
Berita tentang tertangkapnya mafia yang sudah lama menjadi buronan memenuhi media sosial.berbagai bisnis gelap yang dijalankan mulai dari Bisnis narkoba dan sampai bisnis prostitusi ilegal,dan dicurigai masih ada beberapa bisnis lainnya yang masih akan diusut tuntas oleh pihak berwajib.
"Aku takut,bagaimana kalau penjahat itu datang dan membawaku kembali"
Yumna yang tampak berani baru menampakkan ketakutannya,badannya agak demam karena syok yang dialaminya.
"Tidak,Yumna, itu tidak akan terjadi lagi,sekarang cobalah untuk tidur,ibu akan disini menjagamu,oke!
Alex menepuk-nepuk paha Yumna perlahan dan mencium keningnya lembut.
"Dan Ayah juga?"
Yumna menoleh dan tersenyum Ryu yang duduk disisi lainnya.Ryu pun tersenyum dan mencium kening putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Ayah disini,tidurlah"
"Aku bahagia Ayah dan ibu bersamaku, aku jadi tidak khawatir lagi sekarang,terimakasih ya Allah karena kau telah mengabulkan doaku,Aamiin"
Yumna mengangkat tangannya dan mengusapkan tangan ke wajahnya,kemudian tersenyum.
"Doa?"
Alex bergumam sambil mengeryitkan dahi.
"Bu guru ngajiku mengatakan,jika aku ingin sesuatu aku bisa berdoa pada Allah."
"Memangnya apa doa Yumna?"
Tanya Alex lagi.
"Aku berdoa agar aku bisa bertemu dengan Ayah"
Alex menatap Ryu sekilas lalu memalingkan wajahnya demi menahan air matanya.ada keharuan serta penyesalan menyelimuti hatinya.
"Baiklah,sekarang kamu harus istirahat agar kondisimu cepat pulih,oke"
Yumna mengangguk patuh pada Ryu, dia meraih tangan Ryu dan Alex alu membawa ke dadanya.
Tak lama Yumna akhirnya tertidur dalam keadaan tersenyum. Ada kegalauan menyelimuti hati Alex. Sampai tidak terasa air matanya menitik dan Ryu melihat air mata itu meleleh di pipi Alex sebelum Alex sempat menghapusnya.tiba-tiba Alex merasakan Ryu mempererat genggaman tangannya.
"Jangan coba-coba mengambil kesempatan!"
Alex menarik tangannya perlahan. Lalu menghapus air matamya.
"Kamu lebih terlihat seperti seorang ibu saat sedang menangis"
Kelekar Ryu membuat Alex tertawa kecil.
"Dan lebih enak dipandang kalau sedang tertawa"
Alex tertawa lagi
"Apa kamu sedang mencoba merayuku?"
"Tidak,aku hanya sedang mencoba menghiburmu."
"Yaa,setidaknya aku senang karena kamu selamat saat mencoba untuk terjun bebas semalam"
***
Semalam...
Tim kepolisian datang ke lokasi mengikuti petunjuk GPS dari ponsel Alex.Han dan Jack langsung menghampiri Alex dan Ryu,kemudian mereka mengelus kepala Yumna yang sedang dalam gendongan Ryu.
"Kalian baik-baik saja."
"Yaa, berkat jaket yang kamu berikan padaku,terimakasih"
Sahut Alex,mereka melirik parasut yang tergeletak disamping tubuh Martin yang terkapar tidak berdaya, dan segera diamankan oleh petugas.
Sebelum mereka berangkat menjalankan misi,Jack memang memberikan sebuah jaket pada Ryu.
"Diluar dingin"
Hanya itu yang dikatakannya pada Ryu. Entah tanpa sengaja atau memang firasat.segala sesuatunya memang sering terjadi diluar nalar manusia. Ryu sendiri tidak tahu bahwa nyawanya akan selamat malam itu karena dia juga tidak mengetahui bahwa jaket itu memberikan sinyal otomatis saat situasi mengancam nyawa.dan keluarlah parasut itu secara otomatis. Saat itu yang ada dalam pikirannya hanyalah menyelamatkan Yumna dan...Alex.
"Oke,ayo kita pulang dan kita rayakan,kau sangat lapar"
Ajak Han. Dan sepertinya mereka menyetujuinya.semenjak Yumna diculik selera makan mereka jadi hilang.
"Tungu! Kenapa kamu tidak memberikannya padaku juga, Jack?"
Mereka semua menoleh dan menatap Alex.
"Bagaimana kalau waktu itu aku yang terjun bebas, katakan?"
"Itu...aku...eee..."
Jack terlihat gelagapan menjawabnya.dia menggaruk kepalanya pertanda bingung.
"Itu karena aku...lupa"
"Apa katamu?"
Alex mendelik,Jack memasang wajah tak berdosa.
"Aaahh, sudahlah... Semua sudah terjadi,kenapa kamu permasalahkan hal itu, lagipula memangnya kamu punya keberanian untuk terjun bebas seperti yang dilakukan Ryu?"
Han mulai meledek Alex.
"Iya, makanya aku memberikannya pada Ryu, taruhan Alex tidak akan berani melakukannya."
Kali ini entah kenapa Jack juga iseng menjahilinya.
"Apa? Beraninya kalian..."
Alex tambah mendelik. Melihat gelagat Alex yang marah. Han dan Jack segera melarikan diri.Ryu hanya senyam-senyum melihat Alex mengejar kedua rekannya lalu tersenyum sambil mengusap kepala Yumna yang terlelap digendongnya.
***
Seminggu kemudian...
"Kemana dia?"
Tanya Alex pada Han dan Jack yang sedang main Game di ruang tamu.
"Pergi."
Sahut Jack tanpa mengalihkan fokusnya dari game. Begitu juga Han yang tampak serius.
"Apa? kapan?"
__ADS_1
"Barusan."
"Apa? Kenapa kalian biarkan dia pergi?"
"Ya terserah dia, kenapa harus dilarang-larang"
"Huh , kalian benar-benar ."
Alex merasa gregetan kemudian meraih kunci mobil yang berada dihadapan Han dan Jack lalu berjalanenuju arah pintu.
"Mau kemana,Alex?"
Tanya Han tanpa mengalihkan pandanganya.
"Mencarinya?"
Alex membuka pintu namun dia tersentak ketika melihat Ryu berdiri didepan pintu.
"Mencari siapa maksudmu?"
Ryu tersenyum dan senyum itu telah mengangguya sepanjang malam sepanjang Minggu ini.
"Kamu ...."
"Hai, mana camilannya, Ryu?"
Teriak Han menoleh sekilas lalu kembali pada permainan.
"Camilan?"
Gumam Alex mengeryit.
Ryu mengangkat plastik belanjaannya. Kini Alex baru sadar ternyata Ryu habis dari warung membeli makanan. Ada kelegaan menelusup kedadanya.
Namun Alex tiba-tiba merasa snewen lalu dicabutnya stop kontak membuat layar televusi jadi mati dan otomatis game terhenti. Han dan Jack langsung bereaksi.
"Apa-apaan kamu Alex, aku hampir saja menang?"
Han berseru dengan kesal.
"Maksudmu hampir kalah?"
Ejek Jack menyenggol kaki Han.
"Kalau belum sampai finish mana tau siapa pemenangnya."
"Memangnya sejak kapan kamu menang main game dariku?"
"Diaaaammm, kalian benar-benar menyebalkan,Dasar g1_l4"
Alex meradang lalu melempar kunci sekenanya hingga jatuh ke lantai, kemudian pergi menaiki tangga dengan cepat.
"Kamu yang g1_l4, Kenapa sih dia?"
"Mungkin lagi bulanan."
Jack menimpali asal saja.
"Bulanan apa, dia tidak pernah nunggu bulanan untuk jadi monster, sudah nyalakan lagi sana!"
Tertawa Jack. Sementara Ryu hanya tersenyum lalu meraih kunci yang tergeletak di lantai. Termenung sejenak lalu meneguk minuman kalengnya.sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
"Ayaaahh"
"Kamu sudah bangun,Yumna,kemarilah!"
Yumna mengangguk lalu berlari menghampiri dan duduk dipangkuan Ryu dengan manja.Ryu mencium pipinya dengan gemas.
"Aku lapar,Ayah?"
Yumna memegangi perutnya setelah beberapa saat bercanda tawa dengan Ryu,dan sesekali iseng menganggu Jack yang tampak seru bermain game,namun bukannya marah Jack dan Han justru menghadiahi Yumna dengan ciuman dan pelukan bertubi-tubi.
"Kalau begitu ayo kita lihat ada makanan apa didapur!"
Ajak Ryu mengendong Yumna ke dapur. karena tidak ada makanan di sana,Ryu berinisiatif membuatkan telur orak-arik wortel untuk Yumna.
"Yeah..."
Yumna berseru kegirangan sambil bertepuk tangan.
"Makanlah!"
Yumna mengangguk lantas menyendok makanannya.etelah mencuci peralatan masak bekas memasak telur, Ryu duduk disampingnya Yumna.
"Hmmm,ini enak sekali"
"Benarkah, kalau begitu habiskan,oke!"
Yumna mengangguk,bibirnya selalu tersungging senyuman manis.
"Beda sekali dengan telur buatan ibu, tidak enak!"
keluh Yumna polos teringat jika ibunya yang memasak pasti tidak ada yang lezat. Sudah jelas Alex memang tidak pandai dalam hal perdapuran lebih sering membeli makanan diluar daripada memasak.
"Jadi ibu tidak ahli dalam memasak?"
Ryu bertanya seolah ingin mempertegas.Yumna mengangguk sambil mengunyah makanannya.
"Lalu apa keahlian ibu?"
Yumna tampak berfikir, Ryu tersenyum sambil menopang dagu dengan sabar menunggu respon putrinya.
"Ibu, Emm ... ", tampaknya Yumna kesulitan menemukan keahlian ibunya. " Aha...ibu pandai ngebut dijalan, aku pernah dibonceng ibu dengan motor dan ibu ngebut dijalan dan menerobos lampu merah karena aku hampir terlambat masuk les"
Ryu tertawa ringan mendengarnya, itu bukan keahlian Yumna,itu namanya bar-bar.
"Selain itu?"
Yumna tampak berfikir lagi dan kali ini lebih terlihat serius.keningnya berkerut-kerut dan matanya menerawang ke langit-langit.
"Ibu mengandungmu... melahirkanmu....ibu menyusuimu... membesarkanmu... dan masih banyak lagi yang sudah ibu lakukan selama ini untukmu, itulah keahlian ibu yang tidak bisa ayah lakukan."
Yumna menatap Ayahnya,tampaknya dia sedang mencerna perkataan Ryu.
"Itu karena Ayah tidak bersamaku selama ini, katakan kemana Ayah selama ini?"
tanya Yumna dengan nada polks
"Itu karena Ayah sedang dalam masalah dan tidak bisa menemuimu,Yumna...."
Alex tiba-tiba muncul dan berjalan perlahan mendekati mereka dan duduk disisi lain Yumna.
__ADS_1
"Tapi sekarang semuanya sudah selesai dan ..."
Alex menatap Ryu sekilas lalu kembali menatap Yumna.
" Sekarang Ayah akan selalu bersama Yumna"
lanjut Alex.
"maafkan ibu selama ini sudah berbohong padamu"
Alex mengucapkan maaf dengan tulus,dan Ryu dapat merasakan permintaan maaf itu ditujukan padanya juga meskipun tidak secara langsung.
"Aku memaafkan ibu, tapi ibu harus janji tidak boleh bohong lagi kata ibu guru gaji itu bohong itu dosa, dan Allah tidak suka pada orang yang suka bohong..."
"Aduh,iyaa...iya...ibu tau kamu memang pintar...super pintar, tapi tidak ada anak sekecil dirimu menceramahi ibunya tau..."
Alex menyahuti berpura-pura kesal. Yumna tertawa ringan.
"Aku sayang ibu..."
Yumna tiba-tiba merentangkan tangannya, Alex dengan sigap mengangkat Yumna dan memindahkannya kedalam pangkuannya.
"ibu juga sayang Yumna"
Alex mencium pipi Yumna dengan penuh kasih sayang.
"Aku sayang Ayah juga"
tiba-tiba Yumna turun dari pangkuan Alex dan menghampiri Ryu.
"Ayah juga menyayangimu"
Ryu mengangkat Yumna kedalam gendongannya dan mencium pipinya.Alex tersenyum melihat hal itu. Rasanya ini adalah salah satu hal terindah dalam hidupnya.
"Oh, aku tau apa keahlian ibu yang lainnya?"
"Apa itu?"
Tanya Ryu menatap Alex.
"Ibu ahli menembak, tapi sejak kapan ibu bisa melakukannya?"
Yumna teringat kejadian saat dirinya diculik. Alex kebingungan mendengar pertanyaan Yumna. Tentu saja selama ini Yumna tidak tahu bahwa ibunya adalah mantan ASN dan lebih memilih mengundurkan diri karena berbagai pertimbangan salah satunya adalah karena Yumna.
'Matilah aku'
"Ah itu... Uncle Han dan Jack yang sudah mengajari ibu... sudahlah cepat habiskan makanmu!"
***
"Haduh, aku capek."
Keluh Han yang sedari tadi kalah terus menerus. Dan sudah berjam-jam mereka hanya bermain Game. Han lalu beranjak menuju kamar mandi yang letaknya menyatu dengan dapur.
"Kalah terus gimana nggak capek!"
Jack menertawainya. kemudian Jack menggeliat mengerutkan saraf-saraf otot yang lelah.
"Ryu mau main nggak?"
Jack menawarkan pada Ryu yang baru saja dari kamar Yumna habis menidurkannya karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul delapan tiga puluh malam.
"Siapa lawannya?"
"Aku."
Alex keluar dari dapur sambil membawa secangkir kopi.
"Itu ide bagus, sebaiknya memang kalian main game bareng supaya makin akrab."
"Dengan satu syarat?"
Jack dan Ryu saling berpandangan. Alex mendekat lalu meletakkan kopinya di meja, lalu mendekati Ryu dan berdiri dihadapannya.
"Kalau aku menang, kamu harus menikahiku!"
Jack melongo. Ryu tersenyum tipis.
"Besok, deal?"
Alex mengulurkan tangannya namun tidak disambut oleh Ryu.
"Kita lihat saja"
Ryu menghampiri Jack dan mengambil stik game dari tangan Jack.
'Belagu sekali dia, awas saja!"
Alex lalu duduk bersebelahan dengan Ryu.
"Hei, ayo kita ke kamar Yumna saja"
Ajak Jack ketika Han kembali
"Memangnya kenapa?"
"Akan ada pertarungan panas."
Han memandang Ryu dan Alex sesaat kemudian mengerti maksud Jack. Han tersenyum.
"Oke!"
Babak pertama Alex yang menang dengan mudah. Alex menyeringai.
"Jangan senang dulu ini baru pemanasan!"
Ryu menangapi dengan santai.
Dan benar saja dibabak-babak berikutnya Ryu memang berturut-turut. Alex melemparkan stik game dengan kesal. Lalu beranjak pergi menuju kamarnya. Mendengar suara bantingan pintu, Jack dan Han keluar kamar Yumna, lalu bergegas turun dan mendapati Ryu sedang senyam senyum sambil minum kopi milik Alex yang belum sempat dia minum.
"Hei , kenapa kamu tidak pura-pura kalah saja?"
Ujur Jack yang lagi-lagi hanya ditanggapi senyuman oleh Ryu, namun dibalik senyum itu ada makna yang tersirat.
Sementara itu didalam kamar Alex mengamuk dipukul dan ditendangnya guling berkali-kali seolah itu Ryu.
"Dokter si4_l4n, hah, kenapa juga aku harus mengatakan itu tadi, hah, kenapa? kenapa? kenapa?"
Alex lalu membenamkan wajahnya di bantal dengan perasaan kesal dan malu.
'Kenapa aku bisa menyukainya'
__ADS_1
perbedaan benci dan cinta itu terkadang sangatlah tipis.