
Pergerakan semua orang terhenti ketika mendengar suara lantang seorang laki-laki yang tiba-tiba saja masuk. Anggota Earth dan anggota Drave terkejut mendapati kedatangan laki-laki itu. Dia adalah Bima, salah satu orang yang terlibat dalam penculikan Meisha.
"Bima? Lo masih hidup?" tanya Galang yang mewakili pertanyaan semua orang.
"Iya, gue masih hidup. Kalian semua harus tahu, kalau penculikan Kak Meisha itu bukan suruhan Bang Ansel," katanya membuat semua orang saling berpandangan, bertanya-tanya tentang perkataan Bima.
"Semuanya turunin senjata kalian!" teriak Ansel lantang yang langsung dituruti oleh anggota Earth.
Allen pun mengisyaratkan agar anggotanya untuk menurunkan senjatanya masing-masing.
"Bang Ansel, boleh lepasin Airin nya nggak?" tanya Nevan.
"Lepasin!" perintah Ansel dan dengan sigap Galang melepaskan tali yang mengikat perempuan itu.
Setelah lepas Airin langsung berhamburan ke dalam pelukkan suaminya. "Airin takut banget," adunya.
"Iya, maaf aku lama datangnya, ya?" Nevan membalas pelukan istrinya.
"Ada yang mau lo jelasin? Cepetan ngomong!" ucap Allen mempersilakan Bima.
Bima menghela nafasnya. "Yang culik Kak Meisha emang anggota Earth, gue, Anwar, Cleo, Yudha, sama Fajar. Sebenarnya selama ini Anwar itu anggota geng Elton, dia mata-matain kita, Bang. Dia nawarin duit ke gue, Yudha sama Fajar. Sedangkan Cleo, dia mau-mau aja lakuin itu karena suka sama Anwar."
"Setelah berhasil culik Kak Meisha, mereka siksa Kak Meisha sampe babak belur. Sumpah demi apapun gue nggak lukain Kak Meisha sedikitpun, gue cuma jaga dia biar nggak kabur. Terus waktu Bang Allen berhasil bawa Kak Meisha pergi, ketua Elton bunuh mereka semua karena Meisha berhasil dibawa Bang Allen. Untungnya gue nggak mati, berbulan-bulan ini gue koma di rumah sakit tanpa kalian tahu," lanjutnya.
Laki-laki bernama Bima itu memandang semua orang yang ada di sana. "Semua yang gue omongin ini bukan rekayasa, maaf gue telat kasih tahu kalian dan dengan bodohnya ikut terlibat dipenculikan itu. Jadi, sekarang Drave dan Earth nggak perlu musuhan lagi karena semua ini ulah Elton."
"Sekarang kalau kalian semua mau gue mati, gue rela." Bima langsung berlutut dengan kepala menunduk. Ia siap menerima hukuman dari Drave dan Earth, dirinya terlalu tergiur dengan tawaran uang berpuluh-puluh juta itu.
Ansel maju, menarik kerah laki-laki itu dan langsung melayangkan bogeman. "Kenapa lo mau lakuin itu cuma karena duit, hah?"
"Ibu gue sakit keras, Bang, gue butuh uang dalam waktu dekat buat biaya operasi," jawabnya jujur.
"Lo pikir Earth itu apa bagi lo? Kenapa lo nggak bilang sama gue? Gue bisa kasih berapapun yang lo minta!" bentak Ansel kesal dengan masih menarik kerah Bima.
"Maaf, Bang. Gue emang bodoh," sesalnya.
Tiba-tiba Reval menggeplak kepala Bima dari belakang membuat Bima meringis. "Sialan lo! Kenapa nggak dari dulu lo dateng, hah? Sia-sia gue dari kemarin teriak-teriak maki-maki si Galanganjing!"
"Lagian udah gue bilang bukan Earth yang culik Kak Meisha, bangsat!" balas Galang tak mau kalah.
Reval maju, mengangkat dagunya melawan Galang. "Gue juga udah bilang bukan Drave yang bunuh anggota lo! Sialan, keras kepala banget kalau dibilangin!"
"Diem lo berdua, monyet! Kalau mau cepat tahu sikon, dong!" sela Zean merelai.
"Kesalahpahaman sekarang udah selesai, jadi nggak ada permusuhan antara Drave sama Earth," sahut Gabril.
Davian menganggukkan kepalanya. "Drave sama Earth kembali damai, sekarang kita harus beri pelajaran sama Elton. Udah cukup buat mereka senang-senang sekarang."
"Emangnya Elton mau kalian beri pelajaran apa?" tanya Airin dengan polos.
__ADS_1
"Pelajaran fisika," jawab Nevan asal.
...•°•°•...
Ketua dan beberapa Elton akhirnya dibawa oleh polisi karena Allen menemukan beberapa bukti bahwa selama ini geng motor bernama Elton itu suka melakukan transaksi narkoba dan barang-barang ilegal lainnya. Akan tetapi, tidak semua anggota Elton dibawa polisi sebab beberapa dari mereka berhasil kabur.
Semuanya berlalu begitu saja, Drave dan Earth kembali damai seperti dulu. Untuk merayakan perdamaian itu mereka melakukan pesta kecil-kecilan bersama-sama. Canda tawa yang sempat hilang akhirnya kembali lagi.
Sampai tak terasa waktu liburan semester sudah usai. Para pelajar disibukkan dengan bangun pagi agar hari pertama sekolah tak kesiangan. Sama halnya dengan Nevan yang sibuk membantu Airin sarapan, memakai baju, dan juga menyiapkan buku pelajaran perempuan itu. Mungkin terdengar aneh, seharusnya istri yang sibuk membantu suami.
"Udah, sekarang kita berangkat." Nevan berdiri setelah mengikat tali sepatu istrinya.
Dengan semangat Airin menggandeng lengan suaminya, keduanya membuka pintu utama dan langsung dengan disuguhkan oleh seorang wanita yang sama-sama terkejut.
"Hai, selamat pagi! Pak Allen masih ada di rumah apa udah ke kantor?" tanyanya dengan ramah.
"Kak Al masih tidur kayaknya," jawab Airin.
"Kalau gitu saya masuk dulu, ya, permisi!" Perempuan itu pun masuk ke dal tanpa tahu sedari tadi Nevan menatapnya dengan dalam.
Kenapa dia mirip sama Kak Meisha?
Perempuan itu adalah Keisha, asisten pribadi Allen. Setiap hari ia datang ke rumah ini, tetapi baru sekarang Nevan bisa melihat secara langsung perempuan itu. Tak disangka bahwa perempuan itu memang sangat mirip dengan Meisha.
"Kenapa bengong? Ayo, kita berangkat!" Airin menarik-narik lengan suaminya membuat Nevan tersadar dari lamunannya.
"Iya, ayo!"
"Airin, mulai sekarang kamu jangan banyak tingkah, ya. Sekarang aku beberapa bulan lagi lulus, banyak persiapan yang harus disiapin nantinya," kata Nevan sembari membuka helm yang digunakan Airin.
Perempuan itu menganggukkan kepalanya. "Iya, Airin janji nggak bakalan nakal. Airin juga mau belajar yang serius biar bisa pinter kayak Kak Nevan."
Laki-laki itu mengulas senyuman, mengusap kepala istrinya dengan lembut. "Bagus, sekarang aku anterin kamu ke kelas. Inget, ya, bergaul sama Citra gaulnya yang bener. Jangan turutin omongan dia yang nggak-nggak."
"Iya, Citra itu baik, kok. Kak Nevan kayaknya kemusuhan sama Citra."
"Bukan gitu, dia pasti suka ajarin kamu yang nggak-nggak. Buktinya aja kamu makin agresif, kepolosan kamu lama-lama hilang," tutur Nevan.
Mendengar itu Airin cemberut. "Kak Nevan mah nggak asik, kata Citra laki-laki itu suka sama perempuan yang berani."
"Itu laki-laki lain, beda sama aku," balas Nevan.
"Sayang!"
Nevan langsung terlonjak ketika sebuah tangan memeluk lengannya dan yang lebih mengejutkannya itu adalah Ilona. Dengan paksa ia melepaskan tangan Ilona dari lengannya.
"Lepas! Dasar nggak sopan, jadi cewek mahal dikit napa!" sarkasnya.
"Dua Minggu nggak ketemu kamu makin ganteng aja, sih." Ilona hendak menyentuh pipi Nevan, namun dengan cepat laki-laki itu menghindar.
__ADS_1
"Jangan sentuh gue!" balasnya dengan nada tinggi.
Melihat itu Airin mendorong Ilona menjauh dari suaminya. "Jauh-jauh dari Kak Nevan, kamu itu cewek haram, jadi jangan sentuh-sentuh Kak Nevan!"
"Lo bocah nggak perawan mending minggir!" bentak Ilona, "Tampang aja polos, padahal hobinya ngangkang depan cowok."
Mendengar itu Nevan tak terima. "Jangan omongan lo! Lo cewek licik yang udah jebak gue sama Airin waktu pesta ulang tahun lo, sialan!"
Ilona terperangah, ia mengerjapkan matanya beberapa kali tak percaya. "A-apa? Maksud kamu jebak apa? Aku nggak ngerti."
"Enggak usah pura-pura nggak tahu lo!" Tiba-tiba saja Reval menyahut dari arah belakang, pemuda itu datang bersama dengan Davian dan Gabril.
"Lo pikir kita nggak tahu, lo yang udah jebak Nevan sama Airin malam itu. Dasar cewek gila!" bentak Davian kesal.
"Apaan, sih, kalian? Asal nuduh orang aja, ngapain juga gue jebak Nevan?" Ilona mengelak dengan cepat.
"Mana ada orang jahat ngakuin kejahatannya sendiri," ujar Gabril dingin.
"Sinting kalian semua!" teriak Ilona, setelah itu ia pergi begitu saja.
Jadi, malam itu Airin tidur sama Nevan, dong? Sial!
"Nevan!"
Serempak semuanya menoleh ke belakang, seorang gadis berambut sebahu berjalan ke arah mereka dengan ceria.
"Febby? Kamu, kok, bisa ada di sini?" tanya Nevan terkejut.
Dengan tersenyum Febby menjawab. "Mulai hari ini aku sekolah di sini, aku dapet beasiswa!"
"Terus, kamu tinggal di sini sama siapa?" tanyanya lagi.
Gadis itu mengulum bibirnya. "Di rumah orang tua kamu, sebenarnya mau ngekos, tapi Bunda sama Ayah minta tinggal di rumah mereka."
Nevan menganggukkan kepalanya paham, biarkan saja Febby tinggal di sana. Biar Bundanya ada teman jika Ayahnya lembur kerja.
Lain lagi dengan Airin yang merasa posisinya terancam, ia takut jika suatu hari nanti Febby merebut Nevan darinya. Pikiran negatif membuatnya tak tenang, Airin takut pernikahannya dengan Nevan hancur seperti sinetron yang ia lihat.
Airin memeluk lengan suaminya manja. "Katanya mau anterin aku ke kelas, ayo!"
"Duluan," pamit Nevan.
"Lo temen kecilnya si Nevan, 'kan?" tanya Gabril.
Febby mengangguk. "Iya, kenapa emangnya?"
"Udah punya pacar belum?"
Gadis itu mendelik ke arah Reval yang bertanya soal statusnya. "Apaan, sih, lo? Cowok kayak lo ini itu cowok nggak bener yang suka mainin hati cewek, udah jelas banget dari tampang buaya lo!"
__ADS_1
Mendengar itu Davian tertawa puas. "Sialan, lo bener banget. Gue setuju!"
Reval berdecak kesal. "Enggak asyik lo pada!"