Istri Barbar (Alexandria Dan Tiga Serangkai)

Istri Barbar (Alexandria Dan Tiga Serangkai)
Bab 27 Penculikan 2


__ADS_3

"Selamat atas kebebasanmu dan selamat karena telah bertemu dengan putrimu.Oh, tapi tidak, sekarang kamu tidak lagi bersama putrimu karena dia telah bersamaku disini.Apa kamu tidak ingin bersama dia lagi? Apa kamu tidak merindukannya? Tenang saja dia baik-baik saja. Makan dan minumnya juga cukup disini..."


Rekaman Video dari flashdisk yang diputar di laptop menunjukkan Martin yang sedang duduk disebuah meja dengan gaya santai karena merasa sedang diatas angin.gaya bicaranya penuh dengan ejekan.


"... oh, kurasa kamu ingin melihatnya, tentu saja, aku adalah orang yang sangat baik hati... kemarilah anak manis!"


Detik berikutnya Yumna diantar mendekat pada Martin oleh seorang anak buahnya.


"... baiklah anak manis katakan sesuatu pada ayah dan ibumu..."


"Yumna..."


Suara Alex tertahan begitu melihat putrinya,dia berusaha menahan perasaannya, yang pasti dia bersyukur Yumna masih hidup,dalam video itu Yumna hanya diam saja memandangi wajah Martin.


"Hei anak manis kamu dengar aku, kan? ayo, cepat katakan sesuatu! oh, biar kuberi contoh misalnya eee...oh, yaa, tolong selamatkan aku, aku takut...huhuhu"


Martin mencontohkan dengan gaya seperti menangis pada Yumna, Namun Yumna tidak bergeming.


"Ayah... ibu... aku baik-baik saja..."


Pernyataan Yumna yang diluar dugaan itu membuat mereka sangat terkejut.


"Oh, wow, kamu sangat berani yaa... hahaha, aku suka gayamu... hahaha"


"Tentu saja,Bu guru ngajiku bilang kita hanya boleh takut pada Tuhan,apalagi kalau kita tidak punya salah,kita tidak boleh takut,nah, sekarang katakan apa salahku sampai kamu menculik ku, tapi tidak papa, uncle Han dan Jack sangat handal dalam menangkap penjahat, dia pasti akan menangkapmu dan kamu tidak akan bisa lolos."


"Aduuhh, apa-apaan dia ini, kenapa dia jadi menceramahiku? cepat bawa dia, diberi makan apa anak itu? kenapa cerewet sekali?"


Martin memijit-mijit kepalanya seperti orang yang tengah pusing.


"Oh, sampai mana aku tadi... Oh ya jika kamu memang mencintai putri kecilmu yang cerewet itu dan yaa, tentu kamu tidak lupa dengan keluargamu bukan? nasib mereka ada ditanganimu, kemari dan jemputlah dia,jangan lupa bawakan aku uang... ah tentu saja... uang, aku memang pintar menghasilkan uang, hahaha, berapa jumlahnya yaa, seratus juta, oh tidak, lima ratus juta, satu milyar... ah, itu terlalu kecil bagaimana kalau lima milyar... yaa, aku memang pintar... hahahah. Datanglah ke tempat terakhir kita bertemu nanti malam tepat tengah malam dan jangan coba berbuat macam-macam denganku atau kau akan tau akibatnya, oh ya dan jangan lupa ajaklah wanita penghianat itu bersamamu... dadaaa...hahaha."


Video selesai, suasana hening, mereka larut dalam pikiran masing-masing.


Alex tiba-tiba bangkit dari duduknya.


"Mau kemana Alex?"


"Tentu saja pergi menyelamatkan Yumna,apalagi?"


Dia menoleh dan menatap pada ketiga lelaki yang masih duduk disana.


"Tidak, jangan pergi!"


"Apa maksudmu?"


Alex bertanya dengan kening berkerut pada Ryu.


"Karena ini hanyalah sebuah jebakan."


Jack menyahuti sambil terus menerawang.


"Jebakan atau bukan aku akan tetap pergi."


"Alex,gunakan otakmu dan tahanlah perasaanmu,kamu hanya akan mati konyol jika pergi ke sana!"


Han memahami Alex mengunakan seratus persen perasaannya dalam menghadapi situasi ini,jadi logikanya tidak bisa diajak perfikir jernih.


"Lalu apa yang harus aku lakukan,berdiam diri saja seperti kalian,sementara Yumna dalam bahaya?"


"Tidak, kita akan mengatur strategi secepatnya kemudian kita akan membalik keadaan, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui"


Jack tersenyum sembari memikirkan sebuah strategi. Dari awal Jack sudah merasa ada yang aneh, bagaimana Martin bisa tahu kalau Ryu sudah bebas.karena sebenarnya kebebasan Ryu masih dirahasiakan oleh pihak kepolisian. ini sangat aneh. mungkinkah ada musuh dalam selimut?


"Aku setuju"


Ryu menyuarakan persetujuannya pada Jack


"Mainkan,Jack!"


Han pun memberikan persetujuannya.


***


Tempat perjanjian bertemu tengah malam...


Sebuah mobil berhenti tepat digerbang sebuah Villa yang tidak dikunci.seorang pria dan wanita memasuki Villa yang dulu pernah menjadi salah satu TKP sebuah peristiwa.kini Villa itu tampak terbengkalai, gelap,dan tampak menyeramkan arena tidak dipergunakan lagi.


Rupanya dua orang pria sudah berjaga didepan pintu gerbang. Kedua pria itu memeriksa apakah pria dan wanita itu membawa senjata atau tidak.


"Kalian bawa uang yang diminta bos?"


tanya salah satunya setelah selesai yakin tidak ada yang membawa senjata.


"Ada didalam mobil?"


Si pria menjawab.

__ADS_1


"Kalau begitu ambil dan bawa kedalam"


Si pria lalu mengambil koper dari dalam mobil kemudian memperlihatkannya pada kedua anak buah Martin.


"Bagus,ayo kita masuk,bos sudah menunggu didalam!"


Mereka berjalan beriringan dengan cahaya lampu remang-remang dan sampai didepan pintu sebuah ruangan.


Pria dan wanita itu berpandangan sejenak.


"Berikan koper itu, dan masuklah, anak itu ada didalam!"


Perintah salah satu anak buah Martin.


"Cepat! atau anak itu akan dihabisi."


Anak buah Martin berkata dengan tegas melihat pria dan wanita itu merasa ragu.pria dan wanita itu tidak punya pilihan lain lalu menyerahkan koper itu pada anak buahnya. kemudian mereka memasuki ruangan.namun saat mereka memasuki ruangan tidak ada apapun disana.yang ada hanya sebuah kursi dan bangku kosong.


Pria dan wanita itu berbalik karena sadar telah ditipu, namun terlambat, pintu ditutup dan terdengar tawa terbahak bahak dari anak buah Martin.


"Kita berhasil...hahaha,cepat hubungi bos!"


***


Alex dan Ryu menunggu didalam mobil disebuah tempat tidak jauh dari lokasi pertemuan.


Mereka berdua hanya diam membisu.Alex duduk dikursi kemudi sambil dengan was-was menunggu kabar dari Han dan Jack yang sedang ada di suatu tempat memonitor jalannya rencana sebuah misi penyelamatan Yumna sekaligus penangkapan Martin yang selama ini selalu lolos dari kejaran aparat.


"Kenapa Han dan Jack lama sekali?'


Alex bergumam dengan gelisah dia terus-terusan melihat ponselnya.Sementara Ryu duduk dengan tenang.


"Maaf..."


Ryu membuka suara,Alex hanya menoleh pada Ryu sekilas.


"Untuk semua yang telah terjadi dalam hidupmu."


Kali ini Ryu menatap Alex yang sedang menatap ke luar jendela. Hati Alex bergejolak, entahlah ada banyak emosi bercampur aduk didadanya. Dia hanya dapat menghela nafas panjang.


Terdengar notifikasi ponsel berbunyi.Alex secepat kilat mengangkatnya.


"Alex, aku sudah dapat lokasinya,aku akan kirimkan padamu"


"Oke"


Alex meletakkan ponsel di depan kemudi.lalu dia menyalakan GPS dan melihat map yang dikirimkan oleh Jack.


Alex segera menstater mobilnya kemudian dia tancap gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Beberapa saat kemudian mereka tiba ditempat yang ditunjukan pada map tersebut.mereka tiba disebuah komplek perumahan elit.saat itu Alex memarkir mobil cukup jauh dari lokasi agar tidak ketahuan.


"Tetap disini, tunggu Han dan Jack datang bersama tim!"


Tanpa menunggu jawaban Ryu, Alex memanjat tembok setinggi dua meter.dia melangkah dengan mengendap-endap,dengan langkah hati-hati dia terus melangkah dan bersembunyi dibalik tembok. Namun nahas, ternyata dia ketahuan oleh salah seorang penjaga. Kemudian terjadilah baku tembak diantara mereka. Saat Alex akan menembakan pistolnya tiba-tiba pelurunya ternyata telah habis.


"Doorrr"


"Ryu."


Ternyata Ryu sudah berada didalam bersamanya.


"Ayo selamatkan Yumna."


Ryu melemparkan sebuah pistol pada Alex kemudian mereka berdua berjalan memasuki rumah, namun baru saja mereka akan menaiki sebuah tangga, terdengar suara deru mesin mobil dihidupkan.


"S1-4l"


Rupanya Martin telah mengetahui kehadiran mereka.


***


Sementara itu....


"Angkat tangan!"


Tim yang dipimpin oleh Han datang dan meringkus anak buah Martin yang berada di lokasi pertemuan palsu. Kedua anak buah itu pun tidak berdaya dan menyerah pada tim kepolisian.Mereka kemudian diborgol dan dibawa keluar. Atas perintah Han, beberapa petugas yang lain menyisir tempat untuk memastikan tidak ada anak buah martin yang. Han membuka pintu ruangan Diamana pria dan wanita dikurung.


"Terimakasih atas bantuan kalian."


"Siap, sama-sama pak!"


Mereka berdua membuka topeng silikon yang mereka kenakan sejak dalam penyamaran tadi. Rupanya kedua pria dan wanita itu adalah anggota tim yang menyamar sebagai Alex dan Ryu.


"Jack,situasi aman terkendali,bagaimana dengan Alex dan Ryu?"


Sambil berbicara di monitor Han keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


***


Alex dan Ryu masih berusaha mengejar mobil yang disinyalir didalamnya ada Martin dan Yumna.


Terjadi kejar-kejaran antara kedua mobil itu, kemudian mobil itu berhenti disalah satu parkiran disebuah gedung yang sedang dalam tahap pembangunan. Alex menepikan mobilnya kemudian mereka berdua dengan cepat berlari mengejar Martin dan beberapa anak buahnya yang berlari ke gedung tersebut. Tentu saja Alex dan Ryu harus berhadapan dengan anak buah Martin kembali, namun akhirnya mereka berhasil mengejar Martin yang telah naik ke lantai paling atas gedung tersebut.


"Berhenti, Martin!"


Alex menodongkan pistolnya pada Martin yang tengah berlari sambil mengendong Yumna.Mendengar itu Martin berhenti dan memutar tubuhnya.


"Ingin menembak ku,cobalah kalau berani!"


Ancam Martin menyeringai sinis.


"Aku bilang berhenti!"


Alex berteriak ketika melihat Martin melangkah ke pinggiran atap gedung tanpa pembatas. Alex dan Ryu juga berjalan terus mendekat pada Martin.


"Jangan macam-macam,lepaskan Yumna!"


Martin mengambil pistol dari balik pinggangnya kemudian mengarahkannya ke kepala Yumna.


"Ayah...ibu..."


"Yumna...."


Suara Alex bergetar hebat melihat keadaan putrinya. Apalagi melihat wajah polos Yumna yang sepertinya terlihat meminta pertolongan.


"Letakkan senjata kalian!"


Perintah Martin, Alex dan Ryu melemparkan senjata mereka dilantai.


"Hahahaha, kalian pikir kalian bisa menangkapmu dengan mudah. Tidak-tidak."


Martin tertawa karena merasa diatas angin.


"Bukankah aku yang kamu inginkan,lepaskan Yumna dan ibunya, aku akan mengikuti semua kemauanmu!"


Ryu mencoba bernegosiasi.


"Ya benar... aku memang menginginkanmu,dan aku memang telah berbuat ceroboh dengan membiarkanmu hidup saat itu. Harusnya aku menghabisimu saat itu juga, sekarang ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. oh, tidak-tidak,tiba-tiba aku punya ide bagus... hei kamu wanita j4_l4ng..."


Martin beralih pada Alex.


"Ambil pistol dan tembak dia!"


"Apa? Tidak!"


Alex terkejut tidak percaya dengan apa yang Martin inginkan.


"Tidak? Jadi kamu lebih memilih anakmu m@_t1 begitu, cepat lakukan!"


"Lakukan saja, Alex!"


Alex menatap Ryu yang masih saja terus saja menatap Yumna, ada perasaan begitu mendalam pada Yumna diraut wajahnya. perasaan ikatan batin antara ayah dan anak.


Dengan menahan air mata dan menahan gejolak perasaanya, Alex mengambil pistol kemudian berdiri dan mengangkat pistolnya setinggi dada mengarahkannya pada Ryu. Pada saat itu Ryu memutar tubuhnya menghadap pada Alex.


"Hahaha,ini benar-benar akan jadi drama keluarga yang bagus... hahaha, cepat tembak dia!"


"Jangan ibuuu... jangan tembak Ayah!"


Terdengar suara Yumna berbalut tangisan yang begitu menyayat hati, Alex pun turut menangis dan menurunkan pistolnya.


"Hei,apa yang kamu lakukan,cepat lakukan!"


"Kuatkan hatimu, Alex, kita harus menyelamatkan Yumna... anak kita!"


Alex terperangah mendengar perkataan itu,dia menatap Ryu lekat-lekat.wajah itu tampak tenang dan dingin.namun matanya seperti menyimpan sebuah kehangatan.


"Cepat lakukan atau ku lempar anak ini,cepat!"


Alex menarik nafasnya kemudian dia mengangkat kembali pistol ke arah Ryu.


"Ayaaaahhh ...."


Yumna kembali berteriak histeris.


"Ayah menyayangimu...Yumna."


Ryu tersenyum tipis pada Yumna lalu beralih pada Alex.


"Bersiaplah,Ryu!"


Dalam hitungan detik Alex memutar arah pistolnya. Kemudian pelurunya melesat mengenai kaki kanan Martin membuat Yumna terlepas dari tangannya.


Alex dan Ryu sama-sama berlari, bedanya Alex memburu tubuh Yumna, sementara Ryu memburu tubuh Martin dan mendorong hingga mereka terjun bebas bersama-sama.

__ADS_1


"Ayaaaahhh."


Terdengar suara teriakan Yumna yang begitu menyayat hati mengema memecah langit malam itu.


__ADS_2