Istri Barbar (Alexandria Dan Tiga Serangkai)

Istri Barbar (Alexandria Dan Tiga Serangkai)
Bab 4 Apartment


__ADS_3

"Paketttt"


Terdengar teriakan khas kurir pengantar paket yang nada suaranya mirip acara animasi super wings.


Jack yang saat itu tengah menyeduh kopi bergegas menuju pintu. Ketika dibuka si kurir yang memakai jaket hijau langsung tersenyum.


"Paket, Mas,silakan"


Si Kurir langsung menyerahkan paket pada Jack yang belum sempat berkata sepatah katapun.


"Hai, tunggu untuk siapa ini? "


Si Kurir yang sudah hendak pergi memutar badannya kembali.


"Untuk kalian bertiga"


Jawabnya membuat Jack mengeryit.


"siapa yang memesan? "


tanyanya setengah bergumam, namun Jack berfikir mungkin salah satu dari kedua rekannya yang memesan.


"nanti juga tau, kalau begitu saya permisi"


Jack hendak menutup pintu namun diurungkannya karena terdengar suara kurir itu kembali.


"Eh ya, Hati-hati minumannya terlalu panas untuk diminum,mungkin ada sesuatu didalamnya"


Katanya sebelum akhirnya


melangkah pergi terdengar siulan kecil mengisi lorong apartment.


Jack mengedikkan bahu lalu menutup pintu. Meletakkan paket berisi makanan di meja. Ia berencana menunggu kedua rekannya keluar dari kamar, selama menunggu dia melanjutkan menyeduh kopi di dapur.


Alex keluar lebih dulu dari kamar disusul Han setelahnya.


"Sarapan? "


Tanpa ditawari dua kali Alex dan Han langsung menarik kursi, mereka duduk saling berhadapan, sementara Jack duduk diantara keduanya.


"Hmm, terimakasih sudah mau memesankan sarapan"


Ujur Alex tersenyum pada Jack, kebetulan sekali begitu bangun perutnya langsung keroncongan.


"Emm ... kukira diantara kalian tadi yang memesan? "


Mereka saling memandang satu sama lain dan pada akhirnya mengerti bahwa tidak ada diantara mereka yang memesan. lalu siapa?

__ADS_1


"Ah, persetan siapa yang order, yang penting makanan sudah sampai. "


kali ini Alex setuju begitupula dengan Jack.


Jack kemudian membuka makanannya, ada tiga bungkusan makanan, Jack kemudian membagikan pada kedua rekannya dan yang terakhir untuk dirinya. Kemudian saat mengambil minuman, dia berhenti sejenak lalu mencari-cari minuman yang lain, namun ternyata nihil. Dia meletakkan minuman yang dari aromanya tercium kopi yang nikmat di meja. Kemudian mengambil paper bag dan membalikkannya. Han dan Alex langsung mengarti artinya.


Seperti mencium insting persaingan, Alex dan Han langsung menyambar kopi itu. Tangan mereka kini sama-sama mengenggam kopi itu.


"Ladies first."


"Ungkapan itu tidak ada artinya bagiku. "


"Dan aku tidak sudi berbagi denganmu. "


"Kalau begitu cobalah."


Alex menarik kopi itu dan Han menahannya. Terus seperti itu. Keduanya tidak ada yang mau mengalah.


"Tunggu! "


Alex dan Han menatap Jack secara bersamaan.


"Waw, Jack apa sekarang kamu juga jadi seperti dia. "


sindir Alex sambil mendengus pada Han.


"Apa? "


Alex jadi berang bersiap meninju Han.


"Hentikan! "


Jack lalu mengambil kopi itu lalu membawanya ke wastafel.


"Ada apa dengannya? "


Alex menyusul Jack, diikuti Han.


"Apa yang kamu lakukan, Jack? "


Alex heran melihat kelakuan aneh Jack menuangkan kopi ke wastafel, marah pun tidak seharusnya dia melakukan itu, bukan?


Setelah isinya hampir habis, Jack merentangkan telapak tangannya, dan benda kecil hitam pipih jatuh ke tangannya, Jack tersenyum melihat itu. Kini dia tau siapa kurir itu. Pasti utusan dari pimpinan mereka.


sambil tersenyum penuh kemenangan Jack Kemudian menunjukkannya pada kedua rekannya.


"Masih ingin kopi? "

__ADS_1


***


Sambil sarapan Jack melihat isi memory card yang dikirim oleh pimpinan mereka yang berisikan informasi tentang mafia Narkoba yang menjadi target mereka.


"Jaringan mereka sangatlah luas, yang kemaren kita tangkap itu hanyalah salah satu dari sebagian jaringannya saja"


"Bisnis Narkoba memang paling menguntungkan, hah, apa aku jadi mafia narkoba saja yaa, daripada mempertaruhkan nyawa seperti ini? "


"Dan lebih memilih mengorbankan nyawa banyak orang, aku heran kenapa kamu bisa direkrut jadi anggota, kalau rasa kemanusiaan saja kamu tidak punya"


"Hah, itu bukan urusanmu"


"Hei Alex, bukankah kamu berhasil menjadi salah satu diantara mereka, bukankah seharusnya sudah banyak informasi yang kamu dapat? "


"Hah, aku rasa dia tidak dapat informasi apapun. "


"Prostitusi."


Sahut Alex cepat tanpa menghiraukan ejekan Han.


"Prostitusi? "


"Selain Narkoba, mereka juga menjual para gadis-gadis, mereka membujuk gadis-gadis polos dari desa kemudian menjanjikan iming-iming perkerjaan, dan yah akhirnya mereka hanya di ditipu. "


"Jadi kamu salah satunya? "


Ejek Han lagi.


"Apa aku terlihat seperti gadis polos"


"Ah, ya, aku lupa itu, jadi bagaimana kamu bisa lolos dari kegiatan prostitusi kalau begitu? "


"Apa itu penting? "


"Maksudku ... Yah harus ku akui, kamu cukup mengoda ... untuk ukuran om-om"


Alex mendengus.


"Setidaknya kamu mengakui aku punya daya tarik, terimakasih. "


"Jadi sudah berapa om-om yang kamu layani? "


"Aku masih Virgin, tapi kamu tidak harus percaya itu"


Kini Jack juga mendelik, tidak percaya, dia tidak mempermasalahkan bagaimana status Alex perawan atau tidak, namun rasanya hampir mustahil mempertahankan kesucian di tengah-tengah para mafia itu mengingat wajah Alex yang terbilang cukup memikat dan tubuh yang cukup untuk dikatakan ****.


Han dan Jack saling memandang. Alex menghela nafas jengah melihat ekspresi mereka. kemudian dengan malas dia menceritakkannya.

__ADS_1


'Dasar lelaki'


__ADS_2