Istri Barbar (Alexandria Dan Tiga Serangkai)

Istri Barbar (Alexandria Dan Tiga Serangkai)
Bab 21 Berakhir Damai


__ADS_3

Jack mendengarkan dengan seksama cerita dari Dokter Syarif. Rupanya itu hanya sebuah kesalahpahaman.


"Saya sudah tau pria itu menelfon dan menanyakan perihal tentang kematian istrinya,tetapi aku tidak menyangka dia akan datang kemari dengan cara seperti ini"


"Apapun itu ini bukan saatnya untuk berdiskusi,kita harus mengambil tindakan"


Han muncul dibelakang Jack


Mereka yang berada di ruangan itu saling berpandangan.mereka setuju bahwa yang dikatakan Han benar.jika terlalu lama dikhawatirkan pria itu akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan lebih jauh lagi.Dendam yang membara sering kali dapat membutakan mata dan hati seseorang.


"Bagaimana situasinya?"


Alex tiba-tiba muncul bersama Dokter Shinta dan sepasang suami istri.


"Kenapa kamu kembali,Alex?"


Tanya Jack


"Ada ibu hamil yang butuh diperiksa"


Sahut Alex,perhatian mereka tertuju pada ibu hamil yang masih tampak menahan rasa sakitnya.Dokter Shinta membawanya kesebuah ruangan pemeriksaan.


Suasana hening sejenak.


"Pria itu menginginkanku,bukan?"


Mereka menatap Dokter Syarif yang menghela nafas berat.


"Aku akan menemui pria itu dan mencoba menjelaskan semuanya"


"Tapi itu bahaya Dok."


Cegah salah seorang timnya


"Lebih baik mengorbankan satu nyawa jika itu dapat menyelamatkan banyak nyawa, bukan?"


mereka semua menunduk sedih,dia mengerti maksud dari dokter seniornya itu.


"Kami akan bersama anda,dokter."


Jack berkata sambil memandang Han yang mengangguk yakin. Dokter Syarif menatap keduanya.


"Terimakasih."


"Ini gawat ..."


Dokter Shinta keluar dari ruangan pemeriksaan.mereka menoleh padanya.


"Pasien dalam keadaan darurat dan butuh segera dioperasi."


Mereka semua menatap dokter Shinta lekat-lekat.


"Aku butuh tim ... Dokter Syarif?" lanjutnya


"Tetapi aku ..."


Raut wajah Dokter Syarif dipenuhi kebimbangan.tentu saja dua-duanya menyangkut sebuah nyawa.


"Apa pria itu mengenali wajahmu,Dokter?"


Tanya Jack


"Kurasa tidak,dia tidak pernah datang sekalipun menemani istrinya."

__ADS_1


"Bagus,berikan aku jas dokter?"


Mereka kini menatap Jack.


***


"DOKTER SYARIF...." pria itu berteriak kencang "jangan jadi pengecut,cepat kemari dan hadapi aku,kalau tidak akan aku habisi semua yang ada disini,DOKTER SYARIF ..."


"Aku disini ..."


Pria itu menatap seorang pria memakai jas putih dan berkacamata berjalan kearahnya. dibelakangnya seorang pria dan wanita memakai seragam snelli serupa.kini mereka sudah berhadap-hadapan.


Pria itu menatap Jack dengan bengis. Nampak jelas dimatanya bara api dendam yang membara siap membumi hanguskan.


"Bagus ... akhirnya aku bisa bertemu orang yang telah membunuh istriku,kamu harus bertanggung jawab.nyawa dibayar dengan nyawa."


Pria itu berkata dengan tatapan penuh amarah.


"Tidak, itu tidak benar, ku tidak membunuh istrimu?"


"Apa maksudmu? kau sudah jelas-jelas membunuh istriku,kau yang telah mengoperasinya, bukan? bukankah kamu seharusnya meminta persetujuanku? istriku tadinya baik-baik saja,kenapa tiba-tiba dia bisa meninggal diruang operasi? kamu pasti telah melakukan mala praktek pada istriku?"


"Ya,tetapi apakah kau tau bahwa istrimu memiliki penyakit jantung?"


Pria itu tersentak.


"Apa maksudmu? istriku baik-baik saja"


"Ini buktinya."


Jack menunjukkan sebuah berkas pada pria itu


"Disini jelas bahwa istrimu memiliki penyakit jantung dengan level cukup berat,dan wanita dengan kondisi seperti itu dilarang untuk hamil,karena bisa mengancam nyawa ibu dan janinnya."


Pria itu menarik snelli Jack dengan kasar.


"ini pasti cuma akal-akalanmu saja"


Pria itu dengan berang melepaskan cengkeramannya lalu mundur selangkah dan mengarahkan pistol kearah Jack. melihat hal itu Han dan Alex dengan cekatan melindungi Jack. Teriakan histeris bergema di ruangan itu.


"Jangan coba-coba!"


Han berdiri diantara Jack dan Pria itu,pistol ditangannya mengarah langsung ke kepala pria itu.sementara Alex bersiaga mengamati anak buah pria itu.


"Dengar!"


Jack menarik nafas panjang dan dalam.


"istrimu melakukan semua ini demi dirimu."


Mendengar hal itu raut wajah pria yang dipenuhi dendam dan amarah terlihat sedikit mengedur.


"Meskipun istrimu tau bahwa dia dilarang untuk hamil,tetapi dia dengan tegas mengatakan bahwa dia akan mempertahankan bayinya, dan ... rela mempertaruhkan nyawanya, dia sendiri bahkan menandatangani surat pernyataan persetujuan untuk operasi, dia mengatakan bahwa ... dia ingin memberikan suaminya seorang anak."


"Apa?"


Pria itu tampak terkejut dia tidak percaya dengan semua itu.pria itu kemudian tampak gusar dan menurunkan pistolnya.


"Itu tidak mungkin ... itu tidak mungkin ... Hilda..."


Pria itu bergumam pelan sambil menundukkan wajahnya.bayangan wajah istrinya melintas dalam benaknya.


"Itu tidak benar, kau pasti bohong...kau bohong."

__ADS_1


Pria itu kembali berteriak,ada raut kesedihan didalam wajahnya.Jack tau bahwa pria ini benar-benar mencintai istrinya dan Jack juga tau alasan rasa kehilangan yang teramat dalam menjadi salah satu penyebabnya pria itu melakukan semua ini.


"Itu benar, Akas."


Seorang ibu paruh baya muncul membawa seorang bayi yang usianya baru satu hari.pria bernama Akas itu menoleh.


"Ibu..."


Ibu itu melangkah mendekati Akas.raut kesedihan tersirat diwajah perempuan tua itu.


"Semua yang dikatakan dokter benar,Akas,istrimu memang memiliki penyakit jantung.ibu tahu semua itu..."


Ibu itu memandang cucu yang tertidur nyenyak dalam gendongannya. Dia terpaksa membawa serta cucunya dengan maksud agar dapat menghentikan aksi putranya itu.


"Mengapa ibu tidak memberitahuku?"


"Karena ibu sudah berjanji pada Hilda."


Sang ibu menyahut dengan nada gemetar, kemudian air matanya meleleh mengingat pengorbanan besar yang telah dilakukan oleh menantunya.


"Hild ingin memberimu seorang anak, meskipun setiap saat ibu melihat dia kadang harus menahan penderitaan selama kehamilannya.dia berusaha selalu terlihat baik-baik saja didepanmu,tetapi sebenarnya tidak,ibu menyaksikan betapa dia sangat menderita.Tapi demi dirimu dia rela melakukan semua itu."


Akas tertunduk lesu mendengar penuturan sang ibu. Tubuhnya sudah tidak berdaya mendengar semua itu. Kini sisi lain dari seorang suami yang merasa menyesalan dan penderitaan tampak jelas wajahnya.


"Apa kamu tega menodai pengorbanan Hilda dengan melakukan semua ini? Hilda akan sedih melihatmu melakukan semua ini,dan apa kamu tau apa yang dikatakan Hilda disaat-saat terakhirnya?"


Akas menoleh pada ibunya.


"Hilda mengatakan padaku mungkin saja dengan kelahiran anak ini,kau akan berubah."


Ibu menirukan perkataan menantunya disaat-saat terakhir sebelum persalinannya.ibu teringat meskipun menantunya harus menahan penderitaan dan kesedihan yang teramat dalam namun senyum selalu terukir diwajahnya.bagaimana tidak mimpi untuk melihat anak yang telah dikandungnya selama sembilan mungkin tidak akan pernah jadi kenyataan.


"Yaa, Akas, dia ingin kau berubah menjadi lebih baik, berubah kejalan yang benar."


Mendengar itu semua tubuh Akas lunglai,dia jatuh bersimpuh, dendam itu telah pergi bergantikan rasa kesedihan dan penyesalan yang teramat dalam.wajah istrinya yang tersenyum manis terngiang-ngiang dibenaknya kemudian bayangan itu sirna berganti dengan wajah pucat pasi istrinya yang terbujur kaku saat akan dikremasi.


Jack mendekat,mengambil bayi dalam gendongan sang ibu kemudian berjongkok didepan Akas.


"Jadilah ayah yang baik untuk anakmu kurasa itulah cara yang tepat untuk membalas semua pengorbanan istrimu!"


Jack kemudian menyerahkan bayi perempuan itu pada ayahnya. Begitu menatap putrinya air mata Akas tidak dapat terbendung lagi. Tangisan haru seroang ayah yang menyambut kehadiran putrinya dalam hidupnya.


"Hilda..."


Pria itu bergumam lirih kemudian mencium pipi bayinya dengan lembut.suasana yang tadinya mencekam berubah menjadi penuh keharuan.


Saat itu tim kepolisian masuk dan membekuk anak buah Akas yang sebenarnya sudah tidak berdaya.Mereka menyerah tanpa perlawan.


"Kerja bagus Dokter Jack"


Alex menepuk bahu Jack pelan.Jack menoleh dan tersenyum pada Alex.


"Kurasa sudah waktunya kita pergi"


Ajak Han,mereka kemudian melangkah menuju lantai dua.


"Berjanjilah,Alex kamu tidak akan ikut melakukan hal ini lagi sebelum melahirkan"


Alex tertawa mendengar perkataan Jack.sejak tadi memang kedua rekannya itu sudah melarang Alex untuk turut serta. Tapi Alex bersikeras.


"Ini bawaan bayi"


Alex justru menanggapinya dengan gurauan.

__ADS_1


"Hah,dasar keras kepala"


__ADS_2