
Ryu dengan perlahan memeriksa luka diperut Alex yang tidak sengaja terkena pecahan kaca karena huru hara di Cafe tadi dan ternyata luka Alex membutuhkan jahitan.
"Kita harus membawanya kerumah sakit?"
"Tidak, kita belum tau benar siapa para pelaku tadi, ini akan sangat berbahaya!"
Jack menolak dengan tegas, karena dia merasa khawatir para pelaku tadi memang sengaja mengincar Alex atau semacamnya. Siapa ada yang tahu.
Ryu dengan cekatan mengambil pensil dan buku gambar milik Yumna yang terletak dimeja samping tempat tidur Alex,kemudian menuliskan sesuatu disana.
"tolong belikan ini!"
Ryu menyobek selembar buku gambar milik Yumna yang kemudian diterima Han saat Ryu menyodorkannya. Han bergegas pergi tanpa bertanya lagi.
***
Dari hasil investigasi polisi, kejadian di Cafe itu adalah ulah para ******* berkedok jihad. Mendengar hal itu Alex merasa sedikit lega,namun dia tetap merasa perlu waspada karena Ryu berada diantara mereka.
"Apa maksud kalian?"
Alex bertanya dengan nada heran ketika menuntut penjelasan dari Jack tentang kebebasan Ryu yang tidak seharusnya.
"Itu benar, sebenarnya Ryu juga hanya seorang korban"
Jack menarik nafas panjang sebelum melanjutkan.
"Selama ini Ryu telah diculik dan dipaksa untuk melakukan perbuatan ilegal itu. dan kamu pun dijadikan kelinci percobaan bukan atas kemauannya, tetapi atas perintah Martin"
"Jadi selama ini dia berbohong?"
Alex menunjukkan raut wajah tidak percaya.
"Itu karena ada keluarga yang harus dia lindungi, dia diancam akan membunuh semua keluarganya jika dia tidak mau melakukannya."
"Lalu apa yang membuatnya kini mengatakan yang sebenarnya? oh, aku tau, tentu dia sudah rela jika keluarganya dihabisi."
Sindir Alex dengan raut wajah mengejek. Dia melirik keluar melalui kaca jendela, dihalaman Ryu dan Yumna yang sedang bermain bola bersama tentu saja dalam pengawasan Han.itupun terpaksa Alex setujui karena Yumna terus-terusan merengek dan sangat keras kepala ingin bersama Ayahnya.
'sekali kriminal tetap kriminal'
"Bukan karena itu,Alex."
"Lalu?"
"Yumna... karena Yumna"
***
Ternyata Jack dan Han sepakat untuk mengajukan membuka kembali kasus Ryu. Selama ini Jack merasa curiga Ryu tidak sepenuhnya bersalah pada kasus ini dan seperti ada sesuatu yang dia tutup-tutupi.
"kamu bisa mengatakan yang sebenar-benarnya dan aku akan menjamin kebebasanmu."
Ryu tersenyum tipis.
"Aku tidak tertarik dengan sebuah kebebasan. diluar sana tidak ada kebebasan untukku ,jadi itu tidak ada artinya"
"Oke, bagaimana dengan ini?"
Jack menyodorkan sebuah foto lalu Ryu melihatnya dengan perlahan.
"Kebebasanmu mungkin tidak penting bagimu, tapi kebebasanmu sangatlah berarti untuknya."
Ryu menatap pada Jack sekilas lalu melihat ke Foto itu, wajah seorang gadis kecil tersenyum manis disana. wajah yang sangat mirip dengannya.
"Dia jenius, kurasa itu menurun darimu dan ... keras kepala seperti ibunya."
Jack tertawa ringan sambil membayangkan wajah Yumna dengan tingkah laku seorang bocah yang menurutnya sangat polos.Ryu mendengar namun tidak mengangkat wajahnya dari foto itu. Foto itu seperti telah membiusnya. Atau memang ada sebuah ikatan batin yang menembus batin Ryu.
"Pikirkanlah!"
Jack berdiri dan memutar tubuhnya bermaksud menyudahi pertemuannya dengan Ryu.
"Siapa namanya?"
Jack menoleh dan melihat Ryu juga menatap dirinya.
"Yumna."
***
"Tetap saja aku tidak mau dia terus-terusan berada disini"
__ADS_1
"Kenapa?"
Jack megeryitkan dahi karena setelah mendengar semua penjelasannya harusnya Alex tidak lagi perlu merasa khawatir.
"Apa kamu tiba-tiba jadi b0_d0h, dia bisa saja memancing penjahat yang sebenarnya karena mengincar Ryu lagi."
"Sejak kapan kamu jadi penakut, Alex?"
"Dan sejak kapan kalian berteman dengannya?"
Alex membalas Jack dengan sengit. Apalagi melihat Han turut bermain bola bersama dan terlihat mereka tertawa lepas. Alex kemudian beranjak berdiri diambang pintu.
"Yumna, sudah cukup mainnya, kamu harus tidur siang!"
mendengar teriakan Alex mereka secara otomatis berhenti bermain.
"Tapi, Ibu, aku masih ingin bermain dengan Ayah"
Yumna terlihat merajuk dan merangkul Ayahnya. Ryu kemudian mengendong Yumna menuju teras. Sementara Han melipir masuk lebih dulu kedalam, tidak ingin berurusan dengan Alex saat dalam situasi seperti ini. Bisa fatal akibatnya.
Saat Alex menyodorkan kedua tangannya untuk mengendong, Yumna melakukan gerakan menolak dengan merangkul bahu Ryu.
"Aku ingin tidur siang dengan Ayah."
"Tidak!"
"Kenapa tidak boleh?"
Tuntut Yumna
"Tidak itu artinya, ya, tidak"
"Tapi harus ada alasannya kan,Bu?"
'Astaga'
"Sudahlah Yumna, ikut saja apa kata ibu lalu semuanya selesai, oke, untuk kali ini saja, jangan membuat Ibu kesal"
"Tidak mau, aku sudah sering tidur dengan ibu, dan ini untuk pertama kalinya aku tidur dengan Ayah, masa tidak boleh?"
"Yumnaaa...."
Alex sangat geregetan mendengar penolakan putrinya.
"Oke-oke, cukup Yumna, terserah padamu saja"
'Astaga'
Sungguh pening kepala Alex mendengarnya. Meskipun hal itu benar adanya. Alex menghela nafas menahan gejolak hatinya. Dia tahu Yumna sangat keras kepala dan tidak akan mendengarkannya.
Didalam Jack dan Han tertawa cekikikan mendengar perkataan Yumna.
"Kalau begitu aku pergi sebentar, aku perlu udara segar sekalian aku mau melihat keadaan Cafe."
Alex kembali kedalam dan mengambil kunci mobil kemudian keluar kembali tanpa menghiraukan Ryu yang melangkah masuk.
"Apa kalian sungguh akan membiarkannya pergi, biar bagaimanapun dia masih terluka, obat anti nyerinya membuat rasa sakitnya hampir tidak terasa, tetapi sebenarnya dia masih membutuhkan istirahat agar cepat pulih"
Mendengar hal itu Han dan Jack akhirnya menyusul Alex yang sudah duduk dikemudi mobil.
"Keluar sekarang!"
Han berkata sambil mengetuk kaca mobil.
"Kami yang akan pergi ke Cafe."
Lanjut Han ketika Alex keluar dari mobil.
"Lalu siapa yang akan menjaga Yumna?"
"Ibu dan Ayahnya."
Jack mengoda sambil tersenyum jahil.
"Aku tidak mau berdua saja dengannya di rumah"
"Berdua?"
Kali ini ganti Han yang usil mengoda.
"Tampaknya kamu sudah mulai menyukainya?"
__ADS_1
lanjut Han tertawa ringan.
"Diam kalian, biar aku yang ke kafe, kalian jaga Yumna!"
Perasaan Alex bertambah buruk karena kedua rekannya itu. namun saat hendak membuka pintu mobil...
"Aleeexxxx"
Kalau mereka berdua sudah menyebut nama Alex secara bersamaan itu artinya Alex tidak bisa berbuat apappun lagi.
"Masuk dan istirahatlah, biar lukamu segera membaik!"
Jack merangkul bahu Alex dengan lembut.
"Aku tidak peduli."
Alex menghempaskan tangan Jack.
"Oh , jadi kamu lebih senang Ryu merabai perutmu terus?"
Sekali lagi Han mengoda.
Dengan wajah ditekuk seribu Alex melangkah dengan cepat pergi dari sana dan kembali masuk ke rumah.
"Dasar keras kepala!"
Gumam Han sebelum akhirnya dia masuk mobil bersama Jack.
setengah jam Alex hanya bolak balik diatas tempat tidurnya.lalu dia keluar menuju kamar Yumna yang letaknya hanya bersebelahan dengan kamarnya. Alex tampak ragu memegang gagang pintu kamar Yumna,ingin memastikan bahwa putrinya baik-baik saja, dan ingin tahu apa yang dilakukan Ryu didalam sana. Lagipula hatinya tidak tenang meninggalkan putrinya bersama Ryu. Meskipun disudut hatinya yang paling dalam ada setitik rasa percaya ketika melihat betapa Ryu menyayangi Yumna.
"Apa kamu sudah minum obatmu lagi?"
Alex tersentak dan menoleh ketika mendengar suara dibelakangnya.Ryu sedang berdiri berjarak semester dihadapannya.
"Jangan mengurusiku!"
"Aku juga tidak mau tapi terpaksa."
Ryu kemudian berjalan menuju kamar Alex,melihat gelagat Ryu ingin masuk ke kamarnya, Alex segera berlari dan mencoba menarik tangannya.
"Mau apa kam..."
Namun dengan gesit, Ryu justru meraih pinggang Alex dan dengan sedikit paksaan membawa Alex kedalam kamar.
"Apa yang..."
Teriak Alex berontak.
"Jangan teriak atau Yumna akan bangun!"
"Lepaskan!"
Alex masih mencoba berontak, namun Ryu justru membopongnya dan membawa Alex ke kasur. Alex tambah mendelik mendapat perlakuan seperti itu. Namun Alex langsung berdiri dengan kesal.
"Apa yang kamu lakukan, keluar dari kamarku sekarang!"
Alex menunjukkan ke arah pintu, namun Ryu bergeming dan fokus pada meja.
"Duduklah!"
"Apa ..."
"Ini, minum obatmu!"
Ryu menyodorkan beberapa obat pada Alex.
kini Alex mengerti mengapa Ryu melakukan hal ini.
'tidak semudah itu'
Alex mengangkat sebelah Alisnya dan tersenyum jahil.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
Alex menyilangkan tangan didadanya,Dan menatap Ryu dengan ekspresi mengejek.
"Kamu tahu apa yang Dokter lakukan pada pasiennya yang keras kepala?"
Alex mengeryitkan dahi.
"Apa?"
__ADS_1
Ryu mendekatkan wajahnya pada Alex dan berkata setenang mungkin.
"Suntik M4-t1"