
Setelah berhasil membujuk Airin untuk berganti pakaian, tiba-tiba saja lampu rumah mati membuat seluruh rumah gelap gulita dan untung saja ada beberapa lilin di dalam laci. Dengan segera Nevan menyalakannya dengan korek api yang tersedia di dapur.
Airin sendiri tentu saja ketakutan, perempuan itu hanya bisa terus memeluk suaminya tanpa berniat melepaskannya barang sedetikpun.
Sekarang, keduanya tengah berbaring di atas kasur dengan Airin yang berada didekapan Nevan.
"Kapan mati lampunya selesai?" tanya Airin dengan suara pelan.
"Kayaknya ini bukan mati lampu, tapi ada masalah sama kabelnya. Besok gue suruh orang buat benerin kabelnya," jawab Nevan.
"Tapi, Airin takut gelap," cicitnya.
Nevan berpikir sejenak, memikirkan bagaimana caranya agar istrinya ini tidak ketakutan dan bisa sedikit tenang. Kemudian, ia menawarkan sesuatu. "Lo mau denger cerita nggak?"
Airin menganggukkan kepalanya. "Mau, Airin mau!"
"Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bersama sahabat sedang dalam perjalanan, ditemani Aisyah Radhiyallahu Anha, istri Nabi. Saat itu Aisyah masih bertubuh kurus. Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya untuk mempersilakan mereka berjalan lebih dulu. Kemudian, Rasulullah berkata kepada Aisyah, ayo kemarilah. Kuajak engkau adu cepat lari. Aisyah dengan gesit lari dan berhasil mengalahkan Nabi." Sembari bercerita, Nevan mengelus-elus kepala istri kecilnya itu.
"Waktu terus berlalu. Beberapa tahun kemudian, Aisyah kembali menemani Beliau dalam sebuah perjalanan. Beliau kembali mempersilakan para sahabatnya untuk berjalan lebih dulu. Lalu, Beliau berkata kepada Aisyah, Ayo kemarilah! Kuajak engkau adu cepat lari. Aisyah tersenyum. Sebab saat itu tubuhnya sudah mulai gemuk. Aisyah bertanya, Bagaimana aku bisa beradu cepat denganmu ya Rasulullah, sedangkan badanku begini?" sambungnya.
Tak sampai situ, Nevan kembali melanjutkan ceritanya. "Rasulullah bersabda, Ayo lakukanlah! Lalu, Aisyah berusaha lomba lari dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Saat itu Nabi berhasil mendahului Aisyah. Beliau pun tertawa riang dan berkata, Sekarang aku telah mampu mengalahkanmu."
Mendengar cerita Nevan, Airin tersenyum. "Mereka berdua manis banget, pasti banyak yang iri sama hubungan mereka."
"Lo bener, ada banyak orang yang iri sama keromantisan Nabi Muhammad dengan istrinya Siti Aisyah. Bahkan, Beliau pernah menawarkan perpisahan kepada Siti Aisyah," tutur Nevan.
Airin mendongak. "Terus mereka pisah nggak?"
Nevan menyamankan posisinya dan kembali bercerita. "Rasulullah berkata, aku akan menawarkan padamu suatu perkara, kau tidak perlu terburu-buru untuk memutuskannya hingga kau berdiskusi dengan kedua orang tuamu. Aisyah bertanya, tentang apa ini, ya Rasulullah?”
"Kemudian Nabi Muhammad SAW membacakan ayat Alquran, hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki keridhaan Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar. Qur'an surat Al-Ahzab."
"Aisyah berkata. Lalu, untuk apa kau menyuruhku berunding dengan kedua orang tuaku, padahal aku telah tahu. Demi Allah, kedua orang tuaku tidak akan menyuruhku untuk berpisah darimu. Bahkan aku telah memutuskan untuk memilih Allah, Rasul-Nya dan akhirat. Rasulullah pun merasa gembira dan takjub dengan jawaban Aisyah." Nevan mengakhiri perkataannya dengan memandangi istrinya yang matanya perlahan-lahan tertutup rapat.
__ADS_1
Tersenyum manis, Nevan memberikan sapaan selamat tidur dan juga dengan kecupan hangat di kening perempuan itu.
Malam berlalu begitu saja, matahari perlahan-lahan menampakkan dirinya di bumi. Cahayanya yang hangat menyinari alam semesta ini sebagai tugasnya.
Orang yang selalu datang membersihkan rumah ini sudah datang sekitar jam 7 pagi, tepat Nevan dan Airin menyelesaikan sarapan.
Namanya adalah Bi Asmah, wanita paruh baya yang dulunya bekerja sebagai pembantu di rumah Nevan. Bahkan, Bi Asmah begitu kenal dekat dengan Mamanya Nevan dan selalu menjaga Nevan sewaktu kecil.
Bi Asmah tak datang seorang diri, ia membawa putri semata wayangnya yang seumuran dengan Airin. Gadis itu bernama Febby sekaligus teman masa kecil Nevan.
"Eh, Febby! Kamu juga ikut?" tanya Nevan basa-basi. Memang di depan keluarga Bi Asmah, Nevan selalu bersikap ramah sebab Bi Asmah sudah ia anggap sebagai keluarganya sendiri.
Gadis berambut sebahu itu menganggukkan kepalanya. "Iya, mumpung libur juga jadinya sekalian ikut. Kalau lagi nggak sekolah juga suka dateng ke sini bantu-bantu Ibu."
Nevan menganggukkan kepalanya paham, kemudian kembali memfokuskan diri kepada Bi Asmah. "Orang yang Nevan suruh buat benerin kabelnya mana, Bi?"
"Kayaknya dia masih dibawa, mungkin barang bawaannya banyak. Bibi bantu dia dulu."
Dengan cepat Nevan menahan Bi Asmah. "Biar Nevan aja, kalian masuk dulu."
Bi Asmah dan putrinya, Febby, masuk ke dalam rumah. Duduk di sofa panjang dengan sopan, kemudian tersenyum hangat ketika Airin menyajikan teh untuk keduanya.
"Terima kasih, ya, jadi repotin," kata Bi Asmah tak enak, "Ngomong-ngomong, kamu istrinya Nevan, ya?"
Airin duduk di sofa single. "Iya, Bi. Airin istrinya Kak Nevan."
"Ke sini liburan? Kenapa nggak pergi keluar negeri aja? Lumayan, lho, liburannya dua Minggu," tutur Bi Asmah.
Perempuan itu menggeleng pelan. "Airin nggak mau liburan terlalu jauh, jadinya Kak Nevan bawa Airin ke sini, deh. Di sini juga suasananya enak, nggak ada orang yang ganggu kalau berdua."
Mendengar itu Bi Asmah tertawa pelan. "Pengantin baru emang gitu, lagi masa-masa maunya berdua terus. Kalau ada yang ganggu bawaan kesel terus. Bi Asmah sama suami juga dulu kayak gitu. Duh, jadi keinget waktu muda."
Menanggapi itu Airin hanya tersenyum kaku, jujur saja ia tak pandai bagaimana caranya menjamu tamu. Ia benar-benar sangat berharap Nevan cepat datang dan memecahkan situasi canggung ini. Putrinya Bi Asmah juga hanya diam saja tak banyak berbicara, membuat Airin semakin tak nyaman saja.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Nevan datang seorang laki-laki yang akan membenarkan kabel yang putus. Nevan membiarkan laki-laki itu bekerja, sementara dirinya ikut menimbrung bersama dengan istrinya. Nevan tahu dari tatapan mata Airin yang meminta pertolongan kepadanya.
"Nevan, Bibi mau bilang maaf karena nggak bisa datang waktu kamu nikahan. Padahal Bibi udah nunggu bertahun-tahun momen di mana kamu nikah," ucap Bi Asmah dengan mimik muka yang begitu sedih. Ia menyesal karena tak bisa datang waktu itu.
"Enggak apa-apa, kok, pernikahannya sederhana sama diprivat juga," balas Nevan tulus.
"Kayaknya istri kamu seumuran sama anak Bibi, iya 'kan?" tanya Bi Asmah.
Nevan menganggukkan kepalanya. "Iya, Bi. Sekarang Airin kelas sebelas, sama kayak Febby."
"Ngomong-ngomong, gimana sama sekolah kamu Febby? Aku denger kamu suka ikut lomba-lomba olimpiade," lanjut Nevan.
Febby menganggukkan kepalanya dengan malu-malu. "Aku cuma disuruh sama pihak sekolah, karena mereka percaya sama aku jadinya aku nggak bisa nolak."
Mendengar percakapan Nevan dan Febby membuat Airin merasa kesal. Lihat saja bagaimana Nevan bersikap begitu ramah, laki-laki itu tak segan untuk memulai percakapan dengan menanyakan sesuatu. Padahal dulu sebelum menikah Nevan begitu dingin kepada Airin.
Ada satu yang lebih membuat Airin kesal, yaitu cara bicara Nevan. Sopan dan lembut. Airin yakin, kalau gadis yang bernama Febby itu memiliki perasaan khusus untuk Nevan. Terlihat bagaimana gadis itu berbicara dengannya dan saat berbicara dengan Nevan. Binar matanya pun menjelaskan semuanya, betapa kagumnya seorang Nevan di mata Febby.
Sekitar pukul sebelas siang, mereka semua pergi dari rumah puncak dan hal itu membuat Airin merasa lega. Akan tetapi, ia masih merasa kesal dengan sikap Nevan. Untuk itu ia akan mendiami laki-laki itu atau bersikap jutek kepada Nevan.
"Siti Aisyah punya nama panggilan kesayangan dari Rasulullah. Airin yang udah punya suami, tapi, kok, panggilannya masih lo gue!"
Sindiran dan kode keras dari Airin membuat Nevan yang sedang minum langsung tersedak. Ia merasa haus karena berbincang begitu banyak dengan Bi Asmah juga Febby.
Laki-laki itu pun menghampiri istrinya yang duduk di sofa dengan bersikeras dada, jangan lupakan juga wajah masam perempuan itu.
"Emangnya mau dipanggil apa sama gue? Sayang? Mami? Baby? Atau apa?" tanya Nevan dengan sedikit menggoda perempuan itu.
"Kak Nevan, tuh, ngeselin plus nggak romantis. Sama anaknya Bi Asmah aja pake aku kamu, masa sama Airin lo gue. Maksudnya apa coba? Apa si Febby-Febby itu spesial buat Kak Nevan? Oh iya, ya 'kan dia teman masa kecilnya Kak Nevan. Udah kenal lama juga, ya," oceh Airin yang mengeluarkan segala rasa uneg-uneg di dadanya. Nevan juga hanya membiarkan istrinya agar tenang dulu.
"Oke, mulai sekarang aku kamu, ya? Jangan marah lagi, nggak ada hubungan apapun sama Febby cuma sebatas teman aja." Nevan tersenyum manis seraya mengusap kepala istrinya.
"Suami-suami yang ada di sinetron juga bilangnya cuma temen, ternyata emang ada apa-apanya. Awas aja, ya, Airin nggak mau dimadu! Airin nggak suka berbagi! Kalau ada yang mau rebut Kak Nevan, dia harus lebih dan lebih dari Airin!" gerutu perempuan itu dengan semangat membara.
__ADS_1
"Iya, iya. Udah, dong, lagian juga aku nggak ada niatan buat duain kamu, Airin," balasnya.