
Liu Ying sampai di pasar kota yang sangat ramai oleh lalu-lalang. Karena merasa haus dan lelah, gadis itu memutuskan untuk duduk di salah satu tokoh arak yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Liu Ying mengambil enam keping perak dan meletakkannya di atas meja, salah satu pelayan langsung menghampirinya.
"Berikan arak terbaik yang kalian punya," ucap Liu Ying.
Pelayan itu mengangguk dan melenggang pergi dengan membawa kepingan perak bersamanya. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa dua kendi arak dan meletakkannya di atas meja.
Liu Ying mengambil satu botol arak tersebut dan menyiramkan air itu ke atas lukanya, sang pelayan yang terkejut langsung menginterupsinya.
"Ah, Tuan. Kau ini tidak bercanda, kan? Kau menyianyiakan sekendi arak bagus hanya untuk menyiram luka, kurasa itu..."
Liu Ying mengerutkan alisnya, "Memangnya kenapa? Semakin bagus araknya, semakin baik untuk mengobati luka. Lagipula, apa yang istimewa dari sekendi arak biasa di kota Xiliang ini?"
Pelayan itu menatap Liu Ying tidak percaya. "Kelihatannya, Tuan kurang berpengetahuan mengenai arak. Biar kuberitahu, arak ini bernama Menebas Malam, arak terbaik yang pernah ada. Kau beruntung hari ini dapat menikmatinya, karena dalam sebulan, jatah toko kami hanya tersedia seratus kendi saja."
Jika Liu Ying tidak salah ingat, wawasan Zhou Li tentang arak sangatlah bagus. Dia sudah mencoba puluhan jenis arak yang berbeda-beda seumur hidupnya, ia juga sering mencari informasi penting kedai-kedai arak kota Lianhua.
Liu Ying sebenarnya pernah minum arak sebelumnya. Saat di sekte, Zhou Li terkadang akan menyelundupkan setidaknya dua botol arak untuk Liu Ying setiap kali dibutuhkan.
Meski begitu, bukan berarti sekte Teratai Emas mewajarkan hal seperti minum arak. Jika itu bukan karena Cheng Xi Guan yang gila hukum, ia sering mengurung Liu Ying di Aula Keheningan. Tentu saja Liu Ying membutuhkan beberapa teguk arak untuk menjaga tubuhnya agar tetap hangat, itulah sebabnya mengapa kemampuan minum Liu Ying sangat terkontrol.
"Sungguh seistimewa itu?" tanya Liu Ying menopang dagunya. "Hmmm... Menebas Malam, nama yang sangat unik."
Pelayan itu mengangguk. Liu Ying meraih sebotol lagi, kemudian menuangkan cairan itu ke mulutnya dan meneguknya.
Rasa manis dan pedas merayap di lidahnya, aroma khas dari arak itu benar-benar memabukkan, membuktikan kualitasnya. Liu Ying meneguknya lagi hingga sebotol Arak itu tandas seketika.
"Aku mau tiga kendi lagi, apakah masih ada?"
Pelayan itu tersenyum sungkan sembari menggesekkan jempol dengan telunjuknya, menandakan ia meminta uang tambahan.
Liu Ying yang mengerti langsung mengeluarkan sepuluh keping perak lagi, "Apakah cukup?"
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Pelayan itu pun kembali ke dalam untuk mengambil pesanan tersebut. Liu Ying mengedarkan pandangan ke sekeliling kedai Arak tersebut, namun pandangannya terhenti kepada seorang pria tua yang tidak asing di matanya sedang berdiri membelakangi.
"Zheng Tian?!" pekik Liu Ying.
Saat ia ingin bangkit dan mengejar, pelayan tadi kembali sambil membawa tiga kendi arak sesuai permintaan, hal itu mengalihkannya.
Liu Ying tergesa-gesa menerimanya dan segera melesat ke tempat Zheng Tian tadinya berdiri. Saat ia sampai di sana, pria itu sudah tidak ada.
Liu Ying segera berlari ke luar kedai tersebut, namun ia tidak menemukan apa yang dia cari. Di usia setua itu, Zheng Tian masih saja gesit melarikan diri.
"Jadi pak tua itu juga berada di Xiliang? Lain kali aku akan mematahkan tulang tuamu itu, kita lihat bagaimana kau akan melarikan diri," gumam Liu Ying kesal.
Liu Ying melirik tiga botol arak di tangannya, ia mengukir sebuah senyum.
***
Seorang pria keluar dari balik sekat kayu, ia mengenakan pakaian serba hitam bertudung dengan kain penutup wajah senada sambil membawa sebuah pedang di tangan kirinya.
Aura membunuh menguar dari orang tersebut, seketika Xue Hongli langsung berubah serius, namun tidak terburu-buru.
"Aku tahu kau terus mengikutiku dua hari ini sejak perhentian di Baiwei. Jadi, apa rencanamu?"
Xue Hongli menyeringai sambil merapikan pakaian bagian atasnya yang sedikit terbuka. "Ah, aku sudah tahu. Kau datang untuk nyawaku, kan?"
Pria bertudung itu tidak menjawab, Xue Hongli tertawa garing dan menunjukkan sikap santainya.
"Aku katakan sekali saja dan dengarkan baik baik," ucap Xue Hongli dingin. "Kau bisa pergi saat ini tanpa luka, atau... Aku tidak akan sungkan."
Suara mendengus keluar dari pria bertudung tersebut, dia langsung menghantamkan pedangnya ke arah Xue Hongli. Pria itu segera menghindar, membuat sebuah meja kecil di bawahnya terpotong menjadi dua bagian.
"Dengan pedang berat dan besar tidak akan membuatmu bertambah kuat, itu hanya akan membuatmu tampak kuat namun menjadi mudah ditebak, serta mengurangi kegesitan saat menyerang," timpal Xue Hongli menyahuti serangannya.
Namun pria bertudung itu malah bertambah marah, ia kembali melayangkan pedangnya secara membabi-buta sehingga membuat perabotan di ruangan itu hancur berantakan.
Xue Hongli belum berniat untuk membalas serangan, dia tersenyum miris meremehkan sang pemuda kekar bertudung hitam itu.
__ADS_1
"Kenapa kau selalu menghindar?!"
Xue Hongli memungut pedangnya yang tergeletak di lantai, entah sejak kapan benda itu sudah di sana.
"Memberimu kesempatan," ucapnya.
Gigi pria bertudung gemeletuk menahan geram. "Omong kosong, matilah!"
Pria bertudung itu lagi-lagi melancarkan serangan demi serangan. Xue Hongli tanpa membuka pedangnya dari sarung, ia segera menangkis pedang besar yang mengarah ke padanya itu hingga benda tersebut jatuh ke lantai dan meninggalkan bekas di sana.
Dengan gerakan cepat, Xue Hongli menghantamkan sarung pedang yang tumpul itu di perut pria bertudung, mdnghantamnya beberapa kali.
Lawannya melotot sebelum ikut berdebum di sebelah pedangnya, Xue Hongli menghampirinya.
"Jadi..." Xue Hongli melipat tangannya di belakang badan. "Siapa yang mengutusmu?"
Pria bertudung itu membuang muka, mulutnya mengulum seolah enggan mengeluarkan sepatah katapun.
"Masih keras kepala? Baiklah, tidak ada cara lain."
Kali ini Xue Hongli benar-benar mengeluarkan pedangnya dari sarung, kilat yang menyilaukan pada pedang itu membuktikan ketajamannya. Ia mengarakan ujungnya tepat di leher si pria bertudung, menyentuh dagunya dengan pedang itu.
"Tidak akan! Aku tidak akan mengatakannya, sebaiknya bunuh saja aku," ucap pria itu dengan lantang.
Xue Hongli tersenyum. "Kesetiaan yang patut dipuji, sayangnya... Aku tidak tertarik sama sekali. Kau sungguh mengira nyawamu cukup berharga? Tenang, aku bisa membunuhmu nanti, dan mencari keluargamu terlebih dahulu."
"Aku tidak punya keluarga." Pria bertudung itu berkata dengan percaya diri.
Namun kalimat itu tidak memudarkan senyuman khas Xue Hongli, dia menarik kembali todongan pedangnya.
"Kenapa kau menarik pedangmu? Ingin menyanderaku? Hukuman penyiksaan? Kau tidak akan pernah bisa membuka paksa mulutku ini dan kau..." pria bertudung itu bangkit untuk duduk. "Tidak akan bisa mengancamku."
Xue Hongli tertawa lagi. "Kau berpikir terlalu banyak, Tuan, aku tidak akan melakukan rencana seburuk itu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Shi Xia sudah berangkat ke kota Jiapei tiga jam yang lalu."
"Kau!" pria bertudung itu melotot panik, ia menggeram marah dan hendak meraih senjatanya yang tergeletak di sampingnya.
__ADS_1
Namun Xue Hongli segera menghunuskan pedangnya lagi. "Tuan Wen, aku mohon kerja samanya."
...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh. ...