
"Kalau kalian takut mati, biar aku saja."
Satu kalimat dari Liu Ying berhasil membuat dua orang di hadapannya tertohok, terlihat jelas bahwa makna perkataan Liu Ying menyebut mereka sebagai pengecut.
Wei Ziyou mencoba menahan Liu Ying agar tidak bertindak sembarang, "Ying, bukan begitu. Maksud Xian Ge--"
"Xiao You, ayo kita pergi."
Hu Xian menarik lengan Wei Ziyou paksa, "Lanjutkan perjalanan kita masing-masing saja, kita berpisah di sini."
"Tidak, ini--" tanpa mendengarkan, Hu Xian langsung membawa Wei Ziyou pergi menjauh dari tempat itu.
"Ge!? Ying, dia ... Dia rekan kita. Bagaimana kita bisa meninggalkan dia sendiri?" tanya Wei Ziyou mencoba menghentikan pemuda itu, namun tidak digubris dengan baik.
"Wei Ziyou, kau mau ikut mati dengan dia?!" Hu Xian menatap Wei Ziyou dalam. "Aku tidak takut mati, aku ... hanya takut kau mati."
Wei Ziyou mematung di tempat, ia menggeleng pelan. Hu Xian langsung menariknya pergi.
Pemuda itu berlalu bersama dengan Wei Ziyou, meninggalkan Liu Ying sendirian di tempat itu. Liu Ying tidak menyangka perjalanan bersama kedua orang itu akan sangat singkat, nyatanya tidak ada yang dapat dipercaya selain diri sendiri.
Pengecut adalah sebuah kata yang pantang bagi Liu Ying, ia membenci kata-kata itu dengan segenap hidupnya. Xi Guan, Liu Ying akan membuktikan bahwa dirinya bukanlah seorang pengecut. Bahkan jika tua bangka itu mengatakannya ribuan kali, Liu Ying tidak akan menyerah sampai mati.
Liu Ying meremas gagang pedangnya kuat-kuat, sesegera ia menyimpan benda itu ke dalam gelang Qiankun-nya.
Gadis itu mencari jalan untuk masuk, namun pagar bambu itu seperti tak berujung. Akhirnya ia menggunakan kakinya untuk mematahkan beberapa batang bambu, namun hal itu sia-sia.
Bambu yang saling bergesekan menimbulkan suara yang lumayan berisik, tapi Liu Ying sama sekali tidak memperdulikan hal itu.
Tiba-tiba sebuah suara menghentikan aktivitas Liu Ying, kakinya yang tengah menendang-nendang bambu langsung berhenti.
"Hei, kau! Apa yang kau lakukan di tempat ini?!"
Suara dari belakang tubuh Liu Ying berhasil membuat gadis itu berbalik sepenuhnya, tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan mereka. Ia tersenyum kikuk mencurigakan.
"Tu-tuan pendekar, saya hanya pengembara kehausan yang kebetulan lewat. Jika Tuan bermurah hati, tolonglah Tuan membagi sedikit air yang kau punya untuk membasahi dahaga ini," ucap Liu Ying merendahkan diri, ia menyatukan kedua telapak tangannya seolah memohon.
__ADS_1
Dua pria kasar di hadapannya saling bertatapan, Liu Ying melirik botol air dan sebuah parang tergantung di pinggang masing-masing mereka.
Dua pria itu tersenyum tipis pada satu sama lain, salah seorang dari antara mereka langsung mengambil botol minumnya dan melemparkan benda itu kepada Liu Ying.
"Minumlah, habiskan sesukamu."
Liu Ying langsung menangkap botol minum itu, membuka tutupnya dan langsung meneguk isinya sampai tandas layaknya seseorang yang tengah kehausan setengah mati.
Tak berselang berapa lama, Liu Ying terlihat mengernyitkan dahi, ia limbung dan langsung ambruk menghantam tanah dalam waktu yang berdekatan.
Kedua pria itu tertawa sambil menatap rekannya. "Angkat dan bawa orang ini ke dalam, Tuan An Lang pasti akan senang mendapat budak yang lumayan bagus ini."
Salah seorang dari mereka mengangkat Liu Ying di pundaknya, ia dan temannya berbincang dan bergumam senang. Tanpa mereka sadari, ada iblis yang tersenyum jahat karena berhasil menipu dua orang pria tolol.
...***...
Setelah penjaga yang mengantarkan Liu Ying berlalu, gadis itu langsung bangun dari posisinya. Ia memukul-mukul pelan kepalanya yang terasa pusing.
Jelas sekali botol minum yang diberikan dua orang pria tadi berisi obat bius, namun hal itu tidak berpengaruh kepada Liu Ying sebab gadis itu telah mengkonsumsi obat lain sebelumnya.
Tidak bisa dipungkiri, obat bius itu sedikit berefek migrain untuknya. Untung saja Liu Ying sudah membuat beberapa stok obat-obatan yang mungkin dibutuhkan di perjalanan, ia meracik obat itu saat tinggal di Layanan Kesehatan Qin berdasarkan buku panduan yang ada di sana.
Liu Ying tidak seorang diri, di sekelilingnya juga banyak tawanan budak dengan pakaian lusuh nan kering. Gadis itu meringis melihatnya.
"Anakku, sepertinya kau bukan orang yang biasa-biasa saja," lantang sebuah suara dari samping Liu Ying.
Gadis itu mengalihkan atensi, menatap seorang nenek tua yang pakaiannya tidak lebih lusuh dibanding yang lainnya.
Liu Ying sempat mengerutkan alis saat mencoba mencerna perkataannya. "Kau... Kultivator?" lontarnya saat menyadari wanita sepuh itu juga bukan orang biasa.
"Ternyata benar, kau menyadarinya. Kau ini orang yang bisa bela diri, kenapa kau bisa ditangkap dan dibawa ke sini?"
Liu Ying tersenyum tidak percaya, ini sindiran untuknya atau sebaliknya, Liu Ying terkekeh saja.
"Nenek, kau juga orang yang bisa bela diri, kenapa kau juga bisa tertangkap dan dibawa ke penjara bau ini?" decit Liu Ying mengulang pertanyaan wanita itu.
__ADS_1
"Aku? Aku ada kepentingan di sini," sungutnya sedikit kesal.
Ia sepertinya tidak terlalu senang dengan keberadaan Liu Ying, ia terlihat lebih sering menghela nafas.
Liu Ying terkekeh saja, ia sebenarnya tidak punya niatan untuk membuat wanita itu kesal. "Kalau begitu kita sama, aku juga punya kepentingan."
Wanita tua itu mendelik saat Lagi-lagi Liu Ying mengulangi perkataannya, sementara itu Liu Ying hanya tersenyum miring menanggapinya.
"Nenek, apakah mungkin... Urusan kita ini sama?" tanya Liu Ying mengalihkan atensinya.
Nenek tua itu menyipitkan matanya, "Maksudmu, kita satu tujuan?"
Liu Ying mengangguk jengah, nenek-nenek itu sangat lamban berpikir, bukankah Liu Ying juga mengatakan itu tadi?
"Ah, benar. Jadi apa tujuanmu?"
Liu Ying langsung melesat mendekati wanita sepuh itu, tidak membiarkan kecerobohan menghancurkan rencana yang telah dirancangnya matang-matang.
"Membebaskan seluruh budak yang dikurung di sini," bisik Liu Ying sangat pelan di telinga wanita itu.
"APA?! Kau mau memfff--!" Liu Ying menyambar mulut nenek tua itu, menahannya dengan sebelah tangan agar teriakannya tidak lolos begitu saja.
Liu Ying menghembuskan nafas lega, perlahan ia melonggarkan bekapannya. "Kau bisa merusak rencanaku."
Wanita tua itu mengambil nafas dalam-dalam setelah Liu Ying menarik telapak tangan dari mulutnya, ia pikir ia akan mati saat itu juga.
"Anak Muda, kau kasar sekali kepada tua-tua sepuh sepertiku. Kau hampir membunuhku," ucapnya serak.
Liu Ying nyengir kuda, "Oh, aku minta maaf."
Dengan lelah gadis itu menyandarkan punggungnya di dinding kurungan yang dingin, menarik nafas panjang dan mengabaikan wanita tua itu.
"Rencanamu ini..." lagi-lagi nenek tua itu kembali membuka percakapan, "Sebenarnya kau meniru rencanaku, ya?!"
Cukup sudah, Liu Ying sangat lelah meladeninya. Entah mungkin wanita itu tidak mengerti bahasa manusia, atau berpura-pura bodoh untuk membuat Liu Ying kesal.
__ADS_1
Liu Ying menghela nafas dengan kasar, ia memjamkan matanya dengan geram. "Berhenti menggangguku dan istirahatlah dengan tenang, hari esok sudah menunggu untuk dijamah."
...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh. ...