
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Dengan mengandalkan waktu adzan dari ponsel, sekarang sudah waktunya menunaikan shalat berjamaah. Seperti biasanya, Nevan mengajak Airin untuk shalat berjamaah dengan dirinya yang menjadi imam.
Pernah suatu hari Airin menunda shalatnya dan hal itu membuat Nevan marah besar, karena sesibuk apapun harus bisa menyempatkan diri untuk shalat, sebab menunaikan shalat lima waktu itu wajib.
Setelah selesai, Nevan mengambil Al-Qur'an. Mengajarkan istrinya untuk membaca Al-Qur'an. Saat pertama kali menikah dengan Airin dan pertama kalinya shalat berjamaah, Airin pernah bercerita kalau perempuan itu ketika masih di luar negeri tidak pernah diajarkan hal-hal yang Nevan ajarkan kepadanya sekarang, contohnya seperti membaca Al-Qur'an.
Selesai membaca Al-Qur'an, Airin bertanya kepada Nevan. "Kak Nevan, kenapa, sih, kita harus baca Al-Qur'an?"
Dengan penuh percaya diri Nevan menjawab. "Membaca Al-Qur'an berarti mengingat-ingat akan kebesaran Allah Subhanallahu wata'ala. Ingatnya kita terhadap Allah Subhanallahu wata'ala akan membuat hati terasa tentram dan lebih lembut dalam menyikapi sesuatu. Sebagaimana firman Allah Subhanallahu wata'ala dalam Alquran surat Ar- Ra'd ayat dua puluh delapan yang artinya ... Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.”
Airin menganggukkan kepalanya paham, lalu kembali bertanya. "Kenapa baca Al-Qur'an harus pakai tajwid?"
"Syeikh Ibnul Jazari menjelaskan, membaca Al-Qur'an dengan Tajwid, hukumnya wajib. Siapa saja yang membaca Al-Qur'an tanpa memakai Tajwid, hukumnya dosa. Karena sesungguhnya Allah menurunkan Al-Qur'an dengan Tajwidnya," jawab Nevan tanpa menemukan kesulitan sedikitpun.
"Emangnya apa yang kita dapat dari membaca Al-Qur'an?" Lagi, Airin bertanya.
Sembari mengusap kepala Airin, Nevan menjawab. "Membaca Al-Qur'an banyak mendatangkan manfaat tentunya mendatangkan pahala dan kebaikan pahala yang berlipat ganda, Rasulullah bersabda, siapa saja membaca satu huruf dari Kitab Allah Al-Qur'an, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.”
Tiba-tiba Airin menundukkan kepalanya dengan memainkan jarinya. Tentu saja Nevan merasa heran, ia pun bertanya. "Kenapa?"
"Airin pernah denger, katanya melakukan kegiatan ranjang sebelum menikah itu hukumnya dosa. Jadi, kita udah lakuin dosa, dong."
Nevan diam sejenak, kemudian mengangkat kepala Airin agar menatapnya. "Iya, waktu itu kita lagi lakuin hal zina. Dosanya besar banget, tapi, jika keduanya bertaubat kepada Allah dan berkeinginan melanjutkan hubungan keduanya dengan pernikahan, jadi itu nggak apa-apa."
"Jangan pikirin soal itu lagi, sekarang kita fokus memperbanyak amal buat dibawa ke akhirat nanti," lanjutnya.
Airin menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Mood perempuan itu kembali membaik dan kembali ceria. "Eh, kata Kak Nevan mau ajak Airin ke suatu tempat. Sekarang aja, ayo!"
"Lepas dulu mukenanya, mau makan dulu nggak? Atau nanti aja pas pulang dari sana?" tanya Nevan.
"Nanti aja, deh."
Setelah melepas mukena dan membereskan peralatan shalat lainnya, pasangan suami-istri muda itupun keluar dari rumah dengan memakai jaket tebal yang hangat. Berada di puncak seperti ini suasananya jadi berbeda dengan di kota, sepi dan dingin.
Dengan mengandalkan cahaya dari senter, Nevan membawa Airin menuruni bukit. Tak sampai lima menit keduanya sampai di sebuah danau, di sekeliling danau terdapat lampu-lampu kecil yang sengaja dipasang di sana. Juga ada satu kursi kayu berukuran panjang, jangan lupakan juga dengan dua buah ayunan yang bisa Airin naiki.
"Cantik banget! Lihat, bulannya juga kelihatan ada di air danau." Dengan semangat Airin berjalan untuk lebih dekat dengan danau. Perempuan itu terkikik ketika melihat bayangannya di air danau.
Kemudian, Airin terpikirkan satu hal. "Danau ini nggak ada buayanya 'kan? Atau hewan-hewan berbahaya lainnya?"
"Enggak ada, danau ini aman, kok," jawabnya, "Kita duduk di sana, yuk!"
Airin mengikuti langkah suaminya menuju ke sebuah kursi kayu. Keduanya duduk di sana seraya tenggelam dipikiran masing-masing sembari menikmati pemandangan cantik juga dengan malam sepi yang tenang.
__ADS_1
Akan tetapi, lima menit kemudian Airin bersuara. "Kak Nevan, waktu masih sekolah kemarin Airin 'kan pernah ketemu sama Kak Icha terus ngobrol bareng. Kak Icha 'kan sama Kak Gabril saling suka terus Airin tanya kenapa Kak Icha nggak pacaran aja sama Kak Gabril, terus kata Kak Icha kalau pacaran itu dosa. Emang itu bener, Kak Nevan?"
Nevan menganggukkan kepalanya. "Iya, pacaran itu emang dosa. Gue aja nggak pernah pacaran, malah--"
--Langsung jadi istri, itu juga karena cinta satu malam," lanjutnya dalam hati.
"Emangnya kenapa bisa dosa? Cuma pacaran, doang." Airin bertanya sembari menatap suaminya polos.
"Ada banyak pendapat ahli agama yang membahas tentang hukum pacaran dalam Islam. Mayoritas mengatakan haram karena dapat mendekatkan pelakunya pada perbuatan zina. Sebagaimana diketahui, tidak sedikit pasangan yang berpacaran kerap menghabiskan waktu berdua di tempat yang sepi dan tenang. Mereka saling berbagi kasih satu sama lain melalui tindakan mesra yang dilarang dalam agama. Yang demikian bisa menjadi permulaan dari perbuatan zina. Sehingga Allah Subhanallahu wata'ala berfirman dalam surat al-Isra ayat tiga puluh dua yang artinya, dan janganlah kamu mendekati zina; zina itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk."
Nevan melanjutkan perkataannya. "Kemudian Rasulullah juga bersabda, dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw berkhutbah, ia berkata: Jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali beserta ada mahramnya, dan janganlah seorang perempuan melakukan musafir kecuali beserta ada mahramnya."
"Dua dalil tersebut secara tersirat menjelaskan bahwa, Islam memberikan peringatan kepada umat Muslim tentang larangan pacaran. Tujuannya agar seseorang tidak terjerumus kepada perzinaan yang umumnya diawali dengan situasi berduaan," lanjutnya.
Tak sampai di sana, Nevan melanjutkan lebih dalam lagi agar Airin betul-betul paham. "Pendapat serupa disampaikan oleh Abdurrahman Al-Mukaffi dalam buku Pacaran dalam Kacamata Islam. Beliau menyebutkan bahwa pacaran merupakan refleksi dari hubungan intim. Pacaran dapat memperbesar risiko terjadinya segala macam perzinahan. Dosa pacaran dapat mengalir seiring dengan jalannya hubungan mereka. Setiap tindakan dan perbuatannya adalah maksiat yang dilarang dalam Islam. Sehingga beberapa pendapat mengatakan bahwa pacaran bisa mengantarkan pelakunya ke neraka jahannam."
"Islam pun sudah melarang umatnya untuk bersentuhan kulit antar lawan jenis. Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya salah seorang di antaramu ditikam dari kepalanya dengan jarum dari besi, adalah lebih baik daripada menyentuh seseorang yang hukan muhrimnya," sambungnya.
"Oleh karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan umat Muslim untuk menikah apabila mampu. Sebab, pernikahan dapat memuliakan seseorang dan mencegahnya dari fitnah. Sebagaimana dikatakan dalam hadist berikut: Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji ********. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum puasa, karena shaum itu dapat membentengi dirinya.” Nevan mengakhiri ucapannya dengan menyentuh puncak kepala Airin sebentar.
"Tapi, Zean sama Citra kenapa pacaran?" tanya Airin lagi.
"Pandangan seseorang nggak semuanya sama, bahkan sebagian orang menganggap pacaran itu tahap mencari jodoh dan mengenalnya. Guru gue pernah bilang, pacaran boleh asal tahu batasan. Jangan sampe berdua-duaan di tempat sepi nanti yang ada malah timbul fitnah, karena sebagian orang percaya dengan apa yang mereka lihat dibandingkan dengan apa yang mereka dengar," kata Nevan tanpa merasa lelah. Demi agar Airin paham ia rela menjelaskannya panjang lebar, padahal selama ini ia jarang berbicara panjang.
"Kak Nevan 'kan nggak pernah pacaran dan sekarang udah nikah, terus mau kapan rasain pacarannya?"
Dengan begitu mudahnya semburat merah muncul di pipi Airin yang sedikit chubby. Untuk menyalurkan rasa malunya Airin mengecup singkat bibir Nevan dan hal itu membuat si empu kaget. Ternyata sekarang Airin sudah mulai berani memulai.
Tak ingin Nevan lebih lama melihat wajah malunya, perempuan itu menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Nevan pun tersenyum dalam diam dan memeluk Airin dengan nyaman.
"Sejak kapan Kak Nevan jadi pinter bicara kayak gitu? Airin jadi malu, dada Airin terus deg-degan. Kayaknya besok Airin perlu ke rumah sakit buat periksa jantung," katanya dengan pipi yang masih memerah bak tomat matang.
"Makanya jangan gemes-gemes banget, biar nggak gue gombalin," ujarnya.
"Tuh 'kan! Jantung Airin makin nggak sehat," balas Airin sembari memukul pelan lengan Nevan.
Nevan melepaskan pelukannya dan diganti dengan mencium bibir istrinya, entah sejak kapan ia mengklaim bahwa bibir Airin menjadi hal yang sangat favorit baginya.
Setelah selesai, Airin menatap Nevan dan berucap. "Kak Nevan, Airin punya sesuatu buat Kak Nevan."
"Apa?" tanyanya penasaran.
"Nanti Airin tunjukkin kalau udah di rumah," jawabnya semangat.
__ADS_1
Puas dengan menghabiskan waktu di danau berdua, pasangan suami-istri itu kembali pulang ke rumah setelah waktu adzan isya berkumandang dari ponsel Nevan. Mereka pun menunaikan ibadah shalat isya berjamaah.
Sekarang, Nevan sedang duduk di teras sembari memainkan gitar yang ia bawa dari rumah Allen. Ia menatap ke arah pintu kamar, sedari tadi Airin belum juga keluar dari sana. Nevan bertanya-tanya, apakah Airin sudah tidur?
Masuk ke dalam dan mengunci pintu utama dari dalam. Nevan membalikkan badannya dan langsung dikejutkan dengan kedatangan Airin. Perempuan tersenyum, kemudian berputar pelan di depannya.
"Gimana? Canti nggak?" tanya perempuan itu dengan polos.
Nevan menghela nafasnya sembari memijat pangkal hidungnya. "Lo dapet baju itu dari mana, Airin? Astaghfirullah!"
Airin bersidekap. "Kak Nevan diajak secara baik-baik nggak mau terus, jadinya Airin coba pakai sesuai kata-kata Citra."
Demi apapun setelah pulang dari sini Nevan tidak akan membiarkan Airin bergaul dengan Citra lagi. Kekasih Zean itu malah membawa dampak buruk untuk istri kecilnya yang polos ini.
"Airin, lo nggak perlu lakuin hal kayak gini atau sesuai kata-kata Citra. Kalaupun gue mau pasti bakal gue lakuin," ucap Nevan.
"Kapan Kak Nevan maunya?"
"Ya, kapan-kapan."
"Tuh 'kan! Kak Nevan nggak tergoda apa sama Airin? Airin udah cantik sama seksi kayak gini, lho. Atau jangan-jangan Kak Nevan itu nggak normal sama kayak yang Citra bilang," tuduh Airin.
Dengan cepat Nevan mengelak. "Enak aja, gue normal. Yakali, suka sesama jenis."
"Udah, mending sekarang lo ganti baju sama baju yang lebih normal. Mau lo telanjang pun di depan gue, gue nggak akan lakuin kegiatan ranjang yang lo maksud," tambahnya.
"Kenapa?" tanya Airin dengan suara serak serta mata merah berkaca-kaca.
"Apa karena Kak Nevan nggak suka sama Airin makanya Kak Nevan nggak mau? Emang bener, seharusnya Airin jangan terlalu berharap sama Kak Nevan. Perlakuan sama perhatian Kak Nevan sama Airin itu cuma sekedar memenuhi kewajiban sama tanggung jawab aja 'kan?"
Rasanya hati Nevan sakit melihat Airin hampir menangis juga dengan perkataan perempuan itu. "Bukan, bukan kayak gitu maksud gue."
"Airin, gue nggak mau lakuin itu bukan seperti yang lo maksud. Gue cuma mau lo menikmati masa remaja kayak cewek-cewek lain di luar sana, cukup dengan adanya pernikahan ini lo jadi nggak bebas kayak dulu lagi. Kalau sampe lo hamil, bukan cuma masa remaja lo yang direnggut, tapi juga sekolah sama cita-cita lo," lanjut Nevan dan ia berharap Airin mengerti.
Nevan mendekati istrinya, lalu memegangi kedua pundak perempuan itu. "Airin, gue pernah bilang kalau gue cuma mau nikah satu kali. Itu berarti gue nggak akan ninggalin lo dan kita bisa lakuin itu kalau nanti lo udah lulus, kita masih punya banyak waktu untuk soal punya anak."
"Gue juga belum percaya diri buat punya anak, sebab gue belum berpenghasilan. Lo ngerti 'kan?" sambungnya
Airin menganggukkan kepalanya. "Maafin Airin, ya, Kak Nevan. Airin maksa-maksa Kak Nevan terus sama nggak ngertiin perasaan Kak Nevan."
"Enggak apa-apa, sekarang lo ganti baju, cuaca di sini dingin," tuturnya.
"Enggak ah, enak, kok, pake baju ini." Begitu saja Airin melengos ke dalam kamar.
__ADS_1
Nevan menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bisakah ia bertahan malam ini? Sejujurnya, ia sedari tadi panas dingin melihat penampilan Airin yang sangat luar biasa. Nevan ini laki-laki normal yang memiliki hawa nafsu, jika disuguhkan dengan hal seperti tadi, siapa coba yang tidak akan tergiur?
"Bisa pasti bisa!"