Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
07. Ajakan Nikah


__ADS_3

Hal pertama yang Nevan dengar adalah suara tangisan. Ia mengernyit dan mendengus pelan, siapa yang menangis di pagi-pagi buta seperti ini dan mengganggu tidur nyenyaknya.


Nevan menggeliat, ia membalikkan badannya ke samping yang langsung disuguhkan dengan punggung polos seseorang.


"Astaghfirullah!" Nevan sontak bangun dan kembali terkejut melihat dirinya yang tak memakai sehelai benang pun.


Ingatannya kembali berlayar di kejadian semalam, di mana dirinya menggauli gadis polos yang bukan istri sahnya. Sial! Kenapa nasibnya harus seperti ini? Apa yang harus ia lakukan? Tanpa sadar Nevan sudah merusak kepercayaan yang Allen berikan untuknya.


Menjaga permata Allen yang malah Nevan hancurkan.


Matanya mengamati sekitar, kemudian mengambil pakaiannya dan langsung memakainya. Nevan mengambil dress hitam milik Airin, kembali naik ke atas ranjang dengan posisi Airin membelakanginya.


"Airin!" panggilnya dengan lembut seraya menyentuh lengan gadis ah wanita itu.


Airin yang masih terisak mendongak menatap Nevan, ia berbalik untuk sepenuhnya menatap Nevan.


"Ini pakai dress-nya, jangan nangis, ya." Nevan dengan pelan mengusap pipi Airin guna menghilangkan jejak air mata itu.


"Kak Nevan sakit," adunya seraya menunjuk bibirnya yang bengkak.


"Ini juga." Airin beralih menunjukkan beberapa kissmark yang Nevan buat semalam.


Melihat itu Nevan meringis, tanda merah keunguan itu ternyata banyak juga. Seganas itukah ia semalam?


"Pake dulu dress-nya, sini duduk."


Airin menggeleng pelan. "Enggak mau, bawah Airin sakit."


"Sini, gue bantu."


Berkat bantuan Nevan, akhirnya Airin bisa duduk dengan tegak. Nevan membantu memakaikan dress itu ke tubuh Airin, tetapi ia berpikir sejenak. Jika Airin keluar dengan memakai dress ini yang ada orang-orang terfokus dengan bulatan-bulatan kecil merah keunguan.


Laki-laki itu berdiri, lalu masuk ke dalam kamar mandi dan menemukan jubah handuk.


"Pakai ini juga." Lagi, Nevan membantu Airin memakai jubah handuk itu.


"Bisa jalan nggak?" tanyanya yang dibalas gelengan pelan.


Nevan menghela nafasnya, merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan sampai Airin tak bisa berjalan. Ia juga bingung harus mengatakan apa kepada Allen, tapi yang pasti ia akan dihajar habis-habisan oleh laki-laki itu.


•°•°•


Semua anggota inti Drave berkumpul di ruang tamu rumah Allen. Mereka sedang berkumpul untuk merencanakan pencarian Nevan dan juga Airin yang tak pulang semalaman.


"Terakhir kalian lihat mereka di mana?" tanya Allen.


"Ya, di pesta semalam. Tapi, gue sama Zean pulang duluan buat anter Citra ke rumahnya, ibunya telfon katanya ayahnya jatuh di kamar mandi," kata Gabril.


Tatapan Allen beralih kepada Davian.


"Gue sibuk ngobrol sama temen sefandom gue," ucapnya santai.


"Kalau gue sibuk makan, lumayan makan enak mana gratis lagi."


Mendengar penuturan Reval membuat Zean memutar bola matanya malas.


Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang berhenti di halaman, setelah itu muncul Nevan sembari menggendong Airin ala bridal style. Semuanya berdiri dan langsung tertegun dengan bibir Airin yang membengkak juga tanda merah di leher serta dada.


Allen menatap Nevan dengan tajam, lewat tatapannya ia meminta penjelasan kepada juniornya itu. Akan tetapi, Nevan tanpa berucap satu kata pun dan malah melengos pergi menuju ke lantai atas.


Sementara itu, anggota inti Drave saling berpandangan satu sama lain. Bertanya-tanya dengan apa yang sudah terjadi sebenarnya.


Setelah mengantar Airin ke kamarnya, ia langsung menghadap kepada Allen bahkan ia langsung berlutut di depan seniornya.

__ADS_1


"Maaf, Bang. Setelah semua perbuatan gue semalam, gue emang berengsek." Kata-kata itu yang pertama Nevan katakan.


Awalnya tak ada yang mengerti dengan arah pembicaraan Nevan hingga Davian menutup mulutnya tak percaya.


"Jangan bilang lo udah--"


Punggung Nevan langsung terbentur dengan tembok ketika Allen secara tiba-tiba menendang dadanya. Setelah itu, kakak dari Airin menarik kerahnya membuat Nevan berdiri. Satu pukulan mendarat di pipinya membuat pipinya menjadi kemerahan.


Tak sampai disitu, Allen kembali terus menghajar Nevan sampai babak belur.


Tak ada di antara anggota inti Drave yang merelai atau membantu Nevan karena mereka tahu di sini Nevan yang bersalah.


"Apa lo lupa gue bilang apa? Jaga adek gue bukan malah rusak dia, sialan!" Allen berteriak dengan murka.


Saat ia akan kembali memukul Nevan, Zean dengan cepat menahannya. Kasihan juga temannya itu yang sudah tak berdaya.


"Bang udah, dia bisa mati." Zean memperingati, lalu melepaskan lengan Allen.


Allen sendiri berusaha mengontrol emosinya. "Kenapa lo lakuin itu? Apa lo tahu kesalahan itu fatal?"


Dengan sisa tenaga Nevan berusaha berdiri, menatap Allen dengan wajahnya yang dipenuhi luka lembap juga sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Gue tahu gue salah, tapi ini semuanya nggak sepenuhnya salah gue. Gue dijebak, Bang, ada yang masukin obat perangsang di minuman gue."


"Apa itu ulah Earth?" tanya Reval mencoba menebak.


Mendengar itu Gabril menggeleng. "Gue rasa bukan, di sana nggak ada anggota Earth sama sekali."


"Udah jelas itu Ilona, siapa lagi coba," tutur Davian.


"Kalau itu Ilona, seharusnya cewek yang tidur sama Nevan itu Ilona, bukan Airin," balas Reval.


"Udah, jangan bahas itu untuk sekarang." Nevan bersuara, "Sekarang gue kasih lo pilihan, nikahin Airin atau keluar dari Drave."


"Gue bakal tanggung jawab." Nevan membalas tanpa berpikir panjang.


Setelah mengatakan itu Allen pergi, melangkah menaiki tangga.


"Lo beneran nganu sama Airin?"


"Rasanya gimana?"


"Pastinya enak, dong."


"Cerita, dong, sama kita-kita yang belum pengalaman."


"Fucking noise!"


•°•°•


Nevan kembali masuk ke dalam kamar Airin setelah luka di wajahnya diobati oleh Davian. Pukulan yang Allen berikan kepada dirinya rasanya memang bukan main-main. Pantas jika Allen marah besar dan kecewa kepada dirinya. Kakak mana yang akan rela adiknya dirusak, ditambah lagi Airin adalah anak yatim piatu yang kekurangan kasih sayang orang tua.


Masih dengan kemeja tadi malam, Nevan berjongkok didekat ranjang dengan Airin yang berbaring di sana.


"Airin!" panggilnya dengan lembut dan sang pemilik nama membuka matanya.


Airin mengubah posisinya menjadi duduk dengan pelan, dibantu juga oleh Nevan. "Muka Kak Nevan kenapa? Oh, apa jangan-jangan Kak Al marah sampe bikin Kak Nevan kayak gini, ya?"


Menggeleng pelan. "Gue nggak apa-apa, ini cuma luka kecil. Airin, gue mau nanya sama lo."


"Apa?"


"Lo ... Mau nikah sama gue?" tanyanya dengan hati-hati.


Perempuan itu menatap sang pria dengan heran, memiringkan kepalanya karena tak tahu. "Nikah itu kayak gimana? Airin pernah denger kata itu, tapi nggak tahu detailnya."

__ADS_1


Nevan diam sejenak mencoba merangkai kata yang bisa Airin pahami. Meski sejujurnya, ia bingung harus menjelaskan dan mendeskripsikan menikah itu seperti apa.


"Menikah itu dua orang yang dipersatukan dalam ijab qobul, membangun komitmen dan mempertahankan komitmen itu. Airin, gue tahu kalau gue ini cowok nakal yang sering tawuran. Tapi, gue punya mimpi untuk menikah satu kali di seumur hidup gue. Kali ini gue serius, nikahin lo karena tanggung jawab dan berusaha untuk cinta sama lo."


"Sekali lagi, lo mau nikah sama gue?" lanjutnya.


Airin nampak berpikir, terbukti dengan alis mengerut serta bibir sedikit memanyun. "Eum, nikah itu enaknya apa?"


"Enaknya ... Enaknya lo bisa tidur sambil peluk gue, kalau mau sholat gue yang imamin, tiap hari gue bikin makanan buat lo. Enak 'kan?" Nevan menatap Airin dengan penuh harap, tapi di detik selanjutnya ia menyadari ucapannya yang seperti sedang membujuk anak kecil agar tidak main di parit.


Mendengar itu Airin menganggukkan kepalanya semangat. "Mau, Airin mau. Masakan Kak Nevan enak, Airin nggak bisa nolak. Eum, nikahnya kapan? Sekarang?"


"Bukan sekarang, nanti gue kasih tahu kapannya, ya." Nevan mengusap kepala Airin pelan, jantungnya berdegup kencang melihat senyuman polos perempuan itu.


Dan tanpa kedua ketahui ada Allen yang mendengarkan semua percakapan mereka dari balik pintu kamar Airin.


Setelah sesi mengajak Airin menikah dengan sedikit bujukan. Kini, Nevan berjalan menuju rumah besar bertingkat yang didominasi dengan warna hitam dan abu-abu. Rumah itu milik kedua orang tuanya juga rumah yang menjadi saksi Nevan tumbuh.


"Kamu siapa, ya? Masuk ke rumah orang tanpa permisi, dasar nggak sopan!"


Nevan memutar bola matanya malas, melihat sang ayah yang duduk di sofa single sembari membaca koran. Jangan lupakan dengan secangkir kopi hitam di atas meja.


Darendra Xander Calvin melirik putranya sekilas dan langsung berdiri ketika melihat wajah anaknya yang babak belur. "Astaghfirullah haladzim! Eta beungeut maneh kunaon? Berantem sama siapa kamu, hah? Sia-sia Ayah bikin kamu dengan penuh perasaan kalau pas udah jadi mukanya malah dipukul sama orang!"


"Ayah lebay banget, sih! Evan nggak kenapa-napa, kok." Dengan pelan Nevan menyingkirkan tangan Ayahnya dari wajahnya.


Tak lama setelah itu datang seorang wanita dari arah tangga dengan mengenakan daster rumahan. Ia turun sedikit cepat ketika mendengar dari para pelayan kalau putranya datang.


"Sayang, kamu akhirnya pu--astagfirullah! Muka kamu kenapa bonyok kayak gini, sih? Siapa yang berani pukul anak Bunda, hm?" Aliana Katryn Marvel's selaku ibu kandung Nevan memekik kaget melihat keadaan putranya.


"Udah, udah. Evan baik-baik aja, kok, luka segini beberapa hari juga sembuh," katanya, "Ayah sama Bunda mending duduk dulu, ada yang mau Evan omongin."


Darendra dan Aliana menurut, pasangan suami istri itu duduk bersampingan dengan Nevan berdiri di depan mereka.


"Mau ngomong apa?" tanya Darendra setelah menyeruput kopi miliknya.


Nevan menenguk ludahnya susah payah, laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. "Evan ... Mau jujur kalau sebenarnya, ta-tadi malam itu Evan abis ngelakuian sesuatu yang salah banget."


Sang ayah mengangkat alisnya dan sang bunda setia menunggu ucapan putranya.


"Evan mau nikah," ucapnya dengan cepat.


Beberapa detik suasana mendadak hening, hanya ada suara semut yang terdengar. Sampai akhirnya kedua orang tua Nevan tertawa terbahak-bahak.


"Kamu mau jadi pelawak? Mau nikah? Deket sama cewek aja nggak, pacar apalagi, lah ini mau nikah katanya." Darendra menyeka air mata di sudut matanya akibat terlalu tertawa.


Aliana menggelengkan kepalanya pelan. "Yakin kamu mau nikah? Masih kelas dua belas, lho, beberapa bulan lagi juga lulus. Emang nggak bisa ditahan sampe lulus dulu?"


Nevan mengembuskan napas panjang. "Masalahnya perempuan yang mau Evan nikahin itu udah Evan gauli, Bunda."


"Gauli? Kamu udah kasih kita DP? Udah berapa bulan calon kamu?" tanya Darendra dengan antusias.


"Baru juga tadi malam, udah nanya berapa bulan," jawabnya dengan malas.


Darendra mendesah kecewa. "Kirain udah jadi, Ayah tunggu satu bulan kalau nggak ada kabar apapun berarti kamu kurang jago."


"Jadi, kamu mau nikahin dia karena udah ehem?" tanya Aliana yang dibalas anggukan oleh Nevan.


"Kalau gitu nanti malam kita ke rumahnya buat lamaran," tuturnya seraya berdiri, kemudian memanggil para pelayan untuk menyiapkan barang apa saja yang akan dibawa nanti malam.


Nevan sendiri menatap kedua orang tuanya dengan heran. Tunggu, kenapa mereka tidak marah? Ayahnya juga tidak menghajarnya seperti Allen. Dari sini Nevan yakin kalau dirinya bukanlah anak dari Aliana dan juga Darendra.


"Cuma gue doang yang waras," gumamnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2