Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
05. Mati Lampu


__ADS_3

Nevan menyeringai, menatap datar ke arah ketua Earth--Galang. Pemuda itu turun dari atas motor seraya melepaskan helmnya, sontak saja hal itu disambut dengan sorakan dari para anggotanya.


"Malam ini lo cuma lagi kebetulan beruntung aja, lain kali gue bakal kalahin lo," ucap Galang si ketua Earth dengan penuh penekanan.


Dengan santai Nevan membalas. "Percuma, yang ada buang-buang waktu. Mau berapa kali pun lo akan tetep nggak akan bisa melewati garis finish lebih dulu."


Galang mengepalkan kedua tangannya kuat, menatap Nevan dengan tatapan permusuhan. "Lo akan bertekuk lutut sama gue! Gue nggak akan pernah lupa dengan lima anggota Earth yang kalian bunuh!"


"Hadeuh, dasar lo keturunan beruk! Lo punya kuping kagak, sih? Perlu banget gue ulang sampe ratusan kali soal itu, hah!" Lama-lama Reval kesal sendiri, ditambah lagi muka songong Galang semakin membuatnya kesal.


"Positif thinking aja, mungkin telinganya udah satu tahun belum dibersihin, jadinya congek," celetuk Davian.


"Cabut!" Nevan bersuara, kemudian pergi dari arena balapan.


Ia masih memiliki urusan, yaitu menjaga Airin. Pemuda itu melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia khawatir jika tiba-tiba Airin terbangun karena haus, gadis itu pasti tidak akan berani mengambil air minum sendiri ke dapur. Sementara para pelayan pasti sudah pada tidur di kamar masing-masing.


Ngomong-ngomong, para pelayan tinggal di gedung yang berbeda. Gedung berukuran lumayan luas dengan difasilitasi seperti rumah serta beberapa kamar agar pelayan-pelayan bisa beristirahat dengan nyaman di malam hari. Dan semuanya akan sudah stay di gedung itu sedari pukul delapan malam. Gedung itu berada di belakang rumah utama.


Nevan turun dari atas motornya tepat di depan gerbang rumah Allen, ia mengernyit sebab seluruh rumah begitu sangat gelap. Tiba-tiba seorang satpam datang dengan membawa senter, satpam itu berkata bahwa ada beberapa kesalahan pada kabel listrik, secepatnya akan ia perbaiki.


"Airin," gumamnya dan dengan tergesa-gesa ia masuk ke dalam rumah mewah itu.


Tepat di depan pintu kamar Airin, Nevan bisa mendengar suara isak tangis. Ia yakin kalau suara itu dihasilkan oleh Airin.


Allen pernah memberitahukan kepada Nevan kalau Airin tidak suka gelap, gadis itu akan terbangun dari tidurnya jika mati lampu. Jika Airin terlalu lama dalam situasi gelap, gadis itu akan merasakan sesak.


"Airin!" panggilnya dengan lembut, takut jika nanti Airin terkejut jika ia panggil dengan kasar.


"Airin lo di mana?" lanjutnya.


"Kak Nevan hiks, Airin di atas kasur. Airin takut, di sini gelap." Airin membalas dalam kegelapan.


Nevan merogoh sakunya guna menghidupkan senter dari ponselnya, tapi sialnya ponselnya mendadak mati. Ia mengutuk Reval karena gara-gara laki-laki itu menggunakan ponselnya untuk bermain game sampai bateri ponselnya habis.


Dengan perlahan ia menghampiri ranjang, lalu duduk di pinggiran ranjang. "Airin!" panggilnya lagi.


Kemudian, tubuhnya diterjang dengan pelukan Airin. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di dada miliknya, menangis sesenggukan di dadanya.


Perlahan tangannya mengusap punggung Airin dengan kaku. Jujur saja Nevan bukan ahlinya dalam menenangkan perempuan menangis.


"Kak Nevan, dada Airin sesak," adunya dengan suara lirih.


Nevan tentu saja panik, apalagi dengan nafas Airin yang tak beraturan. Ia bingung harus melakukan. "Airin dengerin gue, ambil nafas dalam-dalam, tahan beberapa detik, udah gitu hembusin lewat mulut. Lakuin itu berulang kali sampe nafas lo balik normal."


Airin mengangguk paham, mengikuti instruksi dari Nevan. Syukurnya tak sampai dua menit nafasnya sudah kembali normal.


"Lo tidur lagi aja, gue mau nyari senter dulu."


Gadis itu menggelengkan kepalanya dan semakin mengeratkan pelukannya pada Nevan. "Enggak mau, Airin takut. Airin takut gelap, takut sesak lagi."


Nevan mengangkat tubuh mungil itu membuat Airin beralih duduk dipangkuan Nevan. Kemudian, Nevan berdiri seraya menahan bobot gadis itu. Ia mencari di setiap laci untuk menemukan senter atau setidaknya ponsel Airin. Menanyakan hal itu kepada Airin pun percuma karena gadis itu tidak tahu.


"Rumah aja gede, tapi senter aja kagak punya," gumamnya pelan yang sudah frustasi mencari keberadaan senter.


"Airin denger, lho, kata-kata Kak Nevan. Nanti Airin aduin sama Kak Al." Gadis itu bersuara sembari mendongak, menatap Nevan dalam kegelapan.


Pemuda itu menyerah, ia mendudukkan dirinya di sofa dengan Airin yang masih melingkarkan kakinya di pinggangnya. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, matanya terpejam karena lelah. Dirinya baru saja balapan dengan Galang.


"Kak Nevan katanya mau cari senter."


"Enggak ada."


"Cari lilin aja."

__ADS_1


"Enggak ada juga."


"Kenapa mati lampunya lama?"


"Enggak tahu."


"Rumah orang lain mati lampu juga?"


"Enggak tahu."


"Kak Nevan, kok, jawabnya singkat. Lagi sariawan, ya?"


Kali ini Nevan membalas dengan deheman. Jika saja Airin bukan adiknya Allen, sudah dipastikan Nevan akan menjedotkan kepala gadis ini ke tembok. Dirinya lelah, sangat butuh istirahat.


"Kak Nevan--"


"Tidur!"


Mendengar suara Nevan yang berubah menjadi tegas seketika Airin bungkam. Akan tetapi, tak sampai lima menit gadis itu kembali bersuara.


"Kak Nevan, kalau orang buta itu tidur nggak, sih?"


Nevan mengernyit mendengar pertanyaan random yang Airin lontarkan. "Ya, pasti mereka tidur."


"Tapi 'kan mau melek ataupun merem sama aja, gelap," balas gadis itu.


"Jangan ngomong kayak gitu. Orang-orang kayak mereka itu luar biasa, bisa hidup dalam kegelapan. Lo lihat diri lo, mati lampu gini aja langsung nangis-nangis ketakutan," kata Nevan yang berhasil membuat Airin cemberut.


"Maaf," cicitnya.


"Udah, jangan ngomong apa-apa lagi. Sekarang tidur, udah malem, besok masih harus sekolah," ucap Nevan seraya membenarkan posisi duduknya.


"Airin nggak bisa tidur kalau gelap," balas gadis itu dengan suara nyaris hilang.


Nevan menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu. "Sekarang lo merem dan bayangin ada lapangan luas, di sana banyak bunga, cuaca terang sama sejuk. Di sana juga ada banyak domba yang lagi lompat-lompat, tugas lo hitung semua domba itu."


Dalam diam Nevan menghela nafas lega mendengar dengkuran halus gadis itu. Pemuda itu juga meringis, lama kelamaan pahanya keram juga jika diduduki Airin terlalu lama. Akan tetapi, rasa kantuknya kini lebih mendominasi. Ia memilih tertidur dibandingkan mempermasalahkan pahanya yang keram.


•°•°•


Berangkat sekolah kali ini Airin bersama dengan Nevan. Pagi ini Nevan lumayan agak kerepotan, dari mulai dirinya yang harus memasak untuk sarapan karena Airin tidak akan mau makan jika bukan Nevan yang memasak untuknya. Ditambah ia harus membantu Airin mengepang rambut gadis itu, menyuapi gadis itu makan, dan membantu memainkan sepatu. Sementara dirinya masih belum mandi sama sekali, untungnya masih ada satu menit sebelum gerbang sekolah ditutup.


"Nevan!"


Sang pemilik nama juga dengan Airin yang berjalan di sampingnya terpaksa menghentikan langkahnya, sebab ada Ilona yang tiba-tiba muncul di depan.


"Apa?" tanya Nevan dengan malas.


Pagi-pagi begini malah harus berurusan dengan Ilona, sungguh sangat menyebalkan.


Ilona memberikan Nevan sebuah undangan. "Hari ini aku ulang tahun, nanti malam kamu datang, ya, ke pesta aku. Waktu sama temannya udah ada di undangan itu."


"Nih!" Ilona menyodorkan selembar undangan kepada Airin dengan malas.


Airin menerimanya dengan sedikit tidak percaya. "Airin juga diundang?"


Ilona mengangguk sembari berdehem singkat. Kemudian, ia kembali menatap Nevan dengan senyuman. "Aku tunggu nanti malam, bye!"


"Siniin undangan!" pinta Nevan yang membuat Airin mengernyit.


"Buat apa?"


"Dibuang!"

__ADS_1


"Kenapa? Enggak mau!" tolaknya.


Nevan mengembuskan napasnya panjang. "Emang lo mau dateng ke sana?"


Dengan semangat Airin mengangguk. "Airin belum pernah datang ke pesta ulang tahun. Circle pertemanan Airin selama ini selalu dibatasi, Airin nggak punya banyak teman."


Menghela nafas pasrah. "Oke, sekarang lo ke kelas."


Airin mengangguk, berjalan dengan riang menuju ke kelasnya. Nevan sendiri pun memilih ke kelasnya. Tanpa mereka sadari ada Ilona yang tersenyum licik dibalik pilar koridor.


"Malam ini, lo bakal hancur anak baru!"


•°•°•


"Lo bakalan dateng, Van?" tanya Zean kepada si ketua Drave.


Nevan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Tumben, bukannya lo nggak mau berurusan sama, tuh, cewek genit," ujar Reval.


"Airin juga diundang, dia mau dateng ke sana, terpaksa gue juga harus dateng," jawabnya apa adanya.


Mendengar itu Gabril mengernyit. "Gue yakin, Ilona pasti rencanain sesuatu."


"Jangan suudzon, nggak baik," sahut Davian.


"Bukannya apa-apa, kalian tahu sendiri 'kan Ilona pernah labrak Airin gara-gara Nevan makan di kantin bareng Airin," tutur Gabril.


Reval mengangguk setuju. "Bener juga, kayaknya cewek itu bakal lakuin sesuatu sama Airin."


"Kita waspada aja," balas Nevan singkat.


Langkah mereka berlima berhenti tepat di pintu kantin begitu mendengar suara gaduh dari dalam kantin. Terlihat dua perempuan yang tengah beradu mulut.


"Heh! Jangan sia-siain oksigen yang lo hirup cuma gara-gara urusin kehidupan orang lain. Dasar nggak guna!"


"Bilang aja lo malu! Kalau lo sebenarnya itu cuma numpang keluarga Oswald, dasar nggak tahu diri!"


Mendengar itu Diandra mengepalkan kedua tangannya, rasanya sangat gatal ingin menampar gadis yang ada di depannya. Peduli setan dengan dirinya yang mendapatkan hukuman, sekarang Diandra dipenuhi dengan emosi.


Tangan kanannya siap menampar pipi gadis itu, tetapi seseorang menahan tangannya membuatnya tak jadi menyalurkan rasa marahnya.


"Lo apaan, sih?" Ia menyentak tangan Reval.


Iya, Reval yang menggagalkan aksi Diandra.


"Ini di sekolah, jangan lakuin itu kalau lo nggak mau dipanggil guru BK," katanya dengan sedikit menasihati.


"Gue nggak peduli! Kakak kelas macem, nih, cewek emang harus sekali-kali dikasarin biar mulutnya nggak lemes pad lagu ngedesah sama om-om. Muak gue!"


Setelah itu Diandra melenggang pergi. Airin dan juga Citra yang sedari tadi di sana mengikuti Diandra. Mereka berdua juga sempat merelai adu bacot tadi, tetapi berujung sia-sia.


Tatapan Reval beralih kepada gadis yang menjadi lawan Diandra. "Lo cewek yang pakai dress merah di club Angl'M 'kan?"


Mendengar itu membuat dirinya gugup.


"Jangan sampe gue lihat lo berurusan sama Diandra kalau nggak mau kelakuan lo di luar sekolah tersebar, paham?"


Gadis itu mengangguk patuh, lalu lari terbirit-birit menjauhi kantin.


"Ngapain lo belain Diandra?"


"Mau jadi pahlawan kesiangan lo?"

__ADS_1


"Suka lo sama Diandra?"


"Bacot lo pada!"


__ADS_2