Istri Cupu Dosen Tampan

Istri Cupu Dosen Tampan
BAB 30 KECELAKAAN


__ADS_3

Cciiitt~


BRAKK !!


Sebuah mobil mengalami kecelakaan hebat tepat beberapa meter dari tempat mobil Jovan berada. Sontak Bella panik ketakutan lantaran mobil box sampai terbakar.


Bella memejamkan mata sambil memalingkan wajah saat kobaran api semakin membesar. Setelah itu Bella berinisiatif untuk memeriksa situasi di sekitar lokasi kejadian.


"Pak Jovan tunggu disini biar aku cek situasi sebentar oke. " Bella inisiatif untuk turun dari mobil dan ikut memeriksa situasi sama seperti pengendara lain yang mengerumuni tempat kejadian.


"Kita tidak perlu melakukan itu~" Jovan yang ingin melarang pun hanya bisa menggeleng kepala melihat sang istri dari dalam mobil.


Seorang polisi dengan sigap memadamkan api dari mobil box menggunakan alat pemadam darurat. Supir mobil box tampak selamat usai berhasil melarikan diri beberapa detik sebelum mobil terbakar.


Di sisi lain tampak sebuah mobil ringsek dengan asap yang mengepul dari mesin depan, seorang wanita tergeletak tak sadarkan diri di kursi pengemudi dengan bersimbah darah pada bagian kepala dan beberapa luka di bagian tubuh lainnya.


Bella menatap sosok wanita bersimbah darah yang tampak tidak asing, ya itu adalah Michelle yang tidak sadarkan diri dan seorang pria tampak berusaha mengeluarkan Michelle dari mobil sambil menunggu ambulance.


Bella gegas balik badan kembali menuju ke tempat mobil Jovan,


"Pak Jovan, kita harus ke rumah sakit. Korban kecelakaan tadi itu Michelle pak !!" Bella masuk ke dalam mobil dengan raut muka panik namun Jovan hanya menatapnya dingin.


"No, bukankah rencananya kita akan makan setelah itu pulang. Kita tidak ada urusan dengan wanita itu, Bella apa kamu tidak ingat dialah sumber dari segala masalah yang kamu alami !?" ucap Jovan masih dengan ekspresi dingin dan datar.


"Tapi Michelle bersimbah darah pak, bagaimana jika terjadi apa apa sama dia ?" Bella panik ingin mengikuti ke rumah sakit buka karena empati melainkan Bella tidak rela jika sampai Michelle mati sebelum bersujud minta maaf di kakinya.


"Lalu di sana kamu mau apa Bella ?? Saya tidak suka berurusan dengan wanita jahat itu sampai kapan pun." Jovan menyalakan mesin mobil lalu gegas melaju meninggal lokasi kejadian dengan Bella yang masih dengan ekspresi tidak rela.


'Kamu gak boleh mati Michelle, kamu harus bersujud dulu memohon maaf padaku !!' batin Bella.

__ADS_1


Jovan menganggap Michelle adalah nasib buruk yang paling tidak ingin dia jumpai di hidupnya, mengingat bagaimana beraninya Michelle melewati batas meretas aktifitas ponselnya. Belum lagi ancaman yang dilakukan Michelle terhadap sang istri.


Tanpa sepengetahuan keluarga, Jovan menyelidiki semuanya. Anak buah yang dia utus berhasil mengusut semua sampai ke akar masalah yaitu Michelle.


Diam diam Jovan membeberkan kelakuan Michelle kepada pihak keluarga nya agar mereka bisa menentukan hukuman seperti apa yang pantas untuk nenek lampir tak berperasaan dan egois.


Jovan menyelesaikan semua masalah tanpa sepengetahuan Bella. Sudah cukup rasanya Bella menderita sampai terkena mental dan jiwanya terganggu hanya demi menjaga nama baik keluar Gilbert.


Namun tindakan konyol Bella lantaran mau saja di tindas oleh Michelle juga membuat Jovan gemas ingin memarahi Bella tapi tidak tega, hati kecilnya tersentuh akan perbuatan sang istri.


Selama ini Jovan tahu semuanya tapi lebih menganggap yang lalu biarlah berlalu, Jovan bertekad akan memperlakukan Bella selayaknya istri , buka sekedar istri kontrak .


Mengingat status perjanjian mereka yang tersisa kurang dari tiga bulan, Jovan merasa sedih. Dalam hatinya tidak ingin menyudahi perjanjian ini karena Bella adalah kenyamanan baru dalam hidup Jovan Gilbert.


Jovan ingin menyelesaikan masa perjanjian pernikahan dengan hal hal baik dan manis. Meski hati kecil Jovan tidak rela jika kelak dirinya harus berpisah dengan Bella.


Mereka tidak jadi makan di restoran lantaran Bella tiba tiba bilang tidak berselera, dalam perjalanan Jovan memesan makanan untuk makan malam mereka di rumah.


Bella sendiri bingung dengan dirinya, seharusnya dia iba saat melihat korban kecelakaan bersimbah darah dan kritis, tapi kenapa saat korban kecelakaan itu adalah Michelle Bella justru merasa~


Di tempat lain,


Michelle mendapatkan tindakan pertolongan darurat begitu tiba di rumah sakit. Dengan di dampingi Luckas yang mengurus semua administrasi pasien. Luckas sengaja tidak memberitahu orang tua Michelle karena mereka sedang mengurus bisnis di luar negeri.


Sudah lebih dari dua jam hingga akhirnya Michelle selesai menjalani operasi di beberapa bagian tubuhnya. Luckas terus mendampingi sampai Michelle masuk ke dalam kamar perawatan.


Efek obat bius pasca operasi akan hilang dua jam sejak pasien keluar dari ruang operasi dan kewajiban Luckas adalah memastikan nona muda nya bisa melewati fase tersebut dengan lancar.


Michelle mengigau beberapa kali, tentang ketakutan nya pada orang tua sekaligus rasa muak karena hanya dianggap anak tidak berguna.

__ADS_1


"Aku gak mau pulang, aku gak mau pulang ~" racau Michelle tak sadarkan diri.


Beberapa detik kemudian tampak air mata menetes dari sudut mata membasahi wajah. Luckas mengusap setiap kali air mata Michelle lolos begitu saja.


Luckas mengerti sekali seperti apa kondisi mental Michelle saat ini. Luckas merasa iba namun tidak berani berbuat melampaui batas lantaran keputusan yang akan dia ambil sangat beresiko.


"Maaf nona Michelle, seharusnya saya menjaga anda lebih baik lagi, maaf~" Luckas menggenggam tangan Michelle dan Michelle menggenggam erat telapak tangan Luckas.


Seakan Michelle dan Luckas bisa saling mendengar satu sama lain.


Secara perlahan seiring efek obat bius yang menghilang, kesadaran Michelle mulai pulih. Hal pertama yang Michelle lihat di ruang rawat adalah Luckas bukan orang tua nya.


"Luke~" panggil Michelle pelan.


"Abda sudah sadar nona, syukurlah." ucap Luckas yang kini mendekat di sisi ranjang pasien.


"Mana orang tuaku Luke ?" suara Michelle masih terdeteksi lemah.


"Saya sudah menitipkan pesan kepada sekretaris tuan besar, beliau saat ini masih dalam urusan bisnis di luar negeri nona. Tapi saya yakin tuan besar pasti akan segera kemari begitu mendengar kabar yang saya titipkan." suara Luckas berusaha menenangkan .


"Luke, bawa aku pergi jauh dari sini. Aku gak mau papi menghukum ku lagi. Aku mau pergi Luckas, bawa aku pergi~" ucap Michelle yang kembali menangis terisak.


Luckas sendiri memang berbohong, dirinya sama sekali tidak menitipkan pesan kepada sekretaris tuan besar karena tahu beliau pasti akan sangat murka.


"Anda harus banyak istirahat nona Michella, semua akan baik baik saja. I promise." Luckas mengusap pucuk kepala Michelle.


"Aku mau pergi jauh Luke, bawa aku pergi sangat jauh dari kota ini. Kemanapun itu asalkan orang tuaku tidak tahu. Aku mohon hiks~"


Luckas yang melihat Michelle terus bersedih merasa iba dan diam diam Luckas menyiapkan rute pelarian yang tidak akan terdeteksi oleh Tuan besar.

__ADS_1


'Keputusan yang aku ambil mungkin adalah kesalahan dan nyawaku dipertaruhkan. Tetapi melihat anda bersedih dan tertekan itu jauh lebih menyiksaku. Michelle~"


__ADS_2