
Tim berwajib masih terus melakukan pendalaman kasus Martin dan meringkus semua jaringannya. Tetapi ada satu hal yang masih ditutupi oleh Martin yaitu kasus S3l Sp3rma yang diujicobakan secara ilegal,Namun polisi juga tidak menyerah dan masih terus melakukan berbagai upaya agar Martin mau memberitahukan kemana sample S3l Sp3rma yang dibawanya kabur saat itu. Karena itu termasuk barang bukti penting dan orang yang menadahinya juga akan dijadikan tersangka dan akan diproses secara hukum.
"Pak, tolong pak, ada yang bunuh diri"
Tiba-tiba seorang narapidana berlari dari arah kamar mandi menghampiri seorang petugas polisi yang sedang berjaga di blok tersebut.
"Dimana?"
"Kamar mandi?"
Petugas polisi itu langsung berlari menuju kamar mandi yang berada di blok tersebut.Dan benar seorang narapidana ditemukan tegas g4ntung diri mengunakan kain sarung. Setelah diturunkan dan dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi tim medis tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lainnya, jadi kasus ini adalah murni bunuh diri.
***
"Besok aku akan ke Singapura"
Ryu berkata sambil memakai kaosnya, dia baru saja pulang dari rumah Profesor.
"Perjalanan Dinas dengan profesor dan Kriss."
Ryu langsung menambahkan ketika mencium gelagat Alex yang menyatakan untuk ikut serta.
"Hanya Profesor dan Kriss?"
Alex bertanya penuh selidik, nalurinya mengatakan bahwa ada yang lain yang akan ikut serta dengan mereka.
"Jangan cemburu berlebihan, Selin sudah kuanggap sebagai saudariku."
"Tapi sepertinya dia tidak menganggapmu begitu"
"Itu hanya asumsimu saja"
Ryu menyibak selimut lalu merebahkan tubuhnya disisi Alex, dan mulai memejamkan mata.
"Aku mau ngopi sebentar."
Alex menyibakkan selimut lalu berjalan keluar kamar dengan senyum penuh arti.
Keesokan harinya dikabin pesawat....
"Maaf sepertinya anda salah kursi, ini kursiku?"
Pinta Selin sopan saat seseorang duduk di kursi dengan menutup wajahnya dengan topi.
"Oh, maaf ...."
"Kamu!"
Selin tampak terkejut lalu dia menoleh pada Ryu tampak tenang melihat Alex berdiri didepannya.
"Ini tempatku dengan Ryu"
Selin kembali menoleh pada Alex dan memasang wajah sinis.
"Tapi Ryu suamiku."
Alex pun membalas dengan sengit.
"Lalu?"
"Aku ingin duduk disampingnya."
"Tidak bisa."
"Maaf ada apa ini?"
Seorang pramugari yang melihat mereka datang menghampiri dan mencoba melihat apa gerangan yang terjadi.
"wanira ini mau mengambil tempat dudukku."
Selin langsung menunjuk ke arah Alex seolah ingin mengadukan kesalahannya.
"Mohon maaf bisa perlihatkan tiketnya?" pinta sang Pramugari sopan.
Alex dan Selin memperlihatkan tiket mereka, kemudian pramugari itu membenarkan apa yang dikatakan Selin dan mempersilakan Alex kembali ke tempat duduknya.
"Kamu dengar itu! meskipun dia suamimu kamu tidak bisa memonopoli seenaknya sendiri."
Selin jelas-jelas memperlihatkan rasa tidak sukanya terhadap Alex.
"Kalau kamu sadar diri dengan apa yang kamu katakan, kamulah yang justru memonopolinya, tapi ngomong-ngomong soal itu bukankah aku lebih berhak dari padamu?"
"Terserah apa katamu, minggir aku mau duduk!"
"Tidak, kalau masalahnya hanya pada tiket, aku mau tukar tiketnya."
"Apa-apaan kamu? aku tidak mau."
"Kalau begitu aku terpaksa merebutnya."
"Nona-nona tolong hentikan kalian menganggu penumpang yang lainnya!"
Pramugari itu mencoba menengahi Selin dan Alex yang sepertinya sama-sama memanas.
"Sudahlah Selin, sebaiknya kamu mengalah saja, duduklah bersama Kriss biar ayah yang pindah ke belakang!"
"Tidak perlu, profesor!"
__ADS_1
Ryu kemudian melangkah ke belakang setelah bertanya pada pramugari dimana tempat duduk Alex, kemudian Ryu terlihat bercakap-cakap kepada salah seeorang wanita paruh baya yang duduk di kursi bersebelahan dengan kursi Alex, Ryu mencoba memberikan pengertian dengan ramah kepada wanita itu dan akhirnya wanita itu mau mengerti dan mau menukar tiketnya.Masalah pun teratasi.
Melihat itu Alex tersenyum penuh kemenangan, ia lalu berjalan menuju ketempat duduknya.
"Terimakasih, Bu, saya berhutang pada Ibu, Ibu adalah wanita yang sangat berbudi."
Alex tersenyum ramah saat berpapasan dengan wanita itu, dia lalu melirik Selin yang terlihat kesal. Wanita itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
Ryu tampak tenang menatap keluar jendela. Tidak menghiraukan Alex yang duduk disampingnya. Alex tersenyum kemudian melingkarkan tangannya pada lengan Ryu dan menyandarkan kepalanya disana. Ryu masih tidak bergeming. Alex mengangkat wajahnya meletakkan dagunya pada bahu Ryu dan tertawa-tawa disana. Ryu hanya meliriknya sesaat.
"Harusnya aku tahu."
Gumam Ryu lalu melihat Alex yang masih sibuk senyam-senyum.
Ryu menoleh pada Alex yang menunjukkan tampang tanpa rasa bersalah sedikitpun dan justru ekspresinya menunjukkan kebahagiaan.
"Kiss me!"
Pinta Alex bebisik memajukan bibirnya. Ryu tidak menanggapinya dia memasang wajah acuh. Namun itu justru membuat Alex makin gemas.Dia lalu memegang wajah Ryu dengan kedua tangannya lalu menghadapkan wajah Ryu padanya.
"Oke, biar aku saja."
Alex menutup bibir Alex dengan telapak tangannya.
"Pesawat bahkan belum take off"
Alex makin gemas dan justru merangkul Ryu salah satu kakinya naik kepangkuan Ryu. Alex menggigit telinga Ryu mesra. Untung kursi disebelah kosong.
Alex memulai aksinya saat pesawat mengudara, dia tidak memberikan kesempatan sedikitpun bagi Ryu untuk duduk dengan tenang.
"Dasar keras kepala!"
Ryu akhirnya tidak dapat menahan diri lagi. Dia meraih pinggang Alex kemudian m3nc1um bibir Alex dengan penuh g41r4h.
***
Semalam....
Alex meletakkan kembali ponsel Ryu yang telah dia bawa secara diam-diam keluar dari kamar dengan alasan ingin minum kopi perlahan diatas nakas. Setelah itu dia masuk kedalam selimut dan merapatkan diri pada tubuh Ryu kemudian merangkul pinggangnya dari belakang.
"Bisakah kita bermain sebentar sebelum kamu berangkat besok?_
Ryu tidak bereaksi.
"Jangan pura-pura tidak dengar!"
Ryu masih tidak merespon.
"Aku akan merindukanmu."
Gumam Alex lirih hampir tak terdengar,namun sukses membuat Ryu bereaksi, dia membuka matanya kemudian berbalik menatap Alex.Ryu menemukan kesenduan di wajah Alex.
Alex tertawa mendengarnya lalu mengalungkan tangannya dileher Ryu yang telah menindih tubuhnya, detik berikutnya bibir mereka saling b3rp4gut4n hangat, Hinga kehangatan itu berlanjut menjadi g4irah membara yang menjalar ke tubuh mereka yang kini telah melebur menjadi satu.
Malam itu Alex tersenyum puas saat melihat pesan berisi konfirmasi pembelian tiket secara online masuk ke ponselnya.
'singapura, i am coming'
***
Tak lama terdengar suara dari ruang kokpit bahwa pesawat mereka akan segera landing.
Ryu dan Alex mau tidak mau menyudahi kegiatan mereka.
"Kamu pesan kamar hotel sendiri kan?"
Tanya Alex tersenyum penuh arti.
"Rapihkan pakaianmu!"
Dibagian pengambilan koper...
"Yang mana kopermu?"
"Nggak bawa"
Alex menyahuti dengan santai saat Ryu berniat ingin mengambilkan koper untuknya.
"Kita akan disini beberapa hari dan kamu tidak bawa baju ganti?"
"Aku tidak keberatan pakai bajumu"
Alex tersenyum penuh arti, Ryu hanya menarik nafas panjang dan menggelengkan kepalanya samar.
Sesampainya dihotel Ryu terpaksa memesan kamar sendiri, padahal tadinya dia memesan satu kamar dengan Profesor dan Kriss. Namun sekarang tidak mungkin lagi.
Saat tiba dikamar hotel Alex langsung berjalan dan membuka pintu balkon, menghirup udara segar dan menikmati suasana kota yang memukau. Alex tidak sengaja menoleh saat Ryu sedang membuka kopernya berniat menganti baju. Saat Ryu tengah membuka kancing baju, Alex tiba-tiba berlari menerjang dari belakang membuat mereka berdua tersungkur diatas kasur secara bersamaan.
"Alex...."
Ryu memutar tubuhnya dan melihat Alex justru tertawa lepas menatapnya.
"Kita selesaikan sekarang?"
"Ini bukan honeymoon""
"Ide yang bagus"
__ADS_1
Alex membuka kancing baju Ryu yang belum semuanya terlepas dengan cepat lalu meng3cup dada Ryu dengan penuh g41r4h.
"Tidak! aku harus bersiap untuk pergi meeting."
Ryu mendorong tubuh Alex pelan
"Aduh,memang meetingnya jam berapa?"
Alex bertanya sambil mengangkat tubuhnya lalu duduk ditepian ranjang.
"Jam sepuluh"
Ryu menyahuti sambil berdiri dan melepas kemeja dan menggantinya dengan yang baru.
Alex menoleh mencari jam dinding dan waktu saat itu menunjukkan pukul sembilan lebih sepuluh menit.
"Itukan masih lama."
Ryu kaget setengah mati karena Alex tiba-tiba menubruk dan merangkul pinggangnya dari samping.
Punya istri kok pecicilan banget sih!
"Tidak, kalau kita melakukannya sekarang aku perlu mandi dan itu akan memakan waktu. kamu tunggu saja sampai aku selesai meeting"
Ryu menolak sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Alex yang justru makin ketat merangkul pinggangnya.
"Lepaskan!"
"Tidak."
Ryu menarik nafas panjang. Dia tahu Alex tidak akan mendengarkannya. Ryu kemudian memutar badan menghadap istrinya.Alex tidak melepaskan rangkulannya sama sekali,takut Ryu kabur.Alex memasang wajah manis dan manja saat Ryu menatapnya.
"Kamu benar-benar wanita penganggu."
Ryu mengangkat tubuh istrinya dan menjatuhkan ke ranjang, melucuti pakaiannya satu persatu, membuat Alex terkekeh senang. Mereka kemudian menyelesaikan kegiatan di pesawat yang belum sempat mereka tuntaskan.
Malam harinya mereka menikmati makan malam di hotel.Saat itu Selin lebih banyak diam dari biasanya, tentu saja karena dia tidak menyukai Alex yang terus berada didekat Ryu, ditambah lagi dia sempat melihat tanda merah di leher Alex, perasaan Selin bertambah buruk.
Sementara itu Alex justru tertawa dalam hati melihat wajah Selin ditekuk seribu.
'Rasakan!'
"Profesor saya duluan, ingin jalan-jalan sebentar!"
Ryu berpamitan lalu menoleh pada Alex, melihat kode dari suaminya Alex kemudian turut bangkit dan memberikan seutas senyuman. Profesor Efendy hanya memberikan persetujuannya dengan mengangguk dan tersenyum.
"Mau kemana kita?"
Alex bertanya saat mereka sudah berada diluar hotel sambil mencari transportasi umum.
"Shooping, aku tidak mau berbagi pakaian denganmu."
Alex tersenyum mendengarnya.
Saat shopping Alex memasukkan beberapa buah lingeri kedalam tas belanjanya, Ryu hanya melirik sesaat saat baju itu sampai di meja kasir.
"Honeymoon."
Alex berbisik di dekat telinga suaminya mesra.
Suasana Singapura sangat romantis bagi Alex malam itu,karena Alex bisa selalu berduaan bersama suaminya.
"Ryu, ayo kita jajan?"
Alex berhenti saat melihat spot street food yang lumayan populer di Singapura
dan terlihat dari kejauhan tempat itu sangat ramai pengunjung.
"Jadi sekarang kamu juga matre?"
Alex hanya tertawa lalu dia menarik tangan Ryu agar mengikuti langkahnya, lidahnya sudah tidak sabar untuk mencicipi street food khas Singapura.
Pagi harinya Ryu terbangun dengan perut melilit luar biasa. Dia segera berlari ke kamar mandi dan segera menuntaskan hajatnya disana.
"Kamu tidak papa?"
Alex terbangun karena tadi mendengar Ryu berlari ke kamar mandi.
Ryu menggelengkan kepala sambil menutup pintu kamar mandi lalu kembali ke kasur, namun baru saja dia ingin menyibak selimut perutnya terasa mulas lagi. Alex mengeryitkan dahi saat melihat raut wajah Ryu yang terlibat menahan mulas sambil memegangi perutnya.
"Lain kali aku tidak akan mengajakmu jajan lagi, ingat itu!"
Ryu berkata sambil berjalan cepat ke kamar mandi. Alex justru terkekeh melihat tingkah suaminya.dia teringat semalam dia memaksa Ryu makan jajanan yang bermacam-macam dan pedas.
***
"Apa sudah bisa pesan tiket pulang sekarang, biar aku yang pesan?"
Tanya Kriss yang sedang mengemudikan mobil ke hotel.hari ini akhirnya meeting mereka selesai.
"Kalian pulang saja duluan"
Profesor dan Selin yang duduk dikursi belakang saling berpandangan.
"Hmm, pengantin baru belum puas honeymoon rupanya?"
Kriss mengoda Ryu yang duduk disebelahnya.
__ADS_1
Ryu hanya merespon dengan senyuman, kebersamaannya bersama Alex yang intens selama empat hari ini membuatnya seperti enggan untuk menyudahinya.Dia merasa dia menemukan hal-hal baru dengan Alex yang belum pernah dia rasakan. Ryu menatap keluar kaca mobil melihat lalu lintas jalanan Singapura yang lancar. Namun Ryu tersenyum tipis karena justu bayangan wajah dan tingkah polah Alex melintas dibenaknya
'Hah, aku kenapa aku merindukannya?'