
Niat awal memang akan menghabiskan liburan selama dua Minggu di Bandung, akan tetapi malah berakhir akan pulang besok malam. Pertama, Diandra yang disuruh pulang karena Ibunya ingin ia liburan ke rumah Neneknya. Kedua, Citra dan Bilqis juga diajak untuk liburan keluar negeri bersama keluarga mereka. Dan ketiga, Allen juga menyuruh agar Airin cepat pulang. Laki-laki berusia dua puluh lima tahun itu tak tenang adik semata wayangnya jauh dari jangkauannya, padahal ada Nevan yang bisa menjaga Airin.
Dan sekarang, sore terakhir di Bandung mereka gunakan dengan mengadakan pesta kecil-kecilan di atas villa, di mana di sana terdapat kolam renang.
Bara berserta anak istrinya pun masih berada di sana, jadinya mereka ikut berpesta bersama dengan anak muda.
"Kamu pasti nggak bakalan inget, tapi kita pernah ketemu waktu kamu masih SD. Dulu kamu tingginya cuma sepinggang saya, sekarang udah tinggi, mana udah nikah duluin Allen." Bara bercerita banyak kepada Airin, sampai anak istrinya ia anggurkan.
Laki-laki itu menceritakan bagaimana Allen ketika SMA dan kisah perjuangan cinta Allen untuk mendapatkan Meisha. Akan tetapi, sangat disayangkan perjuangan Allen malah berakhir dengan Meisha yang meninggal dunia.
Semuanya berawal dari Meisha yang diculik oleh lima anggota Earth, mereka menculik Meisha tanpa persetujuan dan sepengetahuan ketua Earth. Hal itu pula yang menjadi awal permusuhan Earth dan Drave. Anggota Earth yang lain mengira bahwa kelima anggota Earth dibunuh oleh Drave, padahal tidak.
Justru, kelima anggota Earth itu sudah melukai Meisha sampai perempuan itu harus dirawat di rumah sakit berbulan-bulan sampai akhirnya meninggal dunia.
Peristiwa mengerikan yang tidak akan pernah anggota Drave terutama Allen lupakan. Setelah meninggalnya Meisha, Allen mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua Drave dan memberikan jabatan ketua itu kepada Nevan yang merupakan adik Meisha.
"Apa Earth masih berusaha buat balas dendam soal kejadian itu?" tanya Bara ketika para perempuan sibuk memanggang daging juga memotong buah-buahan.
Gabril menjawab. "Masih, mereka kayaknya nggak bakalan berhenti sampai Drave ngaku yang udah bunuh kelima anggota Earth itu."
"Sumpah demi apapun gue greget banget buat bilang siapa pelakunya," sahut Reval dengan geram.
Davian menghela nafasnya. "Bukannya sebaiknya kita ungkapin aja yang sebenarnya? Daripada terus-terusan salah paham kayak gini, gue cuma takut nantinya ada perang besar."
Zean menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Davian. "Bener banget, gue setuju sama Davian. Kalau sampai ada perang lagi, masyarakat luas bakalan mandang geng motor makin nggak bener. Gue takutnya pemerintah sampai nyuruh buat bubar."
"Kalau sampe bubar, gue nggak tahu harus kayak gimana. Di sini kalian itu keluarga gue juga," ucap Reval yang membuat suasana malah menjadi mellow.
Bara tersenyum singkat. "Lihat kalian gue jadi keinget masa-masa SMA, ada banyak serba-serbi yang terjadi dulu. Masalah cinta, sahabat, keluarga, semuanya pernah gue lalui."
"Gue bilang ini bukan sok bijak atau apa, tapi sebagai orang yang udah berpengalaman dan juga sebagai senior. Kepercayaan dalam hubungan apapun itu penting, apalagi dalam pertemanan solidaritas itu paling utama. Kalian juga harus inget, jangan sampai pertemanan hancur cuma gara-gara cinta," lanjutnya.
"Pikir pake logika, kalau diantara kalian ada yang mencintai satu perempuan yang sama, gue harap ada salah satunya yang mengalah. Cinta itu masih bisa dicari, tapi teman yang setia sampai mati itu sulit dicari," sambung Bara memberikan petuah.
Reval yang duduk di sebelah Bara menepuk pundak Bara. "Bang, gue nggak nyangka lo bisa ngomong kayak gitu, padahal waktu dulu sebelum ke Bandung lo itu cowok petakilan."
"Ada orang yang bilang, kalau setiap manusia memiliki tiga wajah," balasnya dengan senyuman.
"Itu Bapak-bapak daritadi ghibah mulu, ini dagingnya udah mateng, kita makan sama-sama!" teriak istri Bara.
Mereka pun menyelesaikan malam itu dengan penuh canda tawa, berbincang dengan santai tanpa beban sembari melihat bulan yang begitu terang diantara langit dan awan yang gelap gulita.
•°•°•
Hampir memasuki tengah malam, mereka sampai di rumah masing-masing. Nevan ikut pulang ke rumah Allen sebab ia sudah menjadi suami Airin, tidak memungkinkan juga jika ia pergi ke apartemen di malam hari begini ditambah dirinya sangat lelah dan mengantuk.
Tanpa mengganti baju dan mandi, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang di kamar Airin yang juga sudah menjadi kamarnya. Ia heran, kenapa Airin tidak ada lelahnya sama sekali? Lihat, gadis itu masih melek dan terlihat segar-segar saja.
Setelah berganti pakaian, Airin ikutan membaringkan tubuhnya di samping Nevan. "Kak Nevan, Airin mau tanya."
"Apa?" Nevan bersuara dengan pelan dan singkat, sungguh ia sudah tak ada tenaga lagi.
__ADS_1
Airin membalikkan badannya menjadi tengkurap, lalu menangkup pipinya dengan kedua tangannya sembari menatap wajah tanpa Nevan. "Kata istri Kak Bara kalau udah suami istri kegiatan ranjang wajar untuk dilakukan, emangnya kegiatan ranjang itu apa?"
Mendengar itu Nevan mendengus. "Nanya apa, sih, Rin? Jangan aneh-aneh ah!"
Perempuan itu berdecak pelan. "Emangnya Airin salah? Airin cuma tanya itu aja, kok."
"Pikir aja sendiri, gue juga nggak pengalaman. Cuma satu kali aja waktu itu sama lo," balasnya sembari membelakangi istri kecilnya.
"Jelasin dulu kegiatan ranjang itu apa? Airin nggak bisa bobo kalau belum tahu." Airin merengek dengan terus menggoyangkan lengan suaminya, ia bahkan mencoba untuk membuka kelopak mata Nevan yang tertutup.
Nevan mengembuskan napasnya panjang, membuka matanya dan langsung mengukung Airin di bawah tubuhnya membuat perempuan mungil itu kaget bukan main.
"Lo mau tahu apa itu kegiatan ranjang?" tanya Nevan yang dibalas anggukan tanpa ragu oleh Airin.
Tak ada kata-kata apapun yang keluar dari bibir Nevan, laki-laki itu malah mencium Airin tanpa ragu. ******* bibir cantik istrinya seolah seperti dirinya memang sudah sangat jago dalam hal kiss, padahal ia tak ada pengalaman sama sekali, ia hanya sekilas melihat dari drama yang sering Davian tonton.
Terlalu menikmati, Nevan sampai menarik tengkuk Airin untuk semakin memperdalamnya. Airin sendiri pun tak tahu harus berbuat apa, perempuan itu hanya bisa memejamkan matanya secara refleks dan mengalungkan kedua tangannya di leher Nevan.
Beruntung Nevan masih waras, dan belum sepenuhnya kehilangan akal sehatnya. Ia menghentikan ciuman itu, beralih menatap Airin yang tepat berada di bawahnya. Perempuan itu tampak terengah dengan bibir sedikit bengkak.
"Lo inget kejadian waktu di pesta Ilona?"
Airin menganggukkan kepalanya. "Inget," jawabnya.
"Kegiatan ranjang itu kayak yang waktu kita lakuin di sana," tutur Nevan, kemudian kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Sebagai balasan Airin ber-oh seraya mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Untunglah, kalau sampai Airin tak paham juga nanti yang ada Nevan diminta terus menjelaskan sampai matahari terbit.
Menggeleng pelan. "Airin itu strong, nggak kayak Kak Nevan, lemah!"
"Iya, iya, deh. Airin mah strong, Nevan yang lemah letoy kayak bihun," balas Nevan yang berhasil membuat Airin cekikikan sendiri.
"Kak Nevan ternyata bisa ngelawak juga, ya."
"Cuma sama lo doang, kok."
"Kenapa?"
"Karena di depan lo gue bisa leluasa nunjukin diri siapa diri gue sebenarnya."
Mendengar itu entah kenapa hati Airin merasa menghangat, ia berpikir kalau ia seperti istimewa untuk Nevan.
"Kak Nevan suka sama Airin?"
Enggaklah, tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Airin tanpa pergi ataupun memberikan aba-aba.
Beberapa detik berlalu dan tak ada jawaban dari Nevan, Airin memanggil dan menyadari jika Nevan sudah tertidur. Terbukti dengan nafas teratur laki-laki itu juga dengan dengkuran halus yang terdengar seperti lagu pengantar tidur bagi Airin.
"Good night!"
•°•°•
__ADS_1
"Gimana kalau ke Korea Selatan aja?"
"Nanti biar sekalian Airin ketemu sama suami Airin."
"Kalau suami lo ada di Korea, terus gue ini siapa, hah?" Nevan mendengus pelan sembari memalingkan wajahnya.
Liburan sekolah masih lama, jadi tadi mereka memutuskan untuk liburan berdua kalau kata Airin mah bulan madu. Tadi pagi perempuan itu tiba-tiba minta untuk liburan keluar negeri berdua saja dengan Nevan, karena kata Citra kalau pengantin baru itu harus berbulan madu untuk berkembang biak.
"Jangan keluar negeri aja, kita cari tempat wisata di negara kita," kata Nevan.
"Emangnya ada tempat wisata yang bagus?" tanya Airin.
Nevan berpikir, ia juga tak tahu banyak tempat wisata atau tempat liburan karena ia tak terlalu suka dengan berlibur. Ia hanya suka berdiam sendirian di apartemennya sembari memainkannya gitar kesayangannya atau pianonya.
"Gue punya saran satu tempat, sebenarnya ini bukan tempat liburan karena tempat itu cuma bisa didatangi sama keluarga gue. Tapi, gue yakin lo bakal suka kalau ke sana."
Mendengar itu mata Airin berbinar. " Bagus banget, ya? Airin mau ke sana!"
"Kita ke sananya besok aja, ya? Gue masih capek semalam pulang dari Bandung."
Airin menganggukkan kepalanya paham, kasihan juga ia kepada suaminya itu. "Ya, udah, Kak Nevan istirahat aja."
Brak!
"Cowok ganteng datang, mana sambutannya?"
Pasangan suami istri muda itu berjengkit kaget secara bersamaan ketika pintu utama tiba-tiba saja terbuka secara paksa, lalu ketiga teman Nevan alias Reval, Davian, dan Gabril. Sedangkan Zean, laki-laki itu ikut liburan bersama dengan keluarga Citra.
"Kak Reval kalau masuk rumah orang itu yang sopan, dong!" kesal Airin dengan berkaca pinggang seperti emak-emak yang memarahi anaknya yang baru pulang bermain sore hari.
"Maklum aja, si Revak pas pembagian sopan santun malah sibuk godain anak perawan," celetuk Davian dengan santai yang langsung mendapatkan geplakan dari Reval.
"Kalau gitu kalian duduk aja, Airin mau ambil air buat kalian." Perempuan itu pun berlalu menuju dapur meninggal suami dan teman-teman suaminya di ruang tamu.
"Kita ganggu nggak?" tanya Gabril karena ia melihat Airin dan Nevan sedang menikmati waktu berdua.
Menggeleng pelan. "Enggak, tadi cuma lagi diskusi buat liburan."
"Kalian mau apa ke sini?" sambung Nevan bertanya.
"Gabut aja, sih, soalnya kita nggak ada rencana buat liburan lagi. Semua teman udah dikunjungi juga," balas Davian.
"Eh, btw, jadi lo enak juga ternyata. Gue jadi pengin punya istri, deh," ucap Reval tiba-tiba.
Davian berdecih. "Nikah? Belum satu Minggu pasti udah cerai, secara lo 'kan playboy cap kadal. Mana ada cewek yang sanggup sama lo atau lo yang nggak bisa sama satu cewek."
"Emangnya kenapa? Cowok 'kan bisa poligami," tutur Reval dengan santai.
"Dengerin gue, pasca meninggalnya Khadijah, Rasulullah menikah dengan Siti Aisyah dan melakukan poligami atas rujukan dari Allah subhanallahu wataala. Orang-orang terlalu pendek menganggap Sunnah, bahwa Sunnah itu, kok, poligaminya yang tiga belas tahun yang monogami dua puluh lima tahun apa kabar? Kenapa nggak dijadikan sebuah Sunnah yang kemudian diunjuk rasakan, diproklamirkan bareng-bareng. Padahal Rasulullah itu benar-benar mengajarkan kepada kita bahwa, cinta sejati itu tidak memiliki dua hati," kata Nevan panjang kali lebar tambah luas dan hal itu membuat ketiga teman-temannya kagum, bahkan Airin yang berdiri di balik tembok merasa terkesima dengan pemikiran Nevan.
"Nevan, lo ... Hebat banget gila!"
__ADS_1