
"Oh, jadi ini ceweknya."
Airin yang sedang mencuci tangannya di toilet mendongak, menatap di pantulan cermin ada tiga siswi di belakangnya. Ia berbalik, menatap ketiganya dengan bingung.
"Ada apa, ya?" tanyanya dengan raut keheranan.
Cewek yang berdiri di tengah-tengah bersidekap, ia adalah Ilona. "Lumayan, sih, tapi masih jauh dibandingkan gue."
"Lo murid baru udah berani-beraninya deket-deket sama calon pacarnya gue. Caper banget minta makan bareng di kantin, minta disuapin juga lagi. Manja banget jadi cewek!" lanjutnya.
Airin yang awalnya tak paham dengan arah pembicaraan Ilona, kini ia mengerti bahwa yang Ilona maksud adalah Nevan.
"Ini peringatan pertama buat lo, kalau gue lihat lo deket-deket sama calon pacar gue lagi. Enggak akan segan gue main tangan sama lo, inget itu!" sarkasnya yang kemudian pergi dari sana meninggalkan Airin.
"Salah Airin apa?" gumamnya seraya menggaruk belakang kepalanya.
"Cantik-cantik tapi galak, kayak Airin dong, udah cantik baik lagi," sambungnya.
•°•°•
Nevan menunggu dengan sabar kedatangan Airin di parkiran, gadis itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Padahal bel pulang sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu.
"Aduh, lama banget, sih! Ini kulit gue nanti bisa-bisa gosong, percuma pake skincare setiap lima waktu wajib."
"Buset, fardhu ain," sahut Reval yang membalas protesan Davian.
Ngomong-ngomong, soal Davian. Laki-laki itu sudah tidak pundung lagi, katanya mah IU nggak usah sama laki-laki ambekan nanti kelihatan nggak maco sama manly.
"Bro, biar gue masuk TV sama terkenal itu gimana, ya? Muka gue lumayan buat jadi idol, siapa tahu kalau gue jadi artis bisa pedekate sama IU," kata Davian meminta saran.
"Kalau lo mau terkenal gampang, sih, caranya," balas Zean.
"Gimana?" tanya Davian dengan antusias.
"Bunuh orang di depan kantor polisi, dijamin seratus persen lo bakalan jadi terkenal."
"Jancok!"
"Tolol!
"Bego!"
"Enggak ada otak!"
Zean menggaruk tengkuknya bingung. "Salah gue apa?"
Nevan memutar bola matanya, kebodohan teman-temannya ini sangat natural sekali. Kadang-kadang ia berpikir, mengapa ia berteman dengan orang-orang seperti ini? Kenapa tidak ada satupun di antara temannya yang waras?
Dari kejauhan ia bisa melihat Airin yang berjalan bersama dengan kedua orang temannya. Citra Ancella Ralischea yang merupakan teman sekelas Airin sekaligus kekasih Zean. Diandra Zaqilla Anella yang juga teman sekelas Airin, gadis itu juga seorang Fangirl, anaknya bar-bar.
"Sayang!" Citra berlari kecil ke arah Zean yang disambut hangat oleh pemuda itu.
"Lo lama banget, sih!" Nevan bersidekap, menghampiri Airin untuk memakaikan jaketnya kepada gadis itu, tetapi Airin malah melangkah mundur.
"Stop! Jangan mendekat, jaga jarak aman!" Airin menjauh selangkah dengan satu tangan terangkat.
Melihat itu Nevan mengangkat satu alisnya bingung. "Lo kenapa?"
"Jangan deket-deket sama Airin, nanti pacar Kak Nevan marah dan galak-galak sama Airin," katanya dengan mempertahankan jarak antara dirinya dan juga Nevan.
"Pacar?" beo Nevan pelan.
Reval menepuk pundak Nevan. "Lo punya pacar, Van? Siapa? Kapan lo jadian sama dia? Kenapa nggak bilang-bilang?"
"Van, gue tahu lo selama ini nggak pernah deket sama cewek. Tapi please, kita itu temen lo, tega lo nggak kasih tahu kita," ucap Gabril dramatis.
Nevan mendengus, menepis tangan Reval yang bertengger di pundaknya. "Lo berdua apaan, sih? Gue nggak punya pacar!"
"Lo juga ngaco! Darimana lo bisa nyimpulin kalau gue punya pacar? Udah, sini cepet!" lanjutnya.
Airin memanyunkan bibirnya, mendekat ke arah Nevan. "Tapi, tadi ada yang marah-marah sama Airin. Katanya dia calon pacar Kak Nevan, kalau dia tahu kita deket lagi, nanti dia bakal main tangan sama Airin."
"Siapa?" tanya Nevan.
Gadis itu menepuk jidatnya. "Astaga! Airin lupa nggak tanya siapa namanya, soalnya dia terus nyerocos, Airin nggak sempet bilang apa-apa."
"Udah pasti itu Ilona, cewek mana lagi yang halunya lebih tinggi dari pada Davian selain dia,"tutur Zean yang diangguki oleh Gabril.
__ADS_1
"Bener banget, tuh, cewek emang nggak ada kapok-kapoknye ngejar lo."
"Biar itu jadi urusan gue, lo nggak perlu takut sama dia. Ayo, pulang!"
Airin naik ke motor milik Nevan, tak lupa juga Nevan memasangkan helm kepada gadis itu. Ia sudah menyiapkan helm berwarna purple untuk Airin, warnanya sama persis seperti warna rambut milik Davian.
"Eh, Neng Dian. Ayo, Aa Reval anter pulang,"ajak Reval dengan ramah.
Diandra berdecih pelan. "Enggak sudi gue pulang bareng sama cowok buaya kayak lo, bye!"
Setelah itu Diandra melengos pergi dan langsung masuk ke mobil berwarna hitam yang diketahui itu adalah mobil jemputannya.
"Gue sumpahin lo bakalan jadi bini gue! Bisa-bisanya nolak ajakan seorang Reval Dale Wijoyo."
•°•°•
Panaskan margarin di atas wajan. Tumis bawang bombay, bawang putih, dan cabai hingga harum. Masukkan tomat, kecap, penyedap rasa, garam, dan merica. Aduk hingga merata.
Masukkan ayam yang telah digoreng, air secukupnya. Masak hingga bumbu meresap, lalu angkat dan sajikan.
Ayam kecap ala Nevan sudah siap!
Setelah mandi, Airin meminta Nevan untuk dibuatkan ayam kecap. Katanya, sih, lagi ngidam pengen ayam kecap.
Airin tak menyangka bahw Nevan sangat jago dalam urusan dapur, dua jempol untuk pemuda itu. Airin saja yang notabenenya perempuan sama sekali tidak bisa memasak, bahkan menyentuh panci atau pisau pun Airin tidak pernah.
Nevan melepaskan celemek yang ia pakai, lalu duduk di depan Airin yang sudah dengan lahap memakan ayam kecap buatannya. Tidak disangka ternyata Airin sangat menyukainya, padahal ini pertama kalinya Nevan membuat ayam kecap dengan resep dari internet.
"Enak?" tanyanya yang dibalas anggukan semangat dari gadis itu.
"Kak Nevan mau?" tawar Airin seraya menyodorkan ayam bagain paha kepada pemuda itu.
Menggeleng pelan, Nevan beranjak dari duduknya. Ia lebih memilih mencuci wajan dan peralatan lainnya yang ia pakai tadi, meski di rumah mewah ini terdapat beberapa pelayan, namun Nevan memilih lebih melakukannya sendiri. Maklum, Nevan sudah terbiasa hidup sendiri selama hampir tiga tahun ini.
"Kak Nevan kalau nanti udah lulus sekolah mending jadi pelayan aja di rumah Airin. Lumayan, lho Kak Nevan 'kan jago masak, cuci piring, beres-beres rumah juga. Soal gaji, Kak Al pasti kasih upah banyak."
Mendengar ucapan polos Airin membuat Nevan mendengus pelan. Masa iya dirinya harus jadi pelayan, malu dong sama muka ganteng plus badan maco.
Setelah selesai Nevan beralih mencuci piring bekas Airin makan, tak lupa juga dia memberikan gadis itu minum dan membantu membersihkan tangan Airin.
Allen pernah mengatakan kepada Nevan kalau Airin tak biasa melakukan semuanya sendiri. Terkadang jika Airin berganti pakaian akan dibantu oleh pelayan. Terdengar kekanakan dan sangat manja, tapi itu memang Airin.
"Kak Nevan katanya janji mau bawa Airin ketemu sama Kak Al,"katanya tiba-tiba membuat Nevan harus berputar otak memikirkan alasan yang masuk akal atas pertanyaan Airin.
"Em, Bang Al ada kerjaan di luar kota. Jadi, dia masih sibuk, mungkin beberapa hari lagi atau sekitar satu Minggu baru bisa ketemu sama Bang Al."
Mendengar itu Airin mengerucutkan bibirnya, ia sudah jauh-jauh datang ke Indonesia hanya untuk bertemu dengan Kakaknya dan tinggal bersama Kakaknya. Akan tetapi, Kakaknya itu selalu saja sibuk. Airin muak dengan alasan sibuk.
Lima tahun lamanya Airin tinggal di negeri ginseng alias Korea Selatan, ia tinggal di sana bersama dengan Kakeknya juga Neneknya. Sementara kedua orang tuanya sudah meninggal sewaktu ia masih kecil, itulah mengapa Airin sangat manja. Kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya membuat kakek, nenek, dan kakaknya memberikan kasih sayang teramat banyak untuknya.
"Kesel banget! Airin mau tidur aja, yuk!"
Gadis itu menarik tangan Nevan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Ia berbaring dengan nyaman di ranjang miliknya, lalu Nevan sendiri duduk di pinggiran ranjang dengan bersandar ke kepala ranjang. Seperti biasa Airin menyuruhnya untuk mengusap-usap kepala gadis itu agar cepat tertidur.
Nevan pasrah daripada harus berakhir gadis itu menangis dan merajuk, akan lebih repot nanti urusannya.
Selagi menemani Airin ia membuka obrolan grup dengan hanya berisikan anggota inti Drave.
𝕻𝖆𝖗𝖆 𝕻𝖊𝖗𝖏𝖆𝖐𝖆 𝕶𝖚𝖗𝖆𝖓𝖌 𝕭𝖊𝖑𝖆𝖎𝖆𝖓
Bucin Citra (Zean)
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Kirain bakal sampe ke penghulu
Eh, ternyata cuma temen chattingan
Mengejar Cinta Icha (Gabril)
Hahay mantap!
Fanboy IU (Davian)
Ngakak sampe mampus gue
__ADS_1
Pertama kalinya lihat Reval
Dighosting
Mengejar Cinta Icha (Gabril)
Makan, tuh, karma!
Bucin Citra (Zean)
Reval Dale Wijoyo playboy kelas kakap (No!)
Reval Dale Wijoyo si sadboy kelas pemula (Yes!)
Playboy Gadungan (Reval)
Anjir lo semua!
Temen lagi sedih gini bukannya dihibur
Malah asyik diejek
Sakit atit dede :(
Fanboy IU (Davian)
Heh! Di mana-mana playboy
Kagak ada yang bawa perasaan
Lo dighosting satu kali
Mewek
Playboy Gadungan (Reval)
Gue bukannya baper
Tapi, nggak rela
Dia mutusin gue duluan
Mengejar Cinta Icha (Gabril)
Ketikanmu basi!
Bucin Citra (Zean)
Woi! Woi!
Basecamp B sekarang juga
Earth keroyok salah satu
Anggota Drave
Mana dia anggota baru lagi.
Melihat pesan dari Zean membuat Nevan sontak berdiri, ia menyambar jaketnya dan langsung memakainya. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu, tangannya bahkan sudah memegang kenop pintu. Ia menolehkan kepalanya, menatap Airin yang sudah terlelap. Nevan hanya berharap Airin bangun besok pagi, semoga.
Setelah itu, ia benar-benar pergi ke basecamp B tempat di mana para anggota Drave berkumpul. Basecamp Drave ada dua, basecamp A adalah basecamp utama. Khusus melakukan rapat atau merayakan hari spesial bagi Drave, di basecamp A lebih luas dengan dilengkapi dapur, kamar mandi, dan juga beberapa kamar.
Sementara basecamp B hanya ruangan berukuran sedang yang dijadikan tempat berkumpul, isinya saja hanya ada sofa, televisi, kulkas, dan tempat untuk camilan.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, Nevan sudah sampai di basecamp B. Di sana ada anggota inti Drave dan tiga anggota Drave, satunya lagi duduk di sofa dengan beberapa luka. Luka-luka lebam itu menutupi wajah aslinya yang imut, anggota baru Drave itu baru kelas sepuluh SMA.
"Kenapa?" tanya Nevan singkat.
Dengan sesekali meringis ia menjawab. "Tadi gue janjian buat pergi ke warnet sama Azka, pas di jalan tiba-tiba sepuluh anggota Earth hajar gue. Untung aja ada Azka, Aska, sama Boni yang nolong gue. Mereka juga sempat bilang buat datang ke arena balapan malam ini, kalau Bang Nevan nggak datang itu artinya lo pengecut Bang."
"Dasar bajingan! Mereka maunya apa, sih? Duit? Nih, gue kasih berapapun yang mereka mau!"
Mendengar ucapan Reval membuat Davian gemas untuk menggeplak kepala laki-laki itu. "Sok-sokan lo, traktir pacar aja masih ngutang sama gue!"
"Jangan buka kartu, dong, Dav!"
"Oke, sekarang kita ke sana," final Nevan.
__ADS_1
"Tapi, Airin gimana? Lo tinggal sendirian 'kan di rumahnya?" Tiba-tiba Gabril bersuara membuat langkah Nevan terhenti.
"Dia udah tidur," jawabnya yang kemudian dengan langkah mantap ia keluar basecamp diikuti dengan yang lainnya.