
Beberapa hari sudah berlalu sejak malam itu. Nevan kembali ke sekola dengan wajahnya yang sudah sembuh dari luka-luka yang Allen berikan, begitu pula dengan Airin.
Ngomong-ngomong, rencana untuk pernikahan Nevan dan Airin akan secepatnya diselenggarakan. Kedua orang tua Nevan ingin sesegera mungkin pernikahan itu dilaksanakan, Allen saja sampai heran sendiri yang melihat begitu antusiasnya sepasang suami-istri itu. Allen bahkan bertanya-tanya, apakah mereka tidak merasa marah kepada Nevan yang sudah merusak adiknya? Atau tidak ada niatan untuk mencoret nama Nevan dari kartu keluarga. Darendra dan Aliana memang pasangan ajaib.
Sementara itu, seorang gadis berjalan dengan sedikit tergesa di koridor sekolahnya. Niat hatinya berangkat pagi-pagi agar tidak bertemu dengan sosok itu yang bisa saja menggoyahkan pertahanannya.
"Icha! Alisca!"
Sang pemilik nama menghentikan langkahnya, berbalik menatap pemuda yang lima langkah jauh di depannya.
"Apa?" tanyanya dengan buku paket sejarah di tangannya.
"Kamu udah hindari aku selama dua hari, apa aku ada salah sama kamu?" Gabril bertanya dengan nafas yang sedikit tak beraturan sebab tadi ia berlari untuk mengejar Alisca atau gadis yang kerap disapa Icha.
"Itu sudah seharusnya, kita ke depannya jangan terlalu sering berinteraksi," jawab Alisca.
"Kenapa?" Gabril kembali bertanya.
Mendengar pertanyaan Gabril, Alisca tersenyum miris. "Kamu tanya kenapa? Tanpa aku jelaskan pun kamu pasti sudah tahu jawabannya."
"Icha, aku su--"
"Cukup! Jangan pernah bilang kayak gitu lagi! Gabril, aku mohon sama kamu. Ini salah, semua ini nggak benar!" Alisca sedikit meninggikan nada bicaranya, untung saja di koridor sekolah sepi, belum ada murid lain yang datang ke sekolah.
Gabril mengembuskan napas panjangnya. "Di dunia ini nggak ada yang tidak mungkin, Icha."
"Gabril, apa harus kita egois dengan cara meninggalkan agama kita hanya untuk cinta? Kita nggak salah mencintai seseorang, tapi jangan sampai cinta kita untuk manusia lebih besar daripada cinta kepada Tuhan sampai-sampai rela meninggalkan agamanya." Alisca menjeda ucapannya untuk mengatur nafasnya. Degup jantungnya berpacu hebat saat Gabril akan mengatakan tiga kata yang tak mau ia dengar.
"Dan kamu tadi bilang, di dunia ini nggak ada yang tidak mungkin. Tapi, cinta kita tidak akan mungkin bisa bersatu. Kalaupun kamu percaya akan adanya keajaiban, memangnya keajaiban apa yang kamu maksud? Mulai sekarang, kita saling jaga jarak, lupain semua perasaan itu. Aku yakin, suatu hari, kita akan sama-sama bahagia." Alisca mengakhiri perkataannya, ia berbalik dan meninggalkan Gabril yang masih berdiri mematung di tempat.
Dari balik tembok tanpa keduanya sadari, ada Reval, Davian, Zean, dan juga Citra yang mendengarkan pembicaraan Alisca dan Gabril. Mereka berempat saling pandang, merasa kasihan dengan nasib teman mereka yang memiliki kisah cinta seperti ini.
"Kasihan banget, ya, kalau jadi Gabril," ucap Davian tiba-tiba.
"Gue lebih kasihan sama lo yang tiap hari bisanya halu," celetuk Reval.
"Anying!"
Mengabaikan perdebatan antara Reval dan Davian, Zean serta Citra lebih memilih menghampiri Gabril. Pemuda itu masih terdiam di tempatnya dengan kepala menunduk, hatinya begitu sangat sakit. Bukan sakit karena ucapan Alisca, melainkan takdir yang mempermainkannya. Kenapa ia harus dipertemukan dengan Alisca? Kenapa rasa cinta dan suka harus menghampirinya dan gadis itu adalah Alisca? Sungguh, ini terlalu menyakitkan bagi Gabril.
Zean menepuk pelan bahu Gabril. "Udahlah, sekarang lo berusaha untuk lupain perasaan lo itu. Dari awal juga gue udah bilang, cinta kalian nggak bisa dipaksakan."
"Tapi, gue cuma cinta sama Icha. Gue sayang sama dia," balas Gabril dengan kepala menunduk.
"Gue tahu, gue paham. Tapi, coba lo lihat dari segala sisi. Tuhan lo aja nggak mengizinkan kalian berdua, bahkan semesta pun. Icha juga udah bilang, meski kalian nggak bersama, tapi suatu hari nanti kalian akan menemukan kebahagiaan kalian masing-masing," katanya, "Ril, kalau dapetin Icha itu ketidakmungkinan, maka mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Icha, itu pasti mungkin."
"Ayo! Sekarang waktunya buat move on," lanjut Zean.
"Move on!" sahut Citra dengan tersenyum seraya mengepalkan tangannya sebagai tanda agar Gabril semangat.
"Dasar playboy!"
"Dasar tukang halu!"
"Gue jamin nggak akan ada lagi cewek yang mau sama lo."
"Nyenyenye, semua cewek nggak akan ada yang bisa nolak pesona gue."
"Lihat aja nanti, lo bakalan kena karmanya!" Davian berteriak kesal, kemudian ia pergi dari sana.
Sungguh, Davian sangat tidak suka jika ada seseorang yang mengejek dan menjelekkan apa yang ia sukai. Padahal ia tak pernah mengusik kesukaan orang lain juga.
"Cemen lo, masa cowok pundungan!" Reval berteriak, menatap punggung Davian yang bilang dikejauhan.
"Udahlah, Val. Lo bisa 'kan nggak usah gangguin Davian terus, lagian apa yang Davian omongin ada benernya juga," ucap Zean.
__ADS_1
Citra mengangguk setuju. "Bener, tuh, masa Kak Reval mau kayak gini-gini aja. Giliran nanti Kak Reval serius sama satu cewek, eh dianya malah ninggalin Kak Reval. Mampus, makan aja, tuh, karma!"
"Yaela, masa muda harus dinikmatin. Gue bakal serius sama satu cewek, tapi nanti. Bakal langsung gue nikahin, tuh, cewek," balasnya dengan santai.
"Kasih DP dulu biar nanti buat maharnya nggak perlu mahal-mahal banget."
"Contohnya?"
"Bayi."
•°•°•
"Pak, saya beneran tidak mencuri uang itu. Waktu saya kembali dari toilet, uangnya memang sudah tidak ada. Bukan saya, Pak."
"Saya tidak mau mendengarkan penjelasan dari karyawan tukang curi dan pembohong kayak kamu!"
"Pak, saya mohon. Percaya sama saya, saya beneran tidak mencuri uang itu."
"Alasan! Sekarang kamu pergi dari sini, saya pecat kamu!"
"Pak, jangan pecat saya, saya butuh pekerjaan ini untuk berobat ibu saya."
"Ini semua juga ulah kamu sendiri, suruh siapa nyuri uang saya, hah? Pergi sekarang juga! Pergi, sebelum saya lapor polisi!"
Allen yang memilih jalan kaki untuk pulang dari kantor mendadak menghentikan langkahnya, ketika melihat seorang perempuan yang diusir oleh majikannya karena mencuri. Terlihat perempuan itu melepaskan rompi seragam kerjanya, kemudian pergi dari area supermarket dengan perasaan sedih.
Katakan saja jika Allen mencari kesempatan dalam kesempitan, karena perempuan yang baru saja dipecat itu adalah Keisha. Perempuan yang sangat mirip sekali dengan wajah mantan tunangannya.
Laki-laki berlari sedikit cepat, kemudian menyamakan langkah kakinya dengan perempuan itu. "Saya lihat kamu baru saja dipecat."
Keisha mendongak, menatap Allen sejenak dengan mata berkaca-kaca. "Dia nuduh aku mencuri, padahal jelas-jelas tadi aku lihat teman kerja aku yang ambil."
"Terus, kenapa tidak kamu katakan sama bos kamu?"
"Aku ingat kalau dia yang ajak aku buat kerja di sana, jadi aku nggak tega."
Mendadak langkah Keisha berhenti, menatap Allen dengan pandangan berbinar juga tak percaya. "Be-beneran? Apa boleh?"
Allen menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, akhir-akhir ini pekerjaan di kantor kewalahan saya tangani. Saya mau kamu mengurus saya, karena sekertaris yang biasanya mengurus saya juga sedang sibuk-sibuknya."
Terlalu senang ditawari pekerjaan, Keisha sampai tak menyadari makna tersirat dari ucapan Allen dan juga kata-kata Allen yang sedikit aneh. Akan tetapi, perempuan itu terlampau senang sampai tak berpikir panjang ia langsung mengatakan mau dan iya. Dipikirannya saat ini yang penting dapat kerjaan, dapat gaji, dan bisa membawa ibunya berobat.
"Kita cari tempat dulu untuk mengobrol agar lebih enak," final Allen.
Laki-laki itu pun membawa Keisha menuju kafe yang tak jauh dari mereka berdiri tadi. Setelah memesan minuman, Allen kembali melanjutkan ucapannya.
"Pekerjaan kamu sebenarnya gampang, setiap pagi kamu datang ke rumah saya. Siapkan pakaian kerja saya, tas kerja saya, dan di jam makan siang, kamu bawakan makan siang untuk saya. Kamu juga harus ingat kalau saya tidak bisa memakan-makanan luar, selain makanan rumah. Dan selebihnya, kamu harus menuruti apapun perintah saya," ucapnya panjang lebar.
"Eum ... kalau boleh tahu, gajinya berapa? Terus juga, apa Bapak nggak minta bersyaratan apapun sama saya? Kayak fotokopi KTP, kartu keluarga, ijazah, apa itu nggak Bapak perluin?" tanyanya.
Allen menggeleng pelan. "Yang saya butuhkan seseorang yang bisa bekerja dengan jujur dan serius."
Laki-laki itu menyeruput kopi latte, kemudian berdiri seraya membenarkan jasnya. "Besok kamu mulai bekerja dan ini alamat rumah, kantor, dan juga nomor saya."
Keisha mengambil kartu yang Allen berikan untuknya, ia menatap kartu itu dengan perasaan bahagia bukan main. Perempuan itu mendongak hendak berterima kasih kepada Allen, tetapi laki-laki itu sudah tak ada di sana.
"Baru dipecat langsung dapat kerjaan, rezeki anak cantik ini mah!"
•°•°•
Bel istirahat sudah berbunyi, Nevan masuk ke area kantin bersama dengan Davian yang memang satu kelas dengannya. Jangan lupakan sekotak bekal makan siang untuk Airin yang ia bawa di tangannya. Ia duduk di meja kantin yang di sana sudah ada teman-teman sohibnya, juga dengan Citra--kekasih Zean--Diandra--teman bacot Reval-- dan terakhir Airin yang kata temannya lagi pergi beli minuman.
"Ini mie ayam punya siapa? Bau pedasnya nyengat banget," kata Davian seraya menunjuk semangkuk mie ayam yang tinggal sedikit itu.
Diandra menjawab. "Punya Airin, dia beli minuman yang ketiga kalinya karena makan mie ayam ini."
__ADS_1
Mendengar itu Nevan membulatkan matanya, bagaimana bisa Airin memakan mie ayam sepedas itu? Airin tidak boleh makan-makan luar dan sekarang malah makan mie ayam pedas.
Tak lama dari itu Airin datang dengan menyeruput es teh manisnya, wajah merah dan keringat bercucuran. Jangan lupakan dengan hidungnya yang sekarang mulai tersumbat oleh ingus.
Nevan berdecak, ia berdiri dan duduk di samping Airin. Laki-laki itu mengambil tisu yang memang disediakan di setiap meja. Dengan telaten ia mengusap keringat Airin, perhatian kecil Nevan tak luput dari pandangan teman-temannya.
"Pedes banget huaa, mau nangis aja ah!"
"Jangan dimakan lagi!" Nevan langsung menjauhkan mangkuk itu dari jangkauan Airin.
"Belum habis, Airin habisin dulu," pintanya dengan berusaha menggapai mangkuk mie ayam.
"Airin! Lo itu nggak bisa makan-makanan luar dan sekarang lo malah makan mie ayam pedes, nanti lo sakit perut," omel Nevan.
Airin menggeleng. "Enggak bakal, Airin nggak bakal sakit perut."
"Jangan ngeyel kalau dibilangin! Makan ini aja, nih." Nevan membuka bekal itu yang isinya adalah sandwich.
"Enggak mau! Airin mau mie ayam."
"Makan ini atau gue bilangin sama Bang Allen kalau lo udah makan mie ayam pedes!"
Airin mendengus kesal, memakan sandwich itu dengan ogah-ogahan. Daripadanya berakhir diceramahi oleh Allen semalaman, lebih baik Airin mencari aman dengan menuruti kata-kata Nevan.
"Awas aja kalau ngadu sakit perut, bakal gue diemin!"
Dalam hati Airin menyebut berbagai macam nama binatang untuk mengutuk Nevan yang sangat menyebalkan menurutnya. Lihat saja nanti, ia tidak akan sakit perut, kok.
Nevan merogoh saku celananya dan mengambil benda panjang modern itu, ada pesan dari bunda tercintanya untuk fitting baju pengantin. Akan tetapi, Nevan menolak dan membiarkan Bundanya saja yang memilih baju pengantin, toh Bundanya sudah tahu ukuran baju dirinya dan juga Airin.
"Eh, tumben banget si lampir kagak ada gangguin lo, Van?" Reval bertanya seraya celingukan mencari sosok Ilona yang ternyata tidak ada.
Mengedikkan bahunya acuh, lagipula itu bagus. Nevan sangat risih dengan tingkah Ilona yang selalu mengganggu, menggoda, dan mendekatinya. Cewek itu seperti sudah tak punya harga diri, mengejar laki-laki yang sudah jelas-jelas menolaknya.
"Bagus, dong, gue juga udah eneg lihat mukanya," celetuk Davian.
Di antara, Reval, Zean, dan Gabril. Davian lebih tidak suka dengan Ilona, entah punya dendam apa pemuda itu sampai sangat tidak suka kepad Ilona. Tapi, kalau ditanya alasannya kenapa, Davian malah menjawab begini. "Mukanya mirip tante-tante, kalau ke sekolah dandannya udah kayak mau open BO."
Tapi, bagaimanapun juga perkataan Davian memang benar adanya.
"Tapi, nih, kalau bener Ilona yang jebak lo semalam kenapa malah jadi Airin? Seharusnya 'kan sama Ilona."
Mendengar perkataan Gabril, Nevan memutar bola matanya. "Mau banget lo gue tidur sama cewek itu, hah?"
"Bukan gitu maksud gue, aneh pokoknya," balasnya.
"Bisa jadi si Ilona malah salah target, maksudnya dia mau Airin tidur sama cowok, tapi cowok itu malah lo," kata Zean.
Davian mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bisa jadi juga kayak gitu, mungkin dia nggak suka lihat Airin yang deket-deket sama lo. Jadinya dia jebak Airin."
Citra menggebrak meja pelan. "Gue baru inget, pas malam itu Airin dibawa sama kedua temennya Ilona."
Sementara yang dibicarakan hanya anteng memakan sandwich sembari meredakan mulutnya yang terasa terbakar karena memakan mie ayam pedas tadi.
"Dibawa ke mana pas di pesta sama temennya Ilona?" tanya Diandra.
"Oh, katanya Ilona mau kasih Airin es krim, tapi harus ikut dulu sama temen-temennya. Ternyata mereka bawa Airin ke kamar dan harus tunggu sampe nanti ada cowok yang masuk, eh ternyata ada Kak Nevan datang. Udah gitu Kak Nevan malah peluk Airin, terus do--"
Dengan cepat Nevan membungkam mulut Airin dengan telapak tangannya, kalau tidak segera bertindak nanti yang ada Airin menceritakan semua kronologi pada malam panas yang mereka lalui.
"Dian cuma nanya lo dibawa ke mana, kenapa malah jawab kayak gitu?" Nevan tentu saja kesal, maksudnya malu kalau teman-temannya tahu.
Reval mematap Nevan dengan wajah tengilnya. "Ekhem, mantep banget kayaknya. Malem itu Nevan gimana, Airin? Kasar nggak?"
Airin bersuara sebab Nevan sudah tak lagi membekapnya. "Airin kesel tahu sama Kak Nevan, kata Kak Nevan permainannya enak eh tahunya malah sakit."
__ADS_1
"Terus, terus gimana?" tanyanya lagi.
"Reval! Bangsat lo, jangan tanya-tanya lagi! Pergi aja sana!" Nafas Nevan memburu, rasanya dia ingin tenggelam di laut.