Immortal Fire

Immortal Fire
Chapter 29 : Perjalanan bersama Zheng Tian


__ADS_3

Liu Ying berjalan mengendap-endap menuju rumah makan. Hari sudah pagi, orang-orang mulai mengisi jalanan dan asap mulai mengepul di mana-mana.


Dengan sebersit senyum, Liu Ying menatap rumah makan itu dengan teliti setiap sudutnya. Ia berharap dapat mengingat semua detail rumah makan itu, dalam hati ia berjanji akan kembali dan membayar semua hutangnya.


Setelah dirasa cukup, Liu Ying menunduk dan berjalan ke bagian belakang rumah makan agar tidak ketahuan.


Dengan cekatan ia memanjat atap dan melewati cerobong asap yang sudah tidak dipakai lagi, turun melalui lubang itu, lalu mendarat dengan sempurna.


Liu Ying bergegas menuju kamarnya, mengepak barang-barangnya. Ia mengeluarkan secarik kertas dan sebuah pena kemudian memberikan beberapa guratan di sana.


Setelah selesai, Liu Ying langsung pergi dari tempat itu.


***


"Ayo, Pak Tua. Kita berangkat," ucap Liu Ying langsung masuk ke gubuk itu.


Zheng Tian menatap Liu Ying sinis, "Barangku banyak, kau bantulah angkat sebagian bungkusan ini."


"Seenaknya. Itu barangmu, jadi angkat saja sendiri." Liu Ying melirik dua buntalan besar itu jijik.


"Anak tidak tau terima kasih."


"Lagipula kenapa kau harus membawa baju sebanyak itu? Kan itu akan merepotkan di perjalanan jauh," ucap Liu Ying protes.


Zheng Tian ingin sekali menjitak Liu Ying saat itu juga, "Isi buntalan ini adalah buku-buku berharga, kita akan membutuhkannya."


Liu Ying menghela nafas, kemudian teringat sesuatu. Ia mengeluarkan sebuah gelang besi, menyerahkan benda itu kepada Zheng Tian.


"Kata nenek Zhuo, ini adalah gelang Qiankun dan fungsinya hampir sama dengan kantung Qiankun. Aku sudah mencobanya berkali-kali tapi tidak bisa digunakan, mungkin kau tahu."


Zheng Tian langsung tersenyum lebar, "Anak bodoh, ini adalah benda berharga. Kita bisa membawa apapun termasuk gubuk ini."


Gelang Qiankun adalah gelang yang dapat digunakan untuk menyimpan barang-barang yang tidak mungkin untuk diangkut sendirian, barang itu sangat langka.


Hampir sama dengan kantung Qiankun dan lengan Qiankun, gelang itu juga dapat memuat barang sebesar tenaga dalam pemiliknya. Semakin besar tenaga dalam pemiliknya, maka semakin besar pula muatan yang bisa ditampung.


Perbedaannya dengan kantung Qiankun dan lengan Qiankun adalah, kantung Qiankun dan lengan Qiankun dapat langsung digunakan dan kau dapat memasukkan benda yang kau inginkan secara langsung.

__ADS_1


Kantung Qiankun dan lengan Qiankun tidak terlalu luas, hanya dapat menampung barang paling besar satu kamar saja.


Berbeda dengan gelang Qiankun, benda itu hanya dapat digunakan dengan menciptakan ruang ilusi di dalam fikiran yang luasnya tak terhingga.


"Kau hanya perlu meneteskan darahmu di atasnya, kemudian memegang barang yang ingin kau tampung. Tutup matamu dan bayangkan sebuah ruang ilusi," ucap Zheng Tian semangat.


Liu Ying segera mempraktekkannya, mengambil sebuah pisau kecil dari pinggangnya dan mengiris sedikit kulitnya.


Gelang itu bersinar sesaat setelah Liu Ying meneteskan darahnya, Liu Ying takjub dibuatnya.


"Woah, ini hebat."


Zheng Tian tersenyum bangga untuk dirinya sendiri, "Sekarang kau angkut barangku."


"Enak saja. Aku hanya akan mengangkut satu bungkus saja, sisanya kau angkat sendiri."


"Dasar pelit. Jika tidak kuberi tahu, kau tidak akan bisa menggunakan benda fantastis ini," tukas Zheng Tian kesal.


Liu Ying melipat tangannya di dada, "Aku bisa bertanya pada orang lain, memangnya kau saja yang tahu?"


Zheng Tian tertawa getir, "Kalau kau bertanya pada orang selain aku, kau akan ditipu. Siapa yang tidak menginginkan benda praktis dan fantastis itu?"


"Aku juga punya, bodoh. Kau pikir aku akan merebutnya darimu?" Zheng Tian mengeluarkan sebuah cincin besi yang tampak kusam kemudian mengusap-usap benda itu dengan bajunya.


"Ini adalah cincin Qiankun, fungsinya sama saja dengan punyamu. Aku jarang menggunakannya," ucap Zheng Tian sembari menatap benda agungnya itu.


Mereka segera berberes, Liu Ying memasukkan semua barangnya ke dalam gelang Qiankun-nya, begitupun dengan Zheng Tian.


Liu Ying melongo dan sedikit malu, "Kenapa tidak dari tadi, kau terlalu banyak bicara dan membuang waktu berharga kita."


Zheng Tian tertawa, "Kupikir tidak seberharga itu. Ayolah, mari berangkat."


Zheng Tian berjalan mendahului Liu Ying, menyusuri jalanan ramai. Liu Ying hanya mengikuti dari belakang, sedikit tersenyum dan kembali teringat lembah Teratai.


Zhou Li, Fang Yao, Jia Li. Zheng Tian mengingatkan Liu Ying kepada mereka, hampir mirip. Apakah begini rasanya memiliki kakek yang tidak pemarah?


Selalu bercanda, menghibur, serta sangat cerewet. Mungkin Zheng Tian adalah kakek impian Liu Ying, dia adalah orang yang menyenangkan.

__ADS_1


Berbanding terbalik dengan Xi Guan yang pemarah, suka menekan, aura yang mencekam, dan ringan tangan. Liu Ying bahkan benci dilahirkan sebagai cucunya.


Panggilan 'Anak bodoh', 'Bocah bodoh', 'Tolol' dari Zhuo Li, semuanya Liu Ying rindukan. Hanya wanita itu yang bersedia meletakkan tangannya di kepala Liu Ying, menunjukkan perhatian layaknya seorang ibu.


Ayah, ibu, kenapa pula Liu Ying harus dilahirkan tanpa orang tua? Mendekam di neraka Xi Guan selama bertahun-tahun, bahkan tak ada yang bersedia menceritakan tentang orang tuanya selain Zhou Li.


Tidak seperti anak-anak lainnya, mereka diajarkan ilmu bela diri langsung oleh ayahnya. Mereka akan memakan masakan sang ibu setelah berlatih setiap hari, betapa bahagianya?


Tak terasa, jalanan mulai terasa sepi. Jalanan mulai dipenuhi oleh pepohonan, membuat tempat itu agak minim cahaya.


Mereka telah memasuki hutan. Liu Ying memandangi setiap jalan yang ia lewati, mencoba mengingat setiap sisi strategis dan membuat sebuah peta di otaknya.


"Pak Tua, kita sudah sampai di mana?" ucap Liu Ying yang sejarak satu meter di belakang pria itu.


Zheng Tian berhenti dan menoleh, "Baru jalan sebentar, kau sudah bertanya. Sepertinya pengalamanmu kurang."


"Aku hanya penasaran. Dan kau benar, aku belum berpengalaman. Jadi mohon arahannya," ucap Liu Ying malas.


Zheng Tian menatap heran, "Kau belum pernah melakukan perjalanan jauh?"


"Aku baru mencobanya tiga hari lalu, aku kabur dari lembah Teratai hingga ke Liang. Ini yang ke dua," terang Liu Ying seadanya.


Zheng Tian tersenyum simpul, kemudian mengajak Liu Ying untuk istirahat di bawah pohon.


"Kemarilah, kita istirahat di sini dulu. Untuk selanjutnya kau harus membiasakan diri."


Pria tua itu mengeluarkan wadah minumnya dan menawarkannya kepada Liu Ying, "Hidup di luar itu keras, bukan seperti di lingkungan sekte. Di sini, siapapun yang kuat dan bisa bertahan, maka ia berkuasa."


Liu Ying menerima botol minum dari bambu itu, kemudian meneguknya. Ia menyimak pembicaraan Zheng Tian dengan seksama.


"Anak muda, kita sekarang adalah rekan. Jadi bolehkah aku tahu namamu? Aku bingung akan memanggilmu apa."


"Untuk apa kau tahu namaku, lagipula pada akhirnya kau tetap memanggilku Anak Bodoh," ujar Liu Ying sinis.


Zheng Tian terbahak mendengar penuturan pedas yang dilontarkan Liu Ying, "Kau pintar juga, aku memang akan tetap memanggilmu dengan sebutan itu. Bagaimana kau bisa tahu?"


"Semuanya tertulis di wajahmu," jawab Liu Ying menyahut kekehan Zheng Tian.

__ADS_1


...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh....


__ADS_2