
Pada suatu sore...
"Permisi pak, saya orang suruhan dari kepolisian, ada kiriman surat!"
"Surat? Terimakasih."
Ryu menerima surat itu kemudian sambil melangkah ke dalam ia membacanya. Ternyata surat itu untuk Alex dengan alamat kantor tempat kerja sebelum resign. Ryu mengeryitkan dahi melihat siapa nama pengirimnya.
"Jadi kamu masih punya ibu?"
"Apa?"
Alex yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah tersentak mendengarnya.
Ryu memberikan surat itu pada Alex yang pengirimnya hanya tertulis nama Ibu. Dengan sigap Alex menerimanya dan dari penampakannya surat itu sudah dibuka oleh Ryu.
Hai, bocah, apa kamu masih hidup?
Hanya itu isi suratnya.
"Haduuuhh, dasar ibu ini!"
Alex bergumam lirih.
"Jadi benar itu dari ibumu?"
Alex hanya mengangguk perlahan
"Sudah berapa lama kamu tidak pulang?"
Alex tampak berfikir. Ryu menghela nafas, dia tau pasti Alex sudah lama tidak menengok ibunya.
"Aku punya alasan kenapa aku tidak pulang"
"Apa?"
"Ini terlalu rumit untuk diceritakan!
Alex menghela nafas berat.
"Kalau begitu kita akan pergi menemui ibumu."
"Ap-apa?"
***
Sebuah mobil memasuki perkarangan dengan halaman yang luas tanpa pagar pembatas, disekitaran rumah masih telihat banyak tumbuhan hijau, persawahan dan bukit-bukit tersaji jelas seperti lukisan dalam kanvas, asri dan menyejukkan.
Setelah melakukan perjalanan selama tiga hari tiga malam melalui jalur laut mereka akhirnya tiba disebuah desa terpencil pada sebuah batu yang menjadi simbol selamat datang tadi namun desa itu tertulis dengan tulisan Jawa kuno yang mereka tidak dapat mengartikannya.
"Jangan keluar dari mobil sebelum aku suruh ,apapun yang terjadi,kalian mengerti!"
Alex menoleh pada Han dan Jack yang duduk di belakang bersama Yumna. Kemudian melepas sitbeltnya. Ryu dengan tenang duduk di kursi kemudi.
Alex kemudian keluar mobil dengan hati-hati menuju pintu utama rumah dengan interior khas kayu jati, tampak dari depan rumah itu mengusung gaya Jawa kuno namun justru terlihat artistik, estetik dan unik.
"Ibuuu... buuu ...."
Alex mengetuk pintu perlahan-lahan sambil menoleh kanan kiri dengan mimik wajah waspada, sekali-kali dia juga menoleh ke arah mobil yang di parkir sekitar empat meter dari teras rumah.
"Kira-kira kenapa kita disuruh menunggu didalam mobil"
Tanya Jack yang selalu mempunyai insting yang kuat.
"Entahlah, sejak diperjalanan Alex bahkan terlihat gelisah"
Han yang sedang memangku Yumna menjawab dengan setengah hati. Perjalanan panjang ini membuat badannya terasa remuk redam.
Ryu masih terlihat duduk tenang, Namun dia juga merasakan ada hal yang aneh. Ryu melirik melalui kaca spion, Yumna terlihat masih terlelap. Lalu matanya mengarah kembali pada Alex.
"Ibuuu ..., ini aku, Alexandria, apa ibu dirumah?"
Panggil Alex lagi sambil terus mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban. Alex kemudian mengintip dari balik jendela namun yang tampak hanya ruang tamu yang kosong.
"Hah, mungkin ibu sedang pergi."
Alex bergumam sambil menghela nafas lalu memutar tubuhnya berniat kembali ke mobil.
Namun baru beberapa langkah pintu terdengar dibuka. Alex menoleh. Muncullah wanita paruh baya dengan pakaian kebaya dan jarik panjang serta kain penutup kepala.
"Ib ...."
Alex tersenyum bermaksud menghampiri ibunya, namun matanya terbelaklak lebar ketika wanita yang dia panggil ibu itu justru mengangkat busur panah kearahnya dengan wajah sangar. Bersiap membidik mangsa.
Alex mundur beberapa langkah. Melihat pemandangan dihadapannya Ryu, Han, dan Jack terperangah. Namun mereka juga ingat perkataan Alex. Mereka jadi gamang.
"Ib-ibu... dengarkan aku dulu, aku bisa jelaskan!"
Ibu membuang kapur sirih yang menyumpal mulut dengan meludahkannya begitu saja kelantai, lalu matanya kembali fokus pada Alex. dalam hitungan detik anak panah itu melesat namun Alex berhasil menghindarinya. Begitu seterusnya berkali-kali busur panah itu di lepaskan ke arahnya.
"Ini jelas tidak benar."
Han terlihat gusar setelah meletakkan Yumna yang tertidur pulas di kursi,ia lalu keluar lebih dulu, diikuti Jack dan Ryu. Alex terlihat masih melakukan negosiasi dengan ibunya sambil terus berusaha menghindar.
"Ibu, hentikan! dengarkan aku dulu!"
"Alex"
Panggil mereka bertiga hampir bersamaan. Membuat ibu itu menoleh dan justru mengarahkan anak panah pada mereka bertiga.
"Hah, anak l4kn4t, pulang-pulang langsung membawa tiga lelaki!"
Ujur wanita itu sambil mengarahkan busur panah itu. Alex serta merta berlari menghadang mereka bertiga, hingga anak panah itu akhirnya menancap dipunggungnya.
Deg....
"Aleeexxx...."
Mereka bertiga lalu berlari menghampiri, Ryu menopang tubuh Alex.
"Hei, nenek tua, apa yang kamu lakukan, sudah gila ya?"
Teriak Han, namun ibu justru menyeringai kemudian tertawa cekikikan.
Saat Ryu akan mengecek lukanya, Alex justu memutar tubuhnya dan menarik anak panah itu, ternyata anak panah itu hanya menembus pakaiannya.
"Apa ibu sudah puas bermain-main?"
Alex menghampiri ibu dan melemparkan anak panah itu didepannya. sang ibu makin terkekeh.
"Ibuuu...."
Alex kesal karena tidak mendapat respon dari ibunya.
"Assalamualaikum, bodoh!"
Ibu menjitak kepala Alex sambil melotot.
"Iya... Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sang ibu lalu menyodorkan tangannya dan disambut oleh Alex dengan malas.
"Ibu..."
Ternyata Yumna yang ternyata sudah berdiri diantara Jack, Ryu dan Han.
"Ibu?"
Ibu mengangkat sebelah alisnya.
"Cucumu!"
Alex menjawab singkat sambil menyilangkan tangan di dada.
"Kemarilah, Nak!"
ibu melambaikan tangan sambil tersenyum ramah pada Yumna. Setelah melirik Alex dan mendapat anggukan, Yumna akhirnya berlari. Ibu menyerahkan busur panah pada Alex dan mengangkat Yumna kedalam gendongannya.
"Siapa namamu?"
"Yumna."
Yumna tahu yang mengendong adalah neneknya, karena sejak dirumah Ayah dan Ibunya mengatakan bahwa dia akan mengunjungi neneknya di kampung.
"Nama yang manis"
Ibu mencium pipi Yumna kanan dan kiri, terpancar raut kebahagian diwajahnya. Ibu kemudian beralih pada Alex.
__ADS_1
"Yang mana bapaknya?"
Ibu dengan suara rendah bertanya pada Alex.
"Tentu saja yang paling tampan"
Sahut Alex tersenyum nakal sambil melirik mereka bertiga membuat ketiganya saling melirik. Tapi sepertinya mereka tau arah pembicaraan antara Alex dan ibunya.
"Ah, bagiku wajah mereka tampak sama saja."
"Hah, ibu memang tidak punya selera."
Sahut Alex sekenanya. Ibu kemudian menurunkan Yumna. Dan mengambul busur panah dari tangan Alex.
"Siapa dari kalian suami dari putriku?"
Han dan Jack sontak langsung menunjuk Ryu yang berdiri paling tengah.
"Terimakasih"
Sindir Ryu sarkasme lalu berjalan mendekat, dengan wajah tenang dia berhenti dihadapan mertuanya.
"Assalamualaikum... Ibu."
Tanpa diminta Ryu segera mengambil tangan Ibu dan menciumnya dengan takjim.
Mertuanya manggut-manggut melihat kelakuan Ryu.
"Waalaikumsalam"
Ibu lalu memperhatikan wajah Ryu dengan seksama,lalu menepuk-nepuk pipi Ryu perlahan.
"Aura wajahmu laksana Raja, suatu saat nanti kamu akan jadi seorang pemimpin yang hebat."
Entah apa maksudnya namun Ryu hanya tersenyum mendengar itu.
"Sayang sekali... seleramu buruk dalam memilih istri."
Alex melotot.Ryu tersenyum.
***
"Makanlah!"
Mereka kini berada di ruang tamu yang luas dengan interior Jawa klasik. Mereka duduk melingkari meja bulat bersila diatas anyaman tikar.
Ibu memberi kapur sirih pada mereka Kecuali Yumna. Alex yang dulu sudah terbiasa mengkonsumsinya langsung memasukkan kedalam mulut. Ryu meliriknya sesaat lalu mengikuti hal yang sama seperti yang dilakukan istrinya.
"Apaan nih? nggak mau!"
Han meletakkan kapur sirih itu dimeja, sementara Jack mencium-ciumnya dan menyuguhkan mimik wajah tidak suka.
"Makan!"
Perintah ibu lagi sambil melotot
"Tidak!"
Han bersikeras menolak.
'dia pikir aku takut dengannya'
"Ini tolak bala"
"Tolak bala?"
"Supaya kehadiran kalian disini diterima dan tidak diganggu oleh roh leluhur."
Alex tersenyum tipis mendengarnya ,ia lalu menepuk paha Jack pelan dan memberi isyarat dengan dagu agar memakannya. Jack akhirnya mencium sirih itu sekali lagi sebelum memasukkan sirih itu kemulut dan mengunyah perlahan dengan kening penuh kerutan mencoba mencerna sebuah rasa yang baru pertama kali menyentuh lidahnya.
'Amazing'
"Bulshit, aku nggak percaya orang mati masih bisa gentayangan dan menganggu, makanya jangan kebanyakan nonton film horor!"
Han menyindir tapi sebenarnya itu ditunjukan pada Alex dan Jack yang suka menonton film horor.
"Wahai penguasa alam roh, dengan segala hormat aku mengundang kalian untuk datang, tunjukan diri kalian. Hadir"
Ibu kemudian komat kamit seperti membaca mantra.
Han mendengus, dia menghela nafas jengah.
"Itu tidak akan ber...."
Brak... Wusss... torrr..
Tiba- tiba jendela terbuka oleh hembusan angin jam dinding jatuh dan pecah secara misterius.
"Astagfirullah...."
Secepat kilat Han mengambil sirih itu dan memasukkan kedalam mulut lalu menelannya bulat-bulat.
"Kamu telan?"
Mengangguk Han sambil terbatuk-batuk.
"Siapa yang suruh?"
Ibu lalu mengeluarkan sisa sirih dan membuangnya kedalam tempat sampah diikuti yang lainya.
"Apa rohnya sudah pergi?"
"Roh itu cuma ada dalam hayalanmu, bocah."
"Lalu apa itu tadi?"
Tanya Han sambil merapat pada Jack.
Ibu mengeluarkan sebuah remot kontrol dan meletakkannya dimeja.
Mereka tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Han, hanya Yumna yang tampak bingung melihat tingkah mereka. Ryu yang biasanya kalem saja tertawa sampai menangis melihat hal itu.
'nenek tua sialan'
***
Seroang pria mengangguk ramah pada tamu ibu Chatur setelah menyalakan obor di seluruh ruangan dan disekeliling rumah. Karena hari sudah menjelang magrib.
"Memangnya mati lampu?"
Tanya Han sambil menyantap makanan yang disajikan, nasi jagung ,ikan bakar, ayam bakar, sambal dan lalapan timun yang segar.
"Tidak."
"Lalu kenapa tidak menyalakan lampu saja?"
"Disini tidak ada listrik."
Alex menyahut dengan santai.
"Apa?"
Teriak Han dan Jack bersamaan, tidak percaya, ini sudah abad modern, masa tidak listrik, yang benar saja.
"Lalu lampu itu?"
Han mendongak menatap lampu antik yang menggantung ditengah ruang tamu.
"Dan Televisi itu?"
Han berpindah menoleh pada televisi LED sebesar home teater yang diletakkan di dipet kayu jati klasik. Jika dilihat campuran klasik dan modern sangat terlihat artistik.
"Itu pajangan, jangan norak!"
"Apa, TV semahal itu hanya buat pajangan yang benar saja?"
Han melotot tidak percaya.
"Lalu? terserah padaku aku beli dengan uangku sendiri, kenapa kamu yang repot?"
Han dan Jack saling berpandangan.
"Betul juga sih."
Jack menghela nafas membenarkan lalu kembali menikmati hidangannya yang tersaji dengan piring terbuat dari tanah liat beralaskan daun pisang. Dia melirik Alex yang sedari tadi memasang ekspresi wajah masam. kini dia mengerti kenapa Alex tidak pernah pulang kampung.
"Aku suka lampu-lampu itu, Ayah aku mau lampu seperti itu rumah nanti yaa?"
Yumna dengan polos mengira obor itu adalah lampu. Ryu hanya tersenyum pada Yumna.
__ADS_1
"Aduh Yumna apa aku berniat membumi hanguskan rumah Ayahmu!"
setelah selesai makan mereka melaksanakan sholat disebuah pendopo yang terbuat dari bambu dan kayu yang memang khusus untuk melakukan ibadah.
"Hei kenapa kamu tidak segera wudhu dan sholat!"
Ibu melotot pada Han yang justru bersantai sambil menyulut rokok.
"Sedang halangan."
Jawaban Han yang nyleneh membuat Jack tertawa tertahan. Ibu makin melotot.
"Apa kamu tahu apa hukuman bagi lelaki yang tidak menjalankan sholat wajib disini?"
Han justru melengos, dan tidak peduli.
"Di sunat sampai habis!"
Mendengar itu Han yang biasanya tidak pernah shalat langsung ngacir ke tampat wudhu, takut miliknya habis.
Jack saat itu ditunjuk sebagai Imam lalu mereka shalat berjamaah dengan khidmat.
setelah mengaji dan melakukan obrolan ringan.barulah mereka tahu bahwa ibu Chatur adalah kepala suku didesa ini.
Malam menjelang tidur....
"Apa? kenapa kami harus tidur disini?"
Han mengajukan protes saat ibu menyodorkan bantal dan selimut untuk Han dan Jack sebagai teman tidur mereka di pendopo. padahal saat menuju kamar mandi tadi ia melihat beberapa kamar didalam rumah. Lalu kenapa?
"karena kalian bukan mukhrim, b0d0h!"
"Bagaimana dengan, Ryu ,dia kan laki-laki juga?"
Han menunjuk Ryu yang berada dibelakang Bu Chatur bersama Alex dan Yumna.
"Dia kan menantuku, makanya ngaji!"
Bu Chatur melotot sambil menjitak kepala Han.Sontak Han mengaduh.
"Tapi kalian boleh tidur didalam, dengan satu syarat?"
"Apa?"
sahut Han cepat, Jack yang berdiri disampingnya juga menunjukkan gelagat rasa ingin tahu.
"Menikah."
"Menikah?"
Han mengulang perkataan ibu sambil mengeryitkan dahi.
"Denganku... Hahahaha"
Han merenggut karena merasa dipermainkan dia lalu mengambil bantal dan selimut dari tangan Bu Chatur.
"Lebih baik aku mati kedinginan daripada harus menikahimu, nenek tua!"
Bu Chatur justru makin terkekeh.
"Tenanglah kawan, kamu tidak akan kedinginan kan ada aku!"
Jack merangkul bahu Han, Sementara yang lainnya bernajak dari Pendopo dan masuk ke rumah.
"Diam, aku masih normal"
Rumah itu memiliki sepuluh kamar tidur, letaknya berada disamping rumah utama karena dilihat sekilas kamar itu seperti terpisah dari rumah utama, Namun justru memberikan kesan yang unik. Ruangan kamar tidur Alex bersebelahan dengan ibunya. sementara delapan kamar lainnya berada saling berhadap-hadapan.
"Siapa ini?"
Ryu bertanya pada Alex yang sedang sibuk memindahkan baju dari koper kedalam lemari disebelah Ryu duduk saat itu.
"Ketiga kakak lelakiku..."
Ryu menatap Alex yang berdiri sambil melihat buku yang mirip dengan sebuah album foto namun isinya adalah lukisan wajah hitam putih tiga dimensi yang sangat cantik, Menurut Ryu orang yang melukis ini pastilah sangat hebat.
"Mereka... sudah meninggal."
Ryu menatap Alex lekat-lekat.
"Desa ini punya sejarah kelam dimasa lalu, aku tidak akan menceritakannya, tapi kamu bisa membacanya di perpustakaan desa,aku akan memberikanmu waktu seharian besok."
Alex seolah mengerti bahwa Ryu ingin bertanya tentang kematian ketiga saudaranya Ryu kembali menatap album, sementara Alex melanjutkan kegiatannya lagi.
"Kurasa ini kamu?"
Ryu menunjukkan lukisan wajah seorang gadis belia yang tersenyum manis pada Alex.
Alex menoleh sesaat lalu dia tersenyum.
"Menurutmu?"
Ryu kembali melihat lembar demi lembar album itu.
"kenapa kamu harus repot melihat lukisanku sementara aku ada di hadapanmu?"
"karena lukisanmu lebih menarik."
Alex terkekeh, lalu mengambil album itu dari tangan Ryu dan meletakkannya diatas nakas.
"Bagaimana kalau sekarang, apa lukisanku masih lebih menarik?"
Alex duduk diatas pangkuan Ryu dan mengalungkan tangannya dileher suaminya dengan mesra, Ryu memandang kedalam mata Alex dengan hangat, tidak perlu menunggu lama bibir mereka saling menyatu, di malam yang dingin itu mereka berdua menghangatkan diri dengan memadu kasih dalam buaian asmara.
"Apa kamu tidak akan membawa mereka kedalam?" tanya Ryu setelah mereka selesai dengan kegiatan malam mereka.
Sementara itu...
Malam itu cuaca sangat dingin apalagi angin terkadang berhembus.Han sampai menggigil kedinginan dan sudah tidak bisa tidur, apalagi banyak nyamuk yang menganggu. lampu yang remang belum lagi suara lolongan anjing yang panjang sangat membuat suasana semakin horor.Dia terpaksa tidur merapat pada Jack. merasakan tubuhnya didekati, Jack hanya tersenyum.meskipun dia sendiri tidak suka dengan keadaan ini.
"Waaa... Astagfirullah... Jack... "
Han kaget setengah mati saat tiba-tiba ada yang menyentuh badannya.
"Alex..."
Han menoleh saat dia mendengar suara Jack, dia merasa lega saat melihat ternyata Alex yang melakukannya.
"kamu memang ingin membuatku cepat mati, kenapa kamu disini?"
Ujur Han sambil duduk.
"sssttt... jangan berisik, nanti ibu dengar, ayo cepat ikut aku!"
Alex menempelkan telunjuknya di bibir.
Han dan Jack berpandangan sesaat lalu tanpa berkata lagi mereka mengikuti langkah Alex.Ternyata Alex membawa mereka kedalam kamarnya dan masuk melalui jendela.
Alex menahan jendela membantu Han dan Jack agar dapat masuk kedalam
"Akhirnya..."
Gumam Han lirih, lalu dia langsung menjatuhkan diri di kasur. Lalu dia kaget karena wajah Ryu tersenyum tepat didepan wajahnya.Karena hanya mengunakan penerangan obor, membuat ruangan tidak terlalu terang.
"Alex, kenapa kamu membawa kami ke kamarmu, bukankah banyak kamar yang lain disini"
Han berseru lirih, namun bernada kesal.
"Kuncinya ada pada ibu,kalau mau ambil saj sendiri ke kamarnya?"
"Lalu dimana aku harus tidur?"
"Tuh..."
Alex menunjuk sebuah matras tipis dengan dagunya.
"Astaga,nasibku sungguh sial"
keluh Han sambil turun dari ranjang.
"Tenanglah kawan, masih ada aku!"
Jack merebahkan diri di samping Han.
"Masa Bodoh."
Han memutar tubuhnya membelakangi Jack dengan kesal.
"Hmmm, disini hangat sekali,benar kan sayang?"
__ADS_1
Alex tersenyum jahil. Han makin dongkol lalu menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya.