Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
02. Martabak


__ADS_3

Dengan langkah beraninya ia menghampiri seorang gadis yang duduk di kursi seorang diri. Menyadari kehadirannya gadis itu mendongak, menatap dirinya dengan mata menyipit. Mungkin, gadis itu merasa tidak asing dengan wajahnya.


"Kamu 'kan cowok nyebelin yang tadi. Ngapain kamu ke sini? Sana pergi!" usirnya dengan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


Nevan menghela nafasnya. "Gue ke sini jemput lo, disuruh Bang Allen."


"Airin nggak mau pulang kalau bukan Kak Al yang jemput," balasnya seraya bersidekap.


Memutar bola matanya malas. "Lo bisa nurut nggak, sih? Tinggal balik bareng gue aja repot!"


Gadis itu berdiri, menatap Nevan dengan kesal. "Oke, Airin pulang. Tapi, sendiri!"


Kemudian, gadis itu pergi meninggalkan Nevan. Tidak bisakah gadis itu mempermudahnya? Allen berpesan kepada dirinya agar membawa adiknya pulang dengan selamat tanpa ada goresan atau lecet sekecil pun.


"Tunggu!" Nevan berhasil meraih tangan gadis itu, menggenggamnya dengan kuat agar ia tak bisa kabur darinya.


"Pulang bareng gue, ayo!"


Gadis itu memberontak, berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang digenggam oleh Nevan. "Enggak mau! Airin mau pulang sendiri!"


"Emang lo tahu ini di mana? Nyusahin banget, sih!"


Si gadis menatap Nevan dengan nyalang. "Tolong! Pelecahan, tolong! Ada om-om yang mau culik Airin, to--"


Dengan cepat Nevan membungkam mulut gadis itu. Sial! "Diem! Lo bener-bener nggak bisa diajak kerja sama, gue jemput lo ke sini suruhan Bang Allen."


Nevan menjauhkan dirinya dari adiknya Allen. "Nyusahin," gumamnya pelan.


"Oke, Airin mau pulang sama kamu. Tapi, ada syaratnya."


"Apa?" tanya Nevan dengan malas.


"Beliin Airin es krim!" jawabnya dengan riang, lalu menarik tangan Nevan menuju ke arah supermarket yang tak jauh dari sana.


Keduanya masuk ke dalam supermarket dan langsung mencari tempat es krim. Dengan perasaan senang, gadis itu mengambil lima es krim dengan rasa berbeda.


"Ambil satu aja, jangan banyak-banyak," protes Nevan.


"Satu nggak cukup tahu! Biasanya Airin makan sepuluh es krim sehari, Airin udah baik banget cuma ambil lima."


Nevan pasrah, ia membayar kelima es krim itu. Setelah selesai, Nevan kembali ke kantor polisi untuk membawa motornya, sedangkan adiknya Allen menunggu di luar supermarket. Ngomong-ngomong, motor Nevan sudah ditebus dan diambil.


Perjalanan menuju ke rumah Allen dari kantor polisi memang lumayan lama, menghabiskan waktu tiga puluh menit di perjalanan.


"Turun! Udah sampe." Nevan bersuara, tetapi tidak ada pergerakan apapun di belakangnya.


Melirik ke kaca spion dan ternyata si gadis tertidur dengan sudut bibir belepotan sehabis makan es krim, hanya tersisa tiga es krim lagi yang belum dimakan.


Nevan membuka helmnya, ia turun dari motor seraya menahan adik Allen agar tidak terjatuh. Kemudian, ia menggendong gadis itu dan masuk ke dalam rumah besar nan mewah di hadapannya. Rumah itu adalah milik Allen, di dalam rumah hanya ada pelayan saja, selain itu tidak ada siapa-siapa lagi.


Berkat dari bantuan pelayan, Nevan menemukan kamar gadis yang sedang ia gendong. Kamar yang dominan dengan warna purple, serta gantungan bertulisan Airin Mine di depan pintu kamar. Nevan tebak kalau nama gadis ini adalah Airin, beberapa kali juga gadis ini menyebut dirinya dengan Airin.


Dengan hati-hati ia membaringkan tubuh mungil itu di atas kasur dengan seprei berwarna purple juga. Setelah membersihkan sudut bibir Airin yang belepotan serta menyelimuti gadis itu, tanpa berkata-kata lagi Nevan keluar dan langsung pulang ke apartemen miliknya.


•°•°•


Pemuda itu tidur dengan posisi telengkup, ia menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya ketika mendengar suara dering ponsel. Tentu saja ia merasa terganggu akan hal itu, ditambah ia baru saja tertidur tiga jam yang lalu.


Nevan berdecak kesal, kemudian mengangkat telfon itu. "Ada apa?" tanyanya langsung dengan suara seraknya.


"Cepetan ke rumah, Airin nangis-nangis."

__ADS_1


Ia mengernyit, menatap nama yang tertera di layar dan ternyata Allen yang menelfonnya.


"Terus hubungannya sama gue apa, Bang? Gila aja lo nyuruh gue ke rumah lo di jam segini," protesnya.


"Kalau pun gue bisa, gue nggak akan nyuruh lo. Lo tahu sendiri kalau gue masih di rumah sakit."


"Iya, iya."


Pada akhirnya Nevan pasrah, ia bangkit dari tidurnya. Masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka agar kantuknya hilang. Bayangkan saja, Allen menyuruhnya untuk melihat Airin di jam satu dini hari. Mana rumah Allen lumayan jauh, sekitar dua puluh menit di perjalanan.


"Ini sebenarnya yang nyusahin Bang Allen atau adiknya, sih," gerutunya seraya memakai jaket miliknya.


Nevan langsung meluncur menuju rumah Allen, di perjalanan ia membeli makanan ringan juga martabak rasa ketan dan cokelat. Siapa tahu saja adiknya Allen bisa ia bujuk dengan makanan yang ia beli, sebab Allen bilang kalau adiknya itu nangis-nangis.


"Assalamualaikum!" Ia masuk ke dalam yang langsung disuguhkan dengan salah satu pelayan yang berlari ke arahnya dengan panik.


"Kenapa, Bi?" tanyanya.


"Non Airin nangis-nangis di kamarnya, katanya dia takut mau ketemu sama Tuan Allen," jawab pelayan itu dengan singkat namun ringkas.


Nevan mengangguk paham, ia memberikan keresek camilan serta martabak kepada pelayan itu. Setelah itu ia naik ke lantai dua menuju ke kamar Airin, di ambang pintu ada dua pelayan yang berusaha membujuk Airin seraya menghindari berbagai macam boneka yang Airin lempar.


Melihat kedatangan Nevan kedua pelayan itu undur diri dan sialnya Nevan malah kena lemparan boneka, untung boneka bukan batu.


"Lo kenapa, sih?" tanya Nevan sembari menghela nafas melihat betapa berantakannya kamar Airin.


Airin mendongak, ia langsung berlari menghampiri Nevan dan memeluk tubuh pemuda itu. "Airin takut, kangen Kak Al, mau ketemu sama Kak Al."


"Besok aja," balasnya.


Menggeleng pelan. "Mau sekarang!"


"Di kamar lo ada jam, 'kan? Lo lihat sekarang jam berapa? Besok aja, jangan ngeyel!" ucap Nevan dengan galak membuat Airin cemberut.


"Gue tadi beli martabak, lo mau?" tawar Nevan, itung-itung untuk membujuk gadis itu.


Airin mendongak, menatap Nevan dengan mata berbinar. "Mau! Airin udah lama nggak makan martabak, di negara suami Airin nggak ada martabak."


Nevan menganggukkan kepalanya, membawa Airin menuju ke dapur yang berada di lantai dasar. Martabak rasa cokelat dan ketan itu sudah tersaji di piring yang diletakkan di atas meja makan.


"Wah! Cokelat sama ketan rasa kesukaan Airin."


Dengan lahap gadis yang masih memakai dress berwarna putih itu melahap martabak itu dengan nikmat. Mungkin ada sekitar lima tahun ia sudah tak bisa merasakan nikmatnya martabak.


"Kakak mau?" Airin menyodorkan sepotong martabak rasa cokelat ke arah Nevan yang duduk di depannya.


Nevan menggeleng sebagai balasan.


Sembari menunggu Airin selesai, Nevan memainkan ponselnya. Tidak ada sesuatu yang spesial, hanya menyimak di grup Drave yang sedang memperdebatkan bahwa Taehyung itu adalah V.


Pemuda itu menguap kecil, kantuknya kembali menyerang. Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah tiga dini hari.


Mata Nevan membulat sempurna melihat martabak yang hanya tersisa tiga potong lagi. Bagaimana bisa Airin menghabiskan semuanya dalam waktu sesingkat itu? Nevan menggelengkan kepalanya, Airin memang gadis ajaib.


"Udah?" tanya Nevan yang dibalas anggukan oleh Airin.


Nevan mengambilkan air putih untuk Airin, ia juga membersihkan kedua tangan gadis itu dengan tisu. Tak lupa juga sudut bibir Airin yang belepotan.


Sekilas tentang Airin yang pernah Allen ceritakan kepada Nevan.


Airin itu manja dan cerewet, sikapnya masih seperti anak kecil. Semua keinginannya harus terpenuhi, sangat tidak suka dibentak atau dimarahi. Maklum, Airin anak bungsu yang selesai dimanja oleh keluarganya termasuk Allen.

__ADS_1


"Sekarang tidur, bentar lagi subuh," ujar Nevan seraya membawa Airin kembali ke kamar gadis itu.


"Temenin, ya?"


"Apa lagi ini astaghfirullah." Nevan menjerit dal batinnya.


Nevan berdehem sebagai jawaban.


Membaringkan tubuh mungil itu serta menyelimutinya, Nevan duduk di sofa dekat ranjang. "Merem, terus tidur!"


Bukannya menurut, Airin malah mengubah posisinya menjadi duduk. "Airin 'kan minta ditemenin."


"Ini 'kan lagi ditemenin."


"Ish! Ikut baring di sini, peluk Airin, usap-usap kepala Airin."


"Banyak maunya ini cewek satu." Nevan mengumpat dalam batinnya.


Hidup selama delapan belas tahun Nevan tidak pernah tidur dengan gadis manapun, kecuali saat masih kecil ia sering tidur berdua dengan Bundanya atau kakak perempuannya. Hei! Nevan itu laki-laki normal. Meski tak pernah berpacaran, jangan pikir Nevan tidak tahu tentang plus-plus.


Menghela nafasnya, Nevan duduk di pinggiran ranjang dengan menyandarkan kepalanya pada punggung ranjang dan Airin pun kembali berbaring. "Gue usapin kepalanya," ujarnya singkat.


Airin mulai memejamkan matanya, menikmati elusan telapak tangan Nevan di kepalanya. Perlahan ia menyelami alam mimpinya, begitu pula dengan Nevan yang sudah tak tahan menahan rasa kantuknya.


Ia tertidur di ranjang dengan posisi duduk.


Waktu berjalan begitu cepat, jam dinding berwarna purple bergambar sekumpulan bunga di kamar Airin sudah menunjukkan pukul lima subuh.


Nevan mengerjapkan matanya, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Awalnya ia mengernyit heran karena kamar ini bukanlah miliknya, setelah kesadarannya terkumpul ia baru ingat kalau dirinya ikut tertidur di kamar Airin.


Beranjak dari kasur, Nevan memiliki untuk mencuci muka, gosok gigi, kemudian menunaikan ibadah shalat subuh. Meski dirinya ketua Drave yang sering tawuran, adu jotos, tampilan awut-awutan. Akan tetapi, Nevan tidak akan pernah lupa menunaikan shalat lima waktu yang wajib.


Pemuda itu lebih memilih untuk kembali ke apartemennya, meninggalkan Airin yang masih terlelap tidur juga dengan para pelayan yang sibuk dengan tugas mereka masing-masing.


Hari ini Nevan masih harus sekolah, jangan sampai dirinya terlambat seperti kemarin karena ulah seorang gadis yang menyusahakan dirinya dari mengejar copet, ditilang polisi dengan berakhir motornya disita.


Setelah sampai di apartemennya, Nevan merogoh semua saku pakaiannya. Akan tetapi, benda persegi modern itu tidak ia temukan.


"Sial! Handphone gue ketinggalan lagi," gerutunya kesal.


Nevan membuka pintu kamarnya, ia langsung terlonjak melihat laki-laki yang duduk di pinggiran ranjang dengan anteng di sana.


"Ngapain ke sini?" tanyanya dengan decakan.


Laki-laki itu berdiri, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Enggak ada, cuma gabut aja."


"Sana pergi! Gue nggak terima tamu!" usir Nevan dengan dirinya yang sibuk membuka kaosnya. Ia berniat untuk mandi.


Rayn Pradipta Calvin menghampiri Nevan yang sedang melepas kaosnya. "Van, lo tahu 'kan kita udah hidup bareng dari orok. Gue juga beberapa kali bantuin lo, berkorban banyak demi lo, kali ini aja. Setelah lo lulus SMA, mau, ya, mimpin perusahaan keluarga?"


Nevan melempar kaosnya ke dalam keranjang pakaian. "Lo nyuruh anak lulusan SMA buat pimpinan perusahaan? Enggak salah lo? Yang ada, tuh, perusahaan bangkrut."


"Udahlah, sana pergi!" usir Nevan lagi.


"Mau lo bujuk gue pake cara apapun, gue nggak bakalan mau. Lagi pula, gue nggak pernah pake uang hasil dari perusahaan itu," ucap Nevan dengan penuh penekanan.


Laki-laki berusia dua puluh dua tahun yang merupakan sepupu Nevan itu berdecak. Ia pun pergi dari sana. Rayn ataupun Nevan sama-sama tidak suka dengan bisnis, sialnya tidak ada anak laki-laki lagi di keluarga mereka selain mereka berdua.


Darendra adalah anak pertama di keluarga Calvin, dan Nevan adalah anak kedua dari Darendra. Sementara Rayn, laki-laki itu anak pertama dari adiknya Darendra--Carlhos.


Sebelum benar-benar pergi untuk mandi, Nevan menatap bingkai foto yang berada di nakas dekat ranjang. Di foto itu ada dua laki-laki dengan satu perempuan, ketiga tersenyum bahagia di sana. Dua laki-laki itu adalah Nevan dan Rayn, sedangkan satu perempuan itu adalah kakak perempuan Nevan.

__ADS_1


"Nevan kangen, Kak Meisha!"


__ADS_2