
Sebuah taksi berhenti disebuah rumah mewah di komplek perumahan elit.Ryu turun dan langsung dibukakan pintu oleh satpam yang berjaga di rumah itu. Setelah bercakap-cakap sebentar Ryu bergegas masuk,tidak perlu menunggu lama dia sudah disambut ramah oleh kepala pelayan di rumah itu.
"Senang melihatmu kembali, Dokter Ryu, sudah lama sekali, lama sekali anda ditugaskan ke daerah sampai menahun...."
Kepala pelayan itu memang tidak tahu bahwa Ryu selama ini diculik dan harus berkorban demi keselamatan keluarganya.
"Terimakasih,Bu Mella, dimana Profesor?"
mereka berjalan beriiringan
"Dia sudah istirahat di kamarnya sejak sore tadi,ah, sudah beberapa hari ini dia terlihat kurang sehat.sepertinya ada sesuatu yang menganggu pikirannya."
"Jangan dengarkan dia, Ryu ,Bu Mella memang sok tau"
Ryu dan Bu Mella menoleh secara bersamaan saat mendengar suara Profesor Efendi, dia tengah berjalan perlahan menuruni tangga.
"Profesor...."
"Ryu..."
Keduanya saling berpelukan dengan syahdu seperti seorang ayah dan anak yang sudah lama tidak bertemu.
"Apa kau baik-baik saja, Profesor?"
Ryu bertanya saat melihat wajah Profesor tampak pucat.
"Ah, aku tidak papa ini hanya penyakit orang yang sudah uzur, haha"
Profesor Efendi tertawa sambil menyusut lelehan bening disudut matanya.kemudian dia membetulkan kacamatanya.
"Apa kau yakin?"
Profesor mengangguk perlahan. kemudian merangkul bahu Ryu.
"Ayo kita keruanganku, kita ngobrol di sana! Bu Mella tolong buatkan minuman untuk kami berdua!
"Baik, Prof."
Bu Mella menundukkan kepalanya lalu melangkah menuju arah dapur menuruti perintah majikannya.
"Aku sungguh minta maaf, Ryu... aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu, sungguh selama tiga tahun ini aku sangat tersiksa. Aku tidak tahu harus melakukan apa, berkali-kali terbersit dikepalaku untuk melapor ke polisi tapi aku takut justru terjadi apa-apa padamu."
Tiba-tiba profesor menangis dan merangkul Ryu seolah-olah dia menyesal.
"Tenanglah Profesor, ini bukanlah kesalahanmu, aku justru khawatir dengan kalian. Tapi aku bersyukur kalian baik-baik saja, dan semuanya sudah berakhir, jadi tenanglah, jangan pikirkan hal ini lagi, aku tidak ingin kesehatanmu terganggu."
Ryu berusaha menenangkan Profesor Efendy yang tampak sedang kalut.
"Yaa, yang terpenting sekarang kamu sudah kembali dengan selamat, aku sangat senang saat kamu menelfonku dan mengatakan bahwa kamu baik-baik saja. Aku tidak percaya makanya aku menyuruhmu kesini malam-malam begini"
Profesor melepas pelukannya dan tampak ada sedikit kelegaan diwajahnya.
"Sekarang kamu sudah percaya, bukan?"
Ryu tersenyum, Profesor mengangguk-angguk.
"Aku sangat merindukanmu... putraku."
Profesor kembali memeluk Ryu dengan hangat.
"Aku juga... Ayah."
kemudian terdengar suara pintu diketuk, ternyata Bu Mella mengantarkan secangkir teh dan sepiring camilan.
Karena sudah lama tidak bertemu mereka akhirnya mengobrol hingga pagi hampir menjelang, hingga Profesor Efendy meminta Ryu untuk tidur dirumahnya, dan Ryu tidak pernah bisa menolak permintaannya.
***
Alex harus pasrah ketika keesokan harinya Ryu belum juga pulang. Bahkan sampai waktu sore hari Ryu belum juga terlihat batang hidungnya. Beruntung Jack dan Han datang, hingga perasaannya sedikit terhibur.
"Wow, kalian kelihatan terlihat sangat berantakan."
Alex mengejek kedua rekannya sambil duduk di sofa.
"Jangan banyak tanya dan buatkan kami kopi saja?"
Han menyahuti sambil menyandarkan tubuhnya di sofa dengan mata terpejam. Sementara Jack duduk disebelahnya dengan wajah kusut.
"Apa ada kasus rumit?"
Alex kemudian kembali membawa dua cangkir kopi dan meletakkannya di atas meja.Dia lalu duduk kembali.
"Sejak kapan kita dapat kasus yang mudah."
Han menyahuti sambil mengambil secangkir kopi.
"Apa perlu patner lagi?"
Alex bertanya sambil tertawa.
"Apa Ryu tidak memuaskan diranjang,sampai kamu harus kembali ke arena panas!"
__ADS_1
Goda Han disambut tawa Jack.
"Tutup mulutmu!"
Tiba-tiba wajah Alex berubah merenggut. Membuat kedua rekannya tertawa renyah.
"Sepertinya pengantin baru tidak puas dengan malam pertamanya."
Kali ini Jack juga ikut-ikutan mengoda.
Alex baru saja ingin menyemprot Jack namun Yumna keburu datang, dia memeluk Han dan Jack secara bergantian, kemudian bercengkrama dengan keduanya. Hingga Ryu akhirnya datang barulah Yumna berlari kedalam pelukan ayahnya.
"Sudah lama?"
Tanya Ryu sambil mendudukkan Yumna dipangkuannya.
" Lumayan, hei, Ryu jangan sok sibuk, yang dirumah juga butuh diperhatikan"
Goda Jack melihat wajah masam Alex saat Ryu datang. Ryu hanya tersenyum tanpa melihatpun dia tahu bahwa Alex sedang marah padanya.
"Bagaimana mau perhatian kalau baru datang saja muka sudah ditekuk begitu, hei, Alex harusnya kalau suami pulang buatkanlah dia kopi atau makanan gitu?"
Han sok memberi nasihat dan sudah pasti membuat perasaan Alex bertambah buruk.
"Eh, aku lupa kalau Alex tidak bisa memasak"
Gumam Han lirih.
"Kata siapa Alex tidak bisa masak dia jago masak, masak air."
Entah kenapa Jack kini ketularan Han suka mengoda Alex.Makin panaslah hati Alex.
"Apa kalian tidak berniat pergi dari sini?"
Alex bereaksi dia sangat kesal dengan kejadian semalam ditambah lagi Han dan Jack meledeknya.Tambah kesal rasa hatinya.
"Kenapa? Ryu saja tidak keberatan kami disini."
Han menyahuti lagi.
"Sudahlah, Han, mungkin kita sebaiknya pergi"
"Tidak, jangan pergi dulu, aku akan pesan makan malam untuk kita."
Ryu menyahut dan mengeluarkan ponselnya untuk memesan makanan online.
"Yumna ayo ganti bajumu dan gosok gigi,ibu ingin segera tidur."
"Kenapa ini kan baru jam setengah delapan, apa ibu sakit?"
Yumna selalu ingat bahwa Ibunya selalu tidur diatas pukul sepuluh malam,kecuali saat sedang sakit.
"Iya, sakit hati."
Alex menekankan kata 'sakit hati saat mengucapkannya.
"Hati ibu sakit? biar Ayah obati, bukankah Ayah seorang dokter, benarkan Ayah?"
Ryu tersenyum mengangguk perlahan saat Yumna menatapnya polos. Han dan Jack hanya senyam-senyum melihat kepolosan Yumna.
"Yumna, ibu mohon jangan banyak tanya, ayo cepatlah!"
"Tapi ibu sendiri yang mengajariku begitu, katanya biar banyak tahu kita harus rajin bertanya."
Tiba-tiba Han dan Jack tergelak sukses membuat Alex makin geram
"Lain kali akan ku masukkan si4nida ke dalam kopi kalian!."
***
"Kenapa Uncle Han dan Uncle Jack tidak tidur disini saja?"
Han berjongkok dihadapan Yumna
"Kami sebenarnya mau, tapi takut menganggu ibu dan Ayahmu."
"Kenapa ayah dan ibu harus merasa terganggu?"
"Pergilah kalian berdua sebelum kesabaranku habis!"
"Nah, kan, lihat sendiri, ibumu galak sekali, kami jadi takut."
Jack bergurau.
"Ibuuu, kenapa galak pada Uncle Jack dan Han?"
Yumna memprotes ibunya, membuat Alex memijit-mijit kepalanya.Puyeng.
"Yumna, Uncle han dan Uncle Jack harus pergi karena ada tugas lagi, bukankah Yumna senang kalau kejahatan di muka bumi ini hilang"
Alex mencoba memberikan alasan sambil menahan sabar.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu Uncle Han dan Uncle jack boleh pergi."
"Anak pintar."
Alex mengusap kepala Yumna dan tersenyum penuh kemenangan.
"Ok, give me high five!"
Jack megulurkan tangannya diikuti Han lalu Yumna memberikan tos pada keduanya.
***
Ryu masuk ke kamar setelah menidurkan Yumna.
Ryu tersenyum saat melihat Alex keluar dari kamar mandi lalu naik ke ranjang kemudian lalu menarik selimut pura-pura tidur.
Ryu menuju kamar mandi, menganti bajunya lalu naik keatas ranjang dan tidur membelakangi istrinya.namun dia menoleh saat terdengar pergerakan.
"Kemana?"
Tanya Ryu melihat Alex bangkit dari ranjang dan melangkah menuju pintu.
"Tidur dengan Yumna!"
Secepat kilat Ryu menarik tangan Alex memutar tubuhnya dan menc1um bibir istrinya. Alex berontak lalu mendorong tubuh Ryu.
"Apa aku memintanya?"
"Tapi aku menginginkannya."
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Akan aku paksa."
Ryu berusaha meraih lengan Alex namun Alex dengan piawai menghindar.
"Tangkap aku jika kamu bisa!"
Melihat tantangan dari istrinya Ryu tersenyum tipis.
"Tampaknya ini akan jadi seru."
Kemudian terjadi seolah-olah mereka sedang berkelahi sampai akhirnya karena menahan amarah Alex menjadi lengah.
"Kena kau."
Ryu mengunci tangan Alex dari belakang kemudian mengangkat tubuh Alex dan menghempaskannya keranjang. Saat Alex terlihat akan bangun, Ryu mengunci tubuh dan tangan Alex lagi.
"Lepaskan!"
Dengan nafas ngos-ngosan Alex berusaha berontak.
"Menyerahlah, kamu hanya akan kelelahan dan tidak akan maksimal melayaniku."
"Aku bukan pelayanmu!"
"Tapi kamu istriku dan kamu wajib melayaniku"
"Oh ya? lalu dimana seorang suami saat istrinya membutuhkannya? pergi begitu saja dan tidak memberi kabar apapun?"
Ryu menatap mata Alex yang dipenuhi amarah, dan kali ini tampaknya Ryu insyaf.
"Baiklah, aku minta maaf?"
"Maaf? tidak semudah itu."
Alex mencoba berontak lagi, namun Ryu tidak membiarkannya begitu saja.
"Aku menemui keluargaku..."
Alex berhenti berontak menatap Ryu menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Mereka baik-baik saja, aku benar-benar minta maaf karena sudah meninggalkanmu semalam."
Alex menatap Ryu lekat-lekat. Kini Alex dapat memahami mengapa Ryu mendadak harus pergi semalam.
Ryu mengendurkan genggamannya saat merasakan amarah Alex telah reda. Nafas Alex masih naik turun namun sudah sedikit beraturan.Namun saat Ryu telah lengah, dia membalikkan keadaan dan duduk di perut Ryu.
"Sekarang siapa yang amatiran? "
Ryu tertawa melihat wajah Alex yang dipenuhi rasa kemenangan.
"Ayo, kita mulai!"
Malam itu mereka mereguk manisnya bercinta, meleburkan kedua jiwa menjadi satu yang kenikmatannya mampu melumpuhkan hati dan logika, inilah surga dunia yang keindahannya selalu mengusik jiwa sepasang kekasih dalam setiap ikatan suci.
"Hei, Ryu, kenapa kamu baru memberitahuku sekarang, kamu kan bisa menelfonku dan memberi tahu kalau kamu menemui keluargamu?"
"itu karena aku lupa bahwa aku sudah punya istri."
fix, Alex ngambek lagi.
__ADS_1