Istri Barbar (Alexandria Dan Tiga Serangkai)

Istri Barbar (Alexandria Dan Tiga Serangkai)
Bab 36 Pulang Kampung


__ADS_3

Pagi harinya...


Suasana pedesaan yang sangat asri dengan kabut tebal menyelimuti alam,aroma udara segar memanjakan indra penciuman, sementara embun pagi yang membasahi alam membawa hawa dingin merasuk kedalam jiwa.


Singkong, kacang, dan ubi rebus yang masih mengepul asapnya tersaji di atas anyaman tikar diatas gazebo yang terbuat dari bambu pagi itu, tidak lupa teh hangat menemani sarapan mereka pagi itu. Setelah sarapan ibu Chatur berencana mengajak meereka berkeliling desa.


"Ibu Tua, kambingnya lucu sekali, siapa namanya?"


Yumna tampak senang memangku kambing kecil yang baru lahir beberapa hari lalu. Bu Chatur mengajak Yumna pergi ke kandang tempat dia memelihara hewan ternak yang jaraknya beberapa meter dari rumah. Yumna tertarik saat mendengar suara sapi dan kambing saling bersahutan saat seorang pembantunya memberi makan pada hewan-hewan ternaknya.


"Namanya? aku tidak pernah memberi nama pada hewan."


Sahut Bu Chatur sambil mengelus-elus induk kambing yang sedang makan rumput.


"Kenapa?"


"Kalau begitu kamu saja yang beri nama!"


Jawab Bu Chatur tidak ingin berdebat dengan cucunya.


"Benarkah? Horeeee... tapi siapa,


ya, namanya?"


Yumna tampak serius berfikir. Bu Chatur tersenyum bahagia melihat kelakuan cucunya.


"Ibuuuu...Yumnaaa... kami sudah selesai sarapan."


Teriak Alex dari kejauhan.


"Kamu bisa memberi nama kambing itu nanti, sekarang ayo ikut, kita akan berjalan-jalan keliling desa."


"Baiklah,ibu Tua, dada kambing, tunggu yaa, nanti aku akan memberimu nama yang bagus."


Yumna berbicara seolah-oleh kambing itu mengerti.Yumna meletakkan kambing itu, kemudian berdiri dan mengandeng tangan sang nenek dan beranjak dari sana.


"Wow, amazing, aku tidak percaya ini!"


Han tampak takjub ketika sebuah garasi berjarak beberapa meter dari rumah utama di buka. Isinya tidak tanggung-tanggung beberapa mobil mewah yang satu diantaranya adalah mobil langka dan hanya ada beberapa unit didunia bertengger dihadapannya. Jack sama takjubnya dengan Han namun dia hanya diam saja.oh tidak dia sedang memikirkan sesuatu dikepalanya.


'ibunya Alex tidak seperti kelihatannya, dia bukan orang biasa'


"Yang mana mobil yang akan kita pakai, biar aku yang mengemudikannya?"


"Disini tidak boleh mengunakan kendaraan bermesin,kecuali orang luar yang datang itupun hanya orang-orang tertentu, atau dalam keadaan darurat."


"Apa?"


Han menoleh pada Bu Chatur yang berdiri dibelakang bersama anak dan cucu menantunya."Lalu untuk apa menyimpan mobil sebanyak ini?"


Han merasa kesal dengan keadaan ini.


"Pajangan."


Kali ini Jack yang menjawab. Terlihat Bu Chatur mengangguk-angguk setuju. Han tampak gusar memikirkan semua ini. Dia mengusap rambutnya dengan kasar.


"Lalu dengan apa kita akan keliling desa ini, aku tidak sudi jalan kaki?"


Han terlihat kecewa karena tidak jadi naik mobil mewah dan berkelas.


"Itu... Kendaraan kita sudah datang."


Seorang pelayan terlihat membawa kendaraan yang ditarik oleh seekor kuda.Mereka semua menoleh, Yumna melonjak kegirangan melihat kuda itu.


Sepanjang perjalanan mereka menikmati pemandangan persawahan di kaki bukit yang padinya tampak mulai menguning pertanda akan segera dipanen. Terlihat juga petani disana sedang bergelut dengan dunia persawahan. Sungai-sungai masih terlihat bersih dan jernih karena belum terkontaminasi oleh polusi.Yumna yang duduk didekat neneknya bahkan berseru ingin mandi di sungai.


"Kolam renangnya bagus sekali, aku ingin berenang disana!"


Yumna mengira sungai itu adalah kolam renang.


"itu sungai, Yumna."


Jack yang duduk disampingnya memberitahu.

__ADS_1


"Bukan, Uncle Jack, itu kolam renang panjang, kalau sungai itu warnanya hitam dan cokelat dan banyak sampah"


Mereka tertawa, rupanya Yumna teringat sungai yang berada di kota tempat dia tinggal.


Hanya Alex yang terlihat tidak tertarik, dia beberapa kali menguap dan lebih sering bersandar di bahu Ryu,karena jenuh dan mengantuk.


Han sendiri sebenarnya suka berjalan-jalan sambil menghirup udara segar, namun dia juga terlihat beberapa kali menguap karena terkena angin sepoi-sepoi, sudah begitu semalam tidurnya tidak nyenyak.


"Ibu Tuaaa...."


Beberapa warga yang melintas dengan berjalan kaki tampak menyapa dan menganggukan kepala mereka memberi hormat pada Bu Chatur ,dan panggilan itulah yang disematkan pada Bu Chatur oleh warga selaku kepala desa.Bu Chatur membalas sapaan mereka sembari tersenyum.


"Itu adalah perpustakaan utama di desa ini?"


Bu Chatur menunjuk sebuah bangunan besar yang berdiri didekat sebuah masjid besar dan megah yang bangunannya tidak kalah mewah dengan masjid-masjid di kota-kota besar.Ryu menoleh, perpustakaan adalah salah satu hal yang menarik baginya. Didalam desa ini Bu Chatur sebagai kepala desa memang menekankan agar setiap warga dan generasi penerus didesa ini rajin membaca buku, sehingga Bu Chatur tidak tanggung-tanggung dalam memberikan fasilitas berupa berbagai macam buku bagi seluruh warganya.


Kemudian mereka melintasi sebuah pesantren dan satu-satunya sekolah di desa itu dari Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Menengah Atas ada disana. Saat tiba tepat didepan gerbang pesantren Bu Chatur meminta kusir menghentikan kereta kudanya.


"Ibu tua...hei lihat ada ibu tuaa...."


Beberapa murid yang kebetulan sedang ada jadwal olahraga diluar ruangan melihat mereka dan berlari mendekati gerbang sambil memanggil-manggil nama Bu Chatur. Seorang petugas di pesantren itu kemudian membuka gerbang sekolah dan memberi salam kepada Bu Chatur. Akhirnya Bu Chatur memutuskan untuk turun dan masuk kedalam pesantren bersama yang lainnya. Begitu masuk para murid tadi berebutan untuk bersalaman dengan Bu Chatur yang juga tampak sayang pada mereka dengan mengelus kepala mereka lembut.


Melihat pemandangan yang begitu menyejukkan hati itu Jack kembali berfikir.


'Wanita seperti apa dia?'


Wanita yang berwatak keras itu terlihat sangat disayangi oleh semua orang.bahkan terlihat dari cara warga memperlakukannya.Bukan hanya Jack, ternyata Ryu juga memiliki pemikiran yang hampir sama dengannya.


Kemudian seorang wanita yang disinyalir sebagai kepala sekolah muncul memberi salam kepada Bu Chatur dan yang lainnya.


"Jika boleh tau ada kepentingan apa Ibu Tua kemari?"


Tanya kepala sekolah sopan.


"Tidak ada apa-apa Bu Kepala Sekolah aku ingin memperkenalkan sekolah kita ini pada tamuku."


"Oh, baiklah kalau begitu silahkan!"


Mereka berjalan perlahan-lahan sambil Bu Kepala Sekolah memberikan penjelasan seperti seorang tour guide. Gedung pesantren itu terdapat empat lantai. Lantai paling bawah adalah Taman Kanak-kanak, lantai dua adalah Sekolah Dasar, lantai tiga adalah Sekolah Menengah Pertama dan lantai paling atas adalah Sekolah Menengah Atas. Selain itu masih ada beberapa gedung lagi disisi lainnya berfungsi sebagai perpustakaan,mushola dan tempat anak-anak melakukan kegiatan lainnya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Seroang wanita berhijab yang merupakan pelatih memanah disekolah itu menoleh, lalu menyalami Ibu Tua dengan takjim.


"Alexandria... kaukah itu?"


"Elena?"


Wanita bernama Elena itu menghampiri Alex dan menyalaminya kemudian memeluknya dengan hangat.


"Senang melihatmu kembali kesini."


"Senang melihatmu masih betah disini."


Mereka berdua tertawa kecil setelah sama-sama saling melayangkan sindiran.Elena adalah salah teman sekolah Alex yang cukup dekat dengannya.


"Dia mengabdi pada desa ini dengan menjadi guru disekolah ini, tidak seperti kau yang seperti pengecut yang tidak pernah kembali."


Alex mendesah kesal mendengar Bu Chatur berkata seperti itu. Elena jadi merasa tidak enak hati.


'menyebalkan sekali'


"Hmmm, Alex kamu dulu sangat jago memanah bukan, ayo ajarkan sedikit keahlianmi pada murid-murid disini!"


"Apa, ah, tidak usah, kamu saja sudah cukup, kenapa harus aku!"


Alex menolak, lagi pula dia tidak tertarik kegiatan memanah lagi.


"Ayolah, Alex hanya sebentar!"


"Tapi aku sudah lam...."

__ADS_1


"Tidak perlu memaksanya, dia pasti sudah lupa, denganku saja dia sudah lupa apa dengan hal lainnya!"


Sindir Ibu Tua lagi, sungguh kenapa dia terlihat begitu kejam pada Alex?


"Berikan aku busur panah, Elena!"


Hati Alex menjadi panas mendengar sindiran ibunya, Elena kemudian memberikan busur panah yang berada dipunggungnya pada Alex.


Alex kemudian masuk ke lapangan yang saat itu beberapa murid sedang berdiri disana. Setelah mengambil anak panah dan memasangnya pada busur panah, Alex kemdian berdiri tegap dan mengarahkan anak panahnya pada sebuah papan. Alex memicingkan matanya agar lebih fokus, kemudian anak panahnya melesat, namun sayang tidak mengenai pas di titik tengah.


"Aku sudah menduga, sudah ku bilang dia pasti lupa."


Ibu Tua tertawa dengan penuh ejekan pada Alex. semuanya membisu melihat itu, Alex melirik ibunya sesaat kemudian ia mendengar ada suara burung melintas di udara. Alex mengambil anak panah lagi kemudian mengarahkan bidikannya ke atas, Dalam hitungan detik anak panah Alex melesat, burung itu terlihat terjatuh tepat dihadapan mereka. Suasana hening namun kemudian terdengar tepukan dari Elena yang diikuti oleh murid-muridnya. Alex melirik ibunya sambil tertawa penuh kemenangan.


"Dasar tukang pamer!"


Gumam Han tertawa senang.Jack juga tertawa dan turut memberikan tepukan, Ryu tersenyum tidak mengira istrinya begitu jago dalam memanah.


"Ibuuu hebat..."


Yumna bertepuk tangan dan melompat-lompat dengan gembira.Sementara Ibu Tua hanya manggut-manggut penuh arti.


"Elena, tolong, rawat burung itu, dia hanya terluka sedikit dibagian sayap, jika diobati pasti lukanya akan segera sembuh!"


" Tentu Alex, pertunjukan yang hebat, anak-anak ucapakan terimakasih pada Bu Alexandria."


Kemudian terdengar koor ucapan terimakasih dari murid-murid. Selepas memeluk Elena dia berjalan kembali dan berhenti dihadapan ibunya.


"Aku tidak pernah lupa dengan semua yang ibu ajarkan, sekalipun itu penuh dengan luka, tapi ibu harus ingat bahwa tidak semua burung bisa dikurung dalam sangkar."


Alex menatap mata ibunya lekat-lekat, ada bayangan masa lalu yang tersirat didalam sana.


Mereka kemudian melanjutkan perjalanan setelah mendapat jamuan minum dan makanan ringan dari kepala sekolah dikantornya. Perjalanan mereka lalu berlanjut ke peternakan, banyak sekali jenis peternakan disana, dari hewan ternak seperti sapi dan kambing, selain itu ada juga peternakan berbagai jenis ikan disana. Peternakan itu memang milik desa yang memang diperuntukkan untuk kelangsungan hidup warganya. Perjalanan mereka hari itu berakhir disebuah warung makan lesehan bernuansa alam, hidangan ikan segar dari salah satu peternakan menemani santap makan siang mereka kala itu. Sebenarnya Ibu Chatur masih ingin mengajak mereka kebeberapa tempat lagi, namun tampaknya Yumna sudah kelelahan dan mengantuk. Bu Chatur akhirnya memutuskan menyudahi perjalanan mereka dan mengajak mereka kembali pulang.


***


"Sepertinya kamu sangat menyukai tempat ini?"


Tanya Alex saat melihat Ryu tampak duduk dan memejamkan matanya seperti terhanyut dalam suasana.


Ryu tersenyum menoleh pada istrinya.


"Lebih dari rasa sukaku padamu!"


Alex tertawa ringan mendengarnya, dia lalu menyerahkan secankir teh pada Ryu.mereka bercakap-cakap sebentar. Han dan Jack masih terlelap. Sementara Yumna sudah ikut pergi ke sawah bersama neneknya.


"Ayo kita jalan-jalan!"


Ryu berdiri diikuti Alex.


"Bisa kamu pake penutup wajah atau semacamnya?"


Alex ingat saat kembali dalam perjalanan pulang banyak para gadis-gadis melirik mereka, dan Alex yakin selain Han dan Jack yang menjadi perhatian mereka, Ryu juga tidak luput dari perhatian mereka.


"Aku sudah punya macan betina yang menjagaku dengan ketat, jadi tidak perlu penutup wajah."


Ryu berdiri, Alex tersenyum lalu dia juga berdiri dan mengenggam tangan Ryu yang terasa dingin karena cuaca yang dingin.Ryu meremas tangan Alex mesra.


Mereka kemudian berhenti disebuah bendungan air yang berfungsi sebagai irigasi desa. Ryu beberapa kali menghirup nafas seperti ingin menghirpu banyak-banyak oksigern yang serasa sangat menyegarkan jiwa karena belum banyak terkontaminasi polusi. Kemudian dia merasakan Alex merangkul pinggangnya wajah Alex menengadah pada Ryu


"Aku tidak akan membiarkanmu terlena dengan semua keindahan ini"


Alex berjinjit menge3cup bibir suaminya. Ryu tersenyum lalu mengangkat tubuh istrinya hingga wajah mereka sejajar. Tangan Alex merangkul leher suaminya. Kemudian Ryu m3nc1um bibir istrinya. Alex menyambut p4gut4n itu dengan mesra.


"Bagiku kamulah keindahan"


Ryu mengucapkannya dengan mesra setelah menyudahi p4gut4n mereka. Alex kemudian menyandarkan kepala di dada Ryu.merasakan denyut jantung suaminya yang berirama tenang.


"Aku melupakan sesuatu?"


"Apa?"


Alex menengadah sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Aku ingin tahu sejarah desa ini."


__ADS_2