
Saat ini Jovan dan Bella sedang berada di ruangan lain, lebih tepatnya di dalam kamar Jovan yang terletak di lantai dua penthouse.
Sengaja Jovan tadi menarik Bella saat wanita itu hampir saja mengatakan kalau mereka tidak ada hubungan kepada sang mommy .
Mommy Merry sendiri saat ini masih berada di dapur. Beliau sedang menyiapkan menu makan malam dadakan, entah ada rencana apa di balik sikap manis Mommy Merry yang tiba tiba ingin memasak makan malam untuk sang putra padahal, bisa dihitung pakai jari kapan sang mommy berkutat di dapur karena di mansion Gilbert sendiri sudah ada banyak pelayan.
Sikap baik sang mommy kali ini terbilang anti mainstream alias diluar kebiasaannya sebagainya seorang nyonya besar.
Sementara itu,
Rencana Jovan saat ini adalah bagaimana menyusun strategi agar sang mommy tidak terus menerus mengusik kehidupan pribadi nya.
"Kamu bantu saya, saya akan bantu kamu bagaimana ?" ucap Jovan menahan panik , saat ini Jovan mondar mandir di hadapan Bella.
"Bisa kah Pak Jovan diam ! Dari tadi bolak balik kayak setrikaan !!" Bella tidak suka dengan situasi seperti ini. Rasanya tidak benar dan dirinya bertekad harus mengatakan yang sebenarnya agar tidak terjadi kesalah pahaman yang berlarut- larut .
Keduanya kini duduk di tepi ranjang dengan Bella yang masih kekeuh ingin mengatakan kepada orang tua Jovan jika ini hanya salah paham.
"Saya harus mengatakan yang sebenarnya kepada ibunya Pak Jovan." ucap Bella bernada datar tapi serius.
"Jangan katakan hal yang sebenarnya Bella, saya sudah terlanjur bilang jika kamu adalah kekasih saya. Kamu harus bantu saya sekali ini saja, please.." kata Jovan sedikit mengiba.
"Apa untungnya bagi saya kalau bantuin bapak ? ada juga saya yang bakal rugi banyak pak, cih." Bella mendengus kesal membuang muka.
"Tidak akan ada yang dirugikan, kamu butuh uang untuk biaya kuliah dan ganti rugi ke Michele. Saya butuh calon istri supaya orang tua saya tidak terus terusan merancang perjodohan yang tidak saya inginkan. Kita akan melakukan simbiosis mutualisme, sama sama menguntungkan dan tidak ada yang akan di rugikan." ucap Jovan lagi kali ini terdengar lebih mengiba dari sebelumnya.
"Bapak pikir saya mau nikah sama bapak ? ENGGAK !! enak saja mau jadiin saya calon istri, BIG NO !! " lagi lagi Bella berucap ketus sambil menyilangkan kedua tangannya disertai tatapan kesal kearah Jovan.
Bukannya munafik ,meskipun Jovan benar benar pria yang menarik secara fisik maupun materi tetapi Bella sendiri masih terlalu muda untuk memikirkan perkara pernikahan diusianya yang masih sangat muda bahkan belum genap dua puluh tahun .
"Kita bikin perjanjian, bagaimana heum ?" bujuk Jovan tak gentar, reaksi penolakan Bella seperti tidak ada artinya karena saat ini Jovan sangat kekeuh harus mendapatkan persetujuan Bella untuk di ajak bekerja sama.
__ADS_1
Bella mengangkat satu alisnya kala mendengar penuturan Jovan , kemudian berkata, "Apa bapak sudah gila ?!!"
Baru saja Jovan ingin mendebat Bella saat tiba tiba terdengar suara ponsel yang ternyata adalah,
Ddrrttt..
Ddrrtt..
Ddrrtt..
"Itu nada dering ponsel saya , dimana ponsel saya pak !!?" Bella hafal betul nada dering tersebut adalah nada dering khusus saat sang ayah menelpon.
Jovan mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana, lalu bukannya menyerahkan kepada Bella justru Jovan yang menggeser tombol hijau pada layar agar tersambung pada panggilan suara yang ternyata adalah ayah Bella.
"Halo ayahnya Bella.." ucap Jovan santai tanpa rasa berdosa sedikit pun. Tidak lupa senyum misterius yang membuatku Bella was was.
"Jangan bicara yang bukan bukan !!' bibir Bella berucap tanpa mengeluarkan suara sambil menatap mendelik ke arah Jovan yang masih dengan ekspresi misterius .
Jovan seakan tidak merespon Bella dan lebih fokus bercakap cakap dengan ayah Bella yang saat ini sedang mengucapkan sesuatu berita yang serius.
Bella semakin mengepalkan tangan frustrasi saat hendak merebut ponsel dari tangan Jovan namun di halangi oleh tubuh atletis pria itu.
Bella memang tidak terlalu tinggi, jika di sandingkan dengan Jovan maka tinggi tubuh Bella hanya sampai batas pundak Jovan saja .
Tampak Jovan terus fokus menyimak apa yang di katakan oleh ayah Bella diujung sambungan sambil sesekali menghindari Bella yang ingin merebut ponselnya.
Jovan merespon apa yang dikatakan oleh ayah Bella dengan kata kata bijak yang menangkan, seolah berkata jika sang ayah tidak perlu khawatir berlebihan.
Sekian menit berlalu,
Jovan tampak ramah kala berbicara dengan ayah Bella dan seperti nya ayah Bella juga berbicara banyak hal kepada Jovan tentang Bella.
__ADS_1
"Baik, saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan. " ucapan terakhir Jovan sepersekian detik sebelum mematikan panggilan seluler dari ayah Bella.
Bella yang sejak tadi gagal merebut ponsel kini menatap tajam ke arah Jovan yang dengan senyum malaikat nya menyodorkan kembali ponsel pada pemilik nya.
"Ayah kamu pria yang ramah. Sangat humble dan apa kamu tidak penasaran dengan apa yang kami bicarakan tadi Bella ?" Jovan nyengir kuda usai menyerahkan ponselnya kepada Bella lalu kembali bersedekap tangan menatap Bella lebih tajam .
"Bukan urusan Bapak !! tahu gak kalau bapak itu sudah terlalu mencampuri privasi saya. Dan saya gak suka sikap Bapak Jovan yang sok paling mengerti saya !!" Bella melangkahkan kakinya cepat ke arah pintu namun Jovan bergerak lebih cepat menghalangi langkah Bella.
"Kamu cuma bisa keluar dari kamar ini jika bersedia membantu saya, atau perlu saya pakai cara paksa agar kamu tidak menolak tawaran saya heum !?" Jovan benar benar membuat Bella frustrasi.
"Menyebalkan !!Aarrhh !!" Bella mengepalkan tangannya ke udara sambil terus merutuki pria di hadapannya.
Bella dan Jovan saling beradu pandang, Bella dengan emosi dan Jovan dengan tatapan tajamnya saat tiba tiba terdapat suara menyeletuk dari arah lantai bawah.
"Makan malam siap !!" suara Mommy Merry terdengar lantang memanggil para penghuni penthouse untuk makan malam bersama.
"Yes mom, kami akan segera turun !" jawab Jovan merespon teriakan sang mommy dengan suara yang tidak kalah lantang.
"Saya mau pulang !!" bentak Bella saat Jovan tidak bergeming dari posisi berdiri menghalangi pintu.
"Saya akan antar kamu pulang, jawab dulu kalau kamu bersedia membantu saya." kata Jovan mode memaksa.
Netra keduanya saling menatap dan seperti mendalami isi pikiran satu sama lain.
Karena sang putra dan kekasihnya tak kunjung turun maka Mommy Merry hendak menghampiri kamar Jovan yang berada di lantai atas ,namun niat itu terurungkan dan raut wajah Mommy Merry tampak tersenyum senang kala melihat sang putra terlebih dahulu menuruni anak tangga bersama kekasihnya.
Sang putra tampak menggandeng tangan sang kekasih dengan mesra, raut muka keduanya tampak bahagia dan hal itu tentu sangat membuat Mommy Merry merasa lega dan bahagia, akhirnya keinginan untuk melihat sang putra menikah akan terwujud sebentar lagi.
Makan malam berlangsung dengan tenang, ketiga orang tersebut tampak menikmati makan malam yang disajikan tanpa ada suara berisik selain sendok dan garpu yang beradu diatas piring.
"Mommy sudah selesai, selesaikan makan kalian lalu temui Mommy di ruang keluarga, oke ? " ucap Mommy Merry yang beranjak dari kursi nya hendak meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
Bella dan Jovan sama sama merespon dengan senyum lalu mengangguk tanda setuju lalu, saat Mommy Merry sudah tidak tampak keduanya saling melempar pandang lalu sama sama menghela nafas panjang,
Huft~ akting yang sempurna.