Istri Barbar (Alexandria Dan Tiga Serangkai)

Istri Barbar (Alexandria Dan Tiga Serangkai)
BAB 1 Bertemu Dalam Huru Hara


__ADS_3

Di sebuah hotel...


"Sesuai yang anda minta"


Seorang bos meminta pada anak buahnya untuk menyodorkan koper bersisi bubuk obat-obatan terlarang pada rekan bisnisnya.


"Hmm, rasanya aku ingin terbang",Ucap si rekan bisnis sembari meletakkan kembali barang terlarang itu,selepas mencicici rasanya.


"Ada uang ada barang"


Si bos dengan gesit menutup kembali koper itu.


"Hah, kenapa terburu-buru, apa kamu tidak mempercayaiku"


"Bukan tidak percaya, hanya waspada"


"Waspada? Akulah yang seharusnya waspada, hanya untuk menemuiku saja, kau perlu membawa orangmu sebanyak ini? "


Pria itu memandangi para anak buah yang berdiri pada dibelakangnya. Termasuk wanita bergaun merah mini, yang berdiri tepat dibelakang bos.


"Sudahlah jangan banyak omong, cepat kirim uangnya, aku tidak punya banyak waktu"


"Hah, baiklah"


Si pria menghela nafas kemudian mengeluarkan ponselnya.


"Nona Enny"


Si wanita bergaun merah mengerti dengan panggilan bosnya lalu menu mendekati si pria menunduk dan memperlihatkan nomer rekening yang hendak di tuju melalui layar ponselnya. Si pria sempat memperhatikan wajah wanita itu sejenak lalu menyeringai penuh maksud.


"Apa yang ini bisa kubeli juga? ",


Tanyanya mengerling nakal, si bos hanya tertawa singkat.


"Dia terlalu berharga untuk dijual"


" ah sayang sekali, padahal setelah ini aku punya waktu panjang untuk bersenang-senang"


Mendengar hal itu nona Enny hanya diam tidak menunjukkan ekspresi apapun.


Pada saat transaksi transfer uang hampir berlangsung tiba-tiba pintu diketuk.


"Siapa? ",Tanya anak buah yang berjaga di depan pintu.


"Pelayan, service hotel"

__ADS_1


Setelah mendapat persetujuan dari bos anak buah itu lantas membuka pintu. Lalu terlihat seorang pria dengan seragam pelayan membawa stiker berisi sajian. Setelah memerikasa si pelayan dengan seksama kemudian pelayan itu mendorong stolernya. Namun nahas, Tiba-tiba kakinya terantuj karpet dan terjerambab dan tiba-tiba sebuah pistol terlempar darinya. Suasana tiba-tiba menegang. Masing-masing kubu saling menodongkan pistol. Sementara si pelayan juga ditodong pistol oleh salah seorang anak buah dari bos.


Yah, pelayan hotel mana yang membawa pistol. Tapi bukankah sang anak buah tadi sudah memeriksa?


"Itulah yang ku maksud waspada",Katanya sambil menarik koper dimeja.


"Wah, aku bahkan tidak mengenalnya. Kupikir dia ada dipihakmu, karena dari awal kaulah yang suka main kroyokan, pengecut",Sangkal si pria dengan pistol siap siaga mengarah pada si bos.


"Diam jangan pura-pura"


"Kita buat mudah, bagaimana kalau kita tanyakan padanya saja"


Salah seorang anak buah menarik paksa si pelayan untuk berdiri dengan keadaan mengangkat tangan dan pistol menempel dikepalanya.


"Aku hanya pelayan"


"Jangan main-main, katakan yang sebenarnya",


Sentak si bos dengan berang.


"Sungguh"


"Baiklah aku tidak suka berbelit-belit"


Si bos memberi kode pada anak buahnya, si anak buah mengerti kode itu bahwa dia harus menembak si pelayan.


Lalu dalam hitungan detik pelayan itu menggerakkan tangan kanannya dan pistol yang tadi tergeletak dilantai tiba-tiba seperti terbang dan kini sudah berada di dalam gengamannya.


Melihat hal itu suasana semakin menegang, lalu terjadilah huru-hara dalam ruangan itu. Hingga akhirnya karena kalah jumlah, si pria dan si pelayan itu berhasil mereka tangkap.


"Bunuh mereka berdua! "


Salah seorang anak buah maju dan bersiap untuk menembak namun secara tidak diduga wanita yang bernama Enny yang berada dibelakangnya berhasil melumpuhkan anak buah dan mengambil alih pistol dari tangan anak buah itu.


"Lepaskan mereka! "


Nona Enny menodongkan pistol ke kepala sang bos. Mereka semua tampak terkejut.


"Apa-apaan in, jadi kau juga bagian dari merek, tau begitu ku jual saja kau"


"Jangan banyak bicara, lakukan saja apa yang ku minta! "


"Lepaskan! ",Ujur si bos memerintahkan.


Namun setelah itu terjadi huru-hara lag dan berakhir dengan beberapa anak buah yang tewas namun si bos dan sisa anak buahnya berhasil melarikan diri.

__ADS_1


***


Hari sudah hampir pagi saat kerumanan polisi dan media massa serta beberapa kerumunan massa mengelilingi hotel tempat kejadian perkara.


"Semuanya baik-baik saja? ",Tanya pelayan tadi yang kini telah berganti busana menghampiri si pria dan nona Enny yang sedang mendapatkan pengobatan didalam ambulance.


"Apanya yang baik, semuanya baik-baik saja sampai kau datang dan mengacaukan segalanya",Jawabnya sewot.


"Hai,santai, aku kan cuma bertanya"


"Aku tidak butuh simpati, mungkin dia perlu! ",


Katanya sambil melirik wanita yang duduk di tempat duduk lainnya. Dia lalu turun dari mobil bulance sembari menurunkan lengan kemejanya, berencana untuk pergi.


"Mau kemana? ",Tanyanya masih dengan nada ramah


"Pulang lalu tidur, tidak ada lagi yang bisa dikerjakan disini"


Sahutnya acuh lalu melengang santai meninggalkan tempat itu.


"Kau baik-baik saja? ",Tanyanya kini beralih pada si wanita yang juga menuruni mobil ambulance setelah menjalani pengobatan pada luka-luka ringan ditubuhnya.


"Ya, terimakasih atas perhatianmu",Sahutnya dengan ekpresi biasa saja.


"Terimakasih juga tadi telah menyelamatkanku"


"Sama-sama"


"Mau pergi juga? "


"Ya, ini masih terlalu pagi untuk mengobrol bukan?"


Sahutnya sambil melengan, Dress merah yang melekat ditubuhnua memang membuat lekuk tubuhnya sangat seksi.


"Hei, bagaimana kalau ku antar sebagai tanda terimakasih? "


"aku bisa pulang sendiri",Sahutnya setengah berteriak. Lalu terlihat memanggil taksi yang sedang parkir di pinggiran jalan.


"Hai, Jack, kamu belum pulang? ",Teriak seseorang rekan dari kepolisian.


"Aku baru saja akan pergi"


"Lalu kenapa masih berdiri saja disini? "


"Hah, ternyata memang mencari musuh itu lebih mudah daripada mencari teman"

__ADS_1


Kata Jack pada akhirnya sambil mendesah, lalu menepuk pundak rekannya itu lalu pergi meninggalkan seraut wajah bingung pada polisi itu.


Benarkah mereka bertiga tidak akan berkawan?


__ADS_2