
Suasana pesta makin gaduh setelah terdengar suara tembakan. Semua orang yang tadinya tengah asyik menikmati pesta berhamburan berlarian keluar demi menyelamatkan diri.
"Bos... "
Terdengar bisikan dari anak buahnya.
"Cari dan bawa dia kemari hidup-hidup"
Anak buah itu mengangguk kemudian keluar dari dalam ruangan. Sementara si bos kembali menatap seorang berjas putih yang sedang didalam ruangan berdinding kaca sedang melakukan uji coba.
"Kamu akan tau akibatnya karena telah berani menghianatiku, Enny! "
***
Alex merapatkan tubuhnya dan bersembunyi dibalik tembok ketika dia mendengar langkah-langkah beberapa pria ke arahnya.
"Dorr...dorrr...dorrr."
Alex keluar dari persembunyiannya kemudian menyerang mereka dengan beberapa tembakan. Hingga mereka tumbang satu persatu. Alex kemudian membuang pistolnya yang telah kosong. Kemudian mengantinya dengan mengambil pistol milik lawan. Alex memutar tubuhnya dan melihat ada sebuah pintu didepannya. Dengan hati-hati di membukanya, ruangan itu sangat gelap. Alex meraba-raba dinding mencari saklar lampu.
Namun Alex tersentak ketika seseorang tiba-tiba mencekik lehernya dan mendorongnya hingga tubuhnya merapat tembok. Pistolnya terlepas dari tangan jatuh entah kemana.
"Kamu tahu apa kesalahanmu? Membuat ruangan ini menjadi terang hingga lawan berhasil menagkapmu dengan mudah"
Alex berusaha melepaskan diri dari cekikan wanita yang ia ingat wanita itu telah dia lihat di layar laptop Jack. Wanita yang menyerahkan kartu undangan kepada bos. Alex melakukan perlawanan sehingga tangan wanita itu terlepas dari lehernya. Wanita itu terjatuh dilantai. Alex terbatuk-batuk namun beberapa saat kemudian saat dia sudah mendapatkan kembali nafasnya. Kemudian terjadi pergumulan antara Alex dan wanita itu. Saat itu mereka berdua adalah lawan yang seimbang. Kemudian Alex mendapati pistolnya disudut ruangan. Alex berdiri dan berniat meraihnya.
"Dorrr... "
Wanita itu menembak Alex hingga tubuhnya rubuh kelantai.lalu wanita itu menghampiri Alex yang sudah tidak sadarkan diri. Peluru bius telah menembus punggungnya. dia berjongkok tepat didepan wajah Alex
"Sayang sekali, bos menginginkan dia hidup-hidup,kalau tidak akan kuhabisi tanpa ampun"
Wanita itu menyeringai.
***
Han bersikap waspada ketika didengarnya derap langkah di depannya. Namun saat dia menodongkan pistolnya orang itu juga menodongkan pistol pada Han.
"Hampir saja aku membunuhmu."
Han menarik kembali pistolnya, begitu juga dengan Jack.
"Dimana Alex? "
Tanya Jack ngos-ngosan. Dia merasa lorong ruangan ini terlalu panjang dan berliku sekaligus pengap. namun cocok dijadikan ruang rahasia.Jack membuka tuxidonya.begitu juga dengan Han. Keringat mereka sudah bercucuran berseru dengan nafas mereka.
"Apa gunanya jam tangan itu kalau kamu masih bertanya padaku,bodoh? "
Jack tertawa ringan mendengarnya.
__ADS_1
"Alex... Alex... "
Jack mendekatkan jam tangannya ke mulut, mencoba menghubungi Alex namun tidak ada jawaban. Jack menatap Han. Mengerti akan tatapan rekannya Han menarik nafas panjang dan menghembuskannya.Han tau pekerjaan mereka akan bertambah sulit kalau benar Alex tertangkap
"Haah, apa ku bilang wanita itu hanya bisa merepotkan. "
Mereka kemudian berjalan beriringan dengan langkah waspada.sebuah pertanyaan yang sama menyelimuti pikiran mereka.
Apa yang terjadi dengan Alex?
***
Saat Alex tersadar dia tidak tahu sedang berada dimana. Tubuhnya lemah tidak berdaya,tubuhnya seperti mati rasa tidak dapat digerakkan. Pandangannya juga tidak jelas, terdengar sama-samar suara dua orang pria yang sedang berbincang.
"Apalagi yang kamu tunggu, kamu butuh kelinci percobaan bukan. Kalau begitu inilah saatnya?"
"Tidak bisa, serumnya belum boleh diuji cobakan pada manusia, aku masih perlu mengujinya lebih lanjut, ini terlalu beresiko"
Pria yang memakai jas putih itu menolak dengan keras.
"Aku tidak peduli, cepat lakukan perintahku!"
"Tidak bisa. "
Bos itu lalu menodongkan pistol pada pria berjas itu.
"Apa sekarang masih tidak bisa? "
"Apa kamu ingin keluargamu mati juga? aku akan mengirimkan mayat mereka satu persatu padamu, itu yang kamu mau,cepat lakukan! "
Tanpa berkata apapun pria berjas itu kemudian mengambil sebuah serum dari sebuah lemari pendingin. Kemudian kembali dan melakukan apa yang diminta sang bos.
Pria berjas itu menyuntikan sebuah cairan kepada Alex dengan metode inseminasi.
"Bagaimana hasilnya? "
Tanya Bos ketika pria berjas itu melakukan USG pada Alex. Pria itu menatap sang bos sesaat.
"Berhasil"
pria berjas itu sekali lagi berkata tanpa ekspresi.
"Apa? Bagus sekali"Bos tertawa senang" Hahaha, Hei, tunggu dulu, kenapa selama ini kamu begitu lama mengerjakan semua ini,apa kamu sengaja mengulur-ulur waktu. Dasar br*ngsek"
Pria berjas itu bergeming.
"Cepat berikan semua serum itu padaku, cepat! "
Pintanya tanpa menurunkan pistolnya, pria berjas itu mengambil sample serum dari dalam lemari pendingin kemudian memindahkannya ke wadah khusus menyerahkannya kepada bos itu.
__ADS_1
"Bagus... Hahaha"
"Doorrr"
Pria berjas itu jatuh tak sadarkan diri dilantai.
"Kamu sudah tidak berguna lagi untukku disini, tapi pasti kamu akan berguna dikantor polisi"
Bos itu beralih melihat Alex yang terkapar lesu dipembaringan.
"Dan kamu, inilah akibarnya karena telah berani menghianatiku,Hahaha."
Bos itu tertawa kemudian keluar dari dalam ruangan itu melalui sebuag pintu rahasia.
***
Sementara itu Jack dan Han sedang berjibaku tembak-menembak dengan lawan.
"Yang benar saja, apa yang kamu lakukan? "
Han mengomel, karena sedari tadi dia melihat beberapa kali tembakan Jack meleset.
"Maaf kawan,aku tidak begitu ahli dalam hal ini. "
Jack menyahuti sambil nyengir kuda.
"Hah, merepotkan saja"
Keluh Han lalu mereka kembali menyurusi lorong hingga mereka tiba didepan sebuah pintu.
"Kamu yakin Alex didalam? "
Jack melihat jam tangannya kemudian mengangguk yakin. Mereka kemudian saling berpandangan kemudian mengangguk memberikan kode. Jack menendang pintu dan setelah terbuka Han dengan gesit melangkah masuk. Han langsung menyapu seluruh ruangan yang berfungsi sebagai laboratorium.
"Alex."
Han menurunkan kewaspadaanya dan berjalan cepat menghampiri Alex. Kemudian memeriksa denyut nadi di leherAlex.
"Masih hidup."
Han merasa lega. begitupun Jack yang mendengarnya dia kemudian berjongkok didepan pria berjas putih.
"Kurasa kita mendapatkan satu tersangkanya"
Gumam Jack setelah memeriksa pria berjas putih itu. Han menoleh pada Jack. Sambil menyapu seluruh ruangan dengan seksama
"Kau tau, Jack... kurasa inilah kejahatan mereka yang sebenarnya"
Jack berdiri kemudian dia turut mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Dia menghela nafas berat.
__ADS_1
"Saatnya menghubungi markas! "