
Deru mesin motor memecahkan keheningan malam yang diguyur oleh hujan gerimis. Kelima anak muda yang mengendarai motor itu melaju membelah jalan raya yang sepi, mempercepat laju motor agar segera sampai ke tempat tujuan.
Lima motor itu berhenti di parkiran rumah sakit dengan motor yang diparkirkan secara asal membuat satpam rumah sakit berteriak kesal.
Sembari membuka helm full face, mereka melangkah masuk ke dalam rumah sakit dan mencari kamar VIP.
"Bang, keadaan lo gimana?" Salah satu dari mereka bertanya, Reval Dale Wijoyo.
Laki-laki yang terbaring di atas brankar menjawab dengan sisa tenaganya. "Lumayan baik."
Kelima anak pemuda itu bernafas lega. Mereka langsung pergi ke rumah sakit ketika mendengar kabar, bahwa mantan ketua Drave masuk ke rumah sakit karena dikeroyok oleh musuh.
"Alhamdulillah, ternyata lo masih nafas, Bang." Davian Alden Gazza membuang nafasnya lega seraya mengelus dada.
Zean Gyver Halen menggeplak kepala Davian. "Gelo sia! Doa adalah ucapan."
"Kebalik, Ze. Ucapan adalah doa," koreksi Gabril Arlie Grisham.
"Bang, lo sendirian di sini? Bang Bian mana? Seharusnya dia ada di sini jagain lo." Reval kembali bertanya dengan matanya yang mengamati setiap sudut ruangan di mana Allen Jeovanno Gyandra dirawat, mantan ketua Drave.
"Lima menit sebelum kalian ke sini, dia pamit mau pulang dulu. Kasian juga dia dari tadi nemenin gue di sini," jawabnya dengan sesekali meringis sebab ujung bibirnya terluka.
"Bang, gimana bisa lo dikeroyok sampe masuk rumah sakit? Masa gara-gara udah lepas jabatan lima bulan lo udah lupa cara bela diri," kata Zean seraya mendudukkan dirinya di sofa.
Allen menghela nafasnya. "Mereka tiba-tiba hadang gue, anggota Earth yang lebih dari dua puluh mana sanggup gue lawan sendirian."
Mendengar nama Earth membuat Davian emosi. "Earth lagi, Earth lagi, mereka suka banget cari gara-gara."
"Namanya juga orang kurang kerjaan, mau nyari perhatian jadinya cari gara-gara terus sama Drave," balas Reval sambil mengambil satu buah apel yang berada di atas nakas.
Allen Jeovanno Gyandra adalah ketua geng motor Drave yang ke sembilan belas dan baru lima bulan lalu ia menyerahkan jabatannya itu. Sekarang ia hanya ingin fokus dengan kuliah, perusahaan almarhum Ayahnya, dan juga sang adik. Akan tetapi, meski sudah melepas jabatan, tidak bisa ia pungkiri bahwa para musuh masih selalu mengusik kehidupannya.
"Nevan!"
Sang pemilik nama menoleh. Nevan Xander Calvin yang sedari tadi diam, maklum setiap hari pemuda itu sariawan.
"Gue mau minta bantuan lo," ungkapnya.
Nevan tidak membalas apapun, ia diam karena membiarkan Allen untuk melanjutkan ucapannya.
"Adek gue besok bakalan balik ke Indonesia. Tolong jaga adek gue, gue nggak tahu mau sampe kapan gue di sini. Dan gue mohon sama lo untuk jangan kasih tahu adek gue kalau gue masuk rumah sakit, gue nggak mau dia khawatir. Jangan sampe ada musuh yang tahu kalau dia adek gue, cukup Meisha, adek gue jangan," ucap Allen dengan tulus.
Pemuda bernama Nevan itu menghela nafasnya. "Bang, bukannya sama aja kalau gue yang jaga adek lo. Sekarang gue ketua Drave, semua yang bersangkutan dengan Drave adalah tanggung jawab gue. Gue nggak yakin bisa lindungi adek lo."
"Karena gue percaya lo bisa jaga dan lindungi adek gue," balasnya, "Gue pilih lo sebagai ketua Drave bukan asal-asalan, gue tahu kemampuan lo, Nevan."
Pada akhirnya Nevan menganggukkan kepalanya, ia menyanggupi untuk menjaga dan melindungi adik Allen yang pernah ia temui hanya satu kali. Itu pun hanya pernah melihat sekilas ketika adik Allen masih duduk di SMP.
"Kalau gitu kita pamit, lo istirahat aja."
Ketua, wakil ketua, dan anggota inti Drave keluar dari ruangan Allen. Mereka kembali mengendarai motor masing-masing dan pergi ke rumah masing-masing.
Nevan Xander Calvin, diangkat menjadi ketua Drave lima bulan yang lalu. Memiliki sifat dingin, cuek, irit bicara, dan tegas. Kepribadiannya sangat tenang, tetapi jika ada orang yang menyentuh miliknya ia akan marah besar. Sangat tidak suka jika ketenangannya diganggu, tidak suka bila ada orang lain yang berusaha merebut apa yang sudah ia miliki.
Zean Gyver Halen, wakil ketua Drave. Memiliki kepribadian romantis, bucin banget sama pacarnya. Ketulusan cinta Zean untuk kekasihnya itu tidak main-main, meski mereka baru berpacaran belum genap satu tahun.
Gabril Arlie Grisham, anggota inti Drave. Orangnya humoris, murah senyum, di satu waktu Gabril akan berubah menjadi orang yang pemikirannya dewasa. Sayangnya kisah cinta Gabril tidak mulus karena terhalang oleh restu dari sang maha pencipta. Beda agama membuat Gabril tidak bisa maju lebih dekat, ia hanya bisa mencintai tanpa memiliki.
Reval Dale Wijoyo, anggota inti Drave. Asli orang Sunda, anaknya tengil, bobrok, kerjaannya bikin malu. Meski begitu, Ravel ini banyak disukai para gadis. Ia bahkan bisa memacari belasan gadis dalam dua hari, tiap harinya pasti selalu ketemu sama Mbak-mbak pacarnya.
__ADS_1
Yang terakhir adalah Davian Alden Gazza, dia ini juga anggota inti Drave seorang fanboy. Cita-citanya pengen jadi suami solois Lee Jieun alias Mbak IU, tapi ia mundur karena lawannya modelan G-Dragon. Motto hidupnya no halu no life, di kelas biasanya nongkrong sama ciwi-ciwi.
Di Drave solidaritas adalah yang paling utama, dengan adanya Drave para anak muda ingin menunjukkan bahwa anak geng motor tidak hanya suka bikin keributan, keroyokan, tawuran. Akan tetapi, anak geng motor juga memiliki sisi hebat yang tidak akan pernah masyarakat luas sangka.
Drave! Solidaritas is number one!
•°•°•
Pukul setengah tujuh pagi, Nevan mengendarai motornya menuju di mana ia menuntut ilmu. Meski mendapat jabatan sebagai ketua Drave dan di sekolah ditakuti banyak orang, tetapi ia tak pernah absen dengan alasan alpa.
Dibalik helm full face-nya, ia menatap jalanan dengan tatapan andalannya ketika sedang fokus. Akan tetapi, netranya langsung membulat sempurna saat seorang gadis tiba-tiba saja menyebrang jalan membuat Nevan langsung menekan rem. Ia melepaskan helmnya, bernafas lega karena motornya tidak lecet juga gadis itu tidak terluka.
Nevan turun dari motornya, menghampiri gadis yang memakai dress putih itu. Gadis itu terlihat kebingungan.
"Mbak nggak ke--"
"Kak tolongin Airin, koper sama tas Airin diambil sama orang. Tuh, tuh, itu yang ambil. Cepetan Kak, tolongin!"
Meski bingung dengan maksud gadis itu, Nevan tetap menuruti gadis asing itu untuk mengejar seorang laki-laki yang katanya mengambil koper serta tas miliknya.
"Yang cepat dong! Percuma motor gede, tapi lelet!" teriak si gadis yang berhasil membuat telinga Nevan pengang.
Motor ninja berwarna hitam milik Nevan menyalip kendaraan lain dengan sempurna, kecepatannya standar dan hal itu membuat si gadis asing kembali berteriak karena si pencopet sudah melaju jauh.
Nevan melajukan motornya menjadi kecepatan tertinggi, si gadis spontan memeluk perutnya, menutup matanya kuat karena takut terjungkal. Akan tetapi, tak sampai dua menit motor Nevan malah menepi dan berhenti.
"Kenapa berhenti? Copetnya malah makin jauh, cepetan kejar!"
Melepaskan helm, Nevan mendengus kesal. "Habis bensin," balasnya singkat.
Mata si gadis terbelalak, ia turun dari atas motor dengan kesal. "Habis bensin? Dasar motor butut! Bentuk aja gede, tapi nggak bisa kejar pencopet itu! Sekarang Airin harus gimana? Semuanya ada di dalam tas Airin dan sekarang tasnya malah dicopet!"
Nevan berdecih, menepis tangan si gadis yang menunjuk wajahnya.
"Enggak mau tahu kamu harus tanggung jawab, gara-gara motor kamu habis bensin, copetnya malah kabur!"
"Kenapa jadi gue yang harus tanggung jawab? Copet itu yang udah ambil tas lo, bukan gue!" Nevan membela diri seraya turun dari atas motor.
Si gadis mengangkat dagu, seakan menantang Nevan. "Kamu jadi cowok, kok, gitu?"
Nevan mengalihkan pandangannya, rasanya percuma perdebatan dengan perempuan. Tak lama kemudian, seorang polisi menghampiri mereka berdua. Mengatakan bahwa Nevan kebut-kebutan di jalanan dan menerebos beberapa kali lampu merah.
"Motor akan saya sita, jika ingin motor kembali, silakan tebus ke kantor polisi," katanya dengan mobil truk untuk mengangkut motor Nevan sudah sampai.
Nevan tak ada pilihan lain, ia membiarkan motornya disita dan akan diambil nanti. Ia menatap gadis yang berdiri di sampingnya, gadis itu terlihat bodo amat dan tak merasa bersalah sedikitpun. Nevan sangat merasa sial pagi ini, bensin habis gara-gara ngejar pencopet, ditilang polisi, dan motor berakhir disita.
Pemuda yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu membuka ponselnya, meminta salah satu temannya untuk menjemput dirinya. Nevan berjalan untuk mencari tempat duduk seraya menunggu temannya menjemput dirinya, sial sekali salah satu temannya tidak ada satupun yang online.
"Hei! Mau ke mana?"
Menoleh ke belakang, melihat gadis itu yang menatapnya kesal. Seharusnya di sini yang marah adalah dirinya, bukan gadis itu. Ia yang rugi besar di sini.
Nevan mengacuhkan pertanyannya gadis itu, ia kembali melanjutkan langkahnya. Akan tetapi, si gadis kembali berteriak.
"Ih! Mau ke mana? Tega banget ninggalin cewek cantik di pinggir jalan, kalau ada om-om brewokan yang nyulik gimana?"
Dengan kesal Nevan berbalik. "Terus maunya apa?"
Gadis itu tersenyum, kemudian menjulurkan kedua tangannya. "Gendong, cepetan!"
__ADS_1
Memutar bola matanya malas, Nevan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kenapa hari ini ia sial banget, sih? "Enggak mau!" balasnya dengan tegas.
Si gadis tak menyerah, ia menahan Nevan yang ingin kembali melangkah meninggalkan dirinya. "Enggak mau tahu pokoknya gendong," rengeknya.
Nevan menatap gadis itu dengan malas, ia tidak boleh menuruti permintaan gadis itu nanti yang ada ia malah semakin sial.
"Ayo, Kak! Gendong cepetan, tadi Airin capek banget lari ngejar pencopet itu. Koper, dompet, handphone, semuanya diambil sama pencopetnya dan gara-gara Kakak copetnya malah berhasil kabur."
Lagi, gadis itu menyalahkan dirinya.
"Itu semua bukan salah gue!"
Gadis itu menggenggam tangannya, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Nevan. "Gendong, Kak. Airin capek banget, Airin juga haus pengin makan juga."
Ia mendongak, menatap sekitar dan matanya menangkap toko supermarket dari kejauhan. "Gendong Airin ke sana, beliin yoghurt sama marshmellow."
Oke, Nevan pasrah. Ia ingin segera lepas dari gadis ini, untuk itu ia akan menuruti permintaan si gadis dan ini benar-benar yang terakhir.
Ia menggendong gadis asing yang memiliki rambut sepanjang punggung, memakai dress berwarna putih. Wajahnya cantik dan imut, satu yang dapat simpulkan bahwa gadis ini memiliki sifat cerewet. Terlihat sedari tadi gadis ini banyak bicara.
"Nih!" Nevan memberikan yoghurt dan marshmellow yang gadis itu mau.
Si gadis tersenyum bahagia dan langsung membuka bungkusan marshmellow. "Makasih, Kak!"
Nevan menganggukkan kepalanya singkat, lalu tak lama datang mobil taksi yang sudah Nevan pesan. "Ini taksi gue pesenin buat lo, udah gue bayar juga ongkos taksinya."
Menatap Nevan terkejut. "Apa? Airin nggak mau!"
"Terserah, mau naik atau nggak itu bukan urusan gue." Nevan berlalu begitu saja, mengabaikan si gadis yang meneriakinya.
"Dasar nyebelin! Airin nggak mau ketemu sama Kakak lagi!"
Nevan melambaikan tangannya seraya terus berjalan. "Selamanya kita nggak akan pernah berjumpa lagi."
"Neng, taksinya jadi nggak?"
Si gadis mendengus, berjalan ke arah taksi dengan menghentakkan kakinya. Tak lupa ia juga membawa yoghurt dan marshmellow.
•°•°•
Malam harinya, Nevan duduk di kursi belajarnya. Pemuda itu sedang mencatat pelajaran di jam pertama dan kedua, ia datang waktu pelajaran ketiga lantaran motornya yang disita dan si gadis asing yang menyusahkannya. Sekarang, ia tidak tahu bagaimana dengan nasib gadis tadi. Entah sudah pulang ke rumahnya atau menjadi gelandangan di jalan.
Ponsel miliknya berdering dan ternyata itu adalah Allen menelfon dirinya.
"Ada apa?" tanyanya to the point.
"Tolong jemput adek gue di kantor polisi."
Nevan mengernyit. "Kantor polisi? Adek lo tahanan di sana?"
"******! Cepetan jemput aja, keburu nangis entar. Nih, gue kirim foto adek gue."
Mengangguk pelan, Nevan memutuskan sambungan. Sembari memakai jaketnya, ia membuka pesan dari Allen yang isi pesan itu adalah foto adiknya Allen. Pergerakan Nevan terhenti sembari melihat foto yang Allen kirimkan.
Tidak, tidak ada yang aneh dengan foto itu. Foto seorang gadis dengan rambut diuntun serta bunga kecil berwarna ungu di mulutnya dan gadis itu ....
"Ini 'kan cewek yang tadi," gumam Nevan pelan sembari memperhatikan sekali lagi foto itu.
Nevan mendengus, jadi gadis yang terus menyusahkan dirinya di pagi hari itu adiknya Allen.
__ADS_1
"Sial!"