
Dua mingguu kemudian...
Alex memasuki ruang interogasi seorang diri. Dia membawa baki berisi sebotol minuman dan junk food. Beberapa detik berjalan suasana hanya hening. Alex mengamati pria yang semua laporan tentangnya telah dia dengar.
Sebenarnya atasannya tidak mengizinkan Alex untuk melakukan hal ini. Karena beberapa pertimbangan. Salah satunya karena dia sedang dalam kondisi hamil dan mempertimbangkan kondisi mentalnya karena yang akan dia temui adalah orang yang telah membuatnya hamil. Lagipula sebenarnya atas keterangan medis Alex seharusnya sudah tidak diperbolehkan lagi melakukan pekerjaannya karena kehamilannya.
Namun Alex bersikeras bertemu untuk pertama dan terakhir kalinya sebelum pria itu dijebloskan ke penjara. Dan itu adalah haknya karena secara langsung pria itu telah membuatnya sebagai korban.
"Katakan apa yang kau suntikan padaku!"
Alex membuka pembicaraan, menahan segala rasa gejolak amarah yang membuncah didadanya.
"Ku katakan pun kau tidak akan mengerti"
"Katakan saja!"
Suaranya sedikit meninggi.
"Sel sper_m4"
"Milik siapa?"
"Milikku."
Kini Alex tidak dapat menahan amarahnya lagi. Dia mengambil botol minuman berbahan kaca lalu melemparkannya ke ara Ryu.Namun botol itu tidak mengenai Ryu tetapi mengenai tembok dan hancur berkeping-keping.
Diruangan lain, Han dan Jack yang sejak tadi memonitoring di ruangan sebelah bergegas menuju ruangan interogasi tersebut namun Alex menguncinya dari dalam. Harusnya mereka tahu Alex tidak akan bisa menahan amarahnya.
"Gugurkan!"
"Apa?"
"Gugurkan janin itu!"
Alex dengan sigap berdiri mengambil pistol dari pinggangnya kemudian menodongkannya pada Ryu. Namun wajah itu bergeming. Tidak ada rasa takut didalam sana.dingin dan misterius.
"Kenapa tidak kamu saja yang mati, manusia l4k-n4t."
Namun saat Alex akan menarik pistolnya tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang aneh dalam perutnya. Benar-benar membuatnya merasa tidak enak.Alex merasakan mual yang hebat.kepalanya terasa pusing. Alex tidak dapat mengontrol tubuhnya dan menjadi limbung.
Pintu di dobrak. Han segera berlari masuk dan mengambil pistol dari tangan Alex lalu menopang tubuh Alex yang akan rubuh.
"Han, aku mau muntah"
"Apa?"
"Sekarang!"
"Jack ..."
Han berteriak,Jack kalang kabut mengambil tempat sampah diluar ruangan dan kembali secepat kilat.
Alex langsung mengeluarkan isi perutnya disana.
"Oh,Discusting!"
Ujur Han yang memengangi tubuh Alex. Memasang wajah jijik. Begitu pula dengan Jack.
"B0-d0h,kamu bilang sudah beli obat anti muntah, kenapa tidak bekerja?"
Alex menarik kerah baju Han sambil menahan perutnya yang masih terasa mual kepalanya pening. Dan itu benar benar terasa menyiksa.
"Itu salahmu sendiri kenapa tidak mau diajak ke dokter"
__ADS_1
"Diam, b0-d0h"
Tiba-tiba Alex merasa mual lagi dan muntah-muntah lagi. sampai tubuhnya terasa lemas.
"Kita harus keluar dari sini, Ayo!"
"Aku tidak kuat jalan"
"Astaga,merepotkan sekali!"
Han akhirnya membopong tubuh Alex dan membawanya keluar dari sana.
"Hei, berikan aku pulpen dan kertas!"
Pinta Ryu sebelum Jack meninggalkan ruangan. Jack mengerutkan keningnya pertanda bingung.
"Untuk? "
"Temanmu mungkin akan mengalami hal seperti tadi selama tiga bulan, mungkin lebih, tapi bukan berarti tidak bisa di minimalisir"
Jack menghampiri Ryu dan memberikan pulpen dan kertas. Ryu menuliskan sesuatu dengan tangan di borgol. Setelah itu meletakkan polpen di atas kertas.
Jack mengambilnya, keningnya makin berkerut saat melihat tulisan dikertas, tulisan khas Dokter.
"Berikan itu pada Apoteker"
"Terimakasih"
"Tapi temanmu masih tetap perlu menemui dokter. Untuk memeriksa kandungannya secara berkala!"
Ujur Ryu sebelum Jack menutup pintu.
Jack tersenyum tipis.
Sementara itu menurut hasil interogasi,sesaat setelah siuman Ryu memperkenalkan identitasnya kepada polisi bahwa dia adalah seorang Dokter dan mengakui segala perbuatannya.
"Jadi kau seorang Dokter? "
Pak Kusno, sang ketua umum markas besar kepolisian turun tangan langsung untuk menginterogasi.
Han dan Jack berdiri tegak dibelakang pak Kusno. Menurut mereka berdua Ryu termasuk dalam kategori tersangka yang cukup kooperatif.
"Ya"
Sahut Ryu dengan ekpresi datar. Ini sudah sekian kalinya dia di interogasi
"Mengapa kamu melakukan hal itu? Tentunya kamu tau bahwa hal itu adalah perbuatan ilegal bukan? "
"Aku tau. "
Ekspresi Ryu tidak berubah saat menjawab.
"Lalu mengapa kamu tetap melakukannya? "
Ryu menyeringai samar.
"karena tidak semua pasangan di dunia ini beruntung bisa dengan mudahnya memiliki keturunan"
"Halah, kenapa tidak kamu katakan saja bahwa kamu melakukan itu semua demi uang? "
Han mendengus jenggah. 'Sok-sokan peduli'
Ryu menatap Han sejenak.
__ADS_1
"Kurasa gaji seorang Dokter masih lebih tinggi daripada seorang Intel"
Jack tersenyum tipis mendengar sindiran Ryu itu.
"Apa?"
Han bereaksi, amarahnya mulai tersurut.
"Tenanglah, Han! "
Pinta Pak Kusno kalem. Dia tau Ryu pasti sengaja memancing amarah Han. Dan menurut pengamatannya dan pengalamannya berpuluh-puluh tahun di dunia kriminalitas Ryu bukanlah sosok kriminal biasa, profesinya sebagai Dokter sangat memperngaruhi pembawaannya. Menurut laporan yang diterimanya Ryu sangat tenang dan terkesan misterius. Meski sikapnya sangat kooperatif mereka harus tetap waspada. Karena tetap saja air yang tampak tenang sewaktu-waktu dapat menenggelamkan.
" Jack? "
"Ya, Pak! "
"Aku ingin seorang Spikiater"
"Siap, Pak"
Pak Kusno lalu berdiri dan keluar ruangan tanpa mengatakan apapun.
***
Menurut hasil laporan seorang Spikiater Ryu dinyatakan sehat secara kejiwaan. Dan setelah melakukan interogasi lebih lanjut, kasus Ryu di hadirkan di meja hijau. Dan setelah beberapa kali dilakukan persidangan, Ryu akhirnya dinyatakan bersalah karena terbukti melakukan uji coba laboratorium secara ilegal dan telah melanggar kode etik nya sebagai seorang Dokter.
Bagaimana dengan Martin?
"Plaaak"
Sebuah tamparan mendarat di pipi Martin.
"B0_d0h, kenapa kamu tinggalkan dia disana, bagaimana kalau dia mengatakan semuanya pada polisi, hah, dimana otakmu itu"
"Sorry, soalnya waktu itu aku dibuat emosi olehnya,asal kau tau saja dia sengaja memperlambat pekerjaannya, dasar b4ng-s4t"
"Sudah cukup, sekarang pergilah, aku tidak ingin melihatmu lagi berkeliaran disini, sudah pasti dia telah memberikan informasi tentang mu pada polisi, urusan kita selesai sampai disini, aku akan mentransfer bayaran mu sesuai dengan yang sudah disepakati, tapi sekali saja namaku dan keluargaku sampai muncul di permukaan. Maka kamu akan merasakan akibatnya."
"Oke,Itu bisa diatur,asal ada uang semuanya beres"
Martin menyeringai.
"Sekarang pergilah!"
Martin memutar tubuhnya namun baru beberapa langkah dia berhenti dan berbalik kembali.
"Oh ya, apa kamu ingin menghabisinyai, aku bisa mengirim seorang penyusup ke kantor polisi denfan mudah untuk melenyapkannya?"
"Tidak perlu, aku bisa mengurusnya sendiri. "
"Oke.selamat malam"
Sahut Martin manggut-manggut.
'Dasar pak Tua sombong,dia sudah meremehkanku tunggu saja akan ku balas hinaamu tadi suatu saat nanti'
Martin melangkah keluar sambil mengelus pipinya. Bekas tamparan tadi terasa berbekas hingga menyisakan dendam yang membara dadanya.
Seorang pria tua merapatkan kedua jemari tangannya di meja. Dipandangi nya sebuah box berisi sel sper_m4 yang terletak dihadapnnya.
"Segala sesuatunya memang butuh pengorbanan, aku harap kamu akan memahaminya... "
Pria tua itu kemudian berdiri,melangkah dengan cepat setelah meraih box diatas meja. Ada tarikan nafas panjang dan berat mengiringi langkahnya.
__ADS_1