau meremehkan kami, ya?" geram salah seorang dari mereka.


Liu Ying tersenyum miring, kemudian kembali berlari menuju ke luar bangunan itu. Para penjaga tidak diam saja, mereka langsung terjun bak anak ayam yang mencari induk.


'Bagus. Umpannya berhasil,' batin Liu Ying sambil mencari posisi yang pas untuknya bertumpuh.


Kini Liu Ying berdiri di tengah-tengah dalam keadaan terkepung, jika dilihat posisinya sama sekali tidak menguntungkan.


Para penjaga itu setidaknya sudah menembus kelas pendekar Besi tingkat dua, namun dikarenakan jumlah yang tidak sebanding, mereka bisa dikatakan setara dengan Liu Ying dalam tingkat praktik yang sama.

__ADS_1


Tanpa berlama-lama, mereka langsung menghujamkan golok mereka ke arah musuh yang ditargetkan, Liu Ying menahannya dengan Bing Lian.


Liu Ying baru menggunakan pedang peninggalan ayahnya itu untuk pertama kalinya, kualitasnya yang bagus terasa dengan sangat jelas dibandingkan pedang kualitas biasa yang selalu dipakainya selama ini.


Para penjaga itu terlempar mundur beberapa langkah, namun kembali menghambur maju tanpa rasa takut sedikitpun.


Sontak Liu Ying melompat untuk memperbesar jarak, ia punya banyak persiapan. Gadis itu menendang tumpukan pasir di hadapannya sehingga membuat sebagian penjaga itu menjadi terhambat.


Saat itulah Liu Ying menghantamkan sarung pedangnya di belakang leher masing-masing mereka, sekian banyak penjaga kini berhasil dilumpuhkan.


Liu Ying belum bisa berbangga hati, sebab rekan mereka yang lain sudah menuju ke tempatnya berdiri. "Menyerah saja, kau sudah dikepung."


"Jangan bodoh, kalian hanya akan menemui akhir yang sama dengan rekan kalian," desis Liu Ying sambil mengibaskan pedangnya dengan sombong.


Gigi mereka gemeretak mendengar penghinaan itu, sampai seseorang yang sepertinya pernah dia lihat muncul di tengah-tengah mereka.


Tepat sekali, dia adalah pria yang waktu itu. Pria yang disebut-sebut sebagai An Lang itu, dia pasti pimpinannya.


"Ada kepentingan apa sehingga kau berani mengacau di tempat ini?" lantangnya sambil menatap Liu Ying dari atas hingga bawah.


Gadis itu tersenyum meremehkan kemudian mendekat sehingga membuat para penjaga lain langsung waspada. "Kalian sudah melakukan dosa besar dengan menyentuh orang-orangku. Sebagai pimpinan mereka, kau harus bertanggung jawab."


"Orang-orangmu? Aku tidak tahu apa yang kau maksud Nona, yang jelas tempat ini bukanlah tempatmu untuk main-main."


An Lang mengusap batang hidungnya, disusul dengan kilahan sebuah pedang yang menodong tepat ke arahnya. "Nona ini terlalu agresif, tak tahu dari mana keberanianmu ini datang, yang jelas siapapun yang melangkahkan kaki ke tempat ini sama dengan mati."


Tangan Liu Ying masih setia menodongkan pedang, tampaknya ia sama sekali tidak terpengaruh dengan perkataan pria itu, ia malah tertawa renyah seolah perkataan An Lang adalah lelucon.


"Aku datang ke mari bukan untuk melakukan negosiasi. Seorang pendekar tidak bicara dengan mulutnya, tapi menggunakan pedangnya." Liu Ying meniup helaian rambut yang menjuntai dari wajahnya, "Agar kau tidak bosan, mari kita selesaikan ini sekarang juga!"

__ADS_1


...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh. ...


__ADS_2