
Sebelum pulang, Allen harus menghadiri meeting terlebih dahulu dan Keisha menunggu majikannya itu di ruang kerja Allen. Ia mengamati setiap sudut ruangan itu dengan hati-hati, Keisha belum pernah benar-benar sangat memperhatikan ruangan itu karena ia masuk ke sana hanya untuk mengantarkan bekal untuk Allen saja.
Perempuan itu berjalan menyusuri dan mengamati rak yang berisi buku-buku, beberapa dokumen, juga furniture untuk menghias rak itu. Akan tetapi, fokus Keisha teralihkan kepada sebuah buku album berwarna hitam. Ia mengambilnya tanpa ragu, ketika dibuka ia langsung dikejutkan dengan wajahnya di sana. Bagaimana bisa?
Tidak hanya satu dua, ada foto dirinya ketika selfie, foto ketika di pantai, ketika ia mengenakan gaun putih yang begitu mewah, serta ada banyak foto dirinya bersama dengan Allen.
Tunggu, ia tidak pernah melakukan hal itu. Pertama kali bertemu dengan Allen adalah ketika di supermarket, Keisha ingat dengan jelas bahwa semasa hidupnya ia tak pernah mengalami kecelakaan parah sama sekali. Lalu, ada apa dengan foto ini?
"Apa-apaan ini? Enggak mungkin, a-aku nggak pernah pake gaun ini. Apalagi sampe foto di pantai, kenapa juga ada wajah aku di foto ini? Se-sebenarnya ini ada apa?" Keisha terus menggumamkan pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan kenapa bisa ada dirinya di foto itu. Itu sangat tidak masuk akal.
Keisha menutup mulutnya dengan tak percaya, menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak mungkin, ini pasti editan."
Terlalu terkejut dengan apa yang Keisha lihat, perempuan itu sampai tak sadar jika pintu ruangan terbuka dan masuklah Allen yang baru saja selesai meeting.
"Keisha, kita mampir dulu ke restoran--" Laki-laki itu menghentikan ucapannya ketika netranya melihat buku album yang Keisha pegang, ia juga dapat melihat raut wajah terkejut dari perempuan itu.
"Keisha, kamu--"
"Apa semua ini?" Keisha bertanya seraya menunjuk salah satu foto di dalam buku album itu.
Allen mendekati perempuan itu, ia juga tak menyangka bahwa Keisha aku menemukan buku album itu. Seharusnya sedari kemarin Allen simpan buku album itu di tempat yang tak bisa Keisha jangkau.
"Keisha, itu--"
Sang pemilik nama mundur menjauhi Allen. "Bapak selama ini tahu sama saya? Bapak selama ini suka nguntit? Ini semua editan, 'kan? Kenapa bisa wajah saya ada di sini? Jangan bilang Bapak jadiin wajah saya sebagai imajinasi liar Bapak!"
Laki-laki berusia dua puluh lima tahun itu menghela nafasnya seraya memijat pangkal hidungnya. "Bukan begitu, foto itu juga bukan editan."
"Enggak mungkin! Saya nggak pernah lakuin semua yang ada di dalam foto ini." Keisha mengelak dengan meninggikan nada suaranya, beruntung tidak ada orang luar yang mendengar.
"Itu bukan editan, dan perempuan di foto itu juga bukan kamu," ucap Allen tanpa ragu, sepertinya harus Allen katakan semuanya kepada Keisha sekarang.
Keisha mengernyit. "Maksud Bapak apa? Saya nggak paham."
"Nanti saya jelaskan, sekarang saya harus ke restoran menemui klien," katanya sembari mengambil kunci mobil di meja kerjanya.
"Kenapa nggak sekarang?"
"Sudah saya katakan, kalau saya mau ketemu dengan klien."
"Bapak sengaja ngelak, ya?"
"Keisha, sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas soal ini."
__ADS_1
"Bohong! Bapak pasti sengaja ngelak biar saya nggak--"
Allen menghentikan perkataan Keisha dengan memojokkan perempuan itu ke dinding. Menatap bola mata yang sangat familiar itu dengan dalam. "Singkatnya, perempuan itu adalah tunangan saya dan itu bukan kamu!"
•°•°•
Seharian ini Nevan habiskan dengan menemani Airin, dari maskeran dengan perempuan itu, menyiram tanaman, dan menemani Airin menonton film zombie yang berakhir Airin membanting ponselnya sendiri karena terkejut dengan kehadiran zombie di layar secara tiba-tiba. Tak sampai di sana, Airin juga terus menangis ketakutan dipelukkan Nevan selama kurang lebih satu jam.
Setelah melakukan adegan dramatis itu, Airin meminta Nevan untuk memasak makanan untuk dirinya makan malam. Nevan hanya mengangguk melakukan semua yang istri kecilnya minta, Nevan hanya mencari aman saja.
"Kak Nevan jago masak diajarin sama siapa?" tanya Airin tiba-tiba seraya memperhatikan suaminya yang tengah bergulat dengan bahan dan alat di dapur, sedangkan dirinya duduk di meja pantry.
"Belajar sendiri," jawabnya singkat.
"Airin juga pernah belajar sendiri, tapi malah dapurnya hampir kebakaran," katanya dengan santai membuat Nevan menghela nafasnya.
Nevan jadi berpikir untuk jangan membiarkan Airin masuk ke dapur sendirian atau menyuruh perempuan itu memasak. Kan sayang kalau seluruh rumah besar nan mewah ini hangus terbakar, daripada terbakar lebih baik dijual saja.
"Kak Nevan kenapa kalau bicara selalu singkat? Kan nggak bikin dosa juga kalau bicara banyak, terus nggak pernah senyum juga sama orang lain 'kan senyum itu sedekah." Airin terus berbicara dengan menatap punggung Nevan.
"Suara sama senyum gue mahal, nggak sembarang orang yang boleh tahu," balasnya sekenanya.
"Jadi, Airin spesial dong!"
Dengan semangat Airin menjawab. "Sebab Airin pernah denger Kak Nevan ngomel-ngomel sama lihat senyuman Kak Nevan."
Mendengar itu Nevan menyunggingkan senyum tipisnya. "Iya, lo emang spesial buat gue."
"Kak Nevan!" panggil Airin setelah hening beberapa detik.
Nevan berdehem singkat sebagai jawaban.
"Airin kenapa nggak hamil?"
Secara spontan Nevan membalikkan tubuhnya menatap Airin dengan heran. "Kenapa nanya kayak gitu?"
"Istri Kak Bara bilang kalau udah lakuin kegiatan ranjang pasti nggak lama bakalan hamil." Dengan polosnya Airin menjawab.
Nevan mengembuskan napasnya. "Enggak langsung juga kali, butuh waktu sekitar dua Minggu atau sebulan. Ada juga yang ketahuan hamil pas empat bulan. Lagipula lakuin kegiatan ranjang sekali nggak selalu bikin hamil."
"Kalau gitu kita lakuin kegiatan ranjang lagi, yuk!" ajak Airin dengan santainya, tak tahukah ia bahwa ada sesuatu yang berdebar di diri Nevan.
"Enggak usah ngaco! Emangnya kalau lo hamil, lo udah siap jadi ibu?" Nevan bertanya seraya memotong bawang.
__ADS_1
"Airin cuma mau punya bayi 'kan lucu bisa diunyel-unyel sama diajak main, Airin juga bakal ajak dia jajan es krim nanti."
Mendengar jawaban polos Airin membuat Nevan mengembuskan napas panjangnya. "Airin, hamil itu selama sembilan bulan, belum lagi melahirkan, merawat dan mendidik. Semua itu nggak gampang buat kita lakuin yang notabenenya masih anak SMA. Belum lagi hamil diusia muda terlalu beresiko, gue harap lo nggak hamil."
Entah kenapa Airin yang mendengar itu merasa kecewa. "Kenapa? Kenapa Airin nggak boleh hamil?"
Nevan mengehentikan aktivitasnya, ia mendekati istrinya dan memegangi kedua pundak sempit istrinya. "Airin, hamil dan memiliki anak itu nggak semudah dan seindah yang lo pikirin. Kita harus siap secara mental dan fisik, kalau sampai lo hamil, gimana sama sekolah lo? Masa depan lo juga, lo boleh hamil tapi bukan sekarang."
"Tapi, kita 'kan udah lakuin adegan ranjang, gimana kalau Airin hamil?"
Mendengar itu secara perlahan Nevan menjauhkan tangannya dari pundak Airin. Nevan bukannya tak ingin Airin hamil, Nevan bukannya tak senang jika nanti Airin hamil. Hanya saja, Airin masih terlalu muda dan polos untuk menghadapi itu semua.
Mengandung sembilan bulan, lalu melahirkan dengan rasa sakit yang tak bisa diutarakan. Melahirkan dan mengandung diusia muda terlalu beresiko, Nevan tak siap dengan resiko itu. Nevan terlalu pengecut menghadapi konsekuensi yang memang harus ia terima karena sudah melakukannya pada malam itu.
Nevan hanya terlalu takut Airin meninggalkannya.
Tak kunjung mendapat jawaban dari sang suami, Airin dengan perasaan kesal memilih untuk berlari dan masuk ke dalam kamarnya. Menangis seorang diri di kamar itu, ia kecewa dengan respon Nevan.
Dan Nevan sendiri pun terlalu tak percaya diri untuk mengungkapkan, bahwa ia takut untuk kehilangan Airin.
Kembali ke kenyataan bahwa Airin itu selalu bertingkah seperti anak kecil, seharusnya Nevan yang menanggapi dengan serius ucapan istrinya itu. Ia pun memilih untuk membujuk perempuan itu, jangan sampai Airin merajuk dan Allen tahu, nanti yang ada Allen menendang dirinya.
"Airin!" pangginya dari luar kamar, ia bisa mendengar suara tangisan meski samar dan entah kenapa hatinya terasa sakit.
"Airin, maaf soal tadi. Gue bukannya nggak mau lo hamil dan punya anak, tapi kita masih sekolah," katanya.
"Pergi! Airin nggak mau denger suara Kak Nevan!" teriak Airin dari dalam.
"Airin, jangan kayak gini. Kalau lo marah nanti kalau bobo siapa yang peluk? Emangnya mau dipeluk sama setan?"
Mendengar itu Airin melihat-lihat sekelilingnya, ia mulai merasa merinding. Tapi, ia tak boleh runtuh dengan mendengarkan omongan itu.
"Airin nggak takut!" balasnya.
Nevan menghela nafasnya. "Kalau Airin mau hamil, gimana besok pas liburan ke puncak kita bikin bayinya?"
Perlahan Airin merasa tertarik dengan ucapan Nevan. "Beneran?"
Laki-laki itu mengangguk singkat. "Iya, gue nggak bohong. Makanya sekarang jangan ngambek lagi, atau bikin bayinya nggak jadi."
Beberapa detik kemudian pintu kamar terbuka, menampilkan wajah Airin yang habis menangis.
Nevan tersenyum singkat. "Jangan marah lagi, sekarang gue balik masak lagi, tadi katanya laper."
__ADS_1
Airin menganggukkan kepalanya.