
"Iya, mbak. Aku menginginkan jabatan itu, sudah lama aku ingin menjadi kepala desa, tapi apalah dayaku, aku hanya anak kedua, istri yang kunikahi meninggalkanku karena aku tidak bisa memberikannya seorang anak, aku mandul, sungguh malang nasibku ini mba. Sementara mas Chatur? apa yang kurang dari dirinya? dia kepala desa, punya istri dan tiga anak lelaki dan kini impiannya untuk mempunyai anak perempuan juga sudah dia dapatkan. Ya, Mas Chatur memang beruntung dia mendapatkan apapun yang dia mau, sementara aku, jika aku tidak dapat memiliki sebuah keluarga, setidaknya aku ingin memiliki sesuatu yang ku banggakan, aku ingin dicintai warga seperti Mas Chatur."
Asih merinding mendengar itu semua, dia sungguh tidak menyangka bahwa adik iparnya adalah dalang dari semua ini. Dia mengelus kepala Agni yang ketakutan, sementara Tirtha merangkul bahu Bayu.Meski dia sendiri merasa ketakutan namun dia mencoba untuk tenang. Bayu sudah cukup dewasa untuk mengerti apa yang dikatakan pamannya.
"Tapi, Mas Chatur sangat menyayangimu, Candra, kami juga, anak-anak sangat menyayangimu, kau adalah ayah kedua bagi mereka."
"Ya, yang kedua, aku selalu jadi yang kedua. Aku tidak mau yang kedua, aku ingin jadi yang pertama, aku ingin jadi kepala desa, sayangnya hal itu tidak akan pernah terjadi kecuali sesuatu hal terjadi pada Mas Chatur."
"Apa kau berniat m3mbunuh kakak kandungmu sendiri?"
Asih menahan gejolak dihatinya saat dia mengatakan hal itu.
"M3mbunuhnya?" Chandra menyeringai sinis,
"Tidak, tenang saja, aku hanya akan memintanya secara paksa meninggalkan jabatannya sebagai kepala desa. Percuma saja aku membunuhnya, karena kalaupun dia mati, aku tetap tidak akan jadi kepala desa, karena peraturannya adalah keturunan lelaki lah yang akan menjadi kepala desa."
"Apa maksudmu?"
Darah Asih berdesir sambil mempererat pelukannya pada Agni, dan menatap sendu pada Tirtha dan Bayu.
"Itu artinya ... ketiga putramu harus mati."
Asih tidak punya waktu untuk melakukan sesuatu, tiga orang antek Candra langsung menarik paksa para putranya untuk turun dari kereta kuda. Dia hanya bisa bergerak histeris ketika melihat anaknya berteriak-trriak memanggilnya meminta tolong.
"Tidak ... Tirthaaa ... Bayuuu ... Agni ...."
Asih turun dari kereta kuda berusaha menjangkau anak-anaknya, namun dia tidak berdaya, hanya tangisan histeris seorang ibu yang terdengar menyayat hati. Bayi dalam gendongannya pun turut menangis.
"Chandra ... aku mohon Chandra ... jangan kau apa-apakan anak-anakku, dia adalah keponakanmu, apa kamu tidak kasian pada mereka?"
Asih menghampiri dan berlutut tidak berdaya dihadapan Chandra, namun Chandra tidak bergeming, iblis telah menguasai hatinya hingga rasa kemanusiaannya telah sirna.
"Tolong Chandra, biar aku saja ... Bunuhlah aku saja ... biarkan anak-anakku hidup, aku mohon padamu, Chandra ... Kasihanilah mereka ... tolong!"
"Ibu ... Ibu ...."
Terdengar suara Agni yang menangis menyayat hati.
"Agniii ...."
Bu Asih menoleh, ibu mana yang tidak tersayat-sayat hatinya karena melihat anaknya berada diambang maut.
"Ya Allah ... tolong selamatkan anak-anakku."
Asih tahu hanya kepada Allah-lah kini dia dapat meminta pertolongan, karena m tidak mungkin lagi mengiba pada Chandra yang mata hatinya telah tertutupi oleh duniawi.
"H4bisi mereka!"
Ketiga antek Candra mengalungkan pedang di leher ketiga putra Asih.
"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasullah"
Samar terdengar Tirtha mengumandangkan syahadat, kemudian seperti mendapat bimbingan kedua adiknya mengikuti ucapannya.
"Tidaakkkkkkk....."
__ADS_1
Teriakan Asih mengema diseluruh hutan yang menjadi saksi bahwa seroang ibu telah menyaksikan kematian ketiga anaknya. Semesta saat itu seperti turut berduka, hujan yang semula hanya rintik kini telah berubah deras. Sungguh tidak ada seorangpun orang tua di dunia ini yang sanggup melihat kematian anaknya.
***
Pak Chatur pemacu kudanya dengan cepat perasaanya sudah tidak karu-karuan.Firasatnya mengatakan bahwa telah terjadi hal yang buruk pada istri dan anaknya.
Begitu kesadarannya kembali saat mengetahui bahwa Candra-lah dalang dibalik semua ini dia langsung teringat bahwa keluarganya ada bersama Candra.
Chatur segera berlari, Samson ingin mengikutinya namun dia gamang karena warga yang marah mengamuk dan menyerang Indra.
"Pak Chatur?" Panggil Samson
"Uruslah mereka, aku akan urus Chandra!"
Chatur mengatakannya dengan menahan semua amarah yang menggelora didada Samson yang tadinya ingin mengikuti, akhirnya harus patuh pada perintah atasannya.
Saat Chatur sampai disebuah gua rahasia yang memang dijadikan tempat persembunyian jika terjadi bahaya, dia tidak menemukan kereta kuda disana, itu artinya Chandra tidak membawa keluarganya kesini. Lalu kemana?
"Ya, Allah, tolonglah hamba."
Chatur berdoa dengan sepenuh hatu, meminta pada yang kuasa. Kemudian dia memacu kudanya kembali, mencari disetiap sudut hutan yang terlihat samar oleh cahaya rembulan yang telah muncul kembali setelah hujan reda.
***
Asih hanya dapat menangisi ketiga jasad sang putra yang ruhnya telah kembali kepada sang khalik. Bayi dalam gendongannya menangis melengking, seperti turut merasakan penderitaan yang dirasakannya.
"Berikan bayi itu padaku mba! aku dan mas Chatur akan menjaganya. Karena terpaksa kau juga harus mati agar rahasiaku tetap terjaga, tetapi kurasa bayi itu tidak akan membahayakan hidupku ... kau tenang saja akan kukatakan bahwa kau dan anak-anakmu dibunuh oleh para pemberontak yang ingin menggulingkan kekuasaannya dan aku telah berusaha menyelamatkan kalian, tapi sayang hanya bayimu yang mampu ku selamatkan, bagaimana? alasan yang bagus bukan?"
Asih sudah tidak dapat berfikir apapun lagi dunianya terasa gelap. Apa yang dapat dilakukannya lagi selain pasrah kepada yang maha pemilik kehidupan.
"Chandraaaa!!!"
Saat pedang itu hampir menyentuh leher Asih, suara derap kaki kuda dan teriakan Chatur membahana diseluruh hutan. Rupanya tangisan bayi perempuannyalah yang telah menuntun langkah hingga dia dapat menemukan keluarganya.
"Mas Chatur ...."
Asih bergumam lirih diantara isak tangisnya.
Chatur turun dari kuda dengan dipenuhi rasa amarah yang membuncah didadanya. Ketiga antek Candra berusaha menahannya, namun mereka bukan tandingan Chatur.Mereka langsung tumbang di tangan Chatur saat itu juga.
Langkah Chatur terhenti dihadapan jasad ketiga puteranya. Perasaannya sudah tidak dapat terlukiskan lagi. Hancur.
"Tirtha ... Bayu ... Agni ...."
Chatur memeluk jasad ketiga puteranya satu persatu dengan perasaan hancur, kemudian menatap Asih yang masih bersimpuh tidak berdaya, dia tahu istrinya telah memikul duka lara yang sama dengan yang apa dia rasakan.
Chatur kemudian beralih menatap Chandra, Wajah tanpa dosa itu, wajah sang penghianat itu, wajah pembunuh anak-anaknya adalah adik yang dia kasihi selama ini, betapa pahit takdir yang harus diterimanya. Dihianati oleh adik kandungnya sendiri.
"Maaf, Mba Asih, sepertinya ada perubahan rencana, sepertinya sang kepala desa lah yang harus mati, kau dan bayi perempuanmu itu akan tetap hidup ... kau tenang saja karena setelah ini kamu akan tetap menjadi istri seorang kepala desa yang baru ... yaitu aku ... hahaha"
Suara tawa Candra mengema, bak suara tawa iblis yang telah menang karena telah berhasil menghasut fikiran manusia.
"Chandraaa!!!" Teriak Chatur berdiri dengan penuh amarah." Aku bersumpah, malam ini kamu akan membayar atas apa yang telah kau lakukan pada anak-anakku, kemari dan hadapi aku!"
Candra menyeringai lalu dia berjalan mendekati Chatur, lalu keduanya saling beradu pedang dengan satu tujuan saling melenyapkan. Beberapa saat kemudian akhirnya Chatur dapat merubuhkan Chandra dan menodongkan pedangnya pada leher Chandra yang terlentang diatas tanah.
__ADS_1
"Aku tidak habis pikir kenapa kau melakukan ini semua, Chandra, kalau kau memang menginginkan sebuah jabatan sebagai kepala desa, kau bisa memintanya padaku, maka aku dengan senang hati akan memberikannya padamu. Mengapa Chandra ... Mengapa?"
Tiba-tiba Chandra menangis. Mengiba.
"Maafkan aku, Mas, ini semua karena aku iri padamu, lihatlah adikmu ini mas, betapa buruknya takdirku ini mas, aku tidak bisa punya keturunan, sementara kamu memiliki segalanya. Aku iri padamu, Mas, tolong Mas, ampunilah aku, hukumlah aku tapi jangan bunuh aku!"
Chandra menangkupkan kedua tangannya meminta ampun pada Chatur.
"Kau tau jika aku membunuhmu, maka apa bedanya aku denganmu?"
Chatur mengurut pedangnya
"Biar Allah yang memberimu hukuman yang pantas, tapi ... mulai detik ini aku memutuskan hubungan darah kita, dan biarlah warga nanti yang memutuskan hukuman apa yang pantas bagi penghianat sepertimu ... asal kau tau, kau sebenarnya memiliki segalanya, kau memiliki aku dan keluargaku yang selalu menyayangimu, tetapi ... godaan tahta telah menutupi mata hatimu."
Chatur kemudian menghampiri Asih dia membimbingnya berdiri, dia menatap bayi perempuannya yang perlahan tanginya telah reda.
"Asih ...."
Hanya itu yang mampu diucapkan Chatur pada istrinya. Mereka lalu berpelukan dengan air mata bercucuran deras. seolah ingin berbagi kesedihan sekaligus saling menguatkan.
Namun penghianat tetaplah penghianat, diam-diam Chandra mengambil pedang dan mendekat lalu menikam Chatur dari belakang. Asih berteriak histeris saat melihat punggung suaminya bercucuran darah.
"Chandra ... kau ...."
Saat Chatur memutar tubuhnya Chandra mehunuskan pedang ke dada kakaknya, hingga membuatnya rubuh ketanah. Melihat Chandra ingin menghunuskan pedangnya kembali pada Chatur, Asih menghunuskan pedangnya ke pinggang Candra hingga dia limbung, saat dia berbalik dan ingin membalas perbuatan Asih, sebuah anak panah melesat mengenai punggungnya, saat dia menoleh, dia melihat Samson berdiri dan mengarahkan busur panah ke arahnya.
Samson mengambil anak panah dipunggungnya lagi, lalu memanaskannya tepat di dada Chandra hingga dia rubuh.
"Kau tidak pantas mendapat ampunan."
Asih berdiri tepat di atas kepala Chandra kemudian dia mengangkat pedang dengan satu tangannya dan menghunuskan pedang itu ke jantung Chandra. Asih lalu melangkah mundur perlahan-lahan kemudian dia menghampiri suaminya yang terkapar bersimbah darah.
Samson menghampiri mereka kemudian melepas baju dan menempelkannya pada dada Chatur. Asih sudah tidak tahu apa yang dirasakannya. Dunianya terasa jungkir balik Pertama anak-anaknya, lalu suaminya. Rasanya sang maut sedang mempermainkannya. Rasanya dia juga ingin mati saja setelah melewati semua ini.
Chatur masih terlihat bernafas meski tubuhnya telah berlumuran darah.
"Asih ...."
Lirih Chatur didalam matanya cahaya kehidupan itu hampir redup. Chatur berusaha menyentuh pipi istrinya dengan sisa tenaganya.
"Pak ...."
Hanya itu yang keluar dari mulut Samson, karena tangis pun pecah melihat atasannya yang selama ini sangat kuat namun penuh welas asih terkapar tak berdaya.
"Jagalah mereka!"
Lirih pak Chatur lagi tanpa menoleh pada Samson, kemudian tangannya berusaha menyentuh bayi perempuannya.
"Putriku ... Alexandria."
Kemudian nafas kehidupan pergi dari tubuh Chatur secara perlahan.
Terlihat para pengawal yang tadi berpencar telah datang bersama warga yang lainnya membawa obor. Mereka mengheningkan cipta melihat pemandangan yang menyayat hati.
Asih mencium kening Alexandria dengan bersimbah air mata dan perasaan yang tak dapat terlukiskan. Karena setiap kata yang bermakna kesedihan tidak akan sanggup mewakili perasaannya. Entahlah, apa esok dia mampu menatap sang mentari, yang pasti peristiwa berdarah ini telah mengubah kehidupannya.
__ADS_1