
Seorang pria dengan tubuh tinggi berkulit cokelat diikuti empat orang anak buahnya dengan berang berjalan memasuki area Rumah Sakit. Dua security yang berjaga di depan langsung memasang status waspada ketika didapatinya kelima pria itu membawa senjata api. Firasat mereka mengatakan kelima orang itu pasti mempunyai maksud buruk.
"Maaf, Pak ada yang ... "
Tegur satpam memberanikan diri. Saat kelima orang itu sampai di pintu utama rumah sakit. Memang sudah tugasnya bukan sebagai security, menjaga keamanan di lingkungan rumah sakit.
"MINGGIR!"
Pria yang berdiri paling depan langsung membentak security.
"Tapi, mohon maaf, tidak boleh membawa senjata"
Beberapa orang didalam yang sadar melihat hal itu penasaran memasang wajah cemas serta ketakutan. Pentugas resepsionis langsung berinisiatif menelfon polisi.
"Doorrr"
Satu tembakan ditujukan kepada security yang mencoba menghalangi kelima pria itu dan sukses membuat histeris orang-orang yang saat itu berada di lantai dasar. Mereka berhamburan kesana-kemari. Mencoba menyelamatkan diri.
"DIAM DITEMPAT SEMUANYA!"
teriak pria yang berdiri paling depan saat sudah memasuki ruangan.sementara itu keempat anak buahnya membaur keseluruh ruangan untuk memberikan intimidasi.
Suasana menjadi hening seketika.
"Dengar semuanya. Aku tidak akan menyakiti kalian. Aku kesini karena ingin bertemu Dokter Syarif. Dia telah membunuh istriku ... "
Pria itu berteriak dengan lantang. Ada raut kemarahan dan kesedihan membaur menjadi satu.
"Hei... "
Pria itu memanggil suster yang sedang menunduk ketakutan disamping meja resepsionis, namun karena diam saja pria itu menghampiri dan menarik tangan sang suster dengan paksa suda pasti sang suster gemetaran hebat.
"Panggil Dokter Syarif, suruh dia kemari sekarang juga, Kalau tidak seluruh orang dalam ruangan ini akan ku habisi. Cepat! "
Suster itu berlari secepat mungkin ke lantai dua,meski kakinya terasa gemetaran dan jantungnya hampir berhenti. Sesaat tadi dikiranya nyawanya hampir melayang.
***
Han dan Jack mengintai dibalik tangga.
"Punya ide? "
Tanya Jack berbisik sambil terus megintai pergerakan kelima pria itu. Sampai saat ini sudah jatuh dua korban. Salah seorang security yang ditembak dibagian kakinya. Sementara security yang satu lagi, menjadi ciut nyalinya dan membiarkan kelima pria itu masuk. Korban ke dua seorang lelaki yang saat itu mencoba untuk kabur namun ketahuan oleh salah seorang anak buahnya. Dan ditembak bagian kakinya. Setelah kejadian itu tidak ada lagi korban.
Han dan Jack sendiri juga telah berinisiatif menghubungi kantor polisi terdekat.
"Serahkan mereka padaku? "
Han mengarahkan pistol ingin membidik salah satu di antara mereka.
"Tidak kawan, kamu akan membuat yang lainnya bereaksi begitu salah satunya tertembak, dan itu akan membahayakan para sandera"
__ADS_1
Han menurunkan kembali pistolnya. Saat itu ponsel Jack bergetar tentu saja itu dari tim kepolisian terdekat yang meminta informasi keadaan didalam sana.
"Dokter Syarif ... Dokter Syarif ... cepat keluar ... dasar pembunuh. Cepat hadapi aku!"
"Dokter Syarif? "
Gumam Jack kemudian perlahan dia menaiki tangga kembali ke lantai dua. Sepertinya dia telah mengetahui motif si pelaku. Saat itu lantai dua telah kosong karena semua sudah menuju jalur evakuasi. Seorang suster tiba-tiba lewat dengan membantu seorang kakek tua yang duduk di kursi roda.
"Suster, dimana Dokter Syarif? "
"Saya disini."
Belum sempat suster itu menjawab. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahunan dan berkacamata muncul bersama beberapa Dokter lainnya.
"Apa yang terjadi,Dokter? "
Dokter Syarif menghela nafas berat. Dia tau dirinyalah yang menjadi sebab musabab hal ini terjadi.
***
Seorang wanita yang tengah hamil terbaring lemah dan dinyatakan dalam keadaan darurat sehingga harus segera dilakukan operasi saat itu juga.
"Dokter, apapun yang terjadi tolong selamatkan anak saya."
Wanita itu berkata dengan lirih kepada Dokter Syarif dan seluruh tim operasi saat itu. Namun ada senyuman kebahagiaan yang tersirat dalam wajahnya. Meskipun dia tahu nyawanya sedang dipertaruhkan dalam operasi caesar. Ya, seorang ibu rela kehilangan nyawa demi seorang nyawa yang disebut buah hati.
"Kami akan mengusahakan yang terbaik, teruslah berdoa, Bu. "
Dokter Syarif tersenyum dibalik maskernya. Meskipun dia tau dalam operasi kali ini kemungkinan sang ibu selamat adalah tipis. Wanita itu telah mengidap penyakit jantung dan oleh dokter tidak diperkenankan untuk hamil. Namun sang ibu bersikeras bahwa dia ingin mempertahankan kandungannya
" Saya ingin memberikan suami saya seorang anak, Dokter"
Wanita itu berkata dengan senyuman hangat mengigat suaminya yang tengah jauh berada di luar kota menjalankan bisnisnya. Saat itu Dokter Syarif mengatakan padanya bahwa bayinya harus digugurkan.
"Tidak , suami saya sudah menantikannya bertahun-tahun, saya tidak ingin membuatnya kecewa."
sambil mengelus perutnya,wanita itu teringat wajah riang suaminya saat mengetahui bahwa dirinya hamil.
"Tapi jika tidak digugurkan itu bisa membahayakan nyawa ibu"
"Saya siap, Dokter, saya siap kehilangan nyawa saya"
"Maaf, Bu, tetapi suami anda belum tentu setuju"
"Dia tidak perlu tau, Dokter"
"Tidak bisa, Bu , prosedur rumah sakit ini pihak keluarga anda harus menandatangani surat pernyataan ini, kalau tidak maka kami tidak akan melakukan tindakan apapun, karena dikemudian hari kami tidak ingin bertanggung jawab jika terjadi sesuatu hal yang diinginkan. Kami harap ibu paham akan hal itu"
"Saya mengerti dokter. "
Wanita itu lalu mengambil surat pernyataan yang berada diatas meja.kemudian tanpa berfikir dia langsung menandatangani surat itu.
__ADS_1
"Sudah. "
Wanita itu menyerahkan surat itu.
"Semua keputusan dalam hidup saya, saya yang akan menentukannya, Dokter, dan saya memilih mempertaruhkan nyawa saya demi anak kami, saya rasa seluruh ibu didunia ini ingin melihat anaknya hidup. Benar kan, Dokter"
***
Langkah Alex terhenti ketika seorang ibu hamil yang tengah dievakuasi bersama dirinya tiba-tiba merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Ada apa? "
Alex menghampiri Dokter Shinta yang sudah dengan cekatan memerikasa wanita itu.
"Sepertinya dia syok dan mengalami kontraksi"
Dokter Shinta menjelaskan sambil terus memeriksa wanita yang merintih kesakitan itu. Suami yang berada disampingnya begitu cemas menopang istrinya yang tengah kesakitan.
Dokter shinta mencoba menenangkan wanita itu namun sepertinya tidak berhasil. Wanita itu masih kesakitan dan sepertinya mengalami kontraksi.
"Berapa usia kandungannya? "
Tanya Dokter Shinta, dia tidak dapat memeriksa buku KIA karena tertinggal ditumpukan meja ruang periksa tadi.
"Del... Delapan bulan."
Jawab sang suami tergagap karena khawatir
"Tiga puluh tujuh minggu. "
Jawab sang istri sembari menahan sakit yang terus menyerang perutnya.
"Aku harus membawanya kedalam untuk diperiksa lebih lanjut."
Suasana menjadi tegang. Tidakkah itu berbahaya mengingat bahwa para pelaku kemungkinan masih berada didalam.
"Tapi itu bahaya, kita tidak tahu apakah mereka sudah ditangkap atau belum?"
Celetuk salah satu diantara mereka disambut anggukan yang lainnya.
"Membiarkannya dalam keadaan begini pun sama bahayanya.bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan ibu dan bayinya. "
Mereka terdiam.
"Ayo, bawa dia, Dokter!"
Dokter Shinta menatap Alex dengan sedikit keraguan. Meskipun dia tau Alex adalah seorang aparat negara, tapi dia sedang dalam keadaan Hamil.
"Jangan khawatir, ibu hamil tidak dilarang untuk meninju dan menendang bukan! "
Alex tersenyum tipis mengerti kekhawatiran Dokter Shinta.Meskipun dia sendiri merasa ragu karena selama hamil dia belum pernah melakukan hal itu. Tetapi insting nya sebagai aparat negara mengatakan dia harus melakukan sesuatu.
__ADS_1
"Suster, tetap bantu yang lainnya untuk evakuasi!"
Tampaknya Dokter Shinta tidak punya pilihan lain.