
...HAPPY READING 💜✨...
Masih berada di warung kopi, keempat sekawan itu menikmati waktu bersama dengan obrolan ringan sampai melupakan bahwa Gabril menunggu mereka di apartemen Nevan.
"Ini kita 'kan udah lulus, nih, kalian rencananya mau apa? Mau pada kuliah aja, nih?" Reval bertanya setelah tadi membuat ketiga temannya terjatuh gara-gara daftar makanan berhematnya.
Zean menyesap kopinya, kemudian menjawab, "Kayaknya, sih, kuliah aja di sini. Tadinya nyokap nyuruh buat keluar negeri, tapi gue pikir-pikir buat apa jauh-jauh kuliah keluar negeri kalau di negara sendiri aja masih banyak universitas yang bagus."
"Yakin cuma gara-gara itu? Bukan karena Citra, heh?"
Mendengar pertanyaan Davian hanya mampu Zean balas dengan cengiran dan Davian yang melihat itu mendengus. "Lo udah lama pacaran sama Citra, eh tahunya dia bukan jodoh lo mampus!"
"Ya, jangan gitu dong! Doain kek biar gue sama Citra jodoh," balas Zean.
"Boro-boro doain lo biar jodoh sama Citra, gue aja yang tiap di sepertiga malam nyebut nama dia di doa gue biar jodoh aja belum dikabulkan," ucap Davian dengan sedih.
Reval mengangguk membenarkan. "Si bos mah udah enak, jodoh dah ketemu cuma tinggal mempertahankan doang."
"Enggak perlu pusing mikirin jodoh, yang seharusnya kalian pikirin itu gimana caranya buat belajar memperbaiki diri. Jodoh itu udah ada yang ngatur, nanti juga pasti ketemu di waktu yang udah semesta tentukan." Nevan menjeda, "Tuhan udah menentukan siapa jodoh kita, jadi nggak perlu pusing mikirin soal itu."
"Ikhtiar aja buat perbaiki diri, karena kematian pasti menghampiri," lanjutnya.
Ketiganya serempak menganggukkan kepalanya sampai suara teriakkan terdengar. Terlihat dari kejauhan ada Gabril yang berlari menghampiri mereka.
"Lo semua tega sama gue! Gue udah nunggu sama di apartemen sendirian, tahunya kalian berempat malah enak-enakkan ngopi di sini." Gabril datang-datang langsung menggerutu. Bagaimana ia tak kesal coba kalau teman-temannya malah enak-enakkan, sementara dirinya menunggu dengan bosan di apartemen.
"Eh, gue lupa sama lo," sahut Reval bermaksud menggoda Gabril agar laki-laki itu semakin kesal.
Gabril berdecak. "Tahu ah, kesel gue!"
"Lah! Itu lo kok nyeker?" Gabril bertanya setelah melihat kaki Davian yang tak beralas kaki.
"Sendal gue ilang, ada yang ngambil," jawab Davian singkat dengan wajah tertekuk, "Udahlah, nggak usah bahas soal sendal gue itu."
__ADS_1
"Airin udah pulang belum?" tanya Nevan kepada Gabril.
Si empunya menggelengkan kepala. "Belum, tapi tadi Airin kirim pesan ke handphone lo kalau dia masih mau main di rumah Bang Allen nanti sore lo jemput aja ke sana buat balik."
Mendengar itu Nevan menganggukkan kepalanya paham. "Eh, ngomong-ngomong kalian punya rekomendasi toko peralatan bayi yang bagus nggak?"
"Pertanyaan lo emang nggak salah dan terkesan wajar, masalahnya lo nanya sama orang yang salah," balas Reval, "Kita 'kan kagak punya bini, kagak pengalaman juga, ya lo percuma lah nanya sama kita."
"Cari aja, sih, di internet juga banyak," sahut Gabril seraya menyeruput dengan nikmat kopi milik Davian.
"Kayaknya gue ada, deh, waktu itu gue pernah nganter tante gue buat beli peralatan bayi. Lo juga bisa coba pergi ke sana," kata Zean memberikan saran.
Nevan mengangguk. "Boleh juga, lo pada ikut gue sama Airin buat ke sana."
"Harus banget kita ikut?" tanya Davian.
"Bantu gue sama Airin biar belanja perlengkapan bayinya cepet, gue takut Airin kecapekan," balas Nevan.
Pulang dari acara ngopi dadakan, Gabril tiba-tiba saja mendapat pesan dari sang ibu negara untuk pergi ke supermarket. Katanya mah nitip buat beli beberapa bumbu dapur dan beberapa keperluan lainnya.
Pemuda itu berjalan di sekitar rak makanan kaleng dengan keranjang belanjaan yang mulai penuh. Netranya menangkap sosok perempuan berkerudung yang kesusahan mengambil botol minyak yang berada di rak teratas. Dengan inisiatif Gabril menghampiri bermaksud untuk membantu.
"Botol yang ini?" tanyanya sembari menunjuk botol yang ia maksud, "Butuh berapa banyak?"
"Satu aja, makasih," balas perempuan itu dengan sopan, lalu mengambil botol yang Gabril sodorkan kepadanya.
"Kamu ke sini sendirian?" Gabril kembali bertanya.
Dengan kepala menunduk Alisca menjawab, "Iya, aku sendirian aja."
Gabril mengulum bibirnya, ia sebenarnya masih ingin terus bersama dengan Alisca tapi ia tak mau membuat perempuan itu risih hanya karena kehadirannya. "Kalau gitu dilanjut aja belanjanya, aku juga mau bayar."
Alisca tak mengatakan apapun lagi, namun saat di langkah ketiga yang Gabril ambil ia malah memanggil nama laki-laki itu. "Gabril! Boleh kita ngobrol dulu sebentar setelah ini? Ada yang mau aku bicarain sama kamu."
__ADS_1
Tepat selesai belanja, mereka berdua langsung pergi ke kafe yang tempatnya tepat berada di sampingnya supermarket. Keduanya duduk dengan canggung ditemani dengan segelas ice americano.
"Apa yang mau kamu omongin?" tanya Gabril yang membuka percakapan, pasalnya sudah lebih dari lima menit mereka duduk dan Alisca tak kunjung membuka mulutnya.
Jelas tampak di penglihatan Gabril bahwa gadis itu sangat gugup. Sebenarnya apa yang ingin Alisca katakan kepada dirinya sampai segugup itu? Apakah penting?
"Aku ... mau ngasih kamu undangan ini karena kebetulan kita ketemu, temen-temen yang lain juga sebagai udah aku kasih tahu. Kalau kamu nggak keberatan, jangan lupa buat datang, ya!" Alisca mengeluarkan sepucuk kertas undangan pernikahan dari tasnya kepada Gabril.
Melihat nama yang tertera di undangan berhasil membuat hati Gabril tersayat. Hatinya hancur dan remuk dalam hitungan detik dengan begitu mudahnya. Dalam diam Gabril membatin, mengatakan agar dirinya harus kuat menahan tangis. Ia harus bisa bersikap baik-baik saja di hadapan Alisca.
"Kamu mau nikah? Wah! Selamat, Alisca!" kata Gabril seraya mengambil undangan itu.
Alisca menatap Gabril sejenak, ada perasaan aneh ketika pemuda itu memanggilnya Alisca karena biasanya Gabril memanggilnya dengan sebutan Icha. Dulu ketika ditanya kenapa ia dipanggil Icha, Gabril menjawab bahwa nama itu panggilan khusus darinya.
"Gabril, maaf." Alisca berucap lirih dengan kepala menunduk.
Mendengar itu perasaan Gabril semakin hancur bahkan kedua matanya sudah berkaca-kaca siap mengeluarkan air mata. "Untuk apa minta maaf? Kamu nggak salah apa-apa sama aku."
"Kamu nggak perlu terlihat baik-baik aja, aku tahu ini menyakitkan, Gabril," balas Alisca dengan setetes air mata yang berhasil menerobos pertahanannya.
Pemuda itu mendongak, berusaha menahan liquid bening agar tak keluar. "Kamu pernah bilang kalau kita pasti menemukan kebahagiaan kita masing-masing, karena udah nggak ada keajaiban untuk kita. Tapi Icha, jujur aku masih berharap kalau keajaiban itu ada. Bahkan sekarang aku udah nggak tahu harus mengutarakan rasa sakit ini kayak apa."
"Kadang aku mikir, kenapa kita yang berbeda harus harus bertemu sampai perasaan itu hadir. Icha, tolong tanyakan kepada Tuhanmu apakah aku yang bukan umatnya boleh mencintai hambanya?" sambungnya.
Pertahanan Alisca roboh, gadis itu menangis dengan air mata yang keluar deras. Gadis itu merasakan sakit yang teramat di dadanya, ketika mendengar suara putus asa dari Gabril. "Maaf, aku hanya hambanya yang lemah dan berdosa, aku tak bisa melakukan apapun untuk itu. Kita tidak bisa memasakkan sesuatu yang memang sudah ditakdirkan tak bisa bersama. Mungkin dengan adanya ini, Tuhan ingin mengajarkan kepada kita berdua bahwa tidak semua keinginan bisa dimiliki dan bagaimana rasanya untuk mengikhlaskan seseorang."
Gabril menghela nafasnya. "Kalau ini memang yang terbaik dan seharusnya begini, mungkin aku akan berusaha untuk melepaskan perasaan ini. Icha, kamu adalah kenangan terindah yang tidak akan pernah aku sesali. Kamu harus bahagia agar aku tidak menyesal sudah melepaskan kamu."
Setelah itu Gabril pergi dari hadapan Alisca dengan segelas ice americano yang belum sempat ia nikmati juga dengan seorang gadis yang menjadi dari bagian kisah hidupnya. Meski pada akhirnya meninggalkan luka, tetapi Gabril tak akan menyesalinya.
"Icha, kamu adalah ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan," batin Gabril berbisik sendu.
...GIMANA SAMA CHAPTER SEKARANG? NYESEK ENGGAK?...
__ADS_1