
Liu Ying masuk ke Asosiasi Nanhua dengan gontai. Sebelah tangannya memegang tiga kendi arak yang diikat menjadi satu menggunakan tali sabut, sedangkan tangan sebelahnya memegang bungkus kain sebesar buah semangka.
"Song Jun, Aku kembali!"
Para pengawal membiarkannya masuk begitu saja, tentu saja karena mereka pernah bicara meski tidak dengan baik-baik. Liu menghentikan langkahnya ketika sampai di pintu masuk, seorang pria sedang berjalan keluar.
"Song Jun, aku berhasil mengumpulkan beberapa batu roh dan menukarnya dengan uang." Liu Ying mengangkan tiga kendi arak di tangannya sedikit lebih tinggi. "Aku juga membawa ini, kita minum bersama."
Song Jun melongo melihat kedatangan Liu Ying yang tiba-tiba, bahkan tanpa melapor. Gadis itu sudah berada di hadapannya dengan senyuman yang tidak bisa diartikan.
"Liu-Liu... Bagaimana keadaanmu, apa kau ada luka?" tanyanya berurutan.
Liu Ying mendecak kesal mendengarnya. "Aiyya, Song Jun. Kau sangat cerewet seperti Nenek Zhuo."
"Benarkah?" Song Jun terkekeh pelan.
Liu Ying mengaitkan tali sabut yang mengikat tiga botol arak di jari Song Jun, pemuda itu refleks menekuk jarinya. Dia tersenyum, Liu Ying bahkan sudah memperhitungkannya.
"Baiklah," ucapnya. "Mari kita berbicara di dalam."
Liu Ying mengangguk. Kemudian dua orang itu melangkah masuk dan berjalan menuju gazebo di taman belakang, Liu Ying menguap dengan lebar setelah menghirup aroma taman yang begitu segar.
Song Jun mengajaknya duduk untuk kemudian meletakkan tiga kendi arak di tangannya ke atas meja. Ia juga meminta pelayan untuk mengambilkan peralatan minum berupa gelas dan beberapa kue kering.
Saat Song Jun hendak menuang arak ke gelas, Liu Ying segera mencegahnya.
"Apa yang kau lakukan? Akan lebih baik jika kau meminumnya secara langsung," kilah Liu Ying meraih sebotol lainnya.
Song Jun mengerutkan alisnya. "Bukankah itu agak... Sedikit kurang sopan?"
"Kau sangat membosankan."
__ADS_1
Pemuda itu terkekeh, ia tidak jadi menuang arak tadi ke dalam gelas. Song Jun mendekatkan botol itu ke bibirnya kemudian meneguk isinya, membuat Liu Ying menatapnya bingung.
"Menebas Malam. Kau memang pintar memilih, Liu-Liu, kau bahkan tahu arak kesukaanku," ujar Song Jun menampilkan senyuman.
Liu Ying menaikkan sebelah alisnya. "Oh, ya?" tanyanya spontan. "Aku bahkan tidak tahu bahwa kau suka minum arak. Jika kau suka, aku akan bawa lebih banyak lain kali."
Seketika senyum di wajah pemuda itu pudar dalam sekejap, sedikit malu dengan perkataannya barusan. Berpikir mengenai topik, Song Jun tidak tahu harus memulainya dari mana. Kemudian dia berniat mengungkit sedikit tentang rencana perjalanannya.
"Jadi... Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Song Jun mengalihkan topik pembicaraan.
Liu Ying tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. "Kupikir, aku akan mencari seseorang untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Dua bulan sudah berjalan, tidak mungkin ketua sekte akan diam saja."
"Maksudmu... Ketua Cheng sedang menyelidikimu saat ini?" tanya Song Jun pelan.
Liu Ying mengangguk ringan sambil meraih kue kering dari atas meja, kemudian berkata, "Lebih tepatnya, dia sedang mengawasiku. Dengan sifatnya, bagaimana mungkin aku bisa duduk cukup tenang di sebelahmu setelah kabur dari sekte? Jika dia mau, satu minggu cukup untuk meringkusku, menyeretku untuk kembali ke sekte. Menurutmu, kenapa ketua sekte tidak melakukan itu?"
Song Jun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, tapi dia berusaha tetap tenang untuk mendengar kalimat selanjutnya.
Gadis itu meneguk araknya lagi. "Aku masih belum tahu alasannya membiarkankanku. Tapi untuk saat ini, aku yakin bahwa dia tidak akan mengambil tindakan apapun. Kenapa kita tidak memanfaatkannya untuk bersantai tanpa harus memikirkan permasalahan merepotkan?"
"Kau ini, gadis bodoh. Bukankah kau juga tahu bahwa cepat atau lambat, ketua Cheng akan menjemputmu? Saat itu terjadi, kau mungkin tidak akan bisa untuk sekedar mencium aroma tanah di luar pagar sektemu. Apa kau akan diam saja?" tanya Song Jun sarkas.
Liu Ying sebenarnya sudah memikirkan hal ini jauh-jauh hari. Meski begitu, Liu Ying belum tahu solusi yang tepat untuk menyelesaikan hal itu. Liu Ying bahkan tidak dapat menangkap segenggampun bayangan sekte Teratai Emas di Xiliang, dia harus mencari Zheng Tian terlebih dahulu.
Dalam tebakan Liu Ying, Xi Guan pasti akan bertindak dalam waktu dekat. Entah itu para senior, atau bahkan Xi Guan sendiri, mereka mengawasinya sejak Liu Ying berada di penginapan bersama Hu Xian dan Wei Ziyou. Kejadian di hutan bambu sudah menyebar ke mana-mana, atasan Mao Shen sudah ditangkap dan sedang lama proses interogasi.
Meski deskripsi mengenai orang yang membakar penjara di hutan bambu itu tidak terlalu jelas, tapi satu ciri saja sudah cukup untuk membuat Xi Guan menyadari bahwa orang tersebut adalah Liu Ying.
"Kurasa... Ini akan menjadi waktu mengobrol terakhir kita. Di masa depan, kita bisa melakukan reuni pada saat Xi Guan tidak lagi menjadi masalah utam," tukas Liu Ying datar.
"Hutangmu kepada Hu Xian, apakah kau sudah tidak lagi memiliki halangan? Lalu, kalian sudah saling berpamitan?"
__ADS_1
Liu Ying menjawab, "Tentu saja, kami berpamitan dengan sangat baik."
Song Jun tampak kecewa mendengar bahwa saat ini adalah terakhir kalinya mereka bisa berbincang dengan akrab, Liu Ying benar-benar gadis yang sulit didekati, tapi sangat tulus sebagai teman. Bahkan Song Jun sendiri tidak menyangkal bahwa pada awalnya dia sempat tertarik kepada Liu Ying, Song Jun sangat mengaguminya.
"Baiklah, ini bukan akhir. Mari bersulang untukku!"
Liu Ying memajukan botol anaknya ke depan, disusul Song Jun yang kemudian membenturkan kedua botol tersebut hingga menimbulkan bunyi yang khas.
Bagian terbaiknya adalah saat Liu Ying menemukan banyak teman yang bisa dipercaya dalam waktu singkat. Tidak tahu di masa depan, akan ada orang baru lagi?
Dua muda-mudi itu terus mengobrol hingga langit hampir gelap. Ketika saat itu tiba, mereka segera mengakhiri aktivitas dan beranjak menuju aula.
Song Jun berhenti di belakang Liu Ying dan berucap, "Apakah tidak bisa berangkat besok pagi saja? Sekarang hampir gelap."
"Justru aku harus pergi saat gelap, itu akan leluasa."
Song Jun mengangguk membenarkan hal itu, "Atau perlu kuantar?"
"Tidak perlu."
Liu Ying sibuk mengacak-acak isi tas kainnya kemudian mengeluarkan sekantung penuh koin, Song Jun ragu-ragu menerimanya.
"Ini janjiku, pasti akan kubayarkan. Kalau kau tidak terima, maka sama saja dengan melukai harga diriku," ucapnya lagi.
Mereka akhirnya saling berpamitan satu sama lain. Liu Ying menuju ke pusat kota dimana tempat itu merupakan yang paling ramai di Xiliang, tidak terlalu jauh dari asosiasi Nanhua. Gadis itu membelah kerumunan, berjalan menuju gang paling ujung yang gelap dan terlihat sedikit sepi.
Dengan samar Liu Ying tersenyum bagai predator yang mendapatkan mangsanya, mendekat ke arah seorang pria yang berdiri membelakanginya.
"Kena kau, Zheng Tian!"
...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh. ...
__ADS_1