Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
03. Sekolah


__ADS_3

"Itu yang ngingetin pacarnya makan, tapi nggak ngingetin pacarnya minum maksudnya apa? Biar seret terus mati, hah?"


"Rexona aja setia setiap saat masa elo masih selingkuh, malu sama ketek!"


"Udah dichat panjang kali lebar, nyari topik ampe ngeden masa cuma dibalas oke, lo kira gue RCTI!"


Pemuda dengan tampilan seragam urakan itu menggelengkan kepalanya pelan, kemudian menyumpal telinganya dengan earphone. Kepalanya pagi-pagi begini sudah pusing mendengar ocehan para teman maksiatnya yang tidak berfaedah.


Nevan, Reval, Gabril, Davian, dan Zean. Mereka berlima berjalan di koridor sekolah menuju ke kelas masing-masing dengan penampilan yang sangat jauh dikatakan sebagai anak sekolahan. Apalagi rambut Davian yang begitu mencolok berwarna purple, katanya biar mirip sama rambut IU pas di MV Blueming.


"Cinta bertepuk sebelah tangan emang udah biasa, lo pernah nggak cinta dalam diam plus beda keyakinan?"


"Satu kata untuk Gabril!"


"Miris!"


Mendengar sahutan teman-temannya membuat Gabril membuang napasnya panjang, matanya yang indah itu tanpa sengaja menangkap sosok seorang gadis berseragam SMA. Rok yang panjang, lengan seragam yang panjang, jangan lupakan kerudung yang menutupi dada gadis itu. Adem setiap melihat gadis itu, tetapi lagi dan lagi kenyataan menyadarkan Gabril bahwa cintanya tak bisa bersatu.


"Sing sabar, jodoh mah moal ka mana." Reval menepuk-nepuk pundak Gabril, menatap sahabatnya itu dengan kasihan.


"Kalau lo nggak bisa bersatu sama dia. Tenang, masih ada gue yang ikhlas lahir batin buat jadi suami dia," lanjutnya.


Gabril mendesis, menunjukkan tatapan sinis kepada Reval. "Meski gue sama dia nggak bisa bersatu, tapi amit-amit juga kalau lo yang jadi suaminya nanti. Gue ancurin pernikahan kalian!"


"Nevan! Nevan!"


Sang pemilik nama membalikkan badannya, melihat seorang gadis berambut sepinggang berlari ke arahnya dengan membawa sekotak tupperware berwarna biru muda.


"Nih! Aku buatin nasi goreng spesial buat kamu, pagi-pagi banget aku bangun sampe jari aku luka buat bikin ini." Gadis itu menyodorkan tupperware itu kepada Nevan dengan senyuman manisnya.


Nevan mengambilnya membuat si gadis senang bukan main. "Val, katanya lo masih lapor belum kenyang, 'kan?"


Reval menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Nih, dimakan nasi gorengnya, gue nggak minat."


Melihat tupperware berpindah tangan membuat Ilona Jannie Kaitlyn menatap Nevan tak percaya. Bagaimana bisa Nevan memberikannya kepada Reval dengan wajah datar tanpa dosa.


"Aku buatin itu buat kamu, Nevan," katanya dengan nada suara merengek.


Dan dengan dingin Nevan berkata. "Emang pernah gue minta sama lo buat bikinin nasi goreng? Enggak, 'kan?"


Pemuda itu kembali melanjutkan langkahnya, mengabaikan Ilona yang memanggil namanya terus-menerus. Nevan tak suka berurusan dengan perempuan karena baginya perempuan zaman sekarang itu menyusahkan, tak ada sedikitpun melintas rasa ingin pacaran di benaknya.


"Lo kenapa cuekkin Ilona? Lumayan, tuh, dia cantik," celetuk Davian.


"Lo minat? Gebet aja," jawab Nevan enteng.


Davian mengedikkan bahunya tanda tidak mau. "Enggak ah, masih cantik kan IU."


Reval menahan tangan Davian membuat laki-laki berambut purple itu menatapnya bingung.

__ADS_1


"Dav, sadar! Gabril aja nggak bisa menggapai Icha yang udah di depan mata karena beda agama, elo sama IU yang beda segalanya bisa apa coba?"


"Bisa halu!" Davian menepis tangan Reval, kemudian berlalu meninggalkan teman-temannya dengan perasaan jengkel.


"Halu aja terus sampe gue sama Citra punya cucu!" teriak Zean yang diakhiri dengan kekehan.


Lagi dan lagi langkah mereka harus terhenti karena Nevan si ketua Drave tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam itu memperhatikan seorang gadis yang tengah dikelilingi oleh tiga siswa.


"Permisi, Kak! Airin mau lewat, kalian halangi jalan Airin."


"Anak kelas mana lo? Baru lihat gue."


"Tapi, oke juga kayaknya."


"Murid baru, ya, Dek manis?"


Gadis itu adalah Airin, ia menepis tangan pemuda berambut gondrong yang dengan tidak sopannya hendak memegangi dagunya. "Jangan sentuh-sentuh! Kata Kak Al, Airin nggak boleh disentuh sama laki-laki manapun. Kalian semua kuman, penuh sama bakteri. Nanti Airin sakit kena virus, sana minggir!"


"Heh! Lo jadi cewek belagu banget, berani lo sama kita!"


"Pengecut, beraninya sama cewek!"


Ketiga pemuda itu lantas menolehkan kepalanya ke belakang, langsung terlonjak melihat Nevan berdiri di sana dengan tatapan tajam yang mampu membuat lawannya ketakutan.


Tanpa mengatakan satu patah kata pun mereka bertiga lari terbirit-birit, hal itu membuat Airin menjadi bingung sendiri.


"Wah! Kakak punya kekuatan, ya? Masa cuma lihat Kakak mereka langsung pergi, pokoknya Airin minta diajarin tipsnya," katanya dengan menatap Nevan kagum.


"Nevan, nama gue Nevan," ujarnya singkat.


Airin memegang kedua pundak Nevan, ia berjinjit lalu menempelkan pipinya dengan pipi Nevan dan hal itu meninggalkan efek samping bagi Nevan.


"Airin Jeovanna Gyandra, panggil Airin aja," ucapnya setelah melakukan adegan tak terduga tadi.


"Yang baru datang dari luar negeri mah emang beda euy." Tiba-tiba saja Reval menyahut, menghampiri keduanya bersama dengan Gabril dan Zean.


"Kaget banget dong gue, itu jantung lo masih aman, Van?" tanya Zean dengan mimik wajah khawatir.


Nevan menepis tangan Zean yang hendak menyentuh dadanya. "Enggak usah sentuh!"


"Eh, lo adeknya Bang Allen, 'kan?" tanya Reval dan Airin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Lo kemarin baru dari luar negeri, sekarang udah masuk sekolah, emangnya nggak capek?" Kini Gabril yang bertanya.


Airin menggelengkan kepalanya. "Enggak, Airin 'kan strong!"


"By the way, kelas sebelas IPA tiga di mana, ya? Dari tadi Airin muter-muter, tapi kelasnya nggak ketemu," lanjutnya.


"Sini, gue anter!" Nevan menggenggam tangan gadis itu, membawanya menuju kelas yang Airin maksud.


•°•°•

__ADS_1


"Tadi Airin seneng banget udah punya temen, namanya Citra sama Diandra. Tadi Citra cerita kalau dia itu pacarnya temen Kakak yang namanya Zean, emang bener, ya? Terus tadi juga Airin sebel banget sama gurunya, dia nanya berapa luas kolamnya Pak Budi, seharusnya dia nggak nanya sama Airin karena kolam itu punya Pak Budi. Jadi, Airin nggak tahu. Tapi, guru matematika Airin malah marah, dia ngambek pergi keluar kelas. Udah tua, kepala botak, ambekkan lagi. Ish!"


Nevan duduk di samping Airin dengan sabar, mendengarkan setiap kata demi kata yang keluar dari bibir gadis itu. Meski telinga sudah sangat lelah, kepalanya pun ikutan lelah sebab ia menyimak dengan anggukan kepala atau sekedar deheman singkat.


Ia juga menyuapi gadis itu makan nari goreng sosis. Beberapa menit yang lalu, tepat bel istirahat berbunyi ada orang suruhan Allen datang menghampirinya, mengatakan bahwa Airin tidak bisa makan sembarangan, Allen lupa memberitahu Nevan tentang ini.


Airin definisi cewek manja yang sebenarnya. Apa-apa harus dilayani, padahal menurut Nevan hal sekecil ini masih bisa dilakukan secara mendiri.


Makan Nevan yang suapin, minum Nevan yang bantuin, bibir belepotan Nevan yang bersihin, Airin keringatan Nevan yang elapin. Udah sabar banget Nevan, tuh.


Sementara para teman laknat Nevan duduk di meja kantin yang berbeda. Sengaja Nevan pisah meja karena pastinya teman-temannya akan terus menggoda dirinya dan juga Airin tentunya.


"Jangan ngomong terus, lo lagi makan, kalau keselek mampus lo," omelnya.


Airin menggeleng. "Enggak bakal keselek, kok, orang Airin--uhuk! Uhuk!"


"Tuh, 'kan apa gue bilang. Ngeyel banget, sih, kalau dibilangin." Dengan cepat Nevan menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu, lalu memberikan segelas teh manis kepada Airin.


"Kak Nevan, sih, ngomong terus! Airin jadi keselek jadinya!"


"Salah gue apa, sih, hah? Capek gue!" Nevan menjerit tertekan dalam batinnya.


Di satu sisi ada Reval dan Gabril yang duduk di meja paling mojok, mereka berdua memperhatikan setiap gerak-gerik Airin dan si ketua Drave, Nevan.


"Lo yakin dia Nevan yang nggak suka deket-deket sama cewek?"


Gabril menganggukkan kepalanya mantap. "Lo pikir si Nevan punya kembaran apa?"


"Gue nggak percaya! Lo lihat dia perhatian banget sama Airin," elak Reval.


"Lo cemburu?"


Reval mencubit bibir Gabril. "Lambe mu! Yakali seorang Reval yang memecahkan rekor memacari lima belas gadis dalam sehari cemburu."


Gabril berdecih, "Ngomong-ngomong, Zean sama Davian mana?"


"Zean lagi mojok sama pacarnya."


"Astaga, kayaknya kita bakalan cepet punya ponakan. Davian?"


"Masih pundung dia soal tadi pagi."


Gabril menganggukkan kepalanya paham dan kembali memfokuskan diri kepada Nevan dan juga Airin.


•°•°•


Laki-laki berusia dua puluh lima tahun itu menatap layar ponselnya dengan senyuman di bibir pucatnya. Ia tengah fokus dengan melihat beberapa foto yang sempat ia ambil dengan tunangannya yang sekarang sudah pergi meninggalkan dirinya.


Hingga sekarang Allen masih menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Meisha Xaviar Calvin. Di mana Meisha diculik oleh musuhnya, mereka nyiksa Mesiha sampai perempuan itu sekarat. Kalau saja Allen lebih becus menjaga perempuannya, mungkin Meisha masih ada. Perempuan itu masih bersamanya dan bahagia menjadi istrinya.


Ia mendongakkan kepalanya, menahan agar air matanya tak jatuh kembali. Matanya yang sudah memerah itu memperhatikan jendela di ruangannya, hanya ada langit malam yang terlihat di sana.

__ADS_1


"Meisha, aku kangen sama kamu. Seandainya kamu masih ada, kita sekarang mungkin sudah punya satu anak. Kenapa ... Kenapa harus kamu? Kenapa kamu pergi? Ini terlalu cepat, Meisha."


__ADS_2