Istri Cupu Dosen Tampan

Istri Cupu Dosen Tampan
BAB 20 SERANGAN PANIK


__ADS_3

Karena panik Jovan gegas membawa Bella pulang ke apartemen terdekat miliknya , setiap langkah yang diambil Jovan mendapatkan sorotan dari setiap murid yang masih berada di area sekitar kampus.


Dalam perjalanan tidak lupa Jovan menghubungi dokter keluarga agar segera meluncur ke apartemen.


"Temui aku di apartemen sepuluh menit dari sekarang, istriku butuh bantuan." ucap Jovan singkat jelas dan padat dalam sambungan telepon dengan kondisi panik.


Setelah menutup panggilan, Jovan melempar begitu saja ponsel nya dan kembali fokus mengemudi.


Fokus Jovan saat ini adalah Bella, ya sejak dari kampus sampai tiba di apartemen yang hanya berjarak tempuh sepuluh menit menggunakan mobil Bella belum juga sadarkan diri.


Saat ini Bella terbaring di atas ranjang dengan Jovan yang bekali kali mengusap pipi Bella agar merespon.


Tampak bola mata Bella bergerak ke kiri dan ke kanan tapi masih belum mau membuka mata.


"Bella, sadarlah~" ucap Jovan lirih pelan sekali di dekat wajah Bella.


Satu kecupan singkat mendarat di pucuk kepala Bella , ada rasa khawatir yang sangat menyelimuti perasaan Jovan saat ini.


Bersamaan dengan hal itu,bell pintu apartemen berbunyi beberapa kali. Jovan gegas membukakan pintu dan benar saja itu adalah dokter keluarga yang tadi di telpon.


"Istriku ada di kamar, lakukan apapun agar dia kembali sadar. Ayo ikut aku." Jovan mengarahkan dokter wanita bernama Joey masuk ke dalam kamar.


"Aku akan lakukan pemeriksaan dan sembari itu aku minta tolong kamu siapkan minuman air putih hangat di campur lemon dan sedikit madu ." dokter Joey meletakkan tas peralatan dokternya dan mulai melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada Bella.


Sementara dokter Joey memeriksa Bella, Jovan tampak berkutat di dapur menyiapkan apa yang dokter Joey butuhkan.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, saat ini Jovan sudah kembali berada di dalam kamar setelah meletakkan minuman hangat yang dimaksud dokter Joey di sebuah meja kecil dekat jendela.


"Istrimu pingsan karena serangan panik. Dia pasti merasakan sangat terancam atau hal buruk yang dia takut akan menyerangnya. Apa kamu berniat untuk menceritakan kejadian apa yang dialami istrimu tersebut Jovan ?" ucap dokter Joey setelah memasang sekantong infus dan saat ini berdiri di dekat Jovan.


"Tidak ada yang harus kamu ketahui Joey. Apa ada hal lain yang harus aku lakukan ? Jika tidak ada maka sebaiknya kamu lekas pergi." ucap Jovan tanpa basa basi .


Tentu saja hal ini tidak dianggap serius oleh dokter Joey yang notabene adalah teman Jovan sejak kecil.


Mereka tumbuh bersama dan keduanya sama sama berasal dari keluarga konglomerat yang disegani di kota New Jersey.


"Dia sudah siuman hanya saja ada trauma yang membuat istrimu enggan merespon sekitar. Tetap dampingi dia dan berikan minuman hangat itu untuk menenangkan pikiran nya. Jangan paksa dia mengingat hal yang membuat dirinya trauma oke. Aku akan kembali ke rumah sakit karena ada pasien lain yang harus aku tangani.Jika ada apa apa hubungi aku , bye." dokter Joey pamit setelah membereskan semua peralatan nya.


Jovan merespon ucapan dokter Joey dengan anggukan, "Thanks Joey."


Kemudian Jovan mengantar dokter Joey sampai pintu apartemen, setelah itu Jovan kembali masuk ke dalam kamar tempat Bella terbaring lemah saat ini.


"Habiskan ini lalu istirahat oke, jangan memikirkan apapun Bella, semua akan baik baik saja aku berjanji ." ucap Jovan lirih sambil menyuapkan sesendok demi sesendok air hangat lemon yang di campur madu.


Bella tidak merespon, tapi dia menurut apa kata Jovan, setelah menghabiskan setengah dari gelas berisi air lemon di campur madu Bella kembali berbaring dan mencoba untuk beristirahat.


Setelah Jovan memastikan Bella kembali beristirahat dengan tenang, Jovan sendiri juga tidak lantas meninggalkan kamar tersebut melainkan melanjutkan pekerjaan nya sambil menunggui Bella.


Berjam jam lamanya Jovan habiskan waktu untuk berkutat dengan laptop di pangkuannya. Saat ini Jovan sedang mempersiapkan tugas untuk mata kuliah selama beberapa hari ke depan karena Jovan sendiri sudah memutuskan untuk tidak ke kampus sampai kondisi Bella stabil.


Setelah selesai menyiapkan tugas , Jovan menghubungi seorang pengacara kepercayaan keluarga Gilbert.

__ADS_1


Dengan tegas Jovan menginginkan para pelaku pelecehan terhadap Bella baik yang terlibat langsung atau pun tidak langsung harus mendapatkan hukuman seberat-beratnya. Jovan tidak peduli seandainya benar dugaan nya jika Michelle juga terlibat.


Dengan kekuasaan nama besar keluarga Gilbert Jovan yakin Michelle tidak akan bisa lolos dari hukuman meski keluarga nya membayar tim kuasa hukum termahal di dunia.


"Aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang sudah menyakiti Bella." Jovan masih merasa geram dan benar benar emosi saat teringat video yang tersebar di kampus hari ini.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas menjelang tengah malam, dan Jovan memutuskan untuk tidur di samping Bella, sekedar ingin memastikan istrinya tidak kembali terkena serangan panik.


Jovan tidur di sisi ranjang samping Bella sambil menggenggam satu tangan Bella.


Secara perlahan namun pasti, Jovan pun terlelap dan kedua sama sama larut dalam alam mimpi sampai pagi.


Sementara itu ,


Di dalam sebuah ruangan yang gelap dan minim pencahayaan, terdapat seorang pria yang sedang mencambuk dirinya sendiri.


Ctass~


Ctass~


Ctass~


"Mereka melihat tubuhmu Bella ,mereka melihat apa yang seharusnya menjadi milikku !!"


Suara cambuk menggema di dalam ruangan, pria yang berlutut sambil bertelanjang dada itu terluka di bagian punggung, setiap cambukan yang dia lakukan sendiri tepat menggores melukai tubuhnya.

__ADS_1


"Berani sekali dosen itu membawamu pergi , padahal aku yang lebih dulu datang menyelamatkan kamu Bella~"


Suara penyesalan disertai rasa marah membuat pria itu terus melukis dirinya karena menganggap dirinya tidak becus menjaga Bella sang pujaan hati .


__ADS_2