
"Jadi apa rencana kita selanjutnya? "
Tanya Alex sambil memberikan kopi pada kedua rekannya. Pagi ini tidak ada kurir yang datang seperti biasanya.
"Rencana? "
Han bertanya seperti orang linglung.
"Yah, oke, sepertinya aku salah bertanya pada kalian tentang sebuah rencana. Setelah apa yang kalian berdua lakukan semalam, dasar tukang mabuk! "
Alex menghempaskan tubuhnya di kursi dengan kesal menghadap kedua rekannya.
"Tidak... Hanya beberapa teguk saja tidak membuatku mabuk, Alex"
Alex menegakkan duduknya.
"Maksudmu? "
Alex mengerutkan keningnya, Han menoleh pada Jack setelah menyesap kopinya.
Jack tersenyum sembari mengangkat cangkirnya kemudian meneguk kopinya dengan santai.
Semalam...
Jack berjalan menaiki tangga, kemudian berpura-pura berjalan sempoyongan seolah-olah seperti orang mabuk.
"Hai, mau kemana? "
Cegah seorang bodyguard bersetelan hitam yang sedang berjaga didepan pintu. Sementara kawan yang satu lagi tampak sinis memandang Jack.
"Mau ke toilet. "
"Disini bukan toilet, tau! "
Bentak bodyguard itu
" Oh, bukan disini,trus dimana toiletnya? "
Tanya Jack dengan nada seperti orang mabuk.
"Mana ku tau, sudah sana pergi! "
Bodyguard itu mendorong tubuh Jack, Jack pura-pura jatuh di lantai. Kemudian meraih sesuatu dari saku jaketnya dan menyebarkannya melalui celah bawah pintu. Kemudian dia tersenyum.
Jack berdiri dan menyeringai menatap bodyguard itu dengan penuh arti.
"Kenapa masih disini, pergi sana, atau mau ku pukul"
Bodyguard itu mengarahkan tinjunya pada Jack.
"Santai, kawan, santai... Belum waktunya! "
Jack tertawa kemudian dengan langkah gontai meninggalkan tempat itu .
"Hei katakan kepada pengelola club, disini terlalu banyak nyamuk, kalau sampai hal ini tidak diatasi bos mengancam akan menutup club ini"
Seseorang dari dalam ruangan membuka pintu dan mengatakan pada bodyguard yang tadi 'bercengkerama' dengan Jack.
Jack tersenyum mendengar hal itu.
'Berhasil'
Jack memasuki toilet, kemudian membuka topeng yang terbuat dari silicon yang dia kenakan sejak tadi sebagai penyamaran. Kemudian keluar toilet dengan gontai Sembari membuang topeng itu ditempat sampah.
"Kenapa kamu lama sekali, Jack? "
Tuntut Alex difikirnya Jack pingsan di kamar mandi.
"Tadi aku tersesat! "
__ADS_1
Jack menyandarkan dirinya di sofa.
"Hah, masa bodo, ayo kita pergi dari sini! "
***
Robot micro menyerupai nyamuk yang berhasil Jack susupkan ke ruangan tempat mafia itu meeting berhasil mengikuti mafia itu sampai ke markasnya hingga kini.robot itu berfungsi seperti perekam suara dan sebagai alat GPS dan juga serupa alat CCTV. Canggih bukan.
"Bagus, robot itu melakukan tugasnya dengan baik"
Gumam Jack sambil melihat layar laptopnya dengan seksama.
"Mereka menyebar di beberapa tempat"
Alex turut mengamati layar laptop Jack, melihat ada tanda dibeberapa titik wilayah dalam map yang menandakan tempat dimana para mafia itu kini berada.
"Itulah mengapa jaringan mereka sangat banyak, dipikir-pikir mereka lebih mirip organisasi"
Kata Han kemudian meneguk kopinya.
"Tidakkah ini mencurigakan mengapa selama ini mereka sulit sekali ditangkap, seperti katamu Han, mereka seperti organisasi yang terlindungi"
"Maksudmu ada musuh dalam selimut? "
Jack menoleh pada Alex yang hanya mengangkat bahunya.
"Mungkin... Kemungkinan itu selalu ada! "
"Aduuuhhh, kenapa dibikin pusing. Kita kan sudah tau dimana mereka. Tinggal hubungi markas dan beritahukan lokasi mereka. Beres! "
"Tidak semudah itu bodoh, kita perlu bukti untuk menangkap mereka,kamu pikir mengapa selama ini mereka bisa lolos"
"Buktinya sudah pasti ada bersama mereka"
"Belum tentu, mereka bukan mafia kemaren sore yang akan membawa barang bukti bersama mereka"
Dengus Han.
"Bagus kamu mengakuinya"
Sahut Alex sarkasme
"Oke, sekarang katakan padaku apa rencanamu, nona sok pintar?"
"Apa kamu... "
"Hai dengarkan ini! "
Pinta Jack yang sedari tadi fokus dengan laptopnya. Jack kemudian menyalakan speaker di laptopnya. Kamera CCTV kemudian menyala.
"Pagi, Bos, kartu undangan untuk pesta nanti malam sudah sampai"
Seorang wanita berpakaian rapi memberikan kartu berukuran seperti KTP pada bosnya.
"Letakkan itu disitu!"
Pintanya menunjuk pada meja.
"Baik, Bos,saya permisi."
Wanita itu kemudian pergi, tetapi sebelum menutup pintu wanita itu memutar tubuhnya.
"oh,ya,Bos, jangan lupa untuk membawa kartu itu nanti malam bersama anda. Atau anda tidak akan bisa masuk"
Kemudian hening. Jack mematikan kamera cctvnya.
"Kenapa kamu tidak membiarkan kameranya terus menyala, dan yang lainnya juga"
Tanya Han difikirnya akan lbih mudah untuk melihat pergerakan lawan kalau kameranya terus menyala. Bukankah itu pemikiran yang cerdas?
__ADS_1
"Itu bisa saja. Namun robot itu akan cepat terkuras dayanya dan akan mati"
"Kenapa kamu punya alat yang serba tanggung begitu? "
Sindir Han.
"Ada harga ada barang kawan"
"Cih, bilang saja kamu nggak mau modal"
Jack tertawa ringan mendengarnya.
"Oke, sekarang kita tau mereka akan mengadakan pertemuan secara tertutup dengan para anggota mereka. "
"Yaa,lalu? "
Tanya Jack berpura-pura tidak tau maksud Alex.
"Ya lalu, apakah kita akan diam saja?"
Tanya Alex bernada gemas, mengapa mereka begitu bodoh.
"Tentu saja kita akan menghadiri pesta itu, apalagi? "
Otak Han langsung berfantasi begitu mendengar kata pesta.
"Bagus, sekarang katakan padaku tuan sok pintar bagaimana caranya kita masuk? "
"Tentu saja dengan menyusup, jangan bilang kamu lupa caranya? "
Sindir Han
"Menyusup lah sendiri sana, percayalah kita tidak akan bisa masuk kalau kita tidak memiliki kartu undangan itu."
"Kita akan memilikinya, Alex. "
Jack mengambil secarik kertas dari mesin printer disebelah laptopnya. Dan menunjukkan gambar kartu undangan yang tercetak di kertas pada Alex.
"Aku pergi dulu, siapkan saja gaun pesta mu, Alex! "
Jack berdiri mengambil ponselnya yang terletak disamping laptop kemudian berjalan menuju pintu.
Alex mengerutkan keningnya pertanda bingung, namun sesaat kemudian dia tersenyum mengigat betapa cerdiknya Jack.
"Oh ya, Han siapakan tuxido untukku, Oke"
Teriaknya sebelum akhirnya hilang dibalik pintu.
"Heh, enak saja nyuruh-nyuruh"
Han kemudian memandang penuh arti pada Alex.
"Apa? "
Sahut Alex yang merasa dipandangi.
"Mumpung Jack tidak ada bagaimana kalau kita bermain-main berdua"
Alex berdiri kemudian tersenyum mengoda pada Han. Han yang merasa Alex menerima ajakannya lansung bersiap ingin memeluk Alex. Alex mengelus dada Han dengan lembut dan turun kebawah perut. Kemudian satu cubitan hangat mendarat disana.
"Aaaaa"
Sontak Han berteriak.
"Mainlah sendiri jika kamu bisa,dasar otak mesum"
Alex kemudian pergi menuju kamarnya.
"Dasar gil4"
__ADS_1