Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
Saran Nevan


__ADS_3

Sepulang sekolah Nevan mengajak Bilqis untuk ketemuan di kafe dekat alun-alun, laki-laki itu ingin membicarakan soal kemarin tentang tawaran untuk menjadi pacar pura-puranya Bilqis.


"Sorry, gue lama. Lo udah nunggu lama di sini?" Bilqis langsung duduk di depan Nevan dengan masih mengenakan seragam sekolah.


"Soal kemarin, gue nggak bisa jadi pacar pura-pura lo," ucap Nevan langsung pada inti.


Mendengar itu tentu saja Bilqis kaget. "Kenapa? Lo nggak mau nolongin gue, lagi pula lo tenang aja, gue nggak ada niatan buat rebut lo dari Airin."


Laki-laki itu menghela nafasnya. "Gue tahu, tapi tetep aja gue nggak mau bikin Airin kepikiran terus. Lagi pula gue punya satu cara buat bantu lo lepas sepenuhnya dari Dean."


Mata Bilqis berbinar mendengar itu, dirinya mencondongkan wajahnya ke arah Nevan. "Gimana? Gue pasti lakuin apapun asal lepas dari Dean, tadi aja dia maksa buat pulang bareng dia sampe tangan gue memar ditarik-tarik sama dia."


"Galang Aldrich Kael, usia sembilan belas tahun dia mahasiswa jurusan bisnis di universitas Wersey. Bisa dibilang dia setara sama gue, dia juga sekarang lagi nggak ada pasangan, jadi lo bisa sambil pendekatan sama dia," ucap Nevan panjang lebar dengan raut wajah tanpa ekspresi seperti biasa, beda lagi kalau udah sama istri tercinta.


Bilqis mengerutkan keningnya, gadis itu tampak sedang berpikir. "Tunggu, Galang yang lo maksud itu Galang yang ketua geng Earth?"


Menganggukkan kepalanya sebagai balasan.


Gadis itu menggelengkan kepalanya sembari mengibaskan tangannya. "No! Gue nggak mau berurusan lagi sama yang namanya anak geng. Dean salah satu anggota inti geng Elton, gimana kalau ternyata Galang sama kasarnya kayak Dean? Gue nggak mau!"


Nevan mengerutkan keningnya. "Elton? Mantan pacar lo anggota Elton?"


Bilqis menganggukkan kepalanya tanpa ragu. "Iya, dia anggota inti Elton. Beberapa kali juga gue pernah diajak ikut buat nemenin dia ke area balapan, mana serem-serem lagi anak geng motor kayak gitu."


"Gue nggak mau, ya, sama si Galang itu. Mana dia itu musuh besarnya Elton, bisa-bisa kacau nanti urusannya. Udahlah, lo aja yang bantu gue," lanjut Bilqis.


Mendengar itu Nevan bersidekap menatap Bilqis dengan dingin. "Emang lo pikir gue ini siapa?"


Melihat raut wajah Nevan membuat Bilqis gugup. Tiba-tiba saja dirinya merasakan aura yang berbeda dari diri Nevan.


"Nevan Xander Calvin ketua geng Drave, gue nggak ada bedanya sama Galang maupun Dean. Jadi, lo juga pasti nggak mau dibantu sama gue, 'kan?" timpal Nevan dengan dingin.


"Enggak semua orang seperti yang lo kira, apa lo pernah denger kalimat ini? Jangan menilai buku hanya dari covernya. Enggak semua anak geng motor yang lo tahu itu seperti apa yang lo tahu, dan nggak semua cowok kasar seperti Dean. Lo bakal diperlakukan istimewa kalau nemu cowok yang bener-bener sayang sama lo, Bilqis." Nevan mengembuskan nafasnya, terpaksa dirinya harus menasehati gadis itu padahal niat awal hanya menolak tawaran kemarin dan memberikan saran.


"Dean si cowok kasar itu kayaknya udah terobsesi sama lo, mau pake cara halus atau kasar pun nggak akan mempan. Jadi, mending lo terima saran awal gue, biar Galang yang bantu jaga lo dari Dean. Sebab, gue udah punya Airin yang harus gue jaga." Nevan memasukkan ponselnya yang ada di atas meja ke dalam satu, kemudian berdiri.


"Terserah lo mau ikutan saran gue apa nggak, karena gue nggak bisa buat bantu lo pake cara lain selain yang tadi." Setelah mengatakan itu Nevan bener-bener pergi dari hadapan Bilqis.


Bilqis sendiri sekarang bimbang, jika tidak mengikuti saran Nevan yang ada dirinya tidak akan pernah lepas dari Dean. Akan tetapi, ia juga takut kalau-kalau ternyata Galang sama saja dengan Dean.


"Gue harus gimana sekarang?"


Sementara itu, Nevan yang berada di parkir langsung bertemu dengan Galang yang sudah dirinya suruh untuk ke sana. Sengaja, agar Bilqis dan Galang bisa bertemu.


"Mau ngapain ajak gue ketemu di sini?" tanya Galang tanpa basa-basi.


Nevan menunjuk ke arah dalam kafe, terlihat ada Bilqis yang masih duduk di sana. "Cewek itu namanya Bilqis, dia mantan Dean salah satu anggota inti Elton. Lo kalau mau bisa ajak dia buat pendekatan."


Galang menatap Nevan tak percaya. "Lo suruh gue pacaran sama mantan musuh sendiri? Gila! Gue nggak mau, gimana kalau ternyata dia itu disuruh buat mata-matain kita?"


"Enggak, dia putusin pacarnya secara sepihak karena si Dean kasar sama dia. Tuh, cewek mau lepas sepenuhnya dari Dean yang masih nggak mau lepasin dia. Sebenarnya dia minta bantuan gue, tapi gue nggak bisa. Berhubung lo jomblo, jadi gue tawarin dia buat jadi pacar lo sekalian bantuin dia dari Dean. Lo juga bisa cari informasi soal Elton dari dia." Nevan berkata dengan tenang sembari memakai helm.


"Jadi, maksud lo kita manfaatin dia gitu?"


"Bukan, tapi ini semacam simbiosis mutualisme, sama-sama menguntungkan. Lo punya pacar plus dapat informasi dan Bilqis bisa lepas dari mantannya plus dapet pacar baru," jawab Nevan dengan enteng, setelah itu ia melengos begitu saja pergi dari sana.


Galang berdecak. "Dasar bocah tengik! Ngapain juga gue harus nurutin omongan dia?"

__ADS_1


Laki-laki itu berbalik hendak pergi dari sana, tetapi ia mengurungkan niatnya dan kembali menatap Bilqis yang masih ada di kafe. "Tapi, boleh juga gue coba," gumamnya.


•°•°•


Nevan masuk ke dalam rumah dengan menenteng beberapa makanan yang ia beli di perjalanan tadi. Saat masuk ia disambut dengan kehadiran Febby yang sedang menonton televisi sembari menikmati camilan keripik singkong.


"Airin mana?" tanyanya.


Febby menoleh ke arah Nevan. "Ada di kamar kayaknya, dari tadi dia nggak keluar. Mana belum makan lagi."


Laki-laki itu menganggukkan kepalanya paham, kemudian memberikan satu kresek hitam kepada Febby. "Ini gue tadi beli martabak buat lo, rasa cokelat."


Gadis berambut sebahu itu menerimanya dengan senang hati. "Makasih," ujarnya dengan senyuman tipis.


Tanpa membalas perkataan Febby, laki-laki itu langsung berjalan menuju ke arah kamar. Membuka pintu kamar dengan perlahan dan menemukan istrinya yang tengah tengkurap di kasur, jangan lupakan juga laptop yang ada di depan perempuan itu.


"Kata Febby kamu belum makan, kenapa nggak makan hm?" Nevan bertanya sembari mengusap kepala perempuan itu.


Airin mendongak, lalu mengubah posisinya menjadi duduk. "Kak Nevan ke mana aja? Airin nggak nafsu makan."


"Sekarang makan, ya? Nanti kalau sakit gimana? Ini aku bawain jajanan buat kamu." Nevan menunjukkan beberapa kresek yang dirinya bawa.


Melihat itu mata Airin berbinar, mengulurkan tangannya untuk mengambil kresek itu tapi dengan cepat Nevan menjauhkannya dari jangkauan Airin.


"Airin mau," rengek perempuan itu.


"Makan nasi dulu, baru boleh makan ini," balas Nevan.


Airin mengerucutkan bibirnya. "Satu aja, Airin pengin coba."


"Ya udah, iya, Airin makan nasi dulu. Tapi, suapain sama Kak Nevan."


Dengan gemas Nevan mengusap kepala istrinya. "Gitu, dong. Mau makan di sini apa di dapur?"


Perempuan itu nampak berpikir sejenak. "Eum, di dapur aja, deh."


"Ayo!"


Airin merentangkan kedua tangannya. "Gendong!" pintanya dengan manja.


Nevan langsung menggendong istrinya ala koala, sembari berjalan menuju dapur dirinya berkata. "Kalau Febby lihat nanti nggak enak, lho."


"Biarin aja, risiko dia numpang di sini," balas Airin tanpa merasa bersalah.


"Iya, deh, emang risiko gue." Tiba-tiba saja Febby muncul begitu saja, "Kalian tenang aja, besok gue udah balik lagi ke rumah orang tuanya Nevan. Mereka katanya balik besok siang."


Tanpa turun dari gendongan Nevan Airin berucap. "Airin itu sebenarnya nggak masalah Febby di sini, cuma Airin kasihan aja sama Febby yang tiap hari jadi nyamuk."


Febby membalas Airin hanya dengan singkat, kemudian gadis itu masuk ke dalam kamarnya selama tinggal di rumah Allen.


"Lain kali jangan ngomong kayak gitu, kalau Febby kesinggung gimana?" Nevan mendudukkan istrinya di atas meja pantry, kemudian dirinya sibuk dengan mengambil piring juga nasi serta lauk pauknya.


"Airin cuma bicara sesuai kenyataannya aja, kayaknya Febby juga tertekan tiap hari lihat keromantisan kita, Kak Nevan," balas Airin dengan wajah tanpa dosa.


Nevan menaruh piring yang sudah penuh dengan makanan itu di meja, dan beralih dengan mengunci pergerakan Airin. Menarik kedua tangannya di kedua sisi tubuh Airin, ia mendekatkan wajahnya sampai-sampai hidung keduanya bersentuhan.


"Airin, terkadang terlalu jujur itu nggak baik. Sebab, selalu ada kejujuran menyakitkan yang nggak semua orang bisa terima," katanya dengan suara nyaris berbisik.

__ADS_1


Airin sendiri menutup kedua matanya, ketika hembusan nafas suaminya menerpa wajahnya dengan begitu halus. Dan mendengar perkataan Nevan tanpa sadar dirinya menganggukkan kepalanya dengan patuh.


Menjauhkan kepalanya, Nevan beralih menatap wajah istrinya, Airin sendiri sudah membuka kedua matanya. "Jujur emang baik, tapi kata-kata kamu itu bisa aja nyinggung perasaan Febby. Jadi, intinya harus jaga sikap sama perkataan karena nggak semua orang punya sifat yang baik."


"Iya, Airin lain kali bakalan hati-hati lagi," balasnya dengan kepala menunduk.


"Airin, kalau lagi bicara sama aku jangan nunduk!" Nevan mengangkat dagu istrinya membuat Airin menatap wajah Nevan sepenuhnya.


Perempuan itu menepis tangan suaminya dan beralih menatap ke sembarang arah. "Enggak mau! Kak Nevan kalau lagi marah serem, Airin nggak suka!"


Menghela nafas singkat, Nevan menangkup kedua pipi istrinya. "Aku nggak marah, cuma nasihatin kamu aja. Enggak sopan bicara sama orang tapi muka kamu ke mana-mana, jadinya nggak enak."


"Airin, aku nggak bisa marah sama kamu kalau kamu gemes kayak gini." Tanpa ragu Nevan menekan kedua pipi Airin dengan kedua telapak tangannya yang berhasil membuat Airin mengaduh kesakitan.


"Ih! Jangan ditarik-tarik pipi Airin nanti malah makin lebar!" kesal perempuan itu, sedangkan Nevan sendiri tertawa puas melihat pipi istrinya yang memerah.


"Udah, sekarang makan. Nanti jajanannya beneran dikasih sama Febby."


Airin berdecak kesal, meski begitu ia menerima suapan nasi dari Nevan sebab dirinya tidak rela jika jajanan yang sudah Nevan beri malah jatuh ke tangan orang lain.


Setelah selesai menyuapi Airin makan, Nevan langsung pergi untuk mandi. Airin sendiri sibuk dengan jajanan yang Nevan beli, perempuan itu mulai memakannya sembari melanjutkan menonton drama di laptopnya.


Nevan sendiri keluar dari kamar mandi setelah beberapa menit, laki-laki itu keluar hanya menggunakan handuk saja membuat dada bidang serta perut kotak-kotak terumbar ke mana-mana. Untung saja hanya ada Airin di dalam kamar.


Melihat pemandangan yang sangat menyegarkan mata itu membuat Airin menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. "Masyallah! Mirip sama punyanya oppa jungkook."


Tanpa sadar Airin berjalan mendekat ke arah Nevan dan langsung mengelus perut kotak-kotak milik suaminya. Nevan sendiri biasa saja dan tetap melanjutkan untuk mencari kaos miliknya di lemari. Akan tetapi, tak lama laki-laki itu memekik ketika Airin mencubit perutnya.


"Akh! Jangan dicubit, dong!" Nevan meringis seraya mengusap bekas cubitan istrinya.


Airin berdesis kesal. "Cuma nyobain, ternyata nggak keras kayak punyanya Zean."


"Apa? Zean? Kenapa bisa tahu?" tanya Nevan dengan sewot.


"Kata Citra," jawab Airin santai.


Mendengar jawaban istrinya membuat Nevan menghela nafasnya lega, Nevan kira Airin sendiri yang memastikannya ternyata tahu dari Citra. "Enggak sempet olahraga, jadinya nggak sekeras dulu."


"Segini juga nggak apa-apa, daripada perutnya Kak Al nggak kayak gini malah kayak perut bayi," kata Airin dengan jujur. Perempuan itu melihat ketika tadi pagi saat Allen memakai pakaian kerjanya.


"Bang Al udah tua kayak gitu mana kuat buat olahraga lagi," celetuk Nevan.


Kalau sampai Allen tahu apa yang Nevan katakan sudah pasti Allen tendang atau mungkin yang lebih parahnya akan Allen suruh untuk cerai dengan adiknya. Meski perutnya seperti bayi, tapi dulu dirinya punya kotak-kotak berjumlah delapan di perutnya.


Nevan memakai kaosnya juga dengan kolornya, kemudian menyuruh Airin untuk duduk di samping tapi perempuan itu malah duduk di pangkuannya. Dasar!


"Airin aku mau ngomong serius sama kamu, aku mau diskusi sama kamu," ucapnya dengan wajah serius.


"Apa?" tanya Airin.


"Kita nggak bisa terus-terusan tinggal sama Bang Al di sini, kasihan juga Bang Al yang suka mergokin kita. Sebenarnya aku punya apartemen, gimana kalau kita berdua tinggal di sana? Sekalian juga belajar mandiri, gimana menurut kamu?" Nevan bertanya dengan serius. Meski Airin polos dan belum tentu tahu hal seperti yang orang dewasa tahu, tetapi Nevan harus berdiskusi dan meminta pendapat Airin sebab Airin adalah istrinya.


"Airin mau! Kasihan juga Kak Al sama tertekannya kayak Febby, tapi mau bagaimana pun itu Airin bakalan terus ikut Ke manapun Kak Nevan pergi. Airin akan terus ada di sisi Kak Nevan," balas perempuan itu dengan diakhiri senyuman.


Nevan tersenyum, kemudian memeluk istrinya erat. Menenggelamkan kepalanya di ceruk leher perempuan itu, menghirup aroma tubuh khas Airin. Aromanya sangat memabukkan bagi Nevan sama seperti ketika meminum alkohol yang mampu membuat peminumnya kecanduan.


"Besok kita bicara sama Bang Allen buat pindah dari sini."

__ADS_1


__ADS_2