
"Wiu...wiu....wiu..."
Suara sirine mobil ambulance terus berbunyi dengan tempo cepat memecah suara bising dan kemacetan ibu kota. Didalam ambulance itu Alex tengah terkapar lemah tidak berdaya menahan rasa kontraksi yang luar biasa hebat.Rasanya dia tidak kuat menahannya.sebentar-bentar dia tidak sadarkan diri karena tidak kuat menahan kesakitan yang luar biasa hebat .Salah seorang petugas medis yang berada didalam ambulance terus mengawasi keadaan Alex. Sementara Han dan Jack hanya dapat duduk menemani Alex didalam mobil Ambulance.
namun wajah mereka jelas dipenuhi dengan kekhawatiran.
"Aku sudah tidak kuat lagi!"
Alex bergumam lirih.mendengar itu Han dan Jack bertambah-tambah rasa paniknya.
Mereka berdua saling tatap.
"Hei, kenapa lama sekali sampai rumah sakitnya?"
Han bertanya dengan nada jengkel kepada seorang petugas medis disebelahnya.
"Nggak- nggak tau, mungkin macet."
Petugas itu jadi tergagap karena kaget oleh bentakan Han.
Han merasakan sedari tadi mobil Ambulance ini jalannya tersendat-sendat. Bukankah seharusnya ambulance termasuk dalam kategori kendaraan yang mendapat prioritas dijalan namun mirisnya masih banyak yang mengabaikan hal itu dan tidak mau memberikan jalan.
Han kemudian mengambil inisiatif, dia keluar dari mobil ambulance ditengah-tengah kemacetan. Saat itu memang ambulance terjebak ditengah-tengah kemacetan. Han terus berjalan menuju depan menuju barisan mobil paling depan.
instingnya mengatakan dia harus melakukan sesuatu, Dia khawatir akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan jika Alex tidak segera sampai di Rumah Sakit.
Han mengetuk kaca mobil dan segera dibuka oleh pengemudinya yang seorang bapak-bapak berkumis hitam dan tebal. Sekilas memandang bapak itu terlihat sangar dan menakutkan.
"Pak, tolong beri jalan, ada ambulance yang membawa ibu hamil terjebak dibelakang sana!"
Han meminta dengan sangat sopan
"Tolong gimana? kamu nggak lihat macet,tuh lampu merah lagi?"
Bapak itu berbicara dengan nada sinis,dan tampak tidak peduli. Bapak itu sendiri merasa kesal karena terjebak macet ditambah cuaca panasnya minta ampun.
"Saya tahu, tapi tolong, Pak, ini darurat!"
Han Terus memohon dengan sabar.
"Heh, kamu ini ... nggak bisa, sudah pergi sana! lagipula aku tidak peduli, yang hamil kan bukan istriku ... menganggu saja!"
Pria itu mendorong tubuh Han dan menutup kaca mobilnya. Kali ini raut wajah Han langsung berubah. Dia mengetuk kaca mobil sekali lagi.Kaca mobil lalu terbuka.
"APA LA..."
Bapak itu berniat membentak Han namun nyalinya langsung menciut ketika melihat Han menodongkan pistol padanya.
"Berikan jalan, atau ... KUPECAHKAN KEPALAMU ... SEKARANG!"
Bentak Han.Bapak itu hanya bisa mengangguk-angguk ketakutan.
__ADS_1
Sambil berjalan kembali menuju ambulance Han memberitahukan kepada para pengemudi lainnya untuk memberikan jalan.
Sementara itu Jack juga tidak tinggal diam, dia mengambil alih kemudi dan meminta supir ambulance untuk pindah ke belakang. Melihat keseriusan wajah Jack,supir itu hanya menurut saja. Akhirnya mobil ambulance mendapatkan jalan. Namun sampai di perempatan lampu merah Jack menghentikan laju ambulance.
"Apa lagi yang kamu tunggu?"
Han memasuki ambulance dan duduk disampingnya Jack.
Melihat lalu lintas didepan sana juga macet membuat Jack memutar otak, berusaha mencari solusi. Kemudian Jack
melihat arus lalu lintas di arah yang berlawanan lancar.
"Jack..."
Han bertanya lagi karena Jack tidak menyahut.
Jack lantas menginjak pedal gas dengan gesit dan mengendarai ambulans secara berlawanan arah. Seorang petugas polisi yang melihat hal itu langsung mengikuti ambulance itu dengan motornya. Namun setelah Jack akhirnya berhenti dan menjelaskan keadaannya, polisi lalu lintas itu justru dengan baik hati mengawal perjalanan mereka sampai tiba di rumah sakit.
***
"Suami nyonya Alexandria?"
Panggil seorang suster saat keluar dari ruang operasi.
Han dan Jack saling menunjuk satu sama lain, sedari tadi mereka berdua menunggu dengan gelisah. Tim Dokter mengatakan bahwa dengan berbagai alasan dan pertimbangan Alex tidak bisa melahirkan secara normal dan harus operasi caesar.
'Ya Tuhan, suaminya dua'
Suster itu tersenyum kecut.
"Tali pusar bayi?
Gumam Han mengeryitkan dahi. tentu itu bukanlah sesuatu hal yang awam baginya.
"Kenapa? Jangan bilang kamu takut."
Jack mengoda melihat ekspresi wajah Jack.
"Apa? Enggak, siapa juga yang takut."
"Kalau begitu kamu yang akan memotong tali pusarnya?"
"Apa? oke, ayo!"
Namun begitu sampai didalam nyali Han langsung menciut, entah mengapa saat ingin memotong tali pusar bayi tangannya gemetaran hebat. Tiba-tiba tubuh Han rubuh dan tidak sadarkan diri, akhirnya digotong tim medis keluar ruangan.
"Halah, katanya berani."
Jack tertawa melihat Han semaput. Akhirnya Jack yang harus melakukannya,dengan membaca lafadz bismillah Jack dengan hati-hati memotong tali pusar sang jabang bayi. Kemudian ketika Jack mengadzani sang bayi ada setitik keharuan menyentuh hatinya.
Beberapa saat kemudian Alex dibawa keruang perawatan, kemudian menyusul seorang suster yang mengantarkan sang bayi dan memberikannya kedalam gendongan Alex. Setelah suster pergi Alex menatap sang bayi itu lekat-lekat. Entahlah perasaannya campur aduk saat itu, lalu setitik air mata menetes dipipinya, Alex kemudian tersenyum dan mencium kening bayi itu dengan lembut.
__ADS_1
"Lihat! mereka berdua sudah menjaga kita dengan baik."
Han dan Jack langsung trenyuh mendengarnya. Han mencoba menahan air matanya agar tidak menetes. Menangis adalah pantangan baginya. Jack tersenyum,sama halnya dengan Han dia juga menahan air matanya.
Namun Jack tidak dapat menahan diri,dia mendekat dan mencium pipi bayi itu dengan lembut,kali ini air matanya meleleh. Kemudian dia mengusap rambut Alex dan mencium pelipisnya dengan penuh kasih sayang.
"Aku yakin, dia akan jadi wanita tangguh sepertimu!"
Jack tersenyum dan mengusap air matanya.Alex juga melakukan hal yang sama.
"Aku mau keluar dulu."
Han memutar tubuhnya, dia tidak ingin berlama-lama turut larut dalam keharuan ini, walaupun hatinya dia juga merasakan keharuan yang teramat dalam. Namun justru itu jika dia sampai menangis itu akan membuatnya malu.
"Han, kumohon!"
Alex memanggilnya dengan nada lembut.
Han menghentikan langkahnya dan menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia berbalik dan perlahan berjalan menghampiri Alex.
"Terimakasih ... untuk segalanya."
Alex meraih tangan Han dan menggenggamnya erat-erat. Han menatap mata Alex lekat-lekat, mengangguk sambil tersenyum, lalu dia menatap sang bayi.
"Kuharap dia tidak akan merepotkan sepertimu"
Han mengelus pipi sang bayi dengan lembut.
"Oweeekkkk ... oweeekkkk ... oweeekkkk"
Tiba-tiba bayi itu menangis dengan kencang membuat mereka bertiga terkejut.
***
"Apa menurutmu kita harus memberi tahunya?"
Jack bertanya pada Han, mereka berjalan beriringan di koridor Rumah Sakit.
"Menurutmu Alex akan setuju?"
"Tidak, tapi kurasa dia berhak tau karena biar bagaimanapun dia adalah ayah biologisnya."
"Aku tidak peduli"
"Apa kamu tidak merasa bahwa ada sesuatu hal yang salah?"
Han berhenti lalu menoleh pada Jack. Mereka saling berhadapan.
"Maksudmu?"
"Aku merasa Ryu tidak mengatakan yang sebenarnya?"
__ADS_1
"Apapun itu pengadilan sudah memutuskan."
Han berjalan kembali,sementara Jack masih terlihat memikirkan sesuatu. Namun setelah menghela nafas panjang dia segera menyusul Han.