Istri Barbar (Alexandria Dan Tiga Serangkai)

Istri Barbar (Alexandria Dan Tiga Serangkai)
Bab 17 Mengidam telah usai


__ADS_3

Semakin bertambah bulan semakin hilang rasa mual dan muntah yang dirasakan Alex. Kini dia dapat merasa lebih sehat dan kuat. Dan dapat menyantap makanan apapun.


"Haaaaannn... "


"Apaaaa? "


Han menyahut dari dalam kamar mandi.


"Sedang apa kamu? "


Terdengar suara keran dinyalakan kemudian dimatikan.


"Apa?" tanya Han terlihat keluar dari kamar mandi. "Kamu mau ke kamar mandi? " lanjutnya


"Enggak"


"Terus? "


Alex menyodorkan kedua kakinya dalam posisi duduk disisi ranjang. Han menarik nafas mengerti maksud Alex. Dia kemudian menghampiri Alex dan membantu Alex mengikat tali sepatu.


"Eh,ngomong-ngomong mau kemana pakai sepatu segala? "


Han baru tersadar, dia mendongak pada Alex yang sudah rapi dengan setelah kaos longgar dan celana Jeans khusus ibu Hamil, tentu saja sesuai perjanjian daster yang dibelikan Jack hanya akan dia pakai saat dirumah.


"Mau jalan-jalan, aku bosan didalam terus, temani aku yaa."


Alex memasang wajah imut.


"Apa? yang benar saja, aku baru pulang kerja , Alex, aku capek banget tau"


Han berdiri diikuti Alex.


"Ya sudah aku bisa pergi sendiri"


"Apa? "


kemudian Alex berjalan keluar kamar tidak menghiraukan Han yang sedang mencak-mencak menendang angin dan memanggil-manggilnya.


"Astaga,Bayi macam apa yang ada di perutnya itu."


Han mengomel panjang pendek sambil mengkuti jejak Alex. Setelah menyambar jaket diatas kasur.


***


Suasana festival Pekan Raya Jakarta sangat meriah sore itu. Acara yang diadakan setiap tahun untuk memperingati hari jadi ibu kota Jakarta itu sangat dinanti-nantikan oleh warganya,apalagi acara itu dilaksanakan selama sebulan penuh, Panggung megah yang menyajikan tontonan dari kalangan artis-artis ibu kota sudah berlangsung dari hari pertama. Disepanjang spot yang tersedia terdapat berbagai macam stand makanan, aroma macam kulineran berterbangan mengusik hidung seolah meminta untuk dicicipi. Suasana sore itu sangat ramai,pengunjung dari berbagai kalangan tumpah ruah untuk menikmati festival itu.


"Bang beli satu? "


Alex menyengol tangan Han.


"Dua"


Bisik Alex sembari melotot saat Han menoleh padanya.


"Aku nggak mau"


"Buatku semua"

__ADS_1


"Dasar rakus"


"Tambah satu lagi, bang"


Ujur Han tidak ingin berdebat lagi Si abang tukang es potong mengangguk.


Setelah selesai dengan itu, Han membawa Alex duduk di bangku yang tersedia disana. Sembari menunggu dia melihat sekeliling yang sebenarnya tidak dia minati. Sesekali dia melihat Alex yang dengan lahap menikmati es potong nya dan Han membiarkannya tidak ingin menganggu.Daripada nanti rewel. Akan ebih bagus lagi kalau setelah ini Alex akan meminta pulang. Tapi ternyata tidak. Setelah es potong habis tak bersisa. Alex berdiri dan mulai berjalan lagi. Setelah beberapa meter tukang cilok yang ramai pembeli pun jadi sasaran Alex dan Han tidak mungkin membiarkan Alex berdiri mengantri. Daripada pingsan, nanti malah repot.


'Huh, dasar si4l'


***


"Dua puluh tujuh minggu"


Ryu membaca sebuah hasil USG empat dimensi milik Alex.


"Dia sudah lebih sehat sekarang, kurasa perkara nyidamnya sudah selesai."


Ryu tersenyum mendengar penuturan Jack.


"selesai juga kerepotanmu? "


Jack tertawa ringan mendengar candaan Ryu. Memang benar, akhir-akhir ini Alex sudah bisa lebih leluasa beraktifitas.


"Ya, aku bersyukur, Alhamdullillah"


"Jangan terlalu senang dulu? "


"Apa maksu ... "


Terdengar suara petugas mengingatkan.


"Terimakasih"


Ryu menyodorkan kembali hasil USG itu pada Jack.kemudian dia berdiri dan berjalan bersama petugas.


"Selera makannya mungkin akan meningkat drastis"


Jack menoleh pada Ryu sesaat sebelum akhirnya keluar dari ruangan bersama petugas.


***


Han berjalan sambil mengerutu panjang pendek, tapi kemudian dia berhenti berjalan, karena ternyata Alex tertinggal dibelakang. Alex sedang menoleh kanan kiri mengincar jajanan apa lagi yang akan dia makan kali ini. Huh, rasanya mulutnya ingin terus mengunyah dan mengapa perutnya terasa lapar melulu.


"Aduhh ... kamu ini ngapain, sih, cepatan!"


Karena tidak di gubris. Han berjalan menghampiri dan menarik tangan Alex, agar dia berjalan lebih cepat. Niatnya membawa Alex pergi dari tempat itu sudah bulat.


dia sudah capek dari tadi mengantri di setiap stand makanan.rasanya kakinya pegal luar biasa.


"Han ... "


Panggil seseorang yang berpapasan dengan mereka.melihat siapa yang memanggilnya raut wajah tambah masam. kenapa semua perempuan selalu membuat masalah.


"Hai, Han, bagaimana kabarmu? "


"Baik ..."

__ADS_1


Han menyahuti setengah hati.


"Sudah lama kita tidak bertemu... Wah, apa yang terjadi, Han? "


Langkah Han tertahan untuk pergi dari sana. Mantan teman seranjangnya ternyata masuk dalam kategori nitizen bermulut julid bin nyelekit.


"Apa ini tidak salah, kamu lupa tidak pakai pengaman yaa, atau ... sudah keburu menetes didalam?"


"Hahaha"


Terdengar tawa mengejek dari wanita itu dan kedua temannya melihat kearah perut Alex.


"Bukan urusanmu."


Han menyahut dengan sinis kemudian membawa Alex pergi dari sana. Sudah jadi kebiasaanya untuk tidak lagi berhubungan dengan mantan teman ranjangnya.Baginya cinta satu malam itu sudah cukup.


"Dia itu mantan pacarmu yaa... Lumayan juga... Ganteng"


"Yaaa, begitulah, sayang sekali dia mau dengan wanita seperti itu... Aku tidak tahu kenapa seleranya berubah buruk sekali. "


Kicauan ketiga wanita itu membuat Alex hentikan langkahnya, Han menoleh namun terlambat Alex sudah membalikkan badannya dan berjalan menghampiri ketiga wanita itu.


"Hei... "


Ketiga wanita itu menoleh dan kini berhadapan dengan Alex.


"Astaga, apa yang akan dilakukannya, apa tidak bisa dia tidak merepotkan ku sehari saja. "


Gumam Han menghampiri Alex berniat ingin mengajak Alex pergi.


"Ada apa? "


wanita itu menyahut dengan sinis dan memandang dengan tatapan merendahkan pada Alex.


"Kamu tahu kenapa Han lebih memilihku daripadamu? "


Alex mengatakannya dengan penuh percaya diri.


"Apa maksudmu? "


"Karena benih Han terlalu berharga untuk wanita sepertimu."


"Apa?"


Wanita itu terlihat kesal, namun Alex tidak memberinya kesempatan untuk menjawab.


" Yaaa, kurasa Han cukup pintar untuk membedakan mana wanita yang berkualitas dan mana yang tidak. "


Alex menyeringai kemudian berbalik dan pergi dari sana. Han yang sedari tadi berdiri dibelakangnya memasang raut wajah senang. Apa yang dilakukan Alex barusan itu adalah sebuah kejutan baginya. Setelah menyeringai sinis pada ketiga wanita itu dia lantas berbalik menyusul Alex.


"Ku traktir kamu sampai puas hari ini"


Han merangkul bahu Alex dan mengelus perutnya lembut.


Alex memandang wajah Han sesaat kemudian senyuman manis terukir indah diwajahnya. Alex tidak ingin mengatakan apapun. Namun dia dapat merasakan sikap Han yang begitu hangat padanya.


Senja itu ada perasaan lembut menyentuh hati mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2