
Sejak hari itu di kampus Bella benar benar selalu menghindari Jovan dan lebih sering menyendiri di perpustakaan.
Hingga memasuki minggu dimana ujian tengah semester berlangsung, semua tampak lancar dan baik baik saja. Sejak hari pertama ujian dimulai Bella benar benar mempersiapkan diri dengan maksimal.
Bella beruntung karena geng Bully sudah tidak mendekatinya dan mengganggu lagi tapi, surat surat ancaman masih terus Bella terima dan semakin menjadi jadi.
Bella berusaha tetap mengabaikan ancaman yang entah datang dari mana, baginya saat ini hanyalah dirinya harus fokus pada target nilai yang harus dicapai agar bisa bertahan di kampus.
Mengingat dirinya sudah tidak memiliki jaminan beasiswa dan namanya sudah tercoreng di kalangan para pemegang saham utama.
Bella harus berusaha menjaga nama baik keluarga nya, karena sampai detik ini orang tua Bella tidak tahu jika Bella terjebak dalam pusara masalah di dalam lingkungan kampus.
Setiap sang ayah menelpon pasti Bella akan mengatakan jika semua baik baik saja. Tidak sedikit pun sang ayah mengetahui jika sebenarnya Bella mengalami hari hari yang sulit di kampus.
Bella melakukan itu karena dirinya tidak ingin orang tua nya khawatir, mengingat perusahaan keluarga masih belum stabil dan Bella tidak ingin semakin membebani orang tua nya.
Sekarang ini adalah hari terakhir ujian tengah semester, Bella bisa menyelesaikan kertas ujian lebih cepat dari yang lain. Setelah mengumpulkan kertas ujian Bella keluar dari dalam kelas hendak menghabiskan sisa waktu di perpustakaan.
Bagi Bella tidak ada tempat yang paling aman di kampus selain perpustakaan.
Saat tengah berjalan di lorong kampus, ponsel Bella berdering dan ternyata itu adalah Jovan sang dosen sekaligus tunangan yang beberapa hari ini dia hindari.
Bella mengerinyitkan kening heran, tumben dosen itu menelpon.
Ck~ sudah aku bilang tidak mau diganggu ish.
Bella memilih mengabaikan panggilan seluler dari Jovan lalu masuk ke dalam gedung perpustakaan.
Bella larut dalam buku yang dia baca sampai seseorang menepuk pundak nya pelan dan ternyata orang itu adalah Jovan.
__ADS_1
"Ke ruangan saya sekarang atau~." ucap Jovan pelan agak berbisik agar tidak menarik perhatian.
Raut muka Jovan tampak serius, rahangnya mengeras seperti dia juga menahan jengkel lantaran Bella tidak mengangkat panggilan nya.
"Kalau saya gak mau ?" jawab Bella santai sambil tetap membaca buku.
"Ingat perjanjian kita Bella, jangan meremehkan saya.Saya tunggu di ruangan saya lima belas menit dari sekarang atau bersiaplah seantero kampus akan mengenal kamu sebagai calon istri Dosen Jovan Gilbert." Jovan menepuk pundak Bella pelan sebanyak dua kali lalu pergi begitu saja.
Langkah kaki Jovan tampak tegas berwibawa dengan wajah tampan yang kali ini terlihat dingin dan arogan.
Beruntung perpustakaan hanya berisi sedikit pengunjung karena memang belum jam istirahat.
Bella mendengus kesal merasa dirinya benar benar masuk perangkap dosen, aku benar benar terjebak dan tidak bisa berkutik, padahal beberapa hari tanpa gangguan Pak Jovan adalah hari terbaik di dalam hidupku, huft~
Bella mengemasi barang barangnya, mengembalikan buku kembali di rak lalu gegas menuju ke ruangan Jovan.
Lagi lagi seseorang mengabadikan setiap momen Bella yang kali ini momen tersebut adalah ketika Bella sedang membuka pintu dan masuk ke ruangan dosen.
"Duduklah " ucap Jovan pelan sambil mengarahkan Bella untuk duduk disebuah sofa di dekat nya.
Setelah Bella duduk Jovan melanjutkan ucapannya. "Pernikahan kita tinggal menghitung jam, dan saya ingin menunjukan perjanjian diatas kertas seperti yang kita sepakati tempo hari. Bacalah dengan seksama lalu tanda tangan. Ingat meski ini hanya pernikahan karena kesepakatan namun selama masa kontrak saya tidak akan main main kalau kamu sampai melanggar poin yang tertera." Jovan menggeser sebuah map berisi berkas perjanjian ke hadapan Bella
Bella menerima dengan ragu kemudian membaca setiap lembar kalimat yang tertulis dengan teliti,secara keseluruhan sebenarnya tidak ada hal yang memberatkan Bella jika menjadi istri seorang Jovan Gilbert namun,
Bukan Bella namanya jika tidak memprotes keputusan Jovan. Dengan tegas Bella menutup berkas perjanjian lalu menggeser kembali ke hadapan Jovan.
"Saya mau protes ." ucap Bella tegas dengan tatapan tajam ke arah Jovan.
Jovan melirik sambil mengangkat satu alisnya, "Bagian mana yang kamu ingin protes ?"
__ADS_1
Bella menarik nafasnya dalam dalam kemudian berucap, "Saya tidak ingin keluarga terutama orang tua saya mengetahui hal ini. "
"Kamu ingin menikah tanpa di hadiri orang tua dan keluarga kamu , begitu heum ?" tanya Jovan.
"Ini cuma pernikahan karena kesepakatan kan pak, jadi saya hanya mau tidak ada satu orang pun yang tahu. Lagipula perjanjian ini hanya setahun , dan setelah itu saya menginginkan kehidupan saya kembali normal seperti dulu." ucapan Bella membuat Jovan semakin mengeraskan rahangnya.
"Kamu akan menyulitkan diri kamu sendiri Bella. Lalu alasan apa lagi yang harus kita buat agar keluarga saya tidak curiga kenapa calon besan tidak mau menghadiri acara pernikahan anak mereka heum ?!" Jovan kembali melempar pertanyaan kepada Bella.
"Buat saja alasan, seperti saat kita tunangan tempo hari. Bapak kan jagonya bikin alasan." ucapan Bella terdengar tak acuh, membuat Jovan lagi lagi menghela nafasnya panjang lalu memutuskan,
"Baiklah, anggap hal itu beres. Saya akan atur semuanya tapi saya minta satu hal. Kamu harus menjadi istri yang benar benar penuh cinta, perhatian dan romantis di hadapan keluarga besar saya. Jangan sampai kamu mengacau atau tidak segan saya akan menghukum kamu ." ucap Jovan tegas mengingatkan.
"Apa hukuman kalau saya melakukan kesalahan ?" tanya Bella penasaran.
"Tentu saja kamu harus membayar ganti rugi sepuluh kali lipat dari uang yang sudah saya gelontorkan untuk membantu kamu menyelesaikan masalah. Atau, kamu bisa meminta hukuman lain yang lebih ringan seperti ~" Jovan menatap intens ke arah Bella yang juga membalas tatapannya.
"Seperti apa ?" tanya Bella begitu saja semakin penasaran dengan sorot netra Jovan yang sulit ditebak.
"Atau kamu harus menerima hukuman dengan melayani saya di atas ranjang, selain itu hukuman yang ringan tetapi juga nikmat bersamaan bukan ? Bagaimana heum ?" ucap Jovan dengan senyum smirk yang sulit diartikan.
"Bapak benar benar pria mesum !!" Bella memukul meja pelan tapi terdengar keras.
Lagi lagi Jovan berhasil menjerat Bella Anderson masuk semakin ke dalam permainan nya.
"Dalam kertas itu tidak ada keterangan kita harus melakukan hubungan badan suami istri, artinya kalau bapak melakukan itu kepada saya maka bapak yang melanggar perjanjian!" ucap Bella ketus.
"Tidak masalah jika saya melanggar perjanjian, toh saya pasti bertanggung jawab apalagi jika hal itu sampai terjadi artinya kamu akan terikat selamanya dengan saya. " Jovan tersenyum singkat sebelum kembali ke mode datar.
"Bapak sangat menyebalkan !" Bella terpaksa meraih ballpoint yang diulurkan Jovan lalu membubuhkan tanda tangan dengan kesal.
__ADS_1
"Nice, sekarang persiapkan dirimu, calon istriku." Jovan terkekeh kecil kala membereskan map berisi surat perjanjian kemudian mempersilahkan Bella keluar dari ruangannya.