
selama hampir lima bulan lamanya Alex dibuat kerepotan oleh perkara mual dan muntah, dia sampai harus bolak-balik dirawat dirumah sakit. Han dan Jack memutuskan untuk membawa Alex tinggal diapartemnt milik Han, karena letakknya berada di dekat rumah sakit dan dekat dengan kantor.Jadi Mereka berdua dapat berganti-gantian menjaga Alex. Meskipun sesekali ada Dokter yang datang untuk memeriksa keadaanya.Tentu saja Alex bersikeras menolak ketika dirinya diminta untuk berada dirumah sakit selama masa ndidamnya.
"Jadi kalian ingin aku cepat mati, karena stress dikurung dirumah sakit, TIDAK, katakan pada Dokter aku akan membayar lebih supaya aku bisa dirawat dirumah. "
Pintanya keras kepala membuat Jack dan Han mau tidak mau membicarakan hal itu pada Dokter.
Namun apakah masalah selesa sampai disitu?
Tidak.
Han dan Jack justru dibuat lebih kerepotan oleh keadaan Alex. Hormon kehamilan membuat perasaan Alex sering berubah-ubah,termasuk dalam urusan mencarikan apa yang diinginkah Alex. Tengah malam pun Han dan Jack harus siaga kalau Alex menginginkan sesuatu.
"Han sudah mati"
Teriak Han saking dongkolnya suatu waktu saat dia sedang penat sepulang kerja dini hari dan Alex memanggilnya dengan suara nyaring.
"Siapa yang berbuat siapa yang repot, tau begini sejak awal dia ku per4_w4ni saja."
Keluh Han sewaktu-waktu. Jack tertawa mendengarnya,meski Jack juga merasa direpotkan namun dia lebih dapat mengontrol situasi daripada Han. Bahkan mau mengorbankan sedikit waktunya untuk memahami keadaan Alex.
"Pikirmu, kamu bisa jadi suami yang baik dengan membaca buku begituan? "
Han mengejek Jack saat melihatnya membaca buku tentang kehamilan yang sengaja dibeli di toko buku.
Jack hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ada sesuatu hal yang mengelitiki hatinya setiap kali dia melihat Alex yang tengah hamil. Terkenang akan masa lalu yang keindahannya telah sirna sebelum dia mengecapnya.
***
Suatu hari Han terburu-buru memasuki kamar tidurnya, selama Alex berada diapartmentnya dia terkadang memilih tidur disofa ruang tamu, apalagi alasannya demi menjaga kewarasan dirinya. Lebih mudah menghadapi seribu pelaku kriminal daripada Menghadapi satu ibu hamil yang sedang ngidam. Dan kini ibu hamil itu membuatnya naik pitam lagi.
"Apa yang kamu lakukan pada pakaianku,Alex ? "
Han mendelik,diaa menoleh pada Alex yang tengah santai sambil mengunyah mangga muda dengan santai diatas tempat tidur miliknya. Sebelum Alex datang dan memonopolinya.
"Apaan, sih? "
"Apaan? "
Han menirukan nada bicara Alex, dia menutup lemari pakaiannya yang isinya hampir kosong padahal dua hari lalu isinya masih lumayan penuh. Sudah dua hari pula dia tidak pulang karena sedang bertugas.
"Ini... Kenapa kamu pakai bajuku? "
Han menghampiri Alex dan menarik lengan baju Alex yang dia hafal betul bahwa itu bajunya.
"Aduh, apaan sih, aku pinjam."
Sahut Alex sedikit sewot tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV sambil terus mengunyah, entahlah semenjak hamil dia jadi rajin nonton TV. Mungkin bawaan bayi atau memang karena dia kini tidak sibuk apapun.
"Pinjam? memangnya kemana bajumu? "
"Nggak muat."
Alex menyahut santai. Dia tidak perlu menjelaskan bahwa badan dan perutnya sudah makin membesar. Toh Han sudah tahu itu.
" Satu lemari habis,kamu memakainya atau memakannya? "
Han menunjuk lemari pakaian dengan nada heran sekaligus jengkel.
"Aku kegerahan jadi harus sering ganti baju, mungkin kamu harus service ACmu? "
__ADS_1
" kenapa tidak pakai daster seperti ibu hamil lainnya? "
"Apa? Daster? Tidak !"
"Kenapa? "
"Karena tidak sek_s1"
Alex menyahut dengan percaya diri.
'Astaga'
Han akhirnya mengalah karena tidak ingin berdebat lebih panjang dan memilih untuk keluar kamar saja, niatnya untuk mandi sirna sudah. Han mengusap kasar rambutnya yang memang sudah kusut. Mumet.
"Oh ya, Han, cepat bawa pakaian kotor ke laundry yaa!"
mendengar teriakan Alex itu Han bertambah mumet.
"Bodo amat"
Saat menuruni anak tangga, Jack memasuki ruangan dengan wajah lelah namun seulas senyuman tersungging di bibirnya.
"Apa ibu hamil mengerjaimu lagi? "
Jack mengoda sembari duduk di samping Han.
"Itu sudah... Hei, kamu juga? "
Han menatap jaket yang dipakai Jack. Dan itu adalah miliknya. Jaket favoritnya. Limited editan.
" apa? Oh, aku pinjam, habis aku lupa membawa jaket, dan tadi pagi kan hujan, hawanya dingin sekali. "
Jack mengerti maksud Han,memang ini salahnya tidak meminta izin pada Han.
Han merebahkan dirinya disofa dengan pasrah.
"Maksudmu? "
Jack mengeryitkan dahi, namun detik berikutnya dia mengerti maksud Han.mereka saling berpandangan kemudian tertawa bersama. Jack turut merebahkan dirinya disofa.
"Kamu urus laundrian, Oke? "
"Beres"
Hening sejenak.
"Haaannnn... "
Han langsung berjingkat mendengar teriakan Alex.
"Astagaaa ... Jack, katakan padanya kalau aku sedang pergi ke laundy. Dan tidak pulang sampai besok pagi! "
Han berkata dengan kesal sembari berlari kearah dapur. Jack tertawa melihat tingkah rekannya itu.
***
Keesokan harinya...
"Tidak ... aku tidak mau pakai ini! "
__ADS_1
Alex melemparkan daster yang dibelikan oleh Jack untuknya.
"Kenapa? Aku sudah tanya penjualnya katanya daster ini yang paling diminati oleh ibu-ibu hamil"
Jack menyodorkan daster yang berada di tangannya berwarna biru muda bermotif batik dengan bahan katun rayon yang berkualitas. Dan dia sudah beli dua lusin sekaligus dengan motif dan model yang berbeda-beda agar Alex suka dan tidak memakai baju milik Han lagi. Tentu saja penjualnya senang dan memberi diskon.
"Kalau begitu kalian saja yang pakai!"
Han dan Jack berpandangan melihat raut wajah Alex yang masam. Seperti biasa Han menahan amarahnya.Gemas rasanya ingin dia telan mentah-mentah si ibu hamil yang rese ini.
"Kamu dengar itu kan, bukankah sudah ku bilang dia pasti akan menolak."
Han bergumam lirih pada Jack.
"Dengar, Alex ... " Jack duduk di pinggiran ranjang berusaha membujuk Alex. "Ibu-ibu hamil lainnya juga memakai daster ini dan... "
"Jangan samakan denganku"
Tetiba Alex menjadi tersinggung dan Jack merasa salah langkah.
"Memang sama, apa bedanya? perutmu sama-sama buncit"
suara Han mulai meninggi.
"Tidak sama."
"Sama"
Han dan Alex sama-sama mengeluarkan urat leher. Jack yang sudah terbiasa dengan situasi seperti itu hanya tersenyum sembari mengelengkan kepala.
"Hoek... "
Tiba-tiba Alex merasa mual. Jack mengambilkan segelas air dimeja. Alex segera meneguknya untuk menetlalisir rasa mualnya.
"Kurasa kamu perlu secangkir kopi, Han! "
"Dengan senang hati"
Han yang mengerti kode dari Jack memutar tubuhnya dan berjalan keluar kamar.
Berdebat dengan ibu hamil memang sangat menguras tenaga dan pikiran.
'Haaahh, sungguh melelahkan'
Setengah jam kemudian...
"Kamu apakan dia? "
Han penasaran, menilik dari ekpresi Jack, Dia tau Jack pasti berhasil membujuk Alex untuk mengenakan daster itu.
"Yaaa, kurasa semua wanita senang dengan pujian dan sedikit rayuan gombal, bukan begitu? "
Han tertawa ringan mendengarnya.
"Memangnya itu mempan padanya?"
"Aku sudah membuktikannya,kan!"
Ekspresi Jack sedikit congkak.
__ADS_1
"Jangan bilang kamu belajar dari buku kehamilan itu? "
Kini Jack yang tertawa ringan mendengar candaan Han itu.