Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
21. Perang?


__ADS_3

Laki-laki itu dengan tak tenang mondar-mandir di depan gerbang rumah Allen. Tadi siang Airin pamit untuk bertemu dengan Citra, tetapi perempuan itu tak kunjung pulang juga sampai sekarang waktu sudah mulai sore. Nevan sudah mengirim pesan, namun tak dibalas. Ditelfon juga tidak aktif, sebenarnya apa yang terjadi dengan Airin?


"Tunggu, kenapa nggak gue tanya sama Citra? Bego lo Nevan!"


...𝕭𝖚𝖈𝖎𝖓 𝖅𝖊𝖆𝖓 (𝕮𝖎𝖙𝖗𝖆)...


...Today...


Citra, Airin masih ada sama lo?


^^^Kenapa nanya sama gue?^^^


^^^Seharian ini gue me time^^^


Airin bilang, lo nyuruh dia buat ketemu di kafe tadi siang


^^^Jangan ngada-ngada!^^^


^^^Gue nggak ada suruh Airin buat ke kafe^^^


Melihat balasan Citra membuat perasaan Nevan semakin ketar-ketir. Ternyata memang ada hal berbahaya yang terjadi kepada istrinya.


Nevan mengirim pesan di grup Drave agar semua anggota kumpul di basecamp A, tak lupa juga ia memberitahu Allen bahwa adiknya hilang.


...•°•°•...


Perempuan itu terbangun setelah dua jam lamanya ia tak sadarkan diri. Ketika baru saja sampai di kafe, tiba-tiba ada seseorang yang membekapnya sampai pingsan. Kemudian, ketika dirinya bangun, ia sudah terikat di kursi.


Menyadari dirinya ada di dalam bahaya, buru-buru Airin berteriak. "Tolong! Siapapun tolong Airin!"


Entah ruangan apa yang tengah Airin pijak ini. Hanya sebuah ruangan berbentuk pergi dengan dirinya yang terikat di kursi di tengah-tengah ruangan itu. Di sudut ruangan ada beberapa bambu juga dengan benda-benda tajam yang tertata rapi di lemari.


"Tolong! Ada orang nggak? Airin takut, nih, nggak ada orang yang diajak ngobrol!"


"Berisik!"


Pintu kayu itu langsung terbuka lebar, menampakkan seorang laki-laki dengan pakaian seperti preman. Datang membuka pintu dengan keras dan berteriak lantang.


"Astaghfirullah! Bikin kaget aja, ambilin air minum sana! Airin haus tahu," pintanya dengan santai membuat laki-laki itu mengerutkan dahinya bingung.


"Berani lo merintah gue!" bentaknya dengan galak.


"Kalau Airin haus terus mati gimana? Om pasti bakalan dihukum berat nanti!" balas Airin dengan tak kalah galak.


Laki-laki itu terperangah. Apakah wajahnya terlihat seperti om-om? Padahal usianya belum baru genap 20 tahun.

__ADS_1


"Ada apa ini?"


Suara bariton terdengar, serempak keduanya menoleh ke arah pintu. Di sana seorang laki-laki yang umurnya cukup matang muncul, pakaiannya pun terbilang cukup rapi dengan mengenakan kemeja hitam juga celana bahan berwarna senada.


Galang yang dikira om-om oleh Airin menjawab. "Cewek ini berisik!"


Airin memutar bola matanya. "Om, Airin cuma mau minta minum. Airin haus, Om. Kalian kalau mau nyulik Airin, ya, culik aja. Tapi, jangan biarin Airin kekurangan cairan."


Mendengar itu si pemilik suara bariton mengisyaratkan Galang agar membawakan air minum untuk Airin.


Perempuan itu sengaja untuk terus mengulur waktu jika saja penculik itu berniat membunuhnya. Ia harus bertahan mengulur waktu sampai suami dan kakaknya menyelamatkan dirinya. Airin yakin, Nevan dan Allen akan datang menyelamatkannya.


"Om punya muka ganteng, tapi malah milih jadi tukang culik. Kalau Om ikit audisi buat jadul aktor pasti keterima, Airin juga bakalan jadi penggemar garis keras Om," ucap Airin tiba-tiba.


"Enggak ada yang istimewa dari Airin, Airin cuma gadis yang suka banyak bicara. Jadi, Om culik harus siapkan telinga kalau mau nyulik Airin," lanjutnya.


Mendengar Airin banyak bicara, laki-laki itu menarik salah satu sudut bibirnya. "Di keadaan bahaya kayak gini, kamu sama sekali nggak takut?"


Airin dengan percaya diri menggelengkan kepalanya. "Enggak, ngapain takut? Orang yang nyuliknya aja ganteng."


"Nih, minum lo!" Galang datang dengan membawa segelas air minum.


Perempuan itu berdecak kesal. "Gimana Airin mau minum kalau tangan aja diikat kayak gini? Bisa-bisanya ada penculik tolol kayak kamu!"


"Banyak maunya, bocah!" Dengan ogah-ogahan Galang membantu Airin minum hingga segelas air minum itu kosong tak tersisa.


"Ah! Seger, di sini ada marshmellow nggak? Airin laper, tadi siang belum makan soalnya," pinta Airin lagi dan hal itu tentu semakin membuat Galang kesal.


"Heh! Lo jadi cewek banyak mau banget, nyusahin orang!" teriaknya dengan kekesalan yang sudah di ujung tanduk.


Airin mendengkus. "Kalau gitu lepasin Airin, biar Airin sendiri yang beli!"


Laki-laki lainnya masuk dengan terengah-engah. Kemudian, ia berbicara. "Drave ... Drave ada di depan, mantan ketua Drave juga ada."


Mendengar itu si pemilik suara bariton menunjukkan smirk-nya. Tak lama kemudian, berbondong-bondong anggota Drave dan Earth masuk ke dalam hampir memenuhi ruangan berbentuk persegi itu.


"Ansel bajingan! Ngapain lo nyulik adek gue, hah?" Allen berteriak marah dengan mata tajam bak elang menatap geram ke arah Ansel--mantan ketua Earth.


"Cuma mau menyelesaikan masalah. Serahin lima anggota Drave, adik lo bakalan selamat," balasnya dengan santai.


"Lo mau bunuh lima anggota Drave buat balas dendam? Lo punya telinga masih berfungsi 'kan? Berapa kali harus gue bilang kelima anggota lo itu udah nyulik dan siksa Meisha sampe dia koma!" Allen kembali berteriak dengan marah, ia sungguh tak tahu harus bagaimana lagi untuk menyakinkan bahwa bukan Drave yang membunuh kelima anggota Earth.


Ansel menatap Allen datar. "Mana buktinya kalau anggota lo nggak bersalah? Jelas-jelas di tempat kejadian itu gue nemuin logo keanggotaan Drave, siapa lagi kalau bukan kalian?"


"Kalian juga nuduh kelima anggota Earth nyulik Meisha, gue nggak ada perintah buat nyulik Meisha!" lanjutnya.

__ADS_1


"Enggak usah nyangkal! Gue lihat pake mata gue sendiri kelima orang itu pake jaket Earth, mereka bilang disuruh sama lo buat nyulik Kak Meisha!" Kali ini Reval yang berbicara, ia sungguh tak tahan ingin menghajar wajah-wajah songong itu.


"Buat apa gue nyuruh anggota Earth buat nyulik Meisha? Lo tahu sendiri Meisha temen baik gue," ujar Ansel dengan terbesit raut sedih.


"Udah gue bilang, kalau Earth bukan pelaku penculikan Kak Meisha," sahut Galang.


"Diem lo babi!" sarkas Davian.


Dulunya sewaktu Drave masih dipimpin oleh Nevan dan Earth dipimpin oleh Ansel. Kedua geng motor itu berteman baik, bahkan ketika liburan sekolah keduanya sering berlibur bersama-sama. Jika ada hari besar di antara mereka, kedua geng motor itu selalu merayakannya bersama.


Sampai akhirnya insiden penculikan Meisha terjadi. Jelas sekali lima orang yang menculik Meisha menggunakan jaket Earth, mereka juga mengaku bahwa ketua Earth yang menyuruh. Di sana Drave mencap Earth sebagai pengkhianat. Peperangan besar pun terjadi, keduanya menjadi musuh sampai saat ini. Akan tetapi, kesalahanpahaman yang entah dibuat oleh siapa ini belum terpecahkan.


"Allen, kalau lo nggak ngaku. Mau nggak mau malam ini kita perang lagi," ucap Ansel tak main-main.


"Gue udah ngaku sama lo, bukan Drave yang bunuh kelima anggota Earth!" balas Allen dengan penuh penekanan.


"Kalau lo mau perang malam ini, oke kita perang. Tapi, lepasin cewek itu dulu." Nevan yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara, demi apapun ia tak tahan melihat Airin yang terikat seperti itu.


"Sayangnya gue nggak akan lepasin dia sampe ada lima anggota Drave yang mati!" tekan Ansel dengan geram.


"Bangsat! Gue tanya sama lo, itu telinga gunanya buat apa, hah? Perlu banget gue ngomong pake toak masjid! Bukan Drave yang bunuh mereka! Denger kagak lo?" Dengan menggebu-gebu Reval mengucapkan kata-kata itu dengan lantang, bahkan pemuda yang ada di sampingnya sampai merasakan telinganya berdengung.


"Lo paham 'kan bahasa manusia? Setan lo kalau bilang kagak paham!" lanjutnya kesal.


Ansel mengangkat satu aslinya. "Masih nggak mau ngaku?"


"Ansel, gue tahu lo pasti paham gimana sifat gue. Gue nggak mungkin bunuh orang kayak gitu aja, apalagi itu anggota Earth. Gue masih berbaik hati nggak laporin kelima anggota Earth tentang penculikan Meisha ke polisi," kata Allen, "Bahkan gue juga ragu, kalau penculikan itu suruhan lo. Tapi, semua bukti mengarah sama Earth. Mau nggak mau, kalian yang jadi tersangkanya."


"Berhenti omong kosong! Sekarang selesaiin semua ini secepat mungkin, kalau udah ada kelima anggota Drave mati malam ini. Gue ampuni kalian semua," tutur Ansel dengan tajam.


"Dalam hitungan ketiga, kalian bisa bunuh lawan kalian," lanjut Ansel.


"Satu!"


"Ansel, lo jangan gegabah!" Allen membetikan peringatan.


"Dua!"


"Jangan lakuin hal yang bakal lo sesali, Ansel!"


"Tiga! Serang!"


Brak'


"Tunggu! Semuanya berhenti!"

__ADS_1


__ADS_2