
Kediaman Profesor Efendy....
Ryu masuk telebih dulu karena harus menjawab telfon dari Jack, Pasalnya saat mereka pulang kerumah dan ingin menjemput Yumna rupanya mereka belum pulang dan saat Alex mencoba menghubunginya Jack tidak juga menjawab panggilannya. Akhirnya Alex hanya mengirimkan sebuah pesan melalui WA.
"Ya sudah,kalau begitu tolong jaga Yumna dulu,oke"
Alex menyahuti saat Jack mengatakan bahwa Yumna telah tertidur karena kelelahan sehabis jalan-jalan bersamanya. Kemudian Alex mengakhiri panggilannya.
Saat masuk Alex melihat beberapa orang yang sama sekali tidak dia kenal sedang duduk mengitari meja. Sementara matanya menangkap Ryu tengah akrab mengobrol dengan wanita yang duduk persisi disampingnya.bAlex langsung merasakan hatinya terbakar api cemburu.
'tenanglah Alex.'
Alex mencoba menenangkan hatinya.
Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kemudian melihat kursi kosong disebarang meja berhadapan dengan Ryu duduk.
Alex bergegas menuju kesana.
"Boleh duduk disini?"
Dua orang lelaki yang tengah bercakap-capak menoleh.
"Oh, tentu silakan!"
Salah satu dari mereka menoleh dan mempersilahkan Alex duduk.
"Terimakasih."
Alex menarik kursi secara perlahan dan dengan tenang duduk di sana.Sesekali diliriknya Ryu yang masih asyik mengobrol dengan wanita itu.dari penampilannya Alex dapat menilai bahwa wanita itu sangat berkelas.
"Kenal Profesor?"
Tanya pria yang duduk tepat disampingnya,pria yang mempersilakan Alex duduk tadi.
"Ya, kalau tidak masa aku disini."
'sungguh pertanyaan yang bodoh'
Batin Alex
"Dokter?"
Alex berganti menoleh pada pria yang duduk disisi lainnya.Alex hanya tersenyum.
"Kerja dimana?"
Saat pria itu bertanya lagi Ryu terlihat melirik adegan itu sesaat.
"Sedang cuti."
"Ngomong-ngomong aku Adnan"
Pria yang disebelah mengulurkan tangannya.
"Alex"
Tanpa ragu Alex menerima uluran tangan Adnan.
" Kriss"
Alex bergantian menyalami tangan Kriss.
"Sepertinya aku jarang melihatmu kesini, tapi senang berkenalan denganmu, Alex"
Alex hanya menangapi Kriss dengan senyuman.
"Heh, Kriss, tidak semua tamu Profesor harus kamu kenal,bukan?"
"Memang tidak, tapi ini lain dari biasanya, tamu ayahku biasanya seumuran dengannya, jarang ada tamu wanitanya masih muda dan... cantik."
Kriss menurunkan nada suaranya pada kata 'cantik' kemudian tersenyum manis pada Alex.
'oh, jadi dia anak Profesor'
Batin Alex, kemudian dia mengamati sekeliling secara diam-diam ada tujuh orang laki-laki yang duduk bersamanya di meja makan,dan ada satu wanita yang duduk disamping Ryu.dan Alex memperkirakan bahwa mereka semua kemungkinan adalah seorang Dokter.
Beberapa saat kemudian Profesor datang, dan acara makan malam pun dimulai tentu saja disertai obrolan ringan diantara mereka.
"Ryu, makanlah ini."
"Terimakasih, Selin."
Wanita bernama Selin itu meletakkan potongan daging salmon segar ke dalam piring Ryu.
__ADS_1
"Kamu juga harus makan ini, Selin, kesukaanmu."
Ryu juga melakukan hal yang sama,dia meletakkan potongan daging steak kedalam piring selin.
"Terimakasih, Ryu, aku senang kamu tidak lupa hal itu"
"Tentu saja, mana mungkin aku lupa."
Selin tersenyum kemudian menikmati hidangannya kembali. Begitu pula dengan Ryu,dan tentunya kejadian itu tidak luput dari pandangan Alex.
"Hmmm, dia bisa begitu manis pada wanita lain"
"Hah, apa kamu mengatakan sesuatu, Alex?
"
Rupanya Adnan bereaksi ketika mendengar Alex seperti mengatakan sesuatu.
"Oh, tidak apa-apa, aku hanya mengatakan kalau makanannya enak sekali"
Alex berpura-pura sambil tersenyum.
"Tapi dipiringmu baru ada nasi"
"Hah, benar juga ya."
Alex melihat piringnya karena terlalu sibuk fokus dengan Ryu dia jadi lupa bahwa dia belum mengambil lauk apapun yang tersedia dimeja.
"Kamu mau apa,biar ku ambilkan!"
Alex mengedarkan pandangannya keatas meja, ada banyak menu tapi dia seperti tidak selera makan.Cemburu membuat selera makannya jadi hilang.
"Aku eee...."
"Bagaimana kalau kau coba Soto Ayam Lamongan ini saja, Rasanya sangat enak, aku juga sangat menyukainya."
Adnan mengambil mangkok yang tersedia lalu mengambilkan Soto Ayam untuk Alex.
"Terimakasih."
Alex tersenyum manis walaupun dalam hati dia sangat dongkol melihat Ryu tampak begitu hangat dengan Selin.
"Dengan senang hati."
"Terimakasih"
"Diamlah, Kriss, kenapa kamu hobi menghasut orang."
Kemudian Kriss dan Adnan tampak saling mengolok-olok dan Alex terpaksa harus berpura-pura trsenyum melihat tingkah mereka.
Sepanjang makan juga Alex mencoba bercakap-cakap akrab dengan Kriss dan Adnan berharap Ryu akan cemburu. Namun tidak, Alex yang justru merasakan hatinya makin panas melihat Ryu tertawa-tawa lepas dan akrab bersama Selin.
"Sudah cukup!"
Alex tiba-tiba berdiri. Membuat semua terkejut.
"Emm... oh, maaf profesor, maksudku sudah cukup aku tidak kuat, aku kebelet pipis dan ingin ke kamar mandi"
Sadar menjadi perhatian Alex tiba-tiba mencoba mencari alasan.ia mengatakannya sambil tertawa-tawa malu.
"Oh, tidak papa, pelayan, tolong antarkan dia ke toilet.
Alex sempat melirik Ryu sesaat,sebelum akhirnya dia beranjak dari sana mengikuti seorang pelayan. Ryu terlihat tersenyum tipis melihat tingkah istrinya.
'Dasar konyol'
Setelah selesai menyantap makan malam mereka kemudian mengobrol santai di taman samping rumah, mereka mencari spot masing-masing. ada yang duduk kursi menghadap kolam ada yang duduk di gazebo.
Ditengah-tengah sedang mengobrol ponsel Ryu berdering,diambilnya ponsel dari saku celananya. Ryu lalu melipir untuk menjawab panggilan itu.
"Hallo, Yumna... waalaikumsalam... Ya... Ayah sedang ada acara... Iya dengan ibu... "
Ryu menoleh sesaat pada Alex yang masih asyik mengobrol bersama Kriss dan Adnan, digazebo.
"Oke, tunggu sebentar..."
Ryu melepaskan ponsel dari telinganya dan berjalan mendekati Alex.
"Bisa menganggu sebentar, Yumna menelfon."
Ryu menyodorkan ponselnya, Alex bediri dan mengambil ponsel itu kemudian berjalan sedikit menjauh. Ryu kembali duduk disebelah Selin.
"Apa kamu mengenalnya?"
__ADS_1
Selin bertanya sambil menatap Alex, sedari tadi dia tidak begitu memperhatikan Alex karena dia berfikir Alex adalah kenalan Adnan atau Kriss karena sedari tadi mereka begitu akrab.
Ryu hanya tersenyum menanggapinya.
"Profesor belum menceritakan padamu?"
Selin mengerutkan dahinya.lalu menggeleng perlahan.
"Iya... ibu juga ingin pulang tapi itu kan terserah pada Ayahmu... kamu bilang sendiri padanya jangan pada ibu... Iya tunggu sebentar."
Alex terlihat kesal karena tampaknya Yumna merengek ingin ayah dan ibunya pulang.
"Ayah, putrimu ingin bicara."
Alex bergantian menghampiri Ryu dan memberikan ponsel itu. Kali ini Ryu menjawabnya tanpa melipir. Apalagi Alex tampaknya sudah membuka kartu mereka dengan mengucapkan kata "Ayah" dengan suara cukup keras.
"Hallo, Yumna... oke kalau begitu... secepatnya... ngebut? oh, kalau itu biar ibumu saja, dia lebih jago kebut-kebutan dijalan, oke... sampai jumpa dirumah."
Ryu melirik Alex yang berdiri sambil menyilangkan dada. Sesekali dia bertatapan dengan Selin, yang juga menatapnya dengan rasa keingintahuan.
"Hai, Ryu kamu ... mengenalnya?"
Tanya Kriss penasaran karena melihat kejadian barusan, Kriss jadi berasumsi bahwa pastilah Ryu dan Alex saling mengenal. Dan pertanyaan Kriss seperti mewakili mereka yang berada di sana.
"Mengenalnya?"
Ryu meraih pinggang Alex sekaligus menatapnya.
"Tentu saja, aku mengenalnya... luar dalam"
Mereka semua tercengang, Ryu mengajak Alex berpamitan pada Profesor Efendy yang sedang duduk dikursi di dekat kolam renang.
"Mengenalnya luar dalam?"
Kriss bergumam sambil mengeryitkan dahi.
"Istri, b0d0h"
Adnan menjitak kepala Kriss dengan kesal, kesal karena ternyata wanita yang menarik hatinya itu adalah milik Ryu, padahal sepanjang mengobrol tadi menurutnya Alex adalah pribadi yang menyenangkan, sayang sekali dia lupa menanyakan status Alex apakah masih single atau sudah berkeluarga.
"Hei, Ryu, Sory, aku tidak tahu dia istrimu?"
Kriss meminta maaf karena merasa tidak enak dengan Ryu telah mengoda-goda istrinya.
"Kali ini aku maafkan, tapi lain kali kalau terjadi lagi jangan salahkan aku kalau aku membedah otakkmu, bukan begitu Adnan?
Ryu tersenyum melihat Adnan kesal. Kriss tertawa ngakak.
Sebenarnya Adnan tidak terlalu suka pada Ryu karena Profesor Efendy seperti menganak emaskan Ryu. Apalagi dia digadang-gadang akan mengantikan posisi Profesor Efendy sebagai direktur Rumah sakit saat pensiun nanti. karena Kriss dan Selin dianggap belum cukup mampu untuk mengantikan Ayahnya.Kriss masih menempuh pendidikan di luar negeri mengambil spesialis dan hanya sesekali pulang, sementara Selin dianggap belum siap untuk mengantikan Ayahnya. Tapi Adnan adalah keponakan Profesor Efendy dan setidaknya lebih senior dari Ryu. Tetapi nyatanya Profesor Efendy lebih dekat dengan Ryu dibanding dirinya.
Setelah berpamitan Ryu lalu mengandeng tangan Alex dan membawanya beranjak dari sana.
"Apa menurutmu kita perlu membuat resepsi agar semua orang mengenalku sebagai istri dari dokter Ryu?"
Alex mengangkat alisnya sambil tersenyum saat Ryu menatapnya.
"Tidak perlu."
Sahut Ryu datar.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak suka menghambur-hamburkan uang untuk acara yang tidak penting"
"Apa?"
Alex berhenti dan melepaskan tangannya dari genggaman Ryu.
"Jadi menurutmu ak..."
"Lebih baik uangnya ditabung untuk sekolah Yumna nanti dan... aku merencanakan bulan madu kita nanti, itupun kalau kamu tidak keberatan?"
Mendengar itu Alex tidak jadi marah dan senyam-senyum sendiri.
"Kemudikan mobilnya, Yumna ingin kita cepat sampai!"
Ryu yang sudah berada didepan mobil melemparkan kunci pada Alex yang sedang melamun. Entah apa yang dihayalkannya. Meski begitu Alex menangkap kunci dengan sigap.
"Bagaimana denganmu, apa kamu ingin cepat sampai juga?"
Alex bertanya saat mereka sudah berada didalam mobil. Ryu dan Alex saling bertatapan namun Ryu lebih dulu menoleh.
"Kecepatan tinggi, aku ingin cepat membedahmu di ranjang."
__ADS_1
"Dengan senang hati."
Alex kemudian menginjak pedal gas dan mengemudikan mobil dengan kecepatan cukup tinggi.