
Mansion yang bertengger gagah di tengah perbukitan dengan pengamanan berlapis adalah milik seorang Luckas Antonio. Luckas yang sebelumnya hanyalah seorang bodyguard yang bertugas khusus mengawal Michelle ternyata adalah seorang bos mafia yang baru di lantik beberapa bulan yang lalu sesuai isi wasiat mendiang sang kakek.
Luckas melangkah kan kaki jenjangnya memasuki sebuah ruangan yang merupakan ruang kerja sang kakek dulunya. Ruangan khusus bos mafia yang menguasai seperempat wilayah negera bagian barat daya benua Amerika.
Huke menyambut kedatangan Luckas kemudian mempersilahkan sang bos untuk duduk di kursi kebesaran karena pertemuan akan segera di mulai.
"Yang hadir di ruangan ini adalah beberapa perwakilan dari anak buah kakek anda dahulu tuan , sebagian lagi memilih untuk hengkang keluar dari organisasi. " ucap Huke sambil menyerahkan sebuah map berisi dokumen organisasi mafioso peninggalan sang kakek .
Luckas membaca isi yang terkandung dalam berkas tersebut kemudian netra setajam elang itu memindai seluruh yang hadir di dalam ruangan saat ini yang berjumlah lebih dari dua puluh orang. Setelah itu Luckas menarik nafasnya dalam dan berkata,
"Aku mengerti tidak semua orang bisa menerima aku sebagai pengganti kakek. Tapi meski begitu peraturan tetap berlaku, aku tidak akan mengubah apapun yang sudah kakekku bangun sejak belasan tahun yang lalu. Dalam hal ini aku juga akan mengambil keputusan yang sama seperti mendiang kakekku, mereka yang membelot akan dianggap musuh dan tidak akan di ampuni !" ucap Luckas dingin dan tegas dengan sorot mata tajam ke depan menatap secara langsung.
Para anak buah yang hadir bisa merasakan ketegasan pemimpin baru mereka. Atmosfer ruangan terasa sesak bahkan suara nafas orang yang berdiri di samping pun terdengar keras di indera pendengaran.
Hening terasa, tidak ada sedikit pun suara yang terucap kala sang bos mafia mengucapkan titahnya.
"Pastikan semua yang datang malam ini menanda tangani kertas perjanjian disertai cap darah sebagai bukti sumpah setia sampai akhir pada organisasi mafia Antonio." ucap Luckas dingin tanpa ekspresi.
"Siap laksanakan tuan." ucap Huke penuh hormat.
Selanjutnya Huke mendata ulang setiap orang yang masih setia pada kelompok Mafioso Antonio. Terutama mereka yang hadir malam ini harus membubuhkan tanda tangan dan sumpah kesetiaan dengan darah mereka diatas stempel organisasi.
__ADS_1
Luckas juga menitahkan setiap pemimpin wilayah yang hadir agar terus memperluas kekuasaan dan memastikan jika bertemu para pembelot tidak ada pengampunan kecuali kematian mereka.
"Pembelot harus mati. Jika kalian tidak menghukum para pembelot maka aku sendiri yang akan menghukum kalian. Ingat, nyawa kalian adalah milik organisasi mafia Antonio ! Dan aku tidak akan segan meski kalian jauh lebih tua dariku, MENGERTI ?!!" ucapan Luckas terdengar bagai ultimatum yang harus di patuhi.
"MENGERTI TUAN !!" ucap para hadirin serentak.
Banyak para perwakilan yang hadir awalnya meremehkan ketegasan Luckas yang masih terlalu muda untuk menjabat sebagai seorang bos mafia.
Mereka kebanyakan berusia hampir setengah abad , meski ada juga yang berusia sepertiga abad beberapa tahun lebih tua di banding Luckas.
Pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam tersebut diakhiri dengan kata sepakat. Sesuai dengan apa yang di harapkan Luckas.
"Sudah tuan. Tapi nona Michelle tidak ingin di ganggu jadi pelayan hanya menunggu i diluar kamar." jawab Huke bernada sopan sambil berjalan mensejajarkan.
"Hhmm. Kapan identitas baru Michelle selesai ? Aku tidak ingin dia di temukan. " kata Luckas.
"Anak buah kita sudah berhasil menghapus semua data anda dan Nona Michelle tuan. Mereka tidak akan bisa melacak ataupun mengakses keberadaan anda dan nona Michelle. Untuk identitas baru nona Michelle akan siap dalam dua hari." penuturan Huke membuat Luckas menghela nafas panjang lalu berpaling menatap nya.
"Cukup untuk hari ini, aku akan istirahat dan jangan lupa jadwalku untuk esok hari." ucap Luckas saat tiba di depan pintu kamarnya.
"Siap Tuan Luckas." Huke memberi hormat sampai bosnya tersebut masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Sedangkan Michelle yang sejak tadi tidak ingin di ganggu, kini sedang berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.
Dengan hati hati Michelle memutar keran shower air hangat, setelah mendapatkan tekanan air yang sesuai Michelle mulai menanggalkan satu persatu kain yang menutupi tubuhnya. Jujur saja Michelle merasa sangat lengket dan aroma sisa rumah sakit terasa mengganggu.
Tanpa ragu Michelle mulai membersihkan tubuhnya, menggosok pelan dan hati hati setiap bagian tubuh sambil sedikit menahan nyeri.
Suara gemericik air terdengar begitu nyaring bagai melodi yang mengalun harmonis . Michelle masih enggan beranjak dan justru sedikit berlama lama menikmati terpaan air shower pada tubuh telanjangnya .
Luckas yang kini berada di dalam kamarnya tampak menatap serius ke arah layar laptop. Netra beralis tebal itu tampak tidak berkedip menyaksikan apa yang tampak di dalam layar monitor laptopnya.
Sambil duduk bersandar pada dashboard ranjang Luckas mengamati setiap pergerakan Michelle yang terekam kamera cctv.
Berkali kali Luckas kesulitan menelan ludahnya setiap kali Michelle membalik tubuhnya menghadap kamera. Michelle yang sama sekali tidak menyadari jika setiap sudut kamarnya terpasang kamera pengintai tampak santai biasa saja.
Hanya Luckas yang memiliki akses mengintai kamera cctv di kamar Michelle. Tubuh Michelle memang sangat terawat, Luckas cukup sering menatap tubuh seksi Michelle setiap mengurus sang nona muda yang mabuk saat di klub.Meski begitu Luckas masih sangat bisa menahan diri untuk tidak menjamah tubuh wanita idamannya sebelum sah dalam pernikahan.
Rencana Luckas tentu saja mengikat Michelle dalam pernikahan. Luckas tidak butuh persetujuan siapa pun karena apa yang dia inginkan pasti akan dia dapatkan.
Melihat dalam layar monitor jika Michelle saat ini mulai membaringkan diri di balik selimut, Luckas meletakkan laptop kemudian ikut berbaring melalukan hal yang sama seperti Michelle.
Hingga keesokan harinya..
__ADS_1