Istri Barbar (Alexandria Dan Tiga Serangkai)

Istri Barbar (Alexandria Dan Tiga Serangkai)
Bab 31 Kehidupan Baru 3


__ADS_3

Tiga tahun lalu....


Di suatu malam dalam perjalanan pulang Ryu dan Profesor Efendy tengah terlibat obrolan ringan didalam mobil.saat itu hari menjelang pagi dan Ryu menawarkan diri untuk mengantarkan Profesor Efendy pulang selepas mereka menghadiri sebuah acara. Namun tiba-tiba sebuah mobil tampak mendahului mobil yang mereka kendarai.Ryu terpaksa menghentikan mobilnya atau mobil mereka akan bertabrakan.


"Siapa mereka?"


Profesor Efendy tampak was-was saat beberapa orang turun dari mobil dan menghampiri mereka.


"Jangan-jangan ini perampokan, Ryu?"


Ryu juga memikirkan hal yang sama, namun Ryu segera menepisnya karena mereka tampak berpakaian cukup rapi dengan setelan jas dan sepatu pantopel.


Seorang dari mereka mengetuk jendela dan tidak ada perampok yang mengetuk jendela dengan sopan. Ryu dengan hati-hati membuka kaca jendela.


"Profesor Efendy?"


Ryu menoleh pada Profesor Efendy saat seorang dari mereka ternyata mengenalinya.


"Ya"


"Bos kami ingin bertemu dengan anda."


"Siapa bos kalian?"


"Tidak perlu banyak tanya, cepat!"


Profesor memandang Ryu sesaat. Ryu juga tampaknya bimbang.


"Aku akan ikut denganmu, Profesor."


"Tidak, cukup hanya Profesor Efendy saja."


"Tapi...."


"Tidak apa-apa, Ryu."


Profesor tampak menepuk bahu Ryu sebelum akhirnya keluar dari mobil dan masuk kedalam mobil yang menghadang mereka.


Beberapa saat kemudian tampak profesor keluar dari mobil dengan wajah marah, kemudian seseorang juga tampak keluar dari pintu yang lainnya.


Dari balik kaca mobil Ryu melihat Profesor Efendy berseteru dengan pria itu, Ryu yang merasa khawatir keluar dari mobil dan bermaksud menghampiri mereka.


"Ada apa Profesor?"


Tiba-tiba pria yang berseteru dengan Profesor Efendy menodongkan pistol pada Ryu. Membuat langkah Ryu terhenti.


"Apa yang kau lakukan?"


"Lakukan apa yang ku perintahkan atau dia akan ku tembak ditempat."


"Tapi aku tidak bisa melakukannya,itu perbuatan ilegal"


"Persetan apa itu ilegal, yang aku tau projek ini akan menghasilkan uang yang besar, apa kau sudah tidak suka uang, Profesor?"


"Projek itu butuh izin dan harus melalui ujicoba, tidak bisa sembarangan dilakukan begitu saja. Apalagi kau berniat memperdagangkannya secara ilegal.aku tidak bisa."


"Tapi aku memaksa, apa kau ingin dia m4t1?"


pria itu menoleh pada Ryu.


"Bagaimana dengan putramu, oh, atau putrimu yang cantik jelita... sangat mudah bagiku mengambilnya dari kehidupanmu?"


"Apa?"


Profesor tampak syok karena pria itu mengetahui perihal keluarganya.


"Jangan khawatir Profesor kita akan bagi hasil?"


"Tapi aku... baiklah."


Profesor tampak tidak berdaya menghadapi situasi ini. Keluarganya dipertaruhkan dalam hal ini.


"Tidak!"


Mereka menoleh pada Ryu.


"Tapi Ryu...."


"Aku akan mengantikan Profesor."


"Heh, tunggu dulu bocah, siapa kau ini? Profesor siapa dia, apa dia Dokter juga?"


"Dia bukan siapa-siapa jangan dengarkan dia,aku akan melakukannya."


"Aku adalah seorang Dokter dan aku yakinkan IQ ku diatas rata-rata, bahkan diatas IQ Profesor."


"Benarkah itu?"


Pria itu menoleh pada Profesor untuk meyakinkan bahwa apa yang dikatakan Ryu benar.


"Tidak, jangan dengarkan dia, biar aku saja yang...."


"Apa kau akan membiarkan Profesor yang sudah tua dan sering sakit-sakitan melakukan projek yang kau inginkan. Pikirkan lagi aku masih muda dan jenius, projekmu akan cepat selesai jika aku yang melakukannya."


"Ryu, apa yang...."


"Aku setuju."


Pria itu memberikan kode pada anak buahnya agar membawa Ryu kedalam mobil.

__ADS_1


"Ryu... Ryu, apa yang kalian lakukan lepaskan dia!"


Profesor mencoba menghalang-halangi anak buah pria itu. Namun salah seorang anak buahnya justru memukul perutnya. Raga tua Profesor Efendy langsung rubuh.


"Profesor?"


Ryu yang tadinya tenang langsung bereaksi marah saat melihat Profesor diperlakukan sedemikian rupa.Dia ingin menolong namun salah seroang dari mereka memegangi tubuhnya dengan ketat.


Pria itu berjongkok didepan Profesor Efendy yang terduduk sambil kesakitan memegangi perutnya.


"Heh, pak tua, jangan coba-coba melaporkan hal ini pada polisi atau siapapun juga, jika kau melakulannya aku tidak segan-segan menghabisinya dan ingat mulai sekarang aku akan selalu mengawasimu dan keluargamu, jadi hiduplah yang tenang seolah tidak terjadi apapun, apa kau mengerti, tenang saja aku akan mengembalikannya hidup-hidup setelah projekku berhasil, sampai ketemu lagi, hahaha."


Pria itu meninggalkan Profesor Efendy begitu saja dan melangkah kedalam mobil. Profesor Efendy hanya bisa memandangi mobil yang membawa Ryu perlahan-lahan menjauh.


"Perkenalkan, namaku Martin, panggil aku Bos Martin. Mari kita bekerja sama, hahaha"


Martin tertawa melihat Ryu hanya bergeming.


***


Dirumah sakit....


"Ayah...."


Yumna berlari ketika melihat Ryu sedang berdiskusi dengan empat KOAS yang kesemuanya adalah wanita.


"Yumna."


Ryu langsung mengendong Yumna kedalam pelukannya.


"Sayaaannnggg"


Alex berlari merangkul Ryu. Kemudian menatap sinis pada keempat KOAS yang akhirnya membuat mereka mundur teratur.


"Sedang apa kalian disini?"


Tanya Ryu selepas para KOAS itu pergi.


Alex melepas rangkulannya.


"Yumna merengek, dia bilang ingin melihat tempat kerja ayahnya?"


"Yumna atau ibunya?"


Ryu menyindir Alex.


"Tadi ibu bilang ingin mengajakku bertemu Ayah dirumah sakit, padahal kan Ayah sudah bilang kalau tidak baik membawa anak kecil kerumah sakit kalau tidak sakit, karena banyak kuman dan penyakit."


"Hmm, ternyata kamu lebih pintar dari ibumu ya, Ayah bangga padamu."


Ryu menyindir Alex lagi.


Alex membatin dengan kesal.


"Ayo, kita keruangan Ayah!"


Ryu menurunkan Yumna dan mengandeng tangannya lalu beranjak dari sana.


"Dia kan bisa mengandeng tanganku juga, dasar tidak romantis."


Alex mendumal lirih lalu mengikuti jejak Ryu dan Yumna.


Ruangan Dokter Ryuji SPog....


"Foto Yumna?"


Alex meraih foto di meja, Ryu yang saat itu sedang melihat buku edukasi anak dengan Yumna hanya mengangkat wajahnya sesaat.


"Fotoku?"


"Seperti yang kamu lihat, tidak ada."


Lalu terdengar ponsel Ryu berbunyi.


"Oke, aku segera kesana."


Ryu menurunkan Yumna dari pangkuannya dan mendudukkannya perlahan disofa.


"Ayah harus pergi menolong pasien, Yumna tunggu disini, oke!"


Yumna mengangguk patuh.


"Dan kamu, jangan coba-coba merusak ruang kerjaku!"


Ryu berkata pada Alex yang duduk dengan santai dikursi kerjanya.


"Aha, kamu pikir aku mudah dibodohi"


Alex bergumam lirih setelah Ryu menghilang dibalik pintu, kemudian dia memulai aksinya Dia menarik laci bersusun empat tapi terkunci.


"Jadi disini kamu menyimpannya?"


Alex tersenyum penuh kemenangan.


Empat puluh menit kemudian Ryu telah kembali.Dia melepas Snelli dan mengantungnya di hanger dinding.


"Ayo, kuantar kalian pulang!"


"Kenapa, apa kamu sudah selesai kerja?"

__ADS_1


Ryu menghela nafas, lalu meraih pinggang Alex yang saat itu berdiri disampingnya.


"Dengar! aku tidak bisa konsentrasi kerja kalau kamu berada disekitarku. Apa kamu ingin membuatku meninggalkan gunting di perut pasien?"


Ryu dan Alex saling bertatapan, Alex menyeringai lalu tangannya meraih sesuatu dari dalam laci dan mengangkat foto dirinya di depan wajah Ryu.


"Tidak perlu mengantarku pulang, Han sebentar lagi akan menjemputku, lihat dia sudah menelfon."


Alex mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkannya pada Ryu setelah meletakkan fotonya di atas meja dengan wajah penuh kemenangan dia lalu memanggil Yumna untuk berpamitan dengan Ryu.Sebuah c1um4n hangat menyentuh pipinya, Ryu pun membalas mencium pipi Yumna lembut.


"Hanya Yumna?"


Alex tersenyum, dan kali ini sebuah k3cup4n menyentuh kening Alex.


Ryu menggelengkan kepala dan menghela nafas saat Alex dan Yumna telah pergi, diliriknya foto Alex yang kini telah bersanding dengan foto Yumna.


"Dasar Intel"


***


Beberapa hari kemudian....


"Kenapa kesini lagi?"


"Bosan dirumah."


"Kamu sendirian, mana Yumna?"


"Jack mengantarnya pergi mengaji."


Semenjak kejadian penculikan waktu itu, Alex memang belum mencari pengasuh baru untuk Yumna, sementara mba Mila sedang dalam proses pemulihan dan belum jelas statusnya akan lanjut atau resign saja.


"Kamu kan bisa pergi belanja atau apa, kenapa harus mengangguku kerja?


"Apa aku terlihat seperti wanita yang doyan shopping?"


"Yah, kamu memang lebih mirip wanita penganggu."


Alex justru tertawa renyah mendengar perkataan suaminya.


Hening.


Alex menopang dagu diatas meja sambil memandangi Ryu.


"Aku tau aku tampan, tidak perlu menatapku sampai segitunya."


Alex kembali tertawa.


"Aku tidak mengerti, kenapa aku bisa jatuh cinta padamu?"


Gumam Alex tanpa melapaskan pandangannya dari wajah Ryu.


Ryu mengangkat wajahnya dari layar ponsel lalu tersenyum.


"Karena aku tidak gampangan... ayo kita pulang!"


Ryu berjalan lebih dulu ke arah pintu lalu membukakan pintu untuk Alex yang sudah berada dibelakangnya.


"Ryu...."


"Profesor...."


Ryu tersenyum melihat Profesor Efendy datang menghampirinya.


"Aku baru akan keruanganmu."


"Ada apa Profesor?"


"Aku ingin... dia... nyonya Ryu."


Profesor melihat pada Alex yang berdiri disampingnya Ryu. Tanpa diminta Alex mengulurkan tangan pada Profesor Efendy, dan disambut hangat olehnya.


"Ah, kebetulan sekali aku mengundangmu... maksudku kalian untuk makan dirumah nanti malam?"


Profesor Efendy tersenyum pada Alex, tentu Ryu telah menceritakan perihal Alex kepadanya saat mereka bertemu.


"Memangnya ada acara apa, Profesor?"


"Tidak ada, hanya makan malam biasa dan sekaligus untuk menyambut kedatangan kembali, kita akan merayakannya bersama yang lain."


Ryu tersenyum.


"Kenapa Profesor harus repot-repot segala."


"Ah, tidak, aku tau kau pasti tidak akan setuju, jadi kuberi tahu kau secara mendadak. kalau begitu sampai jumpa nanti malam, oh ya ajaklah anak kalian sekalian, aku akan sangat senang bertemu dengannya."


"Tentu, Profesor."


Ryu menoleh pada Alex yang tersenyum penuh arti. Lalu mereka berjalan beriringan, saat mereka berpapasan dengan para KOAS, Alex tiba-tiba mengamit tangan Ryu sambil tersenyum manis.Para KOAS itu hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Aku tidak mau melihatmu kesini lagi."


Ryu berkata tanpa menghentikan langkahnya.


"Kenapa?"


Alex mengeryitkan dahi.


"Karena tidak ada Dokter satupun disini yang bekerja sambil ditunggui istrinya."

__ADS_1


Alex tersenyum geli mendengarnya. Saat Ryu menoleh padanya, Alex langsung merubah ekspresinya jadi datar kembali.


__ADS_2