
Tiga puluh satu tahun yang lalu....
Pak Chatur sedang mengendong bayi perempuannya yang baru saja dilahirkan pagi hari tadi disebuah Rumah Sakit di kota.
"Cantik sekali anak bapak ini, MasyaAllah."
Bu Asih tampak tersenyum di pembaringan melihat suaminya begitu bahagia mengendong putri mereka. Dia ingat sudah sejak lama suaminya menginginkan seorang anak perempuan setelah memiliki tiga orang putra. Pak Chatur selalu terlihat gemas setiap kali dia melihat balita perempuan yang sedang ditimbang saat posyandu dilaksanakan.
"Kira-kira siapa nama yang bagus untuknya, ya, Bu?"
"Terserah Bapak saja."
Bu Asih menyerahkan sepenuhnya keputusan pemberian nama putrinya pada sang suami.
"Oh, ya, Ibu ingat tidak buku cerita yang kita bacakan pada anak-anak kemaren? ada nama tokoh ksatria wanitanya dibuku itu, sepertinya itu cocok dijadikan nama untuk anak kita."
Bu Asih tampak mengingat-ingat.
"Oh, ya ,pak aku ingat, aku setuju saja kalau itu memang keputusan bapak."
Pak Chatur memandang istrinya dengan lembut lalu menganguk-angguk.
"Baiklah, putriku kamu ku beri nama...."
Tiba-tiba pintu dibuka, Pak Chatur dan Bu Asih serentak menoleh.
"Bapak... Ibuuu... lihat!"
"Ada apa Agni, kenapa teriak-teriak?"
Bu Asih melihat putra ketiganya yang berusia tujuh tahun datang dengan wajah cemberut.
"Ini, Bu, Mas Bayu merusak pedangku."
Agni dengan kesal menunjukkan mainan pedang yang terbuat dari plastik itu telah patah menjadi dua.
"Yaa, salah sendiri, kenapa mengangguku."
Bayu yang baru muncul membela diri.
"Aku tidak menganggu, aku cuma ingin bermain dengan Mas Bayu"
Agni bersikeras bahwa dia tidak bersalah.
"Tapi kamu merusak pazleku dengan pedangmu itu, padahal aku sudah susah payah mengerjakannya."
Bayu memang senang bermain pazel, catur serta permainan lainnya yang mengasah otak, dan saat Bayu sedang sibuk menyusun pazel, Agni masuk ke kamarnya berniat mengajak bermain, namun Bayu menolak karena sedang konsentrasi.Agni yang pada dasarnya sangat aktif iseng memukulkan pedangnya ke arah Bayu, namun berhasil ditangkis olehnya dan tidak sengaja mengenai Pazel, Bayu yang marah spontan mengambil pedang milik Agni dan mematahkannya.
"Aku tidak sengaja."
Agni menjawab dengan sewot.
"Baiklah, aku minta maaf"
"Tidak, Mas Bayu sudah merusak pedangku."
"Tapi kamu kan juga salah."
Pak Chatur dan Bu Asih saling berpandangan mendengarkan aduan kedua putranya. Hal seperti itu bukan pertama kali terjadi. Bayu dan Agni memang terkadang terlibat pertengkaran. Namun Pak Chatur dan Bu Asih selalu memperlakukan anak mereka dengan adil dan tidak pilih kasih.
"Hei, sudah cukup!"
Pak Chatur menengahi kemudian menyerahkan sang bayi pada istrinya.
"Agni, Mas Bayu kan sudah minta maaf, jadi kamu harus memaafkannya, lagipula kamu juga harusnya meminta maaf pada mas Bayu karena tidak sengaja merusak mainannya."
"Tapi pedangku?"
Agni masih terlihat merajuk karena pedang yang baru dia beli tadi pagi rusak.
"Bapak akan coba betulkan, sekarang berbaikanlah dengan Mas Bayu, yaa!"
Pak Chatur mengusap kepala Agni lembut. Lalu Agni menyodorkan tangannya dan disambut oleh Bayu.
__ADS_1
"Aku minta maaf, ya, Mas?
Bayu mengangguk, mereka kemudian berangkulan sambil tertawa.
"Anak Bapak memang hebat."
Pak Chatur memeluk keduanya dengan penuh sayang.
"Kemarilah, lihat adik kalian!"
Bu Asih meminta kedua putranya mendekat.
"Aku tidak mau punya adik perempuan?"
Agni menolak dengan raut wajah tidak suka.
"Mengapa?"
Bu Asih melebarkan matanya
"Perempuan itu cuma bisa merepotkan, seperti teman sekelasku, dia selalu saja merepotkanku, minta tolong ini minta tolong itu"
Pak Chatur dan Bu Asih justru tertawa mendengar alasan putranya itu.
"Pak... Buu...."
Tirtha, putra sulung mereka yang berusia dua belas tahun muncul dengan baju Koko dan sarung lengkap dengan peci. Putra pertamanya itu sangat menyukai buku.Sudah tak terhitung berapa banyak buku yang dibelikan pak Chatur untuk anaknya itu
"Tirtha mau pamit, mau pergi ngaji dulu ke masjid."
"Yaa.."
Tirtha lantas mencium tangan pak Chatur kemudian dia beralih pada Bu Asih. Saat melihat bayi digendong ibunya, Tirtha tersenyum dan mengelus pipi adik perempuannya dengan lembut. Bu Asih membalas mengelus pipi Tirtha dengan penuh kasih. Dia tahu anak lelakinya itu sangat penuh welas asih. Apalagi terhadap adik-adiknya.
"Ayo, kalian berdua ikut Mas, ngaji ke masjid juga"
Bayu dan Agni mengangguk. Namun saat Tirtha akan keluar bersama kedua adiknya tiba-tiba terdengar suara teriakan.
Mendengar suara adik lelakinya,Pak Chatur kemudian keluar kamar.
"Ada apa,Chandra?"
"Ini gawat mas...."
"Ada apa?"
Melihat raut wajah Chandra,adik sekaligus tangan kanannya Pak Chatur tahu pasti telah terjadi sesuatu. Chandra membisikkan sesuatu hal. Raut wajah pak Chatur langsung berubah.
"Chandra, bawa istri dan anak-anakku pergi dari sini!"
"Tidak, Mas, aku akan disini menemanimu."
"Tidak, Chandra, jika terjadi apa-apa padaku, kamu harus menjaga mereka, cepat pergi!"
"Tapi,Mas."
"Ini perintah, Chandra!"
Chandra berpaling dan segera pergi melaksanakan perintah Chatur.
Chatur menghela nafas panjang dan segera keluar. Rupanya telah terjadi pemberontakan diantara warganya, mereka telah mendapatkan provokasi dari seseorang yang ingin menggulingkan kepemimpinannya sebagai kepala desa yang sudah sejak dulu di pimpin secara turun temurun oleh keluarganya dan Chatur adalah keturunan yang ke tujuh dalam silsilah keluarganya.
***
"Chandra, katakan apa yang sebenarnya telah terjadi?"
Tanya Bu Asih pada adik iparnya yang sedang membawa kereta kuda membawa mereka masuk ke dalam hutan.saat itu tanah basah karena gerimis turun membasahi bumi. Bayu memeluk kedua adiknya, dia juga merasa pasti telah terjadi sesuatu.
"Candra?"
Bu Asih bertanya lagi karena Chandra diam saja. Tiba-tiba Candra menghentikan kereta kudanya. Kemudian Chandra menoleh dan menatap keluarga kakaknya secara bergantian kemudian dia tersenyum ganjil. Bu Asih merasa ada sesuatu yang aneh dalam senyum iparnya itu.
"Tenanglah, Mba Asih, kau akan segera mengetahuinya."
__ADS_1
" Apa maksudmu?"
Chandra kemudian turun dari kereta kuda, kemudian muncullah tiga orang dari semak-semak sambil membawa obor. Mereka membawa serta pedang ditangan, Melihat itu firasat Bu Asih bertambah buruk.
***
Saat pak Chatur sampai ke balai desa bersama beberapa pengawal telah terjadi keributan antar warga dan beberapa pegawai yang selama ini bekerja di kantor balai desa. Bahkan dari mereka telah ada yang terluka akibat ada warga yang marah dan melakukan penyerangan secara brutal dengan senjata tajam dan merusak fasilitas bahkan mereka juga membakar kantor balai desa. Beruntung saat itu hujan turun rintik-rintik jadi apinya tidak membesar dan merambat kemana-mana.
"Ada apa ini? saya mohon tenang semuanya!"
Pak Chatur berusaha menenangkan warganya yang tersulut amarah.
"Itu dia orangnya, yang telah mengelapkan dana desa, dia telah memakan uang kita, pantas saja pembangunan sekolah dan masjid tidak selesai-selesai."
Salah seorang yang berdiri paling depan menyuarakan kekesalannya,dan disambut oleh yang lainnya.
"Itu tidak benar, tenang, kita bisa bicarakan baik-baik, tidak perlu sampai merusak fasilitas kantor desa begini, lagipula semua berkas-berkas ada disana semua"
Melihat kondisi kantor balai desa pasti berkas-berkas yang berada didalam sudah rusak atau malah hangus terbakar.Entahlah.
"Berkas yang sudah bapak manipulasi untuk membodohi kami maksudnya? Pak Chatur sudah membohongi kami semua"
"Apa maksud kalian? aku tidak melakukan pengelapan dana apapun, ini semua hanya fitnah."
"Halah, kami sudah tidak percaya, pokoknya kami mau bapak mundur sebagian kepala desa ini."
"Aku tidak akan mundur karena aku tidak merasa melakukan kesalahan."
"Kalau bapak tidak mau mundur secara sukarela maka akan kami paksa."
"Betul....betul..."
Terdengar suara warga yang lain mengikuti.Mereka bersiap akan menyerang pak Chatur. Pengawal Pak Chatur bersiap untuk melawan. Namun Pak Chatur tampak menahan mereka
"Tunggu! ku akan membuktikan bahwa aku tidak bersalah"
"Mana buktinya?"
"Ini buktinya."
Samson, kepala pengawal setia pak Chatur yang berbadan tinggi dan berotot besar datang membawa seseorang bersamanya dengan wajah ketakutan. Samson memegang lengan orang itu dengan kuat sementara tangannya yang lain memegang sebuah pedang.
"Indra..."
Gumam pak Chatur melihat salah satu pegawai administrasi dikantor desa itu membungkuk ketakutan, dia kini berdiri dihadapannya. Pasalnya sebelum berangkat ke balai desa, Pak Chatur telah meminta pada Samson untuk menyelidiki kasus ini, karena pak Chatur yakin pasti ada orang yang menjadi dalang dibalik semua ini. Berkat kecerdikan Samson tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk menemukan pelakunya. Tentu saja sebagai kepala pengawal, dia mempunyai pasukan rahasia yang kinerjanya tidak diragukan lagi.
"Maafkan saya, Pak...maafkan saya..."
Indra menangkupkan kedua tangannya dengan linangan air mata.
"Katakan!"
Pak Chatur menarik nafas mencoba bersabar, walaupun dia sangat membenci seorang penghianatan.
"Saya cuma disuruh pak... maafkan saya."
"Siapa?"
Pak Chatur mengepalkan tangannya.
"Saya diminta untuk memanipulasi data laporan keuangan kemudian menyebarkan berita bohong pada warga bahwa pak Chatur telah melakukan penggelapan dana... maafkan saya, Pak, saya diancam, kalau saya tidak mau melakukannya saya akan dibunuh, Pak, maafkan saya!"
Warga yang mendengar itu saling berpandangan kemudian mereka telah sadar bahwa mereka telah diprovokasi oleh seseorang. Penyesalan menghampiri perasaan mereka.
"Katakan siapa orangnya?"
Kali ini kesabaran pak Chatur telah sirna, dia mengambil pedang dari salah satu pengawalnya lalu menodongkannya di leher Indra.
"Pak-pak... Pak Chandra."
Pak Chatur langsung syok mendengar nama adik kandungnya disebut seolah tidak percaya, dia kemudian terlihat agak limbung, pedang ditangannya jatuh ke tanah. Pengawal yang berdiri dibelakangnya tampak memegangi tubuhnya. Tentu saja dia tidak percaya, bagiamana mungkin adik kandungnya sendiri yang telah melakukan rencana keji untuk menggulingkan kepemimpinannya. Apakah ikatan darah itu tidak ada artinya sama sekali?
"Chan-Chandra..."
__ADS_1