
"Hahaha"
Han dan Jack tergelak begitu Alex menyudahi ceritanya.
"Tertawalah sepuas kalian"
"Tapi itu ide yang sangat brilian, kamu sangat cerdas,Alex"
Ujur Jack mengakui
Berhari-hari kegiatan sarapan mereka selalu sama, paket selalu datang diantar oleh kurir yang berbeda-beda. Setiap selesai sarapan mereka berdiskusi tentang langkah selanjutnya. Meskipun Han dan Alex lebih sering berdebat daripada berdiskusi.
"Waw, tak ku sangka"
Gumam Han, langkahnya terhenti diambang pintu. Alex yang masih sibuk mengunyah sarapan jadi penasaran dengan kelakuan Han.
"Ada apa? "
Tanya Alex sambil beingsut menghampiri Han, kemudian matanya mengikuti arah mata Han. Pemandangan menyejukkan hati terlihat disana. Alex tersenyum.
"Sholat apaan jam segini?"
"Tahajud, sholat Dhuha, bodoh,masa tidak tahu? "
"Heh, jangan sok suci"
Han mendengus. Yah, bisa dibilang kehidupannya memang jauh dari agama.
"Tapi setidaknya aku tidak bodoh. "
Sungut Alex lalu kembali ke mejanya, Han sendiri bersikap masa bodoh lalu melangkah kedalam kamar.
Beberapa saat kemudian Jack keluar dari kamar lalu berjalan menuju dapur berniat mengambil minuman di kulkas.
"Hai, Jack, rupanya kamu adalah seorang imam impian. "
Teriak Alex dari meja makan,Jack hanya menoleh sesaat sambil tersenyum.
"Hai, Jack, apa kamu tidak berencana mencari seorang makmum? hah, kurasa siapapun yang jadi istrimu pastilah dia sangat beruntung. "
Goda Alex tertawa membuat Jack yang tadinya ingin meneguk minuman terhenti.
Dia teringat sesuatu. Jack tertegun kemudian ketika kesadarannya kembali dia tersenyum dan meneguk minumannya.
"Terimakasih, Alex. "
Serunya saat melintasi meja makan, membuat Alex mengerutkan dahinya. Namun dia tidak sempat bertanya karena Jack keburu masuk ke dalam kamar.
Alex hanya mengangkat bahunya kemudian mengunyah kembali steak yang sebenarnya enggan untuk disantapnya tetapi terpaksa karena perutnya minta diisi.
"Oh, aku rindu nasi uduk dan gorengan"
lirihnya sambil membayangkan makanan favoritnya itu.
***
Keesokan harinya...
Han dan Alex dengan gelisah menunggu Jack di dermaga, sudah lebih dari setengah jam Jack pergi dan belum kembali.
"Ada yang kelupaan. "
Ujurnya sesaat tadi sambil berlari
Entah sudah berapa kali Han mengumpat. sementara Alex hanya diam namun dirinya juga merasa jenggah menunggu.
"Maaf, menunggu lama. "
Setengah berlari Jack menghampiri kedua rekannya, namun dia datang tidak dengan tangan kosong. Serangkai bunga mawar putih tergengam erat ditangannya. Saat dekat dia menyerahkannya pada Alex. Alex tertegun sejenak tapi dia menerimanya.
"Waw, Jack kenapa kamu harus repot-repot! "
Ucapnya tersipu, siapa sangka Jack begitu manis padanya. Namun tidak berlangsung lama Jack terlihat membungkuk dan mengikat tali sepatunya. Kemudian berdiri kembali.
"Maaf, Alex, aku lupa membeli untukmu, terimakasih. "
Jack mengambil kembali mawar itu.
"What? "
Melihat adegan itu Han jadi tertawa terbahak-bahak. Alex menghentakkan kakinya dengan kesal lalu menyusul Jack yang sudah menaiki perahu motor sewaan mereka.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah pulau.
"Kamu yakin tidak salah tempat, Jack? "
Tanya Alex heran saat sudah turun dari perahu dan berdiri diatas pasir. Didepan sana pepohonan lebat dan menjulang tinggi menyambut mereka. tentu saja Alex merasa heran karena sebelum berangkat tadi Jack mengatakan dia akan membawanya ke tempat yang indah.
'ini indah apanya? '
"Tidak, ayo jalan! "
Jack memimpin perjalanan, kemudian diikuti Han.
"Oh, aku benci hutan"
Keluh Alex kemudian berjalan mengikuti kedua rekannya.
Sepanjang perjalanan masuk melewati jalanan hutan, Alex mengeluh panjang pendek. Tubuhnya terasa gatal terkena tumbuh-tumbuhan liar.
__ADS_1
"Dasar, perempuan, tanaman diajak ribut"
Dengus Han merasa lucu mendengar sedari tadi Alex tidak berhenti mengomel.
Sedang asyik-asyiknya mengomel tiba-tiba tepat dihadapan wajahnya sebuah laba-laba bergelayut gontai. Seketika Alex mendelik.
"Huaaaaaaa"
Sontak Han menoleh, dia baru saja akan berlari menghampiri namun ternyata dia justru di tubruk oleh Alex, tidak dapat menjaga keseimbangan mereka akhirnya jatuh bersama dengan posisi tubuh Alex diatas Han.
"Waw, aku suka gayamu, kenapa tidak terus terang saja, jika kamu menginginkannya? "
"Apa maksudmu, bodoh? lepaskan! "
Alex berontak saat dirasanya tangan Han merangkul pinggangnya.
"Hei, kalian, tidak bisakah kalian menundanya sampai kita tiba ditempat tujuan? "
Goda Jack, sambil tertawa. Sesaat tadi dia juga panik difikirnya telah terjadi sesuatu pada Alex.
Alex beringsut bangkit berdiri diikuti Han.
"Masih berapa lama lagi sih, Jack? "
Sunggut Alex, ngambek.
"Sebentar lagi. "
Sahut Jack sambil berjalan kembali.
"Hih, dari sejam lalu kamu bilang sebentar lagi, sebentar apanya, aku sudah capek tau, Hei, Jack kamu dengar aku? "
"Iyaa, aku dengar"
Sahut Jack tanpa menoleh. Han tertawa melihat tingkah Alex.
"Tertawalah sepuasmu"
Alex lalu berjalan dengan raut wajah ditekuk seribu.
"Hei ngomong-ngomong kenapa kamu tadi berteriak? "
"Ada laba-laba"
Sahut Alex sambil terus berjalan.
"Laba-laba? Sekarang aku tau kelemahanmu? "
Han kemudian berjalan mengikuti kedua rekannya.
Setelah beberapa saat berjalan kembali tibalah mereka pada suatu tempat dimana air terjun terdengar merdu suaranya. Alex dan Han cukup terkesima dengan pemandangan dihadapan mereka.
Mereka beriringan menyeberangi sungai dengan berpijak pada bebatuan kemudian menaiki bukit. Jack mengulurkan tangan membantu Alex menaiki bukit.
Jack berjalan mendekati sebuah makam sekitar tiga meter dari tempatnya bediri.kemudian meletakkan rangkaian bunga yang ia bawa di atas makam, setelah itu dia tampak mengangkat kedua tangannya, memanjatkan doa. Han dan Alex berdiri saja memperhatikan perilaku Jack.
"Menurutmu makam siapa itu? "
Bisik Han, Alex mengangkat bahu, namun dia sama penasarannya dengan Han.
"Entahlah, Siapapun itu, jelas dia adalah orang yang sangat berarti bagi Jack"
"Istri ? "
Han dan Alex bertatapan. Alex yang lebih dulu berpaling.
"Yah, tidak buruk, duda tidak masalah buatku. "
"Heh, Belum tentu dia mau denganmu? "
"Jangan khawatir aku cukup lihai mengoda. "
"Kurasa imannya cukup kuat"
"Tapi nafsunya belum tentu"
"Bagaimana..."
" Hah, kamu ini, bilang saja kalau cemburu?"
"Yah, setelah kupikir-pikir menurutku kamu lumayan"
Keduanya saling berpandangan kemudian tawa mereka berderai. Well, bagus bukan kelihatannya mereka jadi lebih akur. Setidaknya untuk saat ini.
Selepas selesai dengan segala ritualnya Jack kembali menyambangi kedua rekannya.
"Siapapun dia aku turut berduka cita"
Ujur Alex saat Jack telah berada diantara mereka.
"Terimakasih, Alex"
"Jadi, apa kita akan kembali sekarang? "
Tanya Han
"Apa? aku capek tau, kakiku rasanya mau putus, setidaknya biarkan aku istirahat dulu. "
Alex menatap Han dan Jack bergantian dengan gusar.
__ADS_1
"Tenanglah Alex, ayo ikut aku! "
Jack membawa kedua rekannya ke depan pohon beringin yang tua dan rimbun tak jauh dari tempatnya bediri. Sekilas memandang pohon itu tampak angker.
"Apa ini, rumah hantu, kamu pikir aku kuntilanak, kamu ajak kebawah pohon beringin begini, hah? "
Alex tampak sewot.
"Memang mirip"
Reflex Alex memukul lengan Han, membuatnya mengaduh pelan, dan memakai dalam hati. Jack hanya tersenyum. Kemudian ia menempelkan telapak tangannya ke batang pohon. Batang pohon itu kemudian terbuka seperti sebuah pintu lift.
Han dan Alex tertegun sejenak. Lalu mereka mengikuti Jack masuk tanpa berkata apapun lagi. Sepertinya Jack memang penuh rahasia. Lift itu bergerak kebawah menuju ruang bawah tanah.
"Selamat datang dirumah hantu"
Gurau Jack sambil tertawa setelah lift terbuka. Lalu mendahului kedua rekannya keluar dari lift.
Alex dan Jack cukup terpana melihat ruangan bawah tanah yang tampak mewah dan bersih.
"Assalamu'alaikum, Boy? "
"Waalaikumsalam, Tuan"
Sesosok tubuh menyerupai manusia turun dari lantai atas. Tetapi pada dasarnya dia bukanlah manusia. Dia adalah robot yang menyerupai manusia.
"Selamat datang kembali tuan? "
"Terimakasih, siapakan kamar untuk tamu ku dan layanilah mereka dengan baik? "
"Sesuai perintahmu, Tuan? "
Robot bernama Boy itu kemudian kembali ke lantai atas mengikuti perintah Jack.
"Jack, dimana kamar mandinya, badanku rasanya gatal sekali? "
Tanya Alex sambil melihat sekeliling. Saat itu Jack kembali dari mengambil tiga botol air dari kulkas. Dan memberikan pada kedua rekannya.
"Kamar mandi? kemarilah Alex! "
Alex meletakkan botol air setelah meneguknya kemudian mengikuti langkah Jack dan berhenti didepan sebuah dinding. Jack kemudian menekan tombol pada dinding. Dan terbukalah dinding itu dan pemandangan air terjun yang mereka lewati tadi terpampang didepan mata.
Alex mengintip dari pingiran, tepat dibawahnya kubangan air yang jernih dan menyegarkan siap menanti.Dia baru saja ingin mengajukan pertanyaan saat dirasa seseorang merangkul pinggangnya.
"Ayo, kita berenang! "
Alex tidak dapat lagi menguasai tubuhnya dan dia terjun bebas bersama Han.
"Uhuk-uhuk"
Alex langsung terbatuk-batuk saat muncul di permukaan. Namun dia segera menguasai diri
Sementara Han tertawa senang.
"Apa kamu tidak bisa memperlakukan wanita dengan lembut? "
Teriaknya suaranya bersaing dengan riuhnya air terjun.
"Lembut? hoho itu adalah keahlianku"
Teriak Han juga.
Serta merta Han menarik Alex kembali lalu mendaratkan sebuah kecup4n dibibir Alex. Tapi dengan gesit pula Alex melepaskan diri kemudian menampar pipi Han dengan berang. Han justru tersenyum seolah mengejek.
"Ku relakan pipiku sebelah lagi untuk kau tampar asal kau biarkan aku mencicipi bibirmu lagi, bagaimana? "
"Apa? Menjijikkan? "
"Hei ayolah, jangan munafik? "
Alex menyeringai.
"Tangkap aku jika kamu bisa! "
Alex kemudian memercik air kedalam wajah Han lalu mulai berenang Menuju air terjun.melihat hal itu Han pun segera menyusul Alex dan mengikuti Alex yang sedang mandi tepat dibawah air terjun sambil melihat sekeliling.
Merasa cukup dengan hal itu Alex kemudian berjalan menuju sebuah batu besar yang letaknya kurang lebih satu meter dari air terjun. Sementara Han sepertinya masih enggan meninggalkan air terjun yang rasanya segar mengguyur badannya. Tidak puas sampai disitu Han kembali ke kubangan air untuk kembali berenang.
"Han, apa kamu akan terus berenang? "
"Memangnya kenapa? "
Tanpa menjawab Alex menceburkan dirinya lagi ke air kemudian muncul di permukaan begitu dekat dengan Han.
"Katakan bagaimana cara kita naik, apa kita harus naik bukit lagi? "
Han mengangkat bahu lalu mendongak
"Jack, Hai, Jack, apa kamu dengar, kemana dia? "
"Aku dengar!"
Jack kemudian muncul diatas. dia tentu saja dengar karena sudah memonitoring kegiatan kedua rekannya dari atas melalui CCTV.
"katakan bagaimana cara kami naik? "
Jack tersenyum kemudian menekan tombol di dinding. Keluarlah sebuah alat dan membentuk tangga menuju ke atas. Han dan Alex menuju tangga itu dan bergegas naik.
Sungguh Jack sangat penuh dengan kejutan.
__ADS_1