
Ryu menutup sebuah buku bersampul cokelat perlahan dengan satu helaan nafas. Dibagian depan sampul buku tertulis nama penulisnya 'Asih Cathur' dengan judul 'PERISTIWA BERDARAH'.
Setelah selesai membaca ada perasaan aneh menyelimuti hatinya, mungkin karena yang dia baca adalah sejarah yang menimpa keluarga istrinya. Ryu bangkit dan mengembalikan buku itu ketempatnya setelah berkeliling perpustakaan sebentar sambil melihat-lihat buku lainnya, Ryu akhirnya memutuskan untuk keluar perpustakaan dan bertepatan dengan adzan ashar berkumandang.
Ryu kemudian mengambil wudhu dan melaksanakan Sholat berjamaah di Masjid.
"Permisi, Aden"
Saat Ryu keluar dari Masjid, seorang yang dia kenal menyapanya sambil membungkuk sopan, meski Ryu tidak tahu namanya tapi dia ingat pria itu adalah pembantu sang mertua.
"Ya."
"Saya diminta oleh Ibu Chatur untuk menjemput, Aden."
"Baiklah!
Ryu mengangguk kemudian mengikuti pelayan itu dari belakang. Ryu memang pergi berjalan kaki saat hari menjelang siang tadi, sengaja dia lakukan karena ingin menikmati suasana desa sambil melihat keadaan desa lebih seksama.
Saat Ryu datang terlihat Yumna sedang bermain bola dengan kedua Uncle-nya, sementara Alex tidak kelihatan batang hidungnya.
"Ayaaahh ...."
Yumna berlari kepelukan Ryu bersamaan dengan itu Bu Chatur keluar bersama seorang pria yang berbadan besar, tinggi dan berotot memakai kaos putih lengan pendek dan celana hitam panjang yang longgar, rambut pria itu gondrong sebatas bahu yang sebagian telah memutih.setelah berpamitan dengan Bu Chatur pria itu terlihat pergi setelah mengucapkan salam, saat melewati Ryu dia menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis. Ryu balas mengangguk,dalam benaknya terbersit satu nama.Samson.
"Kamu sudah pulang, Nak?"
Ryu yang saat itu mengikuti langkah Samson dengan matanya menoleh, kemudian dia menghampiri mertuanya sambil mengendong Yumna.
"Assalamualaikum, Ibu?"
"Waalaikumsalam"
Ryu meraih tangan Bu Chatur dan menciumnya dengan takjim.
"Terimakasih karena sudah mengirim orang untuk menjemputku, Buu"
"Aku hanya khawatir kau tersesat, istirahatlah, akan kubangunkan istrimu agar dia membuatkan minuman hangat untukmu, dasar *****, dari tadi kerjanya tidur terus. Pemalas!
Bu Chatur mengerutu sambil melangkah kedalam.
Ryu kemudian duduk bersama Han dan Jack yang tampak berkeringat setelah bermain bola bersama Yumna.
"Bagaimana kalau kita pulang, aku sudah tidak betah tinggal lebih lama disini!"
Han menyandarkan badannya dengan malas di kursi. Rambutnya didahinya terlihat basah oleh peluh.
"Tapi aku suka tempat ini"
"Apa?"
Sontak Han menyempurnakan duduknya. Dia menatap Ryu dengan raut wajah tidak percaya.
"Suka? Apa aku tidak salah dengar, apa yang kamu sukai dari desa ini, disini aku merasa berada di tempat asing."
Han mengeluh panjang pendek.
"Aku merasa tenang dan damai disini."
Ryu menatap cakrawala, pepohonan bergoyang-goyang tertiup angin,cuaca yang hangat disore hari ditambah kicauan burung-burung sungguh membuat perasaan tenang. Apalagi saat terbangun di pagi hari, Ryu sangat menikmatinya. Membuat fikiran lebih segar. Lalu perhatiannya teralih pada Yumna yang sedang berlarian mengejar bola sendirian, rupanya dia belum puas bermain bola.
"Tenang? Damai? Sepi, iya!"
Han mendesah kesal dengan pemikiran Ryu. Kini dia sepemahaman dengan Alex bahwa desa ini sangat membosankan. pantaslah Alex lebih senang tidur.
"Santai, kawan, ini cuma masalah selera, tidak perlu kesal begitu."
Jack yang duduk disebelah Han menepuk-nepuk pundaknya pelan.
"Selera yang buruk."
Han menghela nafas sambil merebahkan kembali punggungnya pada kursi dengan malas.
"Aku sebenarnya juga menyukai desa ini ...."
Han menoleh pada Jack dengan alis diangkat sebelah.
"Jangan bilang kamu ingin pensiun dini?"
"Tidak, tenang saja aku masih akan setia denganmu." Gurau Jack, "hanya saja aku masih sangat menyayangi laptopku ... haha ... tapi mungkin bisa ku pertimbangkan untuk menikmati masa pensiun ku disini."
Jack meletakkan kedua tangannya dibelakang kepala sambil membayangkan masa-masa tuanya yang begitu menenangkan dan damai didesa ini.
"Kurasa otak kalian memang sudah geser"
Beberapa saat kemudian Alex datang membawa baki berisi tiga gelas kopi. Wajahnya terlihat kusut karena dibangunkan secara paksa oleh Bu Chatur.
"Habis apa yang harus aku lakukan selain tidur, disini begitu membosankan!"
Alex begitu kesal saat ibunya membangunkannya dengan nada suara falseto.
"Bikin minuman untuk suamimu sana!"
"Aduh, ibu, kan ada pelayan, suruh saja dia, kenapa ibu harus menganggu tidurku."
"Plakk"
Sebuah pukulan mendarat di kepala Alex.
"Dia pelayanku bukan pelayanmu.cepat sana!"
"Aduhh, iya-iya"
Alex segera beringsut karena percuma berdebat dengan ibunya, pasti dia tidak akan menang.
Alex meletakkan kopi masing-masing didepan ketiga pria itu.
__ADS_1
"Hei, Alex kurasa kamu harus berhati-hati."
Han berkata sembari mengambil kopi dari meja.
"Kenapa?"
Alex mengerutkan dahi sambil duduk disamping Ryu, kedua tangannya sibuk membenahi ikatan rambutnya.
"Karena ...."
Han meletakkan kembali kopi di meja setelah selesai menyeruputnya.
"Ryu ingin hidup permanen disini."
"Hah?"
Alex menatap tajam suaminya.
"Itu baru rencana."
Alex mendelik mendengarnya.Susah payah dia keluar dari desa ini dan sekarang suaminya justru ingin hidup didesa ini. Celaka dua belas.
"Besok kita pulang!"
***
Keesokan harinya ....
"Mau kemana sih? ini kan baru jam lima pagi."
Han mengeluh saat Bu Chatur mengatakan bahwa mereka harus bersiap karena akan mengajak ke suatu tempat.
"Memangnya kenapa kalau jam lima pagi? dasar pemalas!
Tentu saja Han berniat tidur lagi setelah melaksanakan sholat subuh dengan mata terkantuk-kantuk. Semalam dia begadang main catur dengan Jack dan Ryu. Memang dasar nasib sudah berkali-kali main dia selalu kalah. Sementara Jack dan Ryu adalah lawan yang seimbang meskipun Jack lebih unggul dalam permainan catur.
"Lukis mereka bertiga!"
"Baik,Ibu Tua"
Seroang pelukis yang memang bekerja di Museum seni desa itu mengangguk patuh pada Bu Chatur.
Ryu,Han dan Jack duduk dengan bangku terpisah menghadap arah barat. Berlatar belakang matahari yang baru akan terbit di ufuk timur. Bu Chatur memang sengaja mengajak mereka berangkat pagi-pagi sekali karena ingin mendapatkan lukisan yang bagus. Sambil menunggu, Alex dan Yumna melihat-lihat lukisan-lukisan yang dipajang di Museum yang memang di khususkan untuk lukisan dari seniman desa. Setiap setahun sekali selalu ada event pameran seni lukis yang dipanitiai oleh komunitas pelukis desa. Mereka juga mengundang beberapa tamu dari luar desa untuk memberikan menilai. Lukisan yang terpilih juga dapat di jual dengan nilai tinggi, bahkan ada yang dijual ke luar negeri dengan bantuan pemerintah daerah. Jadi Seni lukis juga termasuk menyumbang pendapatan dalam perekonomian desa selain itu seni lukis juga turut dijadikan ekstra kulikuler dalam pendidikan sekolah dari TK sampai SMA. Selain pameran lukisan, ada juga event lomba untuk anak-anak sekolah dengan tujuan menumbuhkan kreatifitas pada anak-anak, mereka juga mencari bibit-bibit pelukis yang baru agar seni lukis tetap terjaga dan meregenerasi.
Saat kegiatan melukis sedang berjalan Han tampak melambaikan tangan dan mengedipkan matanya dengan genit ketika melihat beberapa gadis melintas didepan mereka ingin masuk ke Museum seni lukis. Para gadis itu hanya tertawa-tawa sambil terus berjalan.
"Bletak!"
"Aduh ...."
Han mengaduh sambil memegangi kepalanya.
" Siapa yang bera ...."
Han yang geram menoleh,namun saat melihat Bu Chatur berdiri dengan mata melotot dan tangan di pinggang nyalinya langsung terjun bebas.
"Aduhh, lagipula kenapa susah-susah mau ambil gambar saja, kan sekarang sudah ada hape, sebentar juga jadi, nggak perlu repot-repot begini, aku pegal dari tadi duduk diam terus."
Ryu yang berada diposisi tengah mesem melihat hal itu, sementara Jack berusaha menahan tawanya sekuat tenaga agar tidak kena jitak oleh Bu Chatur juga.
"DIAM! siapa yang menyuruhmu bicara?"
"Aku sendiri!"
Sahut Han dongkol dan sekali lagi sebuah jitakan mampir di kepalanya.
"Diam atau kau akan tetap duduk disini sampai matahari tengelam nanti! mau?"
Han tidak menyahut lagi.
"Huh, beraninya cuma mengancam, dasar nenek peyot!"
Gumam Jack lirih setelah Bu Chatur beranjak dari sana.
"Aku dengar itu."
Han langsung menegakkan badannya.
Setelah mereka bertiga selesai, sekarang bergantian Bu Chatur meminta Ryu,Yumna dan Alex untuk dilukis.
"Yumna ...."
Ryu memanggil Yumna yang turun dari pangkuannya, tentu saja, anak kecil mana yang betah berlama-lama duduk berdiam diri.
"Biarkan saja!"
Ryu menoleh pada Alex sekilas.
"Pikirmu dia pelukis amatiran?" Sekali lagi Ryu menoleh pada Istrinya "dia bahkan bisa melukis dengan mata tertutup."
Alex tersenyum dia ingat dulu pernah melihat pelukis itu menunjukkan kebolehannya pada tamu saat pameran berlangsung, dan nilai jual lukisannya bernilai sangat tinggi. Ryu merangkul bahu istrinya. Alex menyandarkan kepala di bahu Ryu.
"Aku makin suka tempat ini."
Ketika menengadah Alex melihat Ryu tersenyum penuh arti.
'ini gawat.'
***
"Kami pamit, Ibu"
Ryu mencium tangan mertuanya takjim, sore itu mereka bersiap untuk kembali ke kota.Bu Chatur mencium kening menantunya dengan penuh kasih.
Bu Chatur kemudian berbalik membuka sebuah peti yang dia letakkan diatas meja.mengambil sesuatu dari sana kemudian menutupnya kembali.
__ADS_1
"Ini kalung ibumu saat kecil dulu Yumna, aku menyimpannya karena ibumu bilang dia tidak menyukainya."
Sembari memakaikan kalung emas berliontin, Bu Chatur melirik Alex yang merasa tersindir karenanya
"Ini bagus, Ibu Tua, aku menyukainya, terimakasih."
Yumna tertawa riang lalu memeluk Bu Chatur dengan hangat.
"Aku akan merindukan Ibu Tua, kenapa Ibu Tua tidak ikut tinggal bersama kami saja, aku tidak keberatan berbagi tempat tidur dengan Ibu Tua seperti disini"
Yumna bertanya dengan polos. Memang selama disini Yumna selalu tidur bersama Bu Chatur.
"Tidak, sayangku, aku tidak bisa meninggalkan desa ini."
Bu Chatur mengangkat Yumna kedalam gendongannya dan mencium pipinya gemas.
"Ya, sudah tidak papa, Ibu Tua tidak perlu khawatir aku akan sering mengunjungi Ibu Tua kesini, benar kan Ayah?"
Ryu mengangguk sambil tersenyum.
"Hmmm, cucuku memang hebat sekali"
Bu Chatur mencium cucunya sekali lagi sebelum menurunkannya kembali. Kemudian dia berbalik dan membuka peti kembali, kemudian Bu Chatur tampak mengambil beberapa gepok uang dolar dari sana. Dia mengambil tangan menantunya lalu meletakkan uang itu disana.
Ryu menatap Ibu mertuanya, Alex menunjukkan wajah bungah, mungkin kali ini dia juga akan dapat jatah.
'Yes'
Hati Alex berbunga-bunga. Meski hubungannya tidak terlalu baik dengan ibunya, tapi soal uang dia tidak akan menolak. Tentu saja dia masih waras.
"Sepertinya ini tidak perlu ibu ...."
Ryu menolaknya dengan lembut. Alex menyenggol tangan suaminya memberi isyarat dengan mata agar jangan menolak uang itu.
'aduh, Ryu ini memang payah.'
"Tidak perlu sungkan, anakku, ini hadiah pernikahan dariku, semua lelaki yang menikah didesa ini juga mendapatkannya,ambillah!"
"Itu benar sekali, ambil saja, tidak usah sungkan!"
"Diam! mata duitan."
Alex langsung merenggut karena Bu Chatur memukul tangannya saat dia ingin mengambil alih uang itu.
"Terimakasih, Ibu"
Bu Chatur mengangguk. Dia lantas melihat Han dan Jack yang sedang sibuk menata barang bawaan mereka yang bertambah banyak karena Bu Chatur membawakan mereka oleh-oleh yang tidak tanggung-tanggung.
"Apa dia pikir kita sudah tidak mampu beli beras?"
Keluh Han saat mengangkat sekarung beras kebagasi mobil bersama Jack.
"Hei, kalian berdua kemari!"
Han dan Jack kemudian memenuhi panggilan Bu Chatur.
Bu Chatur menatap Han dan Jack lekat-lekat,berbeda dari biasanya. Samar wajahnya terlihat sendu. Kemudian dia mengangkat kedua tangannya seperti ingin memukul hingga Jack dan Han reflek memejamkan mata.
"Jangan bertengkar!"
Bu Chatur berucap dengan nada rendah sambil mengusap pipi keduanya dengan lembut, Han dan Jack membuka mata, ada perasaan aneh menelusup kedalam hatinya.
Bu Chatur lalu kembali membuka peti kemudian memberikan uang dolar seperti yang dia berikan pada Ryu.
Mata Han melebar seketika. Mimpi apa dia semalam ketiban rejeki nomplok.
"Ini uang sungguhan?"
Tanyanya tidak berkedip melihat uang ditangannya.jika dirupiahkan tentu bernilai ratusan juta.Bukannya dia tidak pernah punya uang dollar,namun mendapatkannya secara cuma-cuma itu jarang terjadi. Selama ini dia mempertaruhkan nyawa demi mendapatkannya.
"Kau pikir, aku pengedar uang palsu."
"Siapa tau?"
"Jadi kamu tidak mau?"
"Eh, tentu saja mau" Han secepat kilat menarik tangannya. "Aku kan masih waras."
Meski Jack juga terkejut namun dia memilih diam saja.
"Terimakasih,Buu"
Jack meraih tangan Bu Chatur dan menciumnya dengan takjim.
"Haha, terimakasih-terimakasih, nen ... Eh, maksudku Ibu Tua, ternyata hatimu begitu mulia ...."
Han sangat bergembira saat itu seperti terbang ke langit ke tujuh hingga dia tanpa sadar memeluk Bu Chatur.
Bu Chatur tersenyum dan membalas rangkulan Han dengan menepuk-nepuk punggungnya.
"Eh... Maaf aku kelepasan ...."
Han melepaskan diri dari pelukan Bu Chatur sambil nyengir.
Kini tiba girilan Alex, Bu Chatur kembali pada peti, namun tidak membukanya melainkan mengembok kembali peti itu.Alex mendelik, melihat itu dia tahu, dia tidak akan mendapatkan jatah apapun.
"Kau harus menungguku mati dulu baru bisa menikmati hartaku."
Bu Chatur menyodorkan tangannya pada Alex yang bermuka masam.
'dasar Nenek tua kikir."
Dengan kesal Alex menyambut tangan Ibunya, menciumnya sekilas lalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata ke arah mobil.
"Setelah ku pikir-pikir aku jadi senang tinggal disini kalau dapetnya beginian terus, haha."
__ADS_1
Han mengatakannya sambil berjalan menuju mobil bersama Jack dan Ryu yang mengandeng tangan Yumna. Matanya tidak lepas dari dolar ditangannya.
"Hei, Ryu apa kamu tidak berniat menceraikan Alex?"