Immortal Fire

Immortal Fire
Chapter 24 : Dekrit Tuhan


__ADS_3

"Menurutmu-?"


Liu Ying bergidik ngeri saat melihat senyuman wanita itu, senyum janggal yang tidak sesuai dengan wajah cantiknya.


"Apa mungkin kau seorang mata-mata-?" tanya Liu Ying penuh curiga.


Wanita itu tertawa sangat keras, "Kau terlalu melebih-lebihkan dirimu. Seorang mata-mata hanya akan menguntit orang penting, bukan bocah nakal sepertimu."


"Lagipula, Zhou Li menugaskan aku untuk mengantar dan membekalimu beberapa perlengkapan. Bagaimana mungkin aku memata-mataimu," Sambung wanita yang konon katanya bernama Yu Niang itu.


Dalam hati, Liu Ying mengutuk wanita itu karena mengatakan cara bicara Liu Ying mirip seperti Zhou Li.


Mirip apanya-? Padahal, wanita itu lebih mirip dengan Zhou Li dalam hal menindas dan berbicara pedas.


"Sudahlah-! Karena kau sudah di sini, ada baiknya kau membantu beberapa pekerjaanku." ucap wanita itu dengan tampang seolah tak berdosa.


Licik, wanita ini bahkan lebih buruk dari Zhou Li.


Liu Ying menghela nafas malas. Kenapa setiap orang yang memiliki hubungan dengan Zhou Li selalu aneh-aneh, pemain trik dan mampu membaca pikiran.


"Aiyoo, jangan mendengus seperti itu. Tidak sopan," sindir Yu Niang.


Yu Niang membawa Liu Ying memasuki bagian dalam rumah makan tersebut, melewati dapur, menaiki tangga, kemudian masuk lebih dalam lagi sampai menemukan sebuah kamar di bagian paling ujung.


"Kau bisa beristirahat di sini dahulu, nanti akan ada orang yang membawa air hangat untukmu membersihkan diri. Setelah itu kau harus turun dan membantuku untuk mencuci wadah-wadah kotor bekas pelanggan," semprot Yu Niang tanpa henti.


Untuk sesaat, Liu Ying sudah berpikir baik tentang wanita itu sampai pada kalimat terakhir, Liu Ying menyesali penilaiannya.


Sepeninggal Yu Niang, Liu Ying segera berkemas. Ia tidak mau mengenakan pakaian pelayanan yang dipinjamkan Yu Niang, Liu Ying lebih memilih baju bau yang sudah dipakainya beberapa kali daripada dijadikan pelayan rumah makan. Setidaknya lebih mirip seorang pendekar.


Setelah bersiap-siap, Liu Ying segera turun ke dapur dan bergabung bersama pelayan lainnya.

__ADS_1


"Hei, siapa namamu tadi? Mei-"


"Panggil aku A'Ying-!" potong Liu Ying dengan cepat kepada pelayan yang menyapanya.


Pelayan itu meringis heran, "Ah, iya. A'Ying, kau bantu angkat wadah kotor di meja pelanggan ketika mereka sudah selesai."


Liu Ying mengangguk lesu, seharian ini ia habiskan untuk bekerja. Apa boleh buat, Liu Ying hanya orang yang menumpang.


Asyik bekerja, Liu Ying sedikit tertarik dengan pembicaraan dua orang pelanggan di meja paling ujung rumah makan itu.


Ia dapat melihat dengan jelas seorang pria berpakaian putih dengan perpaduan biru muda, tengah berbicara dengan orang di depannya.


Dilihat dari penampilannya, sudah pasti orang itu adalah keturunan bangsawan. Orang itu memiliki tubuh yang tinggi dan ideal, serta lumayan tampan.


Sementara orang di hadapannya mengenakan pakaian hitam tidak terlihat jelas, karena posisi orang itu membelakangi Liu Ying.


Karena begitu penasaran, Liu Ying sedikit mendekat ke arah meja itu sambil berpura-pura mengelap beberapa meja yang tidak jauh dari sana.


Pria berbaju putih itu tampak berpikir keras, "Dekrit Tuhan dan senjata Surgawi adalah benda yang diperebutkan oleh dunia persilatan, seharusnya Huo Yang dapat menaklukkan dunia jika kedua benda tersebut ada dalam kendalinya."


"Lantas, kenapa dia memilih mati?" timpal pria di depannya.


"Hal itulah pokok permasalahannya. Semua orang mendengar kabar kematiannya, namun tak ada seorang pun yang pernah melihat jasadnya secara langsung. Kemudian, Dekrit Tuhan bersama senjata Surgawi itu seolah menghilang dari muka bumi."


Liu Ying menguping pembicaraan itu secara seksama. Ia bertanya-tanya di dalam hati, siapakah gerangan pendekar Huo Yang ini, kenapa ia begitu misterius?


"Kunci permasalahannya mungkin saja ada pada suku Phoenix, tapi keberadaan mereka tak pernah diketahui siapapun." lanjut pria berbaju putih itu lagi.


Lawan bicaranya terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, "Saudara Xue, ada baiknya jika kita melakukan investigasi dan menyerahkan masalah ini kepada Biro Heise untuk selidiki lebih lanjut."


Orang yang dipanggil Xue itu mengangkat tangan kanannya sejajar dengan kepala, mengisyaratkan untuk berhenti bicara.

__ADS_1


"Sudah cukup mencuri dengar pembicaraan kami?" ucap pria itu kemudian menatap ke arah Liu Ying yang berdiri membelakangi mereka dengan tajam.


Liu Ying tidak berani berbalik, melainkan berlari kecil menuju ke dalam dapur dengan kaget.


"Saudara Xue, jangan terlalu serius. Bukankah dia hanya pelayan biasa? Dia tidak tahu apa-apa mengenai misi kita," ucap orang berbaju hitam sambil menatap punggung Liu Ying yang berlangsung menjauh.


Pria Xue itu masih dengan tatapan tajam yang sama, "Dia bukan pelayan biasa, aku merasakan tenaga dalamnya lumayan tinggi, namun dia sembunyikan dengan sangat baik. Sama seperti kita, orang itu pasti juga memiliki misi."


"Wahh, kemampuanmu memang hebat. Aku bahkan tidak merasakan energi setipis benang pun, tak heran kau dijuluki sebagai pendekar Bayangan Matahari."


Pria berbaju putih itu menggeleng, "Kau terlalu melebih-lebihkan, Saudara Su."


Setelah menyelesaikan aktivitas makan mereka, dua pendekar itu segera beranjak dan meninggalkan beberapa keping emas di atas meja.


Liu Ying mengintip dari balik tirai jendela dapur, menelisik kepergian dua pria yang sepertinya memegang informasi penting dunia persilatan. Sungguh kejadian langka Liu Ying dapat mendengar langsung dari orang-orang yang terlihat terkenal itu.


Bukannya merasa puas, Liu Ying bahkan bertambah penasaran setelah mendengar cerita tentang pendekar legendaris Huo Yang itu.


Katanya orang itu memegang---Dekrit--- entah apalah itu, yang terdengar jelas adalah bahwa ia memiliki senjata hebat yang dapat menaklukkan seluruh dunia. Siapa yang tidak akan tergiur mendengarnya?


Sayang sekali informasinya tidak lengkap, padahal Liu Ying juga ingin memburu benda itu. Tapi kalau dipikir-pikir semua itu tidaklah mungkin, karena Liu Ying hanyalah seorang bandit kecil, bukan tandingan para jenius bela diri terkenal yang berseliweran di dunia persilatan.


Seorang pelayan menepuk bahu Liu Ying, "Hei, kenapa kau malah bermenung?"


Lamunan Liu Ying buyar seketika, ia dengan cepat kembali ke pekerjaannya. Rupanya Yu Niang sedari tadi memandanginya dari sudut ruangan sembari tersenyum miring melihat gerak-gerik gadis itu.


Liu Ying sempat menoleh ke arah Yu Niang kemudian bergidik ngeri, terkadang wanita tua itu sama sekali tidak terlihat seperti manusia.


Liu Ying hanya bisa berharap bahwa hari esok harusnya lebih fantastis lagi. Bekerja di rumah makan juga memiliki keuntungan tersendiri, Liu Ying dapat dengan mudah mendapatkan informasi dari seluruh pelosok dunia hanya dengan cara menguping.


...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh....

__ADS_1


__ADS_2